<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824</id><updated>2011-11-25T18:33:39.196-08:00</updated><category term='conferter'/><category term='Administrasi'/><category term='UASBN'/><category term='lain lain'/><category term='bisnis'/><category term='DAPURKU'/><category term='my first blog'/><category term='artikel'/><category term='Perkenalan'/><category term='dapur'/><category term='Motivasi'/><category term='pengalaman'/><category term='KESEHATAN'/><category term='tips dan tutorial'/><title type='text'>GOEDANGKOE</title><subtitle type='html'>Tempat Belajar, Menyimpan dan Berbagi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1650041243763654413</id><published>2011-11-25T18:32:00.001-08:00</published><updated>2011-11-25T18:33:39.207-08:00</updated><title type='text'>surat perjanjian bsm 2011</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/get/NmCzktpK/LAMPIRAN__SURAT_PERJANJIAN__KE.html"&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.4shared.com/get/Nx5vmAUu/LAMPIRAN__SURAT_PERJANJIAN__KE.html"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/get/Nx5vmAUu/LAMPIRAN__SURAT_PERJANJIAN__KE.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1650041243763654413?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1650041243763654413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1650041243763654413' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1650041243763654413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1650041243763654413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2011/11/surat-perjanjian-bsm-2011.html' title='surat perjanjian bsm 2011'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-8371684539175039105</id><published>2009-03-27T06:54:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T06:58:16.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Berpikiran Positif</title><content type='html'>Tips Menuju Sukses : Berpikiran Positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted on February 12, 2007 by Arif Perdana &lt;br /&gt;Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.&lt;br /&gt;Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.&lt;br /&gt;W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir. &lt;br /&gt;Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.&lt;br /&gt;Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut. &lt;br /&gt;Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus :&lt;br /&gt;1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;“Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan harapan-harapan kepada anak buahnya.” (Napoleon Bonaparte). “Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin” (Harry Bullis)&lt;br /&gt;2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.&lt;br /&gt;3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari 10″. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan Anda temui bernilai “10″, dan perlakukanlah mereka secara demikian. Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh. &lt;br /&gt;4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai “hari berpikiran positif.” Hapuslah kata-kata “tidak dapat,” “tidak pernah,” atau kata-kata lain yang senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa Anda lakukan. &lt;br /&gt;5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang yang belum Anda kenal.&lt;br /&gt;Siapa yang ingin sukses ? &lt;br /&gt;Kuncinya jangan pernah sekali-kali berpikiran negatif !&lt;br /&gt;Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran Anda ! &lt;br /&gt;Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :&lt;br /&gt;“Pasti gagal;&lt;br /&gt;Kami belum pernah melakukannya;&lt;br /&gt;Kami tak sanggup melakukannya;&lt;br /&gt;Saya belum siap melakukannya;&lt;br /&gt;Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya”.&lt;br /&gt;Selamat mencoba, dan ………………………………………….&lt;br /&gt;SEMOGA sukses senantiasa bersama kita yang selalu berusaha maksimal&lt;br /&gt;menggapainya.&lt;br /&gt;http://arifperdana.wordpress.com/2007/02/12/tips-menuju-sukses-berpikiran-positif/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-8371684539175039105?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/8371684539175039105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=8371684539175039105' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8371684539175039105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8371684539175039105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/03/berpikiran-positif.html' title='Berpikiran Positif'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-5106564197325613085</id><published>2009-03-10T22:33:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T22:54:55.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'></title><content type='html'>MENGKRITISI RUU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak terliput oleh media massa dan agak luput dari perhatian kalangan pendidikan, Komisi VI DPR RI saat ini tengah membahas RUU Sistem Pendidikan Nasional. RUU ini naskah awalnya digarap oleh Komite Reformasi Pendidikan Badan Pengembangan dan Penelitian Departemen Pendidikan Nasional (KRP Balitbang Depdiknas).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; MENGKRITISI RUU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak terliput oleh media massa dan agak luput dari perhatian kalangan pendidikan, Komisi VI DPR RI saat ini tengah membahas RUU Sistem Pendidikan Nasional. RUU ini naskah awalnya digarap oleh Komite Reformasi Pendidikan Badan Pengembangan dan Penelitian Departemen Pendidikan Nasional (KRP Balitbang Depdiknas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemikiran UU Sisdiknas mempunyai arti sangat penting dalam memberi landasan yang kukuh bagi pembangunan pendidikan nasional di samping fungsinya sebagai pemberi kepastian hukum dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan, senyampang RUU tersebut masih dalam proses pembahasan, penulis mencoba untuk mengangkat beberapa hal penting sebagai masukan bagi DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Dasar&lt;br /&gt;Sejak dahulu dan kemudian berlanjut sampai sekarang secara sadar kita semua mengalami kekacauan dalam tata nama jenjang pendidikan pada jalur pendidikan sekolah. Sebelum UU No. 2/1989 dan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) Sembilan Tahun diberlakukan, Pemerintah menamai jenjang pendidikan terendah sebagai Sekolah Dasar (SD), kemudian jenjang berikutnya Sekolah Menengah Pertama (SMP), lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) dan nama-nama khusus bagi sekolah menengah kejuruan. Dalam perkembangannya, setelah UU No. 2/1989 dan Wajar Dikdas diberlakukan, nama SMP diubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), SMA menjadi Sekolah Menengah Umum (SMU), dan sekolah-sekolah kejuruan cukup dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Walaupun dasar penggantian nama SMP menjadi SLTP adalah karena SMP merupakan bagian dari pendidikan dasar, nama baru ini tetap mencerminkan kekacauan berpikir karena nama SLTP mengesankan adanya jenjang di atasnya yang bernama SLTK (Sekolah Lanjutan Tingkat Kedua) dan seterusnya. Mestinya nama yang tepat adalah Sekolah Dasar Lanjutan (SDL) yang menunjukkan dengan jelas kedudukan jenjang pendidikan tersebut dalam sistem pendidikan nasional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, dalam naskah RUU yang dibahas pada 5 Desember 2001 Komisi VI menyebut ‘Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajat yang terdiri atas enam tingkat’ (pasal 17 ayat 2), kemudian ‘Pendidikan menengah tingkat pertama berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau yang sederajat’ dan ‘Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) terdiri atas tiga tingkat’ (Pasal 19 ayat 2 dan 3). Berikutnya, dalam pasal 20 ayat 3 disebutkan bahwa ‘Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA)’, dan pada ayat 4 ‘Pendidikan menengah vokasional berbentuk Sekolah Menengah Vokasional (SMV)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping sistem tata nama yang kacau, terdapat kekacauan dan kemunduran berpikir yang sangat mendasar para wakil rakyat di Komisi VI yaitu dengan mengembalikan jenjang pendidikan sekolah setelah SD ke dalam jenjang pendidikan menengah yang disebut sebagai pendidikan menengah tingkat pertama. Apalagi dalam pasal 19 ayat 1 disebutkan bahwa ‘Pendidikan menengah tingkat pertama bertujuan untuk mengembangkan kepribadian, sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja atau untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut’ (kursif dari penulis). Pasal ini jelas-jelas memberikan legalitas formal dan pengakuan kepada dunia bahwa Indonesia mengizinkan dunia usaha mempekerjakan anak-anak berusia muda sebagai buruh karena usia lulusan jenjang pendidikan setelah SD tersebut adalah sekitar 15 tahun. Sungguh tidak masuk akal, keberanian politik Pemerintah di masa lalu yang untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia menetapkan jenjang pendidikan dasar berlangsung sembilan tahun dimentahkan oleh para wakil rakyat di era reformasi. Kenyataan cukup banyak anak-anak berusia muda menjadi buruh atau mencari nafkah bagi keluarganya tentunya tidak harus membuat negara mencabut komitmennya dalam mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penjenjangan dan penetapan tujuan pendidikan, UU No. 2/1989 justru lebih progresif karena dengan jelas menyebutkan jenjang pendidikan dasar berlangsung selama sembilan tahun dan jelas-jelas tidak memasukkan kesiapan memasuki dunia kerja sebagai salah satu tujuan pendidikannya. Naskah terakhir KRP Balitbang Depdiknas pun (27 Juni 2001) memasukkan jenjang pendidikan dasar selama sembilan tahun dengan menyebut pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar dan sekolah dasar lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Keagamaan&lt;br /&gt;Dalam naskah RUU, baik naskah dari KRP Balitbang Depdiknas maupun naskah pembahasan Komisi VI, muncul sesuatu yang baru yaitu masuknya secara eksplisit madrasah dan pesantren. Di samping menempel dalam pasal-pasal tentang jenjang pendidikan yang salah satunya menyebut pendidikan keagamaan, dalam naskah KRP Balitbang Depdiknas ketentuan tentang madrasah dan pesantren tercantum dalam satu pasal khusus yang berisi empat ayat (pasal 17 ayat 1 s.d. 4). Dalam naskah pembahasan Komisi VI ketentuan tersebut muncul dalam salah satu pasal di bawah judul Pendidikan keagamaan yaitu pasal 26 yang secara eksplisit menyebut jenis pendidikan keagamaan Islam. Di samping itu, Komisi VI memasukkan secara eksplisit nama madrasah sesuai dengan jenjangnya dalam pasal-pasal yang menyebutkan nama suatu jenjang pendidikan (pasal 17, 18, 19, dan 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, dengan pemikiran bahwa UU ini berlaku untuk semua warga negara tanpa membedakan agama, tentunya akan lebih bijaksana untuk tidak mencantumkan secara eksplisit ketentuan-ketentuan yang sangat spesifik menunjuk agama tertentu. Atau bila hal tersebut memang sangat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum terhadap jenis dan jenjang pendidikan yang berciri khas agama tertentu, akan lebih baik jika jenis dan jenjang sekolah yang sangat khas yang diselenggarakan oleh pemeluk masing-masing agama dapat dicantumkan semua. Pasal 25 naskah pembahasan Komisi VI sebenarnya sudah cukup mengakomodasikan hal tersebut sehingga pencantuman nama jenjang sekolah yang sangat spesifik menunjuk kepada jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh pemeluk agama tertentu menjadi tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peguruan Swassta&lt;br /&gt;Satu hal yang cukup mengecewakan dalam RUU pembahasan Komisi VI adalah pengakuan terhadap perguruan swasta. Seperti halnya UU No. 2/1989 yang menempatkan eksistensi perguruan swasta dalam pasal buncit, naskah pembahasan Komisi VI pun sama saja (pasal 47 dari 59 pasal dalam UU No. 2/1989 dan pasal 49 dan 59 dari 67 pasal dalam naskah Komisi VI) dan keduanya pun tidak secara eksplisit menyebut ‘perguruan swasta’. Tentang bantuan pembiayaan bagi perguruan swasta pun keduanya menggunakan bahasa yang mengambang. UU No. 2/1989 menyebut ‘Pemerintah dapat memberi bantuan kepada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku’ dan naskah pembahasan Komisi VI menyebut ‘Biaya penyelenggaraan pendidikan oleh masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah, dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku’ (kursif dari penulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, pemahaman akan hak peserta didik sebagai warga negara yang bersekolah di lembaga pendidikan swasta tetap belum berubah dari tahun ke tahun. Harus dipahami bahwa jumlah sekolah dan siswa lembaga pendidikan swasta, terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah cukup besar untuk dapat diabaikan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Pendidikan&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik dalam naskah pembahasan Komisi VI adalah dicantumkannya secara eksplisit pengalokasian dana Pemerintah yaitu 20% dari APBN, 20% dari APBD Provinsi, dan 20% dari APBD Kota/Kabupaten, semuanya di luar alokasi dana bagi gaji guru (naskah KRP Balitbang Depdiknas menyebut angka 6% PDB dan masing-masing 20% APBD Provinsi dan Kota/Kabupaten). Suatu kemajuan yang cukup berarti karena apabila RUU ini berhasil diundangkan tanpa revisi dalam hal pendanaan, pembangunan pendidikan akan kian membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping hal-hal yang penulis kemukakan di atas, masih banyak hal yang perlu pembahasan dan masukan dari berbagai pihak agar RUU ini dapat memenuhi keinginan kita semua dalam membangun sebuah sistem pendidikan nasional yang kuat. Untuk itu, Komisi VI seyogyanya rajin mencari masukan dari masyarakat dan berbagai kalangan yang memiliki perhatian kepada perkembangan dunia pendidikan melalui semacam public hearing dan sebagainya.(gg)&lt;br /&gt;Oleh Ki Gunawan &lt;br /&gt;copied from : &lt;a href="http://re-searchengines.com/kigunawan.html"&gt;Klikhere &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-5106564197325613085?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/5106564197325613085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=5106564197325613085' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5106564197325613085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5106564197325613085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/03/mengkritisi-ruu-sistem-pendidikan.html' title=''/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-5706749254506245513</id><published>2009-03-10T21:17:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T08:36:50.417-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Administrasi'/><title type='text'>Penomoran dalam Surat</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya Allah  mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang tersusun rapi, seakan-akan mereka merupakan bangunan yang tersusun kokoh.”(QS. Ash-Shaff : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Kesekretariatan&lt;br /&gt;Kesekretariatan berasal dari kata sekretariat. Sekretariat artinya bagian dari organisasi yang menangani pekerjaan dan urusan-urusan yang menjadi tugas sekretaris, kepaniteraan (tulis-menulis dan surat-menyurat). Kesekretariatan merupakan bagian pekerjaan yang banyak berhubungan dengan surat-menyurat, pengagendaan, pengetikan, dan kearsipan. Dalam kenyataannya, bidang kerja kesekretariatan sangat banyak, baik yang bersifat rutin dikerjakan setiap hari maupun pekerjaan yang bersifat insidental.&lt;br /&gt;Tugas Pokok Kesekretariatan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apapun nama dan bentuknya,  kesekretariatan merupakan elemen yang harus ada untuk membangun dan menjaga kesinambungan suatu organisasi. Tanggung jawab umum (tugas pokok) kesekretariatan adalah:Pengelolaan sistem administrasi organisasi termasuk di antaranya adalah pengelolaan surat masuk dan pembuatan surat keluar baik internal maupun eksternal organisasi.Pengelolaan sistem pengarsipan data dan informasi, baik intern maupun ekstern organisasi. Data dan informasi merupakan aset penting yang harus disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.Pengelolaan fisik sekretariat. Sekretariat merupakan tempat kerja dan bersilaturahmi para pengurus. Semakin nyaman tempatnya, akan semakin betah pula pengurus untuk bekerja dan berkumpul di dalamnya. Sehingga soliditas pengurus dan kinerja organisasi bisa lebih meningkat demi kepentingan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor Surat&lt;br /&gt;Surat yang dikeluarkan Departemen:Nomor    : 000/Jenis Surat/Nama Departemen/ BEM-FE/Bulan(Romawi)/2007Contoh:Nomor: 010/U/IO/BEM-FE/I/2007&lt;br /&gt;Surat yang dikeluarkan kepanitiaan pada Departemen:Nomor    : 000/Jenis Surat/Nama Departemen/Nama Kegiatan/ BEM-FE/Bulan(Romawi)/2007Contoh:Nomor: 010/PH/HM/BAKSOS/ BEM-FE/VII/2007&lt;br /&gt;Surat yang dikeluarkan Kepanitiaan Bersama (Non Departemen)Nomor    : 000/Jenis Surat/Nama Kegiatan/KD-e/ BEM-FE/Bulan(Romawi)/2007Contoh:Nomor: 010/U/MILAD IX/KD-e/BEM-FE/III/2007Catatan:à Bila tidak ada lampiran, kata Lampiran tidak usah dituliskan&lt;br /&gt;Pihak pengeluar surat di BEM-FE Daerah ditulis dengan kode:&lt;br /&gt;NO    PIHAK PENGELUAR SURAT    KODE01    Gubernur     GM02    Sekretaris Umum    SU03    Bendahara Umum    BU04    Biro Kesekretariatan dan Rumah Tangga    KRT05    Biro Wirausaha    WR06    Departemen Internal Organisasi    DK07    Departemen Kajian Ekonomi    HM08    Departemen Humas Dan Media    MB09    Departemen Minat dan Bakat    DHMBerikut ini kode-kode surat yang dibakukan:&lt;br /&gt;NO    JENIS SURAT    KODE SURAT1    Permohonan (peminjaman, tempat, ruangan, barang, dll)    PH2    Undangan (Rapat, audiensi, hearing, dll)    U3    Pemberitahuan (kunjungan, dll)    B4    Pengumuman    P5    Mandat    M6    Rekomendasi    REK7    Keterangan    RET8    Penugasan    T9    Ucapan    UP10    Memo    MO11    Nota    NT12    Pernyataan    PN13    Kerjasama    KS14    Balasan    SB15     Surat Keputusan    SK    SK16     Internal    A17     Eksternal    B&lt;br /&gt;4. PerihalPerihal    : Permohonan peminjaman tempatHal    : Pemberitahuan kegiatan&lt;br /&gt;5. LampiranLampiran: Lima berkasLamp.       : Satu lembar&lt;br /&gt;6. Alamat&lt;br /&gt;Contoh alamat (dalam) yang benar:Ykh. Ir. LatifJalan Pulo Asem Utara 7 No. 12Jakarta Timur 13210&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;Yang kami hormatiBapak BudimanJalan Teuku Umar No. 24Jakarta Pusat&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;Ykh. Pimpinan Bank Dagang NegaraJalan H.M. ThamrinJakarta Pusat&lt;br /&gt;7. Salam PembukaAssalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakaatuh,Salam Pramuka,&lt;br /&gt;8. Isi Surat- . Pembuka Surat&lt;br /&gt;Dalam rangka perapihan administrasi kesekretariatan BEM FE UNSRI, kami akan menerbitkan buku panduan kesekretariatan …Sehubungan dengan surat Saudara tanggal 5 Januari 2001 No. 007/SB/Kes-i/BEM-FE/I/2001 tentang persyaratan menjadi anggota BEM-FE, dengan ini kami beritahukan bahwa …&lt;br /&gt;-. Isi SuratTerserah Anda dong&lt;br /&gt;-. Penutup&lt;br /&gt;1.    Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.2.    Atas perhatian dan kerjasama Saudara selama ini, kami ucapkan terima kasih.3.    Mudah-mudahan jawaban kami bermanfaat bagi Saudara.Salam PenutupSalam takzim,Salam kami,Hormat kami,Wasalam,Tanda Tangan dan Nama Jelas JabatanContoh:&lt;br /&gt;Yuli Widy Astono,SPKetua Umum&lt;br /&gt;Fedriyansyah, PSSekertaris Jenderal&lt;br /&gt;Tembusan&lt;br /&gt;Tembusan:Ketua UmumSekretaris jendralKepala Biro KesekretariatanSdr. Suryani, S.Si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATURAN PENANDATANGAN&lt;br /&gt;Surat yang dikeluarkan oleh BEM-FEDikeluarkan oleh Ketua Daerahstempel (BEM memiliki stempelSendiri)&lt;br /&gt;Gubernur Mahasiswa                Sekretaris Umum&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Departemenstempel&lt;br /&gt;Gubernur Mahasiswa                       Ka. Departemen&lt;br /&gt;atau:&lt;br /&gt;Ka. Departemen                     Sekretaris Departemen&lt;br /&gt;Mengetahui,stempel&lt;br /&gt;Gubernur Mahasiswa&lt;br /&gt;Catatan:stempel harus terkena Tanda tangan&lt;br /&gt;Dikeluarkan mengatas namakanstempel di kanan TTD Ketum&lt;br /&gt;REKAPITULASI SURAT KELUAR&lt;br /&gt;No    Tgl Surat    Nomor Surat    Perihal/Berita    Tujuan    Ket&lt;br /&gt;AGENDA SURAT MASUK&lt;br /&gt;No    Tgl Masuk    Tgl Surat    Nomor Surat    Dari Siapa    Perihal/Berita    Ditujukan Kepada    Ket&lt;br /&gt;Gunakan kop surat yang baku dan terbaru (Alamat, Telp, dan E-mail)Surat yang dikeluarkan oleh masing-masing dept/biro memiliki nomor masing-masing, tidak bersifat central. Jadi semua dept/biro memulai penomoran surat dari No. 001&lt;br /&gt;Formulir Penerimaan Telepon&lt;br /&gt;Formulir Penerimaan Tamu&lt;br /&gt;PERHATIAN&lt;br /&gt;Bentuk  buku inventaris perlengkapan BEM-FE&lt;br /&gt;No    No. Inv.    Nama Barang    Jmlh    Spesifikasi    Keterangan1.     01.02/DK/ 93    Telepon&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Metode Arsipasi&lt;br /&gt;No    Bentuk laporan (periode……….)1.    Pernyataan Sikap2.     Surat keluar3.    Surat masuk4    Notulensi&lt;br /&gt;Bentuk kartu pinjam&lt;br /&gt;KARTU PINJAM ARSIPBiro Kesekretariatan BEM FENama peminjam    Tanggal pinjam    Tanggal Kembali    Perihal     Tanda Tangan Peminjam    Tanda tangan pengembaliaan&lt;br /&gt;PROPOSAL DAN LAPORAN KEGIATAN&lt;br /&gt;Proposal adalah usulan. Suatu kegiatan beranjak dari suatu pemikiran (gagasan) yang dituangkan dalam suatu perencanaan kegiatan. Untuk merealisasikan gagasan tersebut perlu dibuat rancangan kegiatan atau lazimnya disebut Proposal KegiatanBanyak jenis proposal kegiatan, tergantung pada jenis kegiatan yang akan dilakukan. Dalam penjelasan bagian-bagain proposal berikut merupakan gabungan dari berbagai jenis proposal kegiatan, tinggal memilih mana yang lebih relewan dengan kegiatan.Dalam penyusunan proposal kegiatan, ada hal-hal yang perlu dibuat, antara lain:PendahuluanBerisi latar belakang kegiatan, gambaran umum dan arti penting diadakannya kegiatan tersebut.Dasar PemikiranDengan mengutip peraturan-peraturan, undang-undang, dsb. Jika itu kegiatan keislaman, maka yang dikutip adalah ayat-ayuat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang relevan dengan jenis kegiatan.Landasan OperasionalBerupa surat tugas panitia, surat keputusan, program kerja, surat keputusan menteri, Uud, dll.Tujuan atau maksud KegiatanBerisi beberapa tujuan (hasil) yang ingin dicapai melalui kegiatan yang diadakan.Manfaat kegiatanMembuat target manfaat yang diharapkan setelah diadakannya kegiatan tersebut.Nama/tema dan Bentuk Kegiatan/Jenis UsahaBerisi nama kegiatan atau temanya disertai penjelasan singkat bentuk kegiatan tersebut, misalnya: ceramah, diskusi, games, nasyid, pemutaran film, muhasabah, dll.Waktu dan Tempat KegiatanMengenai rencana waktu dan tempat, berupa hari dan tanggal, waktu pelaksanaan, dan tempat pelaksanaan.Peserta (Anggota/Sasaran)Menentukan peserta (sasaran) kegiatan, disesuaikan dengan tema dan jenis kegiatan.Panitia (Pengurus)Menyebutkan siapa yang menjadi panitia penyelenggara kegiatan atau pengurus kegiatan. Biasanya oleh suatu lembaga/badan/organisasi/yayasan, dll.Penceramah/Pembicara/InstrukturMenyebutkan satu atau beberapa alternatif penceramah/pembicara/instruktur yang akan mengisi kegiatan tersebut.Materi atau Topik-topik PembahasanMenentukan materi atau topik yang menjadi bahan pembicaraan atau pembahasan untuk masing-masing pembicara bila pembicara lebih dari satu orang.Sumber dana (Pemodalan)Bebrapa alternatif renacna sumber dana, antara lain biasanya berasal dari saldo kas, donatur, dana pemerintah atau swasta, dan infak serta sponsor yang tidak mengikat dan halal.PemasaranMembuat rencana pemasaran, baik menyangkut sistem, jangka waktu, sarana dan segmentasi pasar (pengelompokan),Pembagian KeuntunganMenentukan sistem pembagian keuntungan (bagi hasil dari saldo kegiatan yang telah dilaksanakan. Misal: 60% bagi pengusaha dan 40% bagi pemasok dana (penggalang dana)Pengembangan UsahaMembuat prediksi awal untuk pengembangan usaha lebih lanjut untuk masa selanjutnya setelah melihat perkembangan usaha yang dilakukan. Misal: dengan menambah jenis produk, memperluas jaringan pemasaran, melibatkan lebih banyak donatur,dsb.Anggaran BiayaMemperkirakan total jumlah anggaran biaya uang yang dibutuhkan dalam melaksanakan suatu kegiatan, hal ini diketahui setelah membuat anggaran biaya (dibuat oleh bendahara).PenutupDalam penutup ini biasanya berisi harapan-harapan dari panitia, kalimat penetralisir apabila ada sesuatu yang belum diatrur dalam proposal kegiatan. Juga ucapan terima kasih pada semua pihak yang berhubungan atau terkait.Setelah penutup, di bagian akhir dibuat tempat dan tanggal dibuatnya proposal dan ditandatangani oleh panitia pelaksana (biasanya ditandatangani oleh ketua dan sekretaris) dan diikuti tanda tangan pihak-pihak berwenang (diketahui oleh pihak berwenang sebagai keabsahan proposal).Pada bagian akhir proposal dibuat lampiran-lampiran yang diperlukan, seperti:Susulan kepanitiaan (penasehat, pembina, tim pengarah/SC, panitia pelaksanaan/OC)Anggaran biaya, ditandatangani oleh bendaharasusunan acaraJika acara belum dapat dipastikan, dibuat catatan bahwa sewaktu-waktu acara mengalami perubahan.Selain proposal yang perlu menjadi perhatian adalah pembuatan laporan setelah terlaksananya suatu kegiatan.&lt;br /&gt;Laporan Kegiatan&lt;br /&gt;Laporan ini dibuat bagian-bagiannya dengan berpedoman pada proposal kegiatan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu;Tidak semua bagian yang ada dalam proposal dituliskan kembali, contoh: susunan panitia. Namun hal ini juga tergantung kebutuhannya.Menggambarkan kondisi objektif kegiatan yang didukung oleh lampiran. Kondisi objektif ini menceritakan jalannya kegiatan dari perencanaan sampai hari pelaksanaan. Contoh: respon peserta terhadap kegiatan, masalah pencarian dana dan dukungan masyarakat terhadap kegiatan.Evaluasi kegiatan, sehingga kekurangan/kendala dapat diantisipasi pada kegiatan serupa.Rekomendasi yaitu rekomendasi bagi pelaksana kegiatan selanjutnya.&lt;br /&gt;Beberapa poin tambahan yang sebaiknya dicantumkan sebagai lampiran pada laporan kegiatan kegiatan, seperti :Daftar kehadiran (absensi) sebagai penunjuk jumlah peserta (anggota) yang hadir pada kegiatan tersbut.Rekapitulasi pengeluaran dan pemasukkan dan untuk kegiatan beserta tanda bukti transaksi  yang dilakukan.Rekapitulasi surat menyurat, baik yang dikeluarkan oleh panitia maupun yang masuk ke panitia.Dokumentasi, dapat berupa foto-foto kegiatan.Jika ada pengurus yang mengikuti suatu kegiatan atas nama lembaga (dalam hal ini BEM-FE) baik itu kegiatan yang bersifat lokal maupun nasional maka kepada yang bersangkutan harus membuat laporan kegiatan/laporan perjalanan dengan format yang serupa.&lt;br /&gt;PEKERJAAN KECIL YANG TERLUPA&lt;br /&gt;Terkadang ada beberapa pekerjaan kecil yang luput dari amatan kesekretariatan. Namun sebenarnya hal-hal tersebut penting dalam menunjang profesionalitas organisasi. Beberapa hal tersebut adalah:&lt;br /&gt;Amplop SuratDalam pengetikan amplop, nomor surat diketik di sudut kiri atas, sedangkan alamat tujuan surat pengetikannya dimulai dari tengah-tengah amplop.Contoh:&lt;br /&gt;Amplop surat resmi dicetak berkop seperti halnya kertas surat. Untuk amplop surat yang dicetak berkop (kepala surat), penulisan nomor surat di bawah kop surat. Sedangkan untuk amplop surat tanpa kop diberi cap organisasi di sudut kiri atas.&lt;br /&gt;Tanda BuktiTanda bukti diperlukan bila kita memasukkan suatu surat yang ditujukan kepada lembaga formal (khususnya ekstern). Blanko ini digunakan untuk bukti pengecekan ulang (konfirmasi)Contohnya:&lt;br /&gt;Formulir PendaftaranFormulir atau biodata dibuat untuk dipergunakan sebagai alat menjaring data yang dibutuhkan dari calon anggota atau peserta. Bila biodata lebih dari satu lembar, sebaiknya diisi oleh yang bersangkutan di rumah, atau menyediakan waktu khusus yang cukup. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh akurat dan onyektif.&lt;br /&gt;Lain-lain yang Cukup Mendukunga.    Format Absensi RapatDalam format ini setidaknya dibuat nama rapat, waktu dan tempat, pemimpin rapat, nomor urut, nama, utusan, jabatan, tanda tangan.b.    Format Hasil Rapat (Lembar Notulen)Dalam format ini dituliskan agenda rapat dan hasil atau kesimpulan yang diperoleh dari pertemuan/rapat pengurus organisasi atau panitia pelaksana kegiatan.c.    Format Absensi Peserta (Anggota) KegiatanDalam format ini dicantumkan nama kegiatan, waktu pelaksanaan, tempat, nomor urut, nama, utusan, dan tanda tangan.d.    Kartu (Name Tag) Peserta dan Panitia atau Kartu AnggotaKartu merupakan sarana identitas yang bersangkutan, untuk itu harus memuat data yang bersangkutan (minimal nama dan utusan).e.    KwitansiSetiap pengeluaran yang dilakukan oleh organisasi (dalam hal ini wewenang Bendahara atas izin pimpinan/ketua) harus menggunakan tanda bukti pembayaran. Tanda bukti ini digunakan sebagai bukti pemasukan atau pengeluaran yang bersumber dari keuangan intern organisasi.f.    Piagam PenghargaanPiagam yang akan diberikan kepada peserta dan panitia akan lebih baijk bila diberikan langsung setelah kegiatan selesai pada saat itu juga. Piagam memiliki nilai kredibilitas jika ditandatangani oleh yang berwenang, selain panitia/pengurus.g.    Format Riwayat HidupJika organisasi menyelenggarakan suatu kegiatan berupa ceramah atau seminar dan sejenisnya, perlu disiapkan format baku Daftar Riwayat Hidup yang ditujukan kepada pembicara. Biasanya selain data pribadi yang bersangkutan, juga dibuat riwayat pendidikan formal atau non formal, pengalaman organisasi, dan pengalaman kerja. Daftar Riwayat Hidup ini pun dapat ditujukan bagi pengurus atau kepanitiaan.h.    Lain-lain yang dianggap pelru, seperti: daftar petugas piket; daftar kegiatan harian yang dilakukan oleh organisasi; format rekapitulasi peserta rapat harian; dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;budirich.wordpress.com/2008/11/24/penomoran-dalam-surat/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-5706749254506245513?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/5706749254506245513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=5706749254506245513' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5706749254506245513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5706749254506245513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/03/penomoran-dalam-surat.html' title='Penomoran dalam Surat'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-5816940947777746840</id><published>2009-03-09T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T20:55:35.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='conferter'/><title type='text'>pdf conferter</title><content type='html'>http://www.hellopdf.com/download.php&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-5816940947777746840?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/5816940947777746840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=5816940947777746840' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5816940947777746840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5816940947777746840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/03/pdf-conferter.html' title='pdf conferter'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-7705883240747214080</id><published>2009-03-06T17:19:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T17:22:41.052-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UASBN'/><title type='text'>Prediksi Soal Uasbn SD 2009</title><content type='html'>Untuk para siswa SD/MI ini ada sedikit bantuan dari kakak untuk persiapan kalian dalam menghadapi UASBN SD/MI 2009. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat aja UASBN SD/MI 2009, insyaAllah bagi anda para pendidik khususnya yang mengajar di kelas VI tentunya telah melakukan berbagai persiapan, mulai dengan Try Out ujian, Pengembangan SKL dan juga mencari panduan Soal UASBN 2009 yang muaranya adalah menghantarkan anak didik sukses dalam pelaksanaan UASBN. Para Orang tua dan juga mereka yang punya adik dan juga saudara yang saat ini duduk di kelas VI tentunya juga berusaha mencari sesuatu yang berhubungan dengan UASBN.Berikut ini kami sediakan  link  yang menyediakan kumpulan Prediksi Soal UASBN 2009 yang insyaAllah sesuai dengan SKL 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PREDIKSI UASBN SD/MI BAHASA INDONESIA http://downloads.ziddu.com/downloadfile/3347052/PrediksiUASBN09BI.zip.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PREDIKSI SOAL UASBN MATEMATIKA SD/MI 2009http://downloads.ziddu.com/downloadfile/3347064/PrediksiUASBN09MATREV.zip.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PREDIKSI SOAL UASBN IPA SD/MI 2009 http://downloads.ziddu.com/downloadfile/3347113/PrediksiUASBN09IPAREV.zip.html&lt;br /&gt;KUNCI JAWABAN PREDIKSI SOAL http://downloads.ziddu.com/downloadfile/3386526/KunciPrediksiUASBN2008_2009.pdf.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:http://mtsmambaulhuda.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-7705883240747214080?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/7705883240747214080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=7705883240747214080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7705883240747214080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7705883240747214080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/03/prediksi-soal-uasbn-sd-2009.html' title='Prediksi Soal Uasbn SD 2009'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-7911250740011252455</id><published>2009-03-04T20:06:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T20:12:56.260-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UASBN'/><title type='text'>SOAL UASBN SD</title><content type='html'>pembaca yang terhormat..&lt;br /&gt;Kali ini kami ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan …&lt;br /&gt;Bagi anda yang memiliki anak, adik, atau saudara yang masih duduk di bangku kelas 6 SD yang dalam waktu dekat akan menghadapi Ujian AKhir silakan download prediksi UAS tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik link dibawah ini untuk download http://www.ziddu.com/download/3128234/IPA_Prediksi_2009.zip.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-7911250740011252455?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/7911250740011252455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=7911250740011252455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7911250740011252455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7911250740011252455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/03/soal-uasbn-sd.html' title='SOAL UASBN SD'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-9158700157558824252</id><published>2009-01-20T05:41:00.000-08:00</published><updated>2009-03-13T17:52:39.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><title type='text'>belajar bisnis SAMPINGAN oke</title><content type='html'>BISNIS SAMPINGAN DUTA MANUNGGAL ABADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROFIL PERUSAHAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT. DUTA MANUNGGAL ABADI adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Perdagangan Umum dan Jasa Pemasaran yang memberikan manfaat dan peluang bisnis untuk para Pelanggan/Member dengan berbasis E-Commerce, dengan meluncurkan suatu Konsep Marketing yang HANDAL, AMAN &amp; MUDAH DIJALANKAN. Didukung dengan Management dan IT yang Profesional, serta Marketing Plan yang memberikan Manfaat dan Peluang besar kepada para Pelanggan/Member.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FALSAFAH : Kejujuran, Kebersamaan dan Kerja Cerdas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VISI : Menjadi Perusahaan yang sehat dan Profesional menuju kemakmuran Bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MISI :&lt;br /&gt;Membentuk SDM yang profesional dan bertaqwa kepada Tuhan YME&lt;br /&gt;Menciptakan lapangan kerja baru untuk hidup yang lebih baik&lt;br /&gt;Memberikan sumber penghasilan baru&lt;br /&gt;Berperan serta mencerdaskan Anak Bangsa&lt;br /&gt;Mendorong pertumbuhan perekonomian negara dengan kejujuran dan kebersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINARY PLAN (KOMISI HARIAN)&lt;br /&gt;Komisi Sponsor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan mendapatkan Komisi Sponsor sebesar Rp. 20.000,- Setiap Anda mereferensikan 1 orang untuk bergabung pada DUTA NETWORK, tanpa batasan jumlah dan level, maupun posisi. &lt;br /&gt;Contoh : Anda mensponsori A,B dan C. Maka komisi Anda adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 X Rp. 20.000,- = Rp. 60.000,-&lt;br /&gt;Komisi Pasangan/Keseimbangan dan Pulsa HP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan mendapatkan Komisi Pasangan (Keseimbangan) sebesar Rp. 22.500,- cash ditambah Komisi Pulsa Handphone sebesar Rp. 7.500,- . Setiap terjadi 1 (satu) keseimbangan jumlah jaringan sebelah kiri dan kanan. Potensi Komisi Pasangan (Keseimbangan) Anda (Flush Out) Rp. 300.000,-/hari dan Rp. 120.000,- pulsa/hari ( 12 kiri : 12 kanan / hari ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh : Jika di kiri berjumlah 3 dan kanan 3 ( bagaimanapun bentuknya ), maka komisi pasangan Anda adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 pasangan X Rp. 22.500,- = Rp. 67.500,- cash&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Pengembangan (Titik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan mendapatkan Komisi Pengembangan / Titik sebesar Rp. 1.000.- per titik (member) apabila terjadi penambahan jumlah member dalam jaringan Anda, sampai dengan kedalaman 20 Level tidak harus seimbang. Potensi Komisi Pengembangan (Titik) yang bisa Anda peroleh Rp. 2.097.150.000,-.&lt;br /&gt;Komisi Duplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Duplikasi (Generasi) adalah komisi yang diberikan kepada Anda apabila Member yang Anda Sponsori mendapatkan komisi Keseimbangan sampai&lt;br /&gt;kedalaman 3 Generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi I : Rp. 2.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi II : Rp. 2.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi III : Rp. 2.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKA POTENSI KOMISI YANG BISA ANDA DAPATKANKomisi Sponsor : Rp. 20.000,- X 4 = Rp. 80.000,-&lt;br /&gt;Komisi Pasangan  : Rp. 22.500,- X 3 = Rp. 67.500,-&lt;br /&gt;  : Rp. 7.500,- X 3 = Rp. 22.500,- pulsa&lt;br /&gt;Komisi Pengembangan : Rp. 1.000,- X 7 = Rp. 7.000,-&lt;br /&gt;  TOTAL = Rp. 177.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Komisi Duplikasi yang bisa Anda dapatkan apabila dengan pensponsoran sebanyak 5 orang adalah :Generasi I : Rp. 2.000,- x 5 x 12 = Rp. 120.000,-/hari&lt;br /&gt;Generasi II : Rp. 2.000,- x 25 x 12 = Rp. 600.000,-/hari&lt;br /&gt;Generasi III : Rp. 2.000,- x 125 x 12 = Rp. 3.000.000,-/hari&lt;br /&gt;  TOTAL : Rp.3.720.000,-/hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMISI ROYALTI PULSA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Royalti Pulsa adalah Komisi sebesar Rp 10,- setiap terjadi transaksi/ penjualan pulsa yang dilakukan oleh Member di dalam jaringan Anda hingga&lt;br /&gt;kedalaman 10 Level (1024 member).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Komisi Royalti PulsaPotensi Komisi Royalti Pulsa&lt;br /&gt;Level Member Komisi Transaksi Total&lt;br /&gt;1 2 10 3 60&lt;br /&gt;2. 4 10 3 120&lt;br /&gt;3. 8 10 3 240&lt;br /&gt;4. 16 10 3 480&lt;br /&gt;5. 32 10 3 960&lt;br /&gt;6. 64 10 3 1.920&lt;br /&gt;7. 128 10 3 3.840&lt;br /&gt;8. 256 10 3 7.680&lt;br /&gt;9. 512 10 3 15.360&lt;br /&gt;10 1024 10 3 30.720&lt;br /&gt;    61.380&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi di atas jika member melakukan transaksi sebanyak 3 kali dalam sehari maka potensi penghasilan Anda dalam 1 bulan adalah : 62.380 x 30 = 1.841.400&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMISI SPILLONAS (SPILLOVER NASIONAL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Spillonas adalah Program penataan jaringan secara otomatis oleh system komputer berdasarkan member yang masuk di program ini setiap hari. Anda akan mendapatkan Rp. 1000,- setiap computer menambahkan member Spillonas di dalam jaringan Spillonas Anda sampai dengan 15 Level . Maka potensi penghasilan Anda adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POTENSI PENGHASILAN SPILLONAS Per 1 Hak UsahaLevel Jumlah Member Komisi Total Komisi&lt;br /&gt;1. 2 Rp. 1.000,- 2.000,-&lt;br /&gt;2 4 Rp. 1.000,- 4.000,-&lt;br /&gt;3. 8 Rp. 1.000,- 8.000,-&lt;br /&gt;4. 16 Rp. 1.000,- 16.000,-&lt;br /&gt;5. 32 Rp. 1.000,- 32.000,-&lt;br /&gt;6. 64 Rp. 1.000,- 64.000,-&lt;br /&gt;7. 128 Rp. 1.000,- 128.000,-&lt;br /&gt;8. 256 Rp. 1.000,- 256.000,-&lt;br /&gt;9. 512 Rp. 1.000,- 512.000,-&lt;br /&gt;10. 1.024 Rp. 1.000,- 1.024.000,-&lt;br /&gt;11. 2.048 Rp. 1.000,- 2.048.000,-&lt;br /&gt;12. 4.096 Rp. 1.000,- 4.096.000,-&lt;br /&gt;13. 8.192 Rp. 1.000,- 8.192.000,-&lt;br /&gt;14. 16.384 Rp. 1.000,- 16.384.000,-&lt;br /&gt;15. 32.768 Rp. 1.000,- 32.768.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-9158700157558824252?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/9158700157558824252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=9158700157558824252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/9158700157558824252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/9158700157558824252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/belajar-bisnis-sampingan-oke.html' title='belajar bisnis SAMPINGAN oke'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3204935896299344539</id><published>2009-01-05T22:06:00.000-08:00</published><updated>2009-03-13T17:51:28.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain lain'/><title type='text'>INSTRUKSI UNTUK MENYIAPKAN DAN MENYAJIKAN</title><content type='html'>INSTRUKSI UNTUK MENYIAPKAN DAN MENYAJIKAN&lt;br /&gt;KARYA TULIS ILMIAH STANDARDISASI 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arfan Bakhtiar*), Diana Puspitasari**)&lt;br /&gt;*)Program Studi Teknik Industri Undip&lt;br /&gt;**) Program Studi Teknik Industri Undip&lt;br /&gt;Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang – Semarang 50275&lt;br /&gt;Telp/Fax. 024-7460052&lt;br /&gt;arfbakh@yahoo.com&lt;br /&gt;dianapus@industri.ft.undip.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstraksi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini mengilustrasikan persiapan karya tulis dengan menggunakan MS-WORD. Karya tulis sebaiknya tidak berbentuk nomor.  Karya tulis ditulis dalam bahasa indonesia. Panjang dari karya tulis sebaiknya antara 10 sampai 15 halaman, dalam format ini menggunakan A4 yang tulis dengan 2 kolom. Judulnya sebaiknya termasuk judul yang singkat, penulis, dan sebuah abstraksi sekitar 200 kata yang ditulis diawal karya tulis. Organisasi, alamat dan kode pos, dan telepon dan nomor fax dan juga alamat email yang ditulis dibawah nama penulis. Karya tulis dimulai dengan judul yang menggunakan ukuran huruf 16 Times New Roman. Lalu dikuti dengan detil dari setiap penulis dengan ukuran huruf 10 Times New Roman.  Abstrasi ditulis dengan ukuran huruf 10 Times New Roman. Pada bagian judul diberi garis tebal (bold) dengan ukuran huruf 12 Times New Roman. Sisanya dari karya tulis sebaiknya menggunakan tipe huruf Times New Roman dengan ukuran huruf 11. Jika ada pertanyaan, silahkan mengirim pesan ke  lkti.standardisasi@gmail.com atau mengunjungi website Teknik Industri UNDIP dengan alamat  industri.ft.undip.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan &lt;br /&gt;Cara yang paling mudah adalah pastikan sesuai dengan persyaratan untuk digunakan dalam dokumen ini copy lalu paste isi dari karya tulismu ke dokumen. Format utama dari karya tulis adalah terdiri dari 2 kolom dengan spasi 1 cm. Bagian heading sebaiknya ringkas dan diurutan berdasarkan nomor, digunakan sistem decimal untuk sub bab. Untuk penekanan kata sebaiknya menggunakan garis miring. Penulisan makalah mengikuti garis besar sistematika sebagai berikut :&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Landasan Teoritis (Literature Review)&lt;br /&gt;Metodologi dan data&lt;br /&gt;Analisis&lt;br /&gt;Kesimpulan dan rekomendasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heading&lt;br /&gt;Heading sebaiknya jumlahnya tidak lebih dari 1 baris, dan sebaiknya tepat diletakkan dikiri&lt;br /&gt;II.1  Second – Level Heading&lt;br /&gt;Bagian selanjutnya dari heading adalah diberi garis tebal, Heading diletakkan pada sebelah kiri dengan margin kiri&lt;br /&gt;II.1.1 Third-Level Heading&lt;br /&gt;Third level heading mengikuti gaya second level heading. Dan hindari penggunaan lebih dari third-level heading&lt;br /&gt;Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;Bagian – bagian, dalil – dalil, kesimpulan - kesimpulan, pernyataan – pernyataan, contoh – contoh, pendapat – pendapat, gambar – gambar, dan tabel – tabel secara beruntun diberi nomor dalam tiap kategorinya. &lt;br /&gt;Rujukan di buat dalam Parenthetical Reference&lt;br /&gt;Contoh: ( lihat bagian yang di highlight)&lt;br /&gt;…. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2004 diperkiranka sebesar 4,2-4,7 persen (Bank Indonesia, 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1: Sebuah tabel atau gambar harus memiliki judul yang jelas&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar Dan Tabel&lt;br /&gt; Setiap gambar harus memiliki judul gambar di bawah gambar tersebut sedangkan judul tabel harus berada di atas tabel tersebut. Setiap kata harus ditulis dalam huruf kecil kecuali karakter pertama dari tiap – tiap kata ditulis huruf besar dengan ukuran huruf Times New Roman 10. Setiap gambar dan tabel harus dinomori secara berurutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1: Judul dari gambar harus muncul di bawah gambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2: Judul dari tiap tabel harus berada di atas tabel tersebut&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip Referensi&lt;br /&gt; Setiap referensi harus ditulis dengan urutan penulis, tahun publikasi, judul atau sumber. Nama jurnal, nama/judul proceedingnya, dan judul buku harus dicetak miring dan huruf kapital untuk setiap kata. Judul artikel harus datar dan hanya karakter pertama yang huruf besar. Tahun terbit harus muncul setelah nama penulis, tahun publikasi, dan judul artikel. Nomor volum jurnal harus dicetak tebal. Urutan nomor volum tidak diperlihatkan kecuali ada kerancuan. Corak dari referensi diilustrasikan. Tiga atau lebih penulis dari referensi hanya ditulis penulis pertama diikuti et al. Sebagai contoh (Yoshimura et al. 1990). Sangat direkomendasikan untuk menghindari sumber dari web jika ketersediaan sumbernya tidak dapat dijamin. Jika ada sumber dokumen resmi, sebagai contoh sebuah jurnal, untuk dokumen yang sama, dimohon untuk merujuk pada dokumen resmi. Namun jika kamu menggunakan sumber dari web, maka judul, nama penulis, dan tahun pembuatan, harus diklarifikasi sedetail mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alwan, Layth C. 2000. Statistical Process Analysis. Singapore : Mc Graw- hill International edition.&lt;br /&gt; Fryman, Mark A. 2002. Quality and Process Improvement. Thomson Learning. United States of America.&lt;br /&gt; Kume, Hitoshi. 1985. Metode Statistik untuk Peningkatan Mutu. Jakarta: PT. Melton Putra.&lt;br /&gt; Mitra, Amitava. 1993. Fundamental of Quality Control and Improvement. New York: Macmillan Publishing Company.&lt;br /&gt; Montgomery, Douglas C. 1993. Pengendalian Kualitas statistik. New York: McGraw- Hill. Inc.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3204935896299344539?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3204935896299344539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3204935896299344539' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3204935896299344539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3204935896299344539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/instruksi-untuk-menyiapkan-dan.html' title='INSTRUKSI UNTUK MENYIAPKAN DAN MENYAJIKAN'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3499859697601083271</id><published>2009-01-05T20:36:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T20:37:46.409-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>Kaki bengkak (ankle edema)</title><content type='html'>Kaki bengkak (ankle edema) adalah pembengkakan pada tungkai bawah yang disebabkan oleh penumpukan cairan pada kaki tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang dapat menyebabkan ankle edema ini. Faktor yang berperan adalah kadar protein (albumin) dalam darah yang rendah, fungsi pompa jantung menurun, sumbatan pembuluh darah atau pembuluh limfe, penyakit liver dan ginjal kronis, posisi tungkai terlalu lama tergantung (gravitasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ankle edema ini terjadi pada kedua tungkai tetapi dapat juga terjadi pada satu tungkai saja. Ankle edema hanya satu tungkai saja disebabkan karena aliran pembuluh darah atau pembulih limfe tersumbat, sumbatan ini dapat terjadi karena darah yang kental lalu membeku didalam pembuluh darah atau massa tumor yang menekan pembuluh darah atau pembuluh limfe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan yang dilakukan sangat mudah yakni dengan menekan pada daerah mata kaki akan timbul cekungan yang cukup lama untuk kembali pada keadaan normal. Pemeriksaan lanjutan untuk menentukan penyebab dari ankle edema adalah menentukan kadar protein darah dan di air seni (urin), pemeriksaan jantung (Rontgen dada, EKG), fungsi liver dan ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan awal yang dapat dilakukan dengan mengganjal kaki agar tidak tergantung dan meninggikan kaki pada saat berbaring. Pengobatan lanjutan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.&lt;br /&gt; 1 bulan lalu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergelangan kaki bengkak bisa akibat cedera atau penyakit tulang, otot dan sendi. Penyebabnya secara umum akibat reaksi inflamasi/peradangan di daerah tersebut, antara lain asam urat, rheumatoid arthritis dll. Kalau mau lebih jelas periksa ke dokter bedah tulang, dokter penyakit dalam atau dokter spesialis akupunktur.&lt;br /&gt; 1 bulan lalu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filariasis limfatik di Indonesia disebabkan oleh &lt;br /&gt;W. &lt;br /&gt;bancrofti, &lt;br /&gt;B. &lt;br /&gt;malayi dan &lt;br /&gt;B. &lt;br /&gt;timori, menyerang kelenjar dan pembuluh getah bening. Penularan terjadi melalui &lt;br /&gt;vektor nyamuk Culex spp., &lt;br /&gt;Anopheles &lt;br /&gt;spp., Aedes &lt;br /&gt;spp. &lt;br /&gt;dan Mansonia spp. &lt;br /&gt;Dalam perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan adenolimfangitis kuta ber-&lt;br /&gt;ulang dan berakhir dengan obstruksi menahun dari sistem limfatik, dengan masa &lt;br /&gt;prepaten/ inkubasi, gejala klinik akut dan menahun. &lt;br /&gt;Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis akuta disertai panas dan &lt;br /&gt;malaise. Pada filariasis bancrofti sering terjadi funikulitis, epididimitis, orchitis, adeno-&lt;br /&gt;limfangitis inguinal/aksila dengan limfangitis retrograd. Pada filariasis brugia, limfade-&lt;br /&gt;nitis terutama terjadi pada kelenjar inguinal, dengan limfedema pada pergelangan kaki &lt;br /&gt;dan kaki. Pada saat serangan penderita tidak mampu bekerja selama beberapa hari. &lt;br /&gt;Penderita dapat ditemukan amikrofilaremik ataupun mikrofilaremik. &lt;br /&gt;Gejala menahun terjadi 10­15 tahun setelah serangan pertama, berupa cacat yang &lt;br /&gt;mengganggu aktivitas, berupa hidrokel, chyluria, limfedema dan elefantiasis pada fila-&lt;br /&gt;riasisbancrofti dan elefantiasis tungkai sebawah lutut/siku. Mikrofilaremi jarang &lt;br /&gt;ditemukan pada saat ini. &lt;br /&gt;Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik untuk me-&lt;br /&gt;nentukan angka kesakitan akut dan menahun (ADR dan CDR). Diagnosis parasitologik &lt;br /&gt;ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria dalam peredaran darah. Deteksi antigen &lt;br /&gt;dengan cara immunodiagnosis dapat dipakai pada masa prepaten/inkubasi, amikrofi-&lt;br /&gt;laremi dan gejala menahun. &lt;br /&gt;Dietilkarbamasin adalah satu-satunya obat filariasis yang ampuh, aman, murah dan &lt;br /&gt;belum menunjukkan adanya resistensi obat. Reaksi samping dapat diatasi dengan obat &lt;br /&gt;simptomatik. Dosis standard adalah dosis tunggal 5 mg/kgBB/hari, 15 hari untuk &lt;br /&gt;filariasis bancrofti dan 10 hari untuk filariasis brugia. &lt;br /&gt;Pemberantasan filariasis meliputi pengobatan, pemberantasan nyamuk dan &lt;br /&gt;penyuluhan, dengan tujuan menurunkan ADR, mf &lt;br /&gt;rate &lt;br /&gt;dan mempertahankan CDR. &lt;br /&gt;Pengobatan massal dilaksanakan bila ADR &gt; 0% dan mf &lt;br /&gt;rate &lt;br /&gt;&gt; 5%, bila ADR 0% dan &lt;br /&gt;mf &lt;br /&gt;rate &lt;br /&gt;&lt; &lt;br /&gt;5% &lt;br /&gt;diadakan pengobatan selektif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3499859697601083271?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3499859697601083271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3499859697601083271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3499859697601083271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3499859697601083271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/kaki-bengkak-ankle-edema.html' title='Kaki bengkak (ankle edema)'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-6091279189888245375</id><published>2009-01-05T20:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T20:36:10.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DAPURKU'/><title type='text'>BAKSO URAT UUENAK</title><content type='html'>RESEP DASAR BAKSO URAT&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;300 gr daging sengkel, 1 siung bawang putih, cincang halus, 1 sdt garam, sdt merica bubuk, 2 sdm tepung kanji, 2 putih telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Haluskan sengkel dengan cara dicincang halus atau digiling&lt;br /&gt;2. Tambahkan bawang putih, garam dan merica. Aduk rata, masukkan tepung kanji, aduk rata, uleni sambil masukkan putih telur hingga adonan kalis (kurleb 30 menit)&lt;br /&gt;3. Bentuk adonan menggunakan 2 sendok menjadi bola-bola bakso. Rebus dalam air mendidih hingga bola-bola bakso mengapung, angkat, tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RESEP DASAR BAKSO IKAN&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;300 gr daging ikan tenggiri (fillet); 1 siung bawang putih, potong tipis, goreng garing, remas; sdt garam; sdt merica bubuk; 4 sdm tepung kanji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cincang atau blender daging ikan&lt;br /&gt;2. Tambahkan bawang putih, garam dan merica, remas-remas sampai tercampur rata. Masukkan tepung kanji, aduk atau uleni sampai tercampur rata&lt;br /&gt;3. Bentuk adonan menjadi bulatan dengan menggunakan 2 sendok. Rebus dalam air mendidih sampai bakso mengapung, angkat, tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RESEP DASAR BAKSO UDANG&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;300 gr udang kupas; 1 siung bawang putih, potong tipis, goreng kering, remas; sdt garam; sdt merica bubuk; 1 sdm tepung kanji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Haluskan udang dengan cara diulek/dicincang halus/dipukul-pukul dengan pemukul daging&lt;br /&gt;2. Uleni dan banting-banting hingga menjadi adonan yang bisa dipulung. Tambahkan bawang putih, garam, merica dan tepung kaji, remas-remas hingga rata&lt;br /&gt;3. Bentuk adonan menjadi bulatan dengan 2 sendok. Rebus dalam air mendidih sampai bakso mengapung, angkat, tiriskan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-6091279189888245375?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/6091279189888245375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=6091279189888245375' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/6091279189888245375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/6091279189888245375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/bakso-urat-uuenak.html' title='BAKSO URAT UUENAK'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-636955293801596074</id><published>2009-01-05T20:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T20:34:56.439-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dapur'/><title type='text'>cara bikin bakso sendiri</title><content type='html'>cara bikin bakso sendiri&lt;br /&gt;bahan&lt;br /&gt;-daging segar 0.5kg&lt;br /&gt;-terigu 0.5kg&lt;br /&gt;-tapioka 0.5kg&lt;br /&gt;-bawang putih 1 bonggol&lt;br /&gt;-garam n merica secukupnya&lt;br /&gt;-penyedap rasa 1 sachet&lt;br /&gt;cara bikin&lt;br /&gt;-semua bahan diblender dicampur dengan sedikit es batu&lt;br /&gt;-bahan yang udah diblender dikepal ditangan trus dipecototin (sorry ga tahu istilahnya di bahasa indonesianya ma'af2) diambil dengan sendok lalu dimasukkan ke air mendidih&lt;br /&gt;-kalo baksonya dah ngambang diambil n ditiriskan&lt;br /&gt;MEMBUAT BAKSO SENDIRI&lt;br /&gt;(Seri Teknik Masak Primarasa)&lt;br /&gt;BAHAN UTAMA&lt;br /&gt;Daging sapi&lt;br /&gt;Pilih daging sapi yang masih segar, bahkan yang masih berdarah. Daging sapi yang bebas urat dan sedikit lemak seperti daging lemusir dan gandik akan menghasilkan bakso yang terbaik mutunya. Bisa juga dipakai daging penutup, paha depan, atau daging iga. Untuk bakso urat, pilih daging sengkel. Makin segar makin baik, karena daging sapi yang segar akan meghasilkan bakso yang kualitasnya terjamin&lt;br /&gt;Ikan&lt;br /&gt;Pilih jenis ikan yang berdaging putih seperti tenggiri, kakap, kerapu, belida, atau ikan gabus. Selain hasilnya tampak bersih (tidak gelap), tekstur baksonya pun lebih kenyal. Sebab ikan berdaging putih umumnya memiliki kandungan protein aktin dan myosin cukup tinggi yang membuat daging ikan lebih padat, kompak dan mudah dibentuk (tidak buyar). Bakso ikan yang bermutu baik berwarna putih, mengkilap dengan tekstur kenyal, halus dan tidak berserat&lt;br /&gt;Udang&lt;br /&gt;Pilih udang yang segar, buang sungutnya yang panjang, kepala dan kulitnya, Remas-remas udang secara hati-hati dengan garam, lalu cuci bersih, baru cincang halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam&lt;br /&gt;Daging ayam tidak sekenyal daging sapi, tetapi kini banyak yang memanfaatkannya untuk bakso. Yang digunakan adalah daging ayam tanpa tulang. Pilih ayam yang sehat, segar dan tidak terlalu tua&lt;br /&gt;TEKNIK MEMBUAT BAKSO&lt;br /&gt;Membuat adonan&lt;br /&gt;Untuk membuat adonan bakso, potong-potong kecil daging, kemudian cincang halus dengan menggunakan pisau tajam atau food processor atau blender. Setelah itu, haluskan daging, uleni dengan es batu atau air es (10-15% berat daging) dan garam (dan bumbu lain) sampai menjadi adonan yang kalis dan plastis sehingga mudah dibentuk. Sedikit-sedikit tambahkan tepung kanji agar adonan lebih mengikat. Penambahan tepung kanji cukup 15-20% dari berat daging, agar cita rasa daging tetap menonjol. Anda bias berkreasi dengan mencampur atau menambahkan bahan lain ke dalam adonan bakso untuk mendapatkan tekstur atau cita rasa yang lain. Misalnya, campur daging ayam dengan udang atau jamur cincang. Bahan lain yang bias dipadu dengan daging, antara lain putih telur, tepung panir, biscuit keju atau biscuit asin lainnya, soun, tahu, daun bawang, bawang Bombay, dll. Agar cita rasa bahan utama tetap menonjol, tambahkan bahan lain sedikit saja.&lt;br /&gt;Membentuk adonan&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan adonan yang dikehendaki, Anda bisa langsung membentuk bakso dengan menggunakan 2 sendok. Ambil adonan dengan sendok, lalu bentuk bulat dengan bantuan sendok satu lagi. Bagi mereka yang mahir bisa menggunakan tangan. Ambil segenggam adonan, remas dan tekan kearah ibu jari. Adonan yang keluar dari antara ibu jari dan telunjuk akan membentuk bulatan. Agar adonan tidak lengket, oleskan sedikit minyak goreng pada telapak tangan Anda. Adonan yang sudah dibentuk sebaiknya langsung direbus atau masukkan ke dalam air mendidih hingga matang. Tandanya : bola-bola bakso akan mengapung di permukaan air. Perebusan bakso biasanya berlangsung 10-15 menit. Setelah diangkat, tiriskan, dinginkan pada suhu ruang&lt;br /&gt;MENYIMPAN BAKSO&lt;br /&gt;Walaupun tanpa pengawet, bakso dapat bertahan kurang lebih 1 bulan. Bila ingin menyimpan bakso, perhatikan beberapa hal berikut :&lt;br /&gt;Jika disimpan dalam lemari es (chiller), sebaiknya taruh bakso dalam wadah tertutup atau kantong plastik. Bakso tahan disimpan 5 hari.&lt;br /&gt;Jika disimpan dalam freezer, taruh dalam kotak plastik atau kantong plastik tebal dan tutup rapat. Lebih baik lagi jika bakso ditaruh dalam wadah kedap udara, tahan disimpan selama 1 bulan atau lebih.&lt;br /&gt;Sebelum diolah menjadi hidangan, cuci lebih dulu bakso dalam air hangat.&lt;br /&gt;RESEP DASAR BAKSO SAPI&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;300 gr daging sapi segar, sdt garam, 2 siung bawang putih, cincang halus, sdt merica bubuk, 1-2 sdm tepung kanji, 1 putih telur&lt;br /&gt;1. Cincang atau giling daging sampai halus, campur bersama garam, aduk&lt;br /&gt;2. Uleni sampai adonan lembut dan bisa dipulung (kurleb 30 menit). Lalu masukkan bawang putih dan merica&lt;br /&gt;3. Setelah adonan rata, masukkan tepung dan putih telur, aduk sampai tercampur&lt;br /&gt;4. Bentuk adonan menjadi bulatan menggunakan 2 sendok. Rebus dalam air mendidih hingga bakso mengapung, angkat, tiriskan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-636955293801596074?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/636955293801596074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=636955293801596074' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/636955293801596074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/636955293801596074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/cara-bikin-bakso-sendiri.html' title='cara bikin bakso sendiri'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-8767916414123206233</id><published>2009-01-05T20:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T20:26:39.583-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips dan tutorial'/><title type='text'>TEKNIK MENULIS LAPORAN PENELITIAN KARYA ILMIAH (II)</title><content type='html'>MENULIS LAPORAN HASIL PENELITIAN&lt;br /&gt;Menulis laporan hasil penelitian, tidak berbeda dengan menyusun tulisan ilmiah populer lainnya. Secara teknis, bedanya pada kerangka tulisan. Tulisan ilmiah hasil penelitian harus ditulis berdasarkan kerangka yang sudah baku. Kerangka laporan hasil&lt;br /&gt;penelitian terdiri atas, Pendahuluan, Kajian Teori, Metodologi Penelitian, Hasil Penelitian dan Pembahasan, serta Simpulan dan Saran, yang ditambah dengan lampiran-lampiran bukti hasil penelitian.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, kerangka tulisan ilmiah, kita uraikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;􀀹 Pendahuluan&lt;br /&gt;Bab Pendahuluan adalah bab yang mengantarkan isi naskah, yaitu bab yang berisi hal-hal umum yang dijadikan landasan kerja penyusun. Pendahuluan dalam karya ilmiah biasanya terdiri atas (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Pembatasan Masalah, (4) Tujuan Penelitian, dan (5) Manfaat Penelitian. Latar belakang masalah merupakan uraian hal-hal yang menyebabkan perlunya dilakukan penelitian terhadap suatu masalah atau problematika yang muncul, dapat ditulis dalam bentukan uraian paparan atau poin-poin saja. Identifikasi masalah merupakan kumpulan masalah yang berhasil diurai atau dipetani (meminjam istilah Direktur Bindiklat, Sumarna Suranapranata, Phd.). Sedangkan pembatasan masalah diambil dari bagian-bagian identifikasi masalah yang akan diteliti. Biasanya tidak semua masalah yang berhasil diidentifikasi diteliti karena keterbatasan biaya, waktu, dan kemampuan. Tujuan penelitian diambil dari batasan masalah. Jika salah satu batasan masalah yang dirumuskan dalam kalimat tanya itu, berbunyi, “Bagaimana hasil belajar dengan menerapkan metode tanya jawab, maka tujuan penelitiannya ialah mengetahui hasil pembelajaran dengan menggunakan metode tanya jawab. Sedangkan manfaat penelitian bisa dituliskan manfaat untuk si peneliti atau guru, lembaganya dan bagi dunia pendidikan pada umumnya.&lt;br /&gt;􀀹 Kajian Teori&lt;br /&gt;Kajian teori atau kerangka teori berisi prinsip-prinsip teori yang memengaruhi dalam pembahasan. Prinsip-prinsip teori itu berguna untuk membantu gambaran langkah dan arah kerja. Kerangka teori akan membantu penulis dalam membahas masalah yang sedang diteliti. Artinya, kerangka teori harus bisa memberikan gambaran tata kerja teori itu. Misalnya, kerangka teori untuk menganalisis kesalahan (Anakes) kebahasaan kita menggunakan teori yang berhubungan dengan itu, misalnya dengan membuat rujukan buku karya Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa, Penerbit Angkasa, Bandung.&lt;br /&gt;􀀹 Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ilmiah harus menggunakan metode atau teknik penelitian. Menurut Wiradi (1998;9) metode adalah seperangkat langkah yang tersusun secara sistematis. Metode penelitian seperti deskriptif, komparatif, eksperimen, sensus, survai, kepustakaan, dan metode penelitian tindakan kelas (PTK).&lt;br /&gt;􀀹 Analisis atau Pembahasan&lt;br /&gt;Bab analisis ini merupakan bab yang terpenting dalam penelitian ilmiah. Dalam bab ini akan dilakukan kegiatan analisis, sintesis pembahasan, interpretasi, jalan keluar dan beberapa pengolahan data secara tuntas.&lt;br /&gt;􀀹 Simpulan dan Saran&lt;br /&gt;Pada bagian ini berisi simpulan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Simpulan yang dimaksud adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Simpulan ini diperoleh dari uraian analisis, interpretasi, dan deskripsi yang tertera pada bab analisis. Selanjutnya, saran-saran penulis tentang metodologi penelitian lanjutan, penerapan hasil penelitian, dan beberapa saran yang mempunyai relevansi dengan hambatan yang dialami selama penelitian.&lt;br /&gt;LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS&lt;br /&gt;Menyusun laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada hakikatnya tidak berbeda dengan menyusun laporan penelitian lainnya. Bedanya, pada PTK penekanannya pada hasil penelitian tidak dilakukan dengan mengolah data kuantitatif, tetapi membuat laporan perkembangan siklus. Peneliti mendeskripsikan kegiatan pembelajaran pada setiap siklusnya, dengan tahap-tahap tindakan seperti perencanaan tindakan, analisis, refleksi, observasi dan tindakan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;SIMPULAN&lt;br /&gt;Setelah mencermati uraian mengenai teknis penyusunan laporan penelitian di atas, kita bisa mengambil simpulannya. Agar kita tidak mengalami hambatan dan lancar dalam penyusunan laporan penelitian, maka kita harus: (1) banyak membaca buku-buku yang terkait dengan laporan penyusunan karya ilmiah kita, (2) mencari master laporan yang sudah jadi, untuk copy the master, (3) mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang&lt;br /&gt;kita butuhkan yang berkaitan dengan objek yang diteliti, (4) memahami kerangka laporan karya ilmiah, dan (5) meneguhkan niat di dalam hati, bahwa laporan penelitian itu harus selesai sebagai bentuk tanggung jawab kita, (6) menepati jadwal penyusunan laporan karya ilmiah yang sudah kita susun. Apabila semua langkah itu dilaksanakan, maka pembuatan laporan karya tulis ilmiah itu tidak akan pernah terkatung-katung. Nah, Anda mau mencoba? Why not?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-8767916414123206233?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/8767916414123206233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=8767916414123206233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8767916414123206233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8767916414123206233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/teknik-menulis-laporan-penelitian-karya_05.html' title='TEKNIK MENULIS LAPORAN PENELITIAN KARYA ILMIAH (II)'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-253425646456235472</id><published>2009-01-05T20:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T20:24:10.766-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips dan tutorial'/><title type='text'>TEKNIK MENULIS LAPORAN PENELITIAN KARYA ILMIAH (I)</title><content type='html'>TEKNIK MENULIS LAPORAN PENELITIAN KARYA ILMIAH&lt;br /&gt;By&lt;br /&gt;NASIN EL-KABUMAIN&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Menulis laporan penelitian karya ilmiah acap kali menjadi masalah bagi seseorang yang sudah menyelesaikan proposal penelitian ilmiah, atau bahkan sudah melaksanakan penelitian. Berbagai alasan klise seperti kesibukan, sedikitnya waktu, tidak adanya biaya sering menjadi kambing hitam atas ketidakberdayaan kita menyelesaikan laporan hasil penelitian karya ilmiah. Walhasil, setelah berbulan-bulan penelitian ilmiah dilaksanakan laporan hasilnya belum juga selesai. Banyak kasus, mahasiswa yang sudah menyelesaikan Ujian Negara masih terkatung-katung karena belum menyelesaikan skripsi atau tesisnya.&lt;br /&gt;Menyelesaikan laporan karya ilmiah terkait dengan kegiatan menulis. Sebagaimana kita maklumi, menulis merupakan keterampilan berbahasa yang masih menjadi masalah di negeri kita. Alwasilah (2000) menjadikan kelahiran buku secara nasional menjadi ukuran betapa sulitnya membuat tulisan. Daddy Pakar seorang praktisi bahasa (2001) menyebutkan di masa subur proyek saja kelahiran buku baru setiap tahunnya hanya 2.000 judul buku baru, kalah jauh dengan Malaysia yang penduduknya sedikit setiap tahunnya mampu melahirkan 8.000 judul buku baru. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara maju.&lt;br /&gt;Keterampilan menulis memang tidak bisa lahir dengan serta merta. Diperlukan kolaborasi antara talenta manusia dengan wawasan kebahasaan. Talenta melahirkan semangat menulis, dan wawasan kebahasaan menjadi bekal untuk terampil menulis. Talenta saja tidak cukup, sebab sebagai sebuah skill, seperti halnya naik sepeda, kegiatan menulis perlu dilatih atau diasah. Semakin sering berlatih, maka kemampuan menulis akan semakin baik. Untuk sekedar naik sepeda, hanya diperlukan waktu sekitar satu bulan, dan untuk menjadi seorang atlet balap sepeda, diperlukan latihan bertahun-tahun. Sama halnya dengan belajar menulis. Untuk sekedar bisa menulis, dibutuhkan waktu beberapa bulan saja, tetapi untuk menjadi penulis yang handal, yang tulisan-tulisannya ditunggu oleh para pembaca, tentu dibutuhkan waktu latihan yang lebih lama lagi.&lt;br /&gt;Seorang yang hendak melakukan kegiatan menulis setidaknya harus menguasai empat keterampilan berbahasa. Empat keterampilan berbahasa itu ialah mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Untuk sekedar mendengar atau menyimak, asalkan telinga kita tidak bermasalah, siapapun bisa melakukannya. Namun, untuk menjadi pendengar yang mampu memahami pembicaraan diperlukan kemampuan mendengar yang baik, atau menguasai teknik mendengar. Sama halnya dalam kegiatan berbicara, membaca dan menulis. Untuk menjadi pembicara, pembaca dan penulis yang baik, maka ia harus menguasai teknik-tekniknya.&lt;br /&gt;BEKAL UNTUK CALON PENULIS&lt;br /&gt;Seorang penulis atau seorang peneliti yang hendak membuat tulisan, agar mampu melakukan kegiatan menulis dengan baik, diperlukan bekal yang memadai. Ismail Marahimin, (2001) menyebut seorang penulis harus mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan petunjuk umum yang harus dikuasai, sebelum penulis itu memilih bentuk tulisan yang akan diselesaikannya. Ketidakberdayaan seorang peneliti atau seorang penulis menyelesaikan karya tulisnya, mungkin disebabkan dia tidak memiliki bekal yang cukup saat memulai menulis, sehingga banyak kendala yang kemudian ditemui. Agar kegiatan menulis ini lancar, tanpa kendala yang berarti, maka seorang penulis harus memiliki bekal, mengetahui petunjuk umum bagi calon penulis, sebagai berikut.&lt;br /&gt;• Membaca Sebagai Sarana Utama&lt;br /&gt;Keempat keterampilan berbahasa saling terkait satu sama lain. Keterampilan berbicara berkaitan dengan mendengar. Orang yang tidak bisa mendengar atau tuli tidak bisa berbicara. Kaitan antara membaca dan menulis juga cukup erat. Para ahli mengatakan bahwa untuk dapat menulis kita harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama menuju keterampilan menulis.&lt;br /&gt;• Latar Belakang Informasi&lt;br /&gt;Jika Anda merasa kesulitan menuangkan ide, perlu diwaspadai barangkali latar belakang informasi yang akan ditulis kurang lengkap. Sama halnya ketika Anda ingin&lt;br /&gt;mencari alamat seseorang, sedangkan alamatnya kurang lengkap, maka Anda akan mengalami kesulitan. Pun demikian ketika seseorang menanyakan tentang cara membuat minyak klentik, padahal Anda belum mengetahuinya. Tentu Anda akan kesulitan untuk memberikan penjelasan. Jika Anda harus menulis sesuatu yang minim informasi, maka Anda akan berputar-putar di sekitar masalah itu ke situ, penuh dengan klise-klise usang, kering dan kerdil. Untuk menghindari hal itu, maka ketika hendak menulis tentang apa saja, kumpulkan informasi sebanyak mungkin. Seorang penulis dengan latar belakang yang luas membuat Anda mudah meramunya. Anda bisa menulis dengan irama air, mengalir tanpa henti atau seperti hembusan angin. Hasilnya pun bukan kata-kata klise, tetapi sebuah karya yang padat, memiliki referensi atau kerangka referensi yang luas.&lt;br /&gt;• Well-rounded Man&lt;br /&gt;Seorang calon penulis, atau yang hendak menyelesaikan tulisan, hendaknya dia memiliki citra well-rounded man atau gambaran seorang yang sempurna ibarat bulatnya bola. Bola yang bulat menyebabkan dia bisa menggelinding kemana saja. Maknanya, seorang penulis harus mengetahui serba sedikit tentang apa saja yang ada di dunia ini. Disamping ilmu kejuruannya, katakan dia seorang sarjana Matematika, tetapi dia mengetahui tentang cara memasak ikan, cara mengoperasikan komputer, sejarah bangsa, dan lain-lain. Dia akan menjadi manusia yang bercitra well-ounded man jika ia banyak membaca, atau menggali berbagai pengalaman hidup. Dengan banyaknya pengalaman, maka kita akan sangat mudah saat meramu laporan penelitian karya ilmiah.&lt;br /&gt;• Memiliki Kepekaan&lt;br /&gt;Kepekaan yang dimaksud di sini ialah kepekaan bahasa dan kepekaan terhadap subtansi atau materi. Kepekaan terhadap bahasa ialah peka terhadap hal-hal yang menyangkut bentuk tulisan, paragraph, kalimat, arti kata, arti kiasan, bunyi kata, diksi dan lain-lain. Sering kita dapati sebuah tulisan yang kurang tepat, kalimat rancu, atau hal-hal yang sifatnya kebahasaan dan berpengaruh terhadap makna. Sedangkan kepekaan subtansi atau materi menyangkut isi tulisan. Banyak orang kecewa, saat mengetahui isi sebuah buku yang ditulis dengan bahasa yang berbunga-bunga, tapi tidak ada apa-apanya. Bahkan banyak tema buku yang tidak sesuai dengan isinya. Ada tulisan yang memuat ide&lt;br /&gt;sebesar jari tangan, tapi ditulis dalam bingkai sebesar gajah bengkak, atau idenya sebesar jerapah ditulis dalam kalimat sekecil semut merah. Nah, perlu juga diketahui kepekaan bahasa ini juga diperoleh dari hasil membaca.&lt;br /&gt;• Copy The Master&lt;br /&gt;Ketika saya pertama kali ingin membuat karya tulis, bingungnya minta ampun. Ternyata kerangka saja karya ilmiah yang diberikan oleh dosen pembimbing tidak cukup. Saya berusaha minta bantuan orang yang pernah punya pengalaman menulis skripsi. Tapi, lambatnya minta ampun. Akhirnya, saya pergi keperpustakaan kampus dan mendapatkan contoh skripsi yang serupa. Dengan melihat contoh yang sudah ada, dengan mudahnya saya membuat laporan karya tulis. Cara inilah yang disebut Copy The Master, alias meniru master yang ada. Namun, perlu digarisbawahi, yang dimaksud dengan meniru ini bukan menjiplak. Kita membuat model yang sama, tetapi isinya berbeda. Contoh yang ada memudahkan kita membuat alur tulisan sesuai contoh atau sesuai master yang ada.&lt;br /&gt;Model Copy The Master diilhami dari kebiasaan orang China dalam belajar melukis. Seorang siswa calon pelukis diberi master lukisan yang sudah bagus. Siswa itu harus meniru lukisan itu. Ia dinyatakan lulus jika sudah bisa meniru persis lukisan tersebut. Cara belajar ini kemudian diadopsi untuk belajar membuat tulisan. Dalam kaitan membuat karya tulis kita bisa membaca berbagai karya tulis dengan gaya tertentu, maka kita akan bisa menirunya. Contohnya, jika kita ingin membuat novel silat, dengan membaca seratus novel silat, maka kita bisa membuat novel serupa. Nah, kalau ingin membuat laporan karya ilmiah, kita bisa melihat contoh karya ilmiah yang sudah jadi, dan kita bisa meniru bentuk laporannya. Sekali lagi, meniru yang bukan berarti menjiplak.&lt;br /&gt;• Tulis Ulang&lt;br /&gt;Ismail Marahimin (2001:22) mengingatkan agar sebagai calon penulis kita harus menghindari tiga perasaan, yaitu rasa cepat puas, sikap ingin menang sendiri dan cepat putus asa. Ketiga hal ini harus dibuang jauh-jauh, karena akan menjadi hambatan bagi seorang penulis. Sebut saja, jika Anda seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi,&lt;br /&gt;lalu draft Anda dicoret, jika Anda cepat marah, cepat putus asa, maka Anda akan mengalami kendala. Mungkin, skripsi atau tulisan yang Anda buat tidak akan pernah selesai. Biaya yang sudah kita keluarkan akan menjadi mubazir, sebab skripsi Anda masih terkatung-katung.&lt;br /&gt;Jika Anda menulis untuk ditawarkan ke penerbit, maka Anda harus mau menulis ulang. Banyak penulis besar, termasuk Kalil Gibran menjadi orang besar setelah berkali-kali gagal tulisannya ditolak penerbit. J.K. Rowling yang kekayaannya melebihi kekayaan ratu Inggris dari karyanya, serial Harry Potter mengalami hal yang sama. Bercermin dari kisah para penulis besar, tidak masalah kalau kita mau mengulangi karya-karya kita yang gagal.&lt;br /&gt;• Panjang Tulisan&lt;br /&gt;Panjang tulisan itu sangat tergantung dari bahan yang akan kita tulis. Selama tidak ada aturan yang membatasi (untuk lomba biasanya dibatasi, minimal panjang tulisan atau jumlah halaman), maka Anda boleh terus menulis sesuai bahan yang tersedia. Kalau bahan masih ada, teruskan menulis, kalau bahan sudah habis, berhentilah menulis. Jangan memaksa terus menulis kalau bahan habis, nanti tulisan Anda banyak bohongnya, dan jangan berhenti selagi bahan masih ada, nanti tulisan Anda kurang lengkap atau banyak bolongnya.&lt;br /&gt;Setelah bekal di atas, Anda masih harus memikirkan beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan tulis-menulis, seperti tulisan itu harus unity dan coherence atau kesatuan dan kepaduan, transisi, gaya bahasa, perbandingan, peribahasa, struktur, sintaksis, pengulangan, tanda baca, diksi, rima, laras, warna, sampai pengetahuan tentang wacana, paragraf atau alinea, tema dan judul. Pemahaman Anda akan hal-hal yang berkaitan dengan sisi kebahasaan, sekali lagi harus Anda peroleh dari kegiatan membaca. Sekali lagi, membaca memang menjadi sarana utama!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-253425646456235472?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/253425646456235472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=253425646456235472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/253425646456235472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/253425646456235472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/teknik-menulis-laporan-penelitian-karya.html' title='TEKNIK MENULIS LAPORAN PENELITIAN KARYA ILMIAH (I)'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-8538834373968485670</id><published>2009-01-03T09:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T09:43:34.871-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><title type='text'>internet dengan modem Hand Phone</title><content type='html'>isi mnyusul&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-8538834373968485670?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/8538834373968485670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=8538834373968485670' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8538834373968485670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8538834373968485670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/internet-dengan-modem-hand-phone.html' title='internet dengan modem Hand Phone'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-7543029785245311662</id><published>2009-01-02T20:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T20:02:04.366-08:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar</title><content type='html'>Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini pemerintah menghadapi berbagai kendala dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Ketidakmerataan mutu guru di sekolah menjadi alasan utama pemerintah untuk selalu memperhatikan peningkatan kualitas sumber tenaga kependidikan. Hal ini ditempuh karena keberhasilan mutu pendidikan sangat tergantung dari keberhasilan proses belajar-mengajar yang merupakan sinergi dari komponen-komponen pendidikan baik kurikulum tenaga pendidikan, sarana prasarana, sistem pengelolaan, maupun berupa faktor lingkungan alamiah dan lingkungan sosial, dengan peserta didik sebagai subjeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses belajar mengajar sebagai sistem dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu di antaranya adalah guru yang merupakan pelaksana utama pendidikan di lapangan. Kualitas guru baik kualitas akademik maupun non akademik juga ikut mempengaruhi kualitas pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lainnya yang tak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, adalah sumber belajar. Dalam rangka mengupayakan peningkatan kualitas program pembelajaran perlu dilandasi dengan pandangan sistematik terhadap kegiatan belajar-mengajar, yang juga harus didukung dengan upaya pendayagunaan sumber belajar di antaranya internet. Ini di satu pihak, sedangkan di pihak lain kenyataan menunjukkan bahwa sumber belajar dan sarana pembelajaran yang telah dibakukan, diadakan dan didistribusikan oleh pemerintah belum didayagunakan secara optimal oleh guru, pelatih dan instruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan kualitas pembelajaran, perlu ditempuh upaya-upaya yang bersifat komprehensif terhadap kemampuan guru dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Namun demikian, berdasarkan isu yang berkembang dalam pendidikan, pembelajaran pada sekolah dasar belum berjalan secara efektif, bahkan banyak guru yang mengajar tanpa memanfaatkan sumber belajar. Mereka mengajar secara rutin apa adanya sehingga pembelajaran berkesan teacher centris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan perkembangan teknologi jaringan komputer yang ada sekarang ini, siswa SD pun dapat belajar dengan menggunakan jaringan internet sebagai sumber belajar, tentu saja dengan bimbingan guru atau pendampingan orang tua. Namun ironisnya banyak guru yang belum mengenal internet padahal siswa sudah banyak yang terbiasa menjelajahi dunia maya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan masalah tersebut, sudah seharusnya guru zaman sekarang ini mulai memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan pengetahuan guru maupun siswa akan berkembang. Selain itu guru maupun siswa juga akan terbiasa mengoperasikan perangkat komputer tersebut, sehingga tidak ada lagi istilah guru gaptek (Gagap Teknologi) maupun siswa gaptek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan internet sebagai sumber belajar, pada makalah ini akan dibicarakan pengertian internet, spesifikasi peralatan internet, pengertian sumber belajar, dan metode pembelajaran melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rumusan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas permasalahan yang hendak dikaji yaitu bagaimanakah pembelajaran berbasis internet itu dapat diterapkan pada siswa sekolah dasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan dan Manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penulisan makalah ini untuk mendeskripsikan pembelajaran berbasis internet pada siswa sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Manfaat penulisan ini meliputi manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis, makalah ini dapat digunakan sebagai acuan untuk memahami pembelajaran berbasis internet pada siswa sekolah dasar. Manfaat praktis, bagi guru sebagai masukan dalam memilih sumber belajar dan dapat menerapkannya dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diera globalisasi, negara-negara diberbagai belahan dunia sudah tidak ada lagi batas dalam mempeeroleh informasi. Dalam waktu yang sama di tempat berbeda dengan jarak yang jauh sekalipun orang saling bertukar informasi dana berkomunikasi. Kemajuan teknologi informasi ini tidak hanya dirasakan oleh dunia bisnis, akan tetapi dunia pendidikan juga ikut merasakan manfaatnya. Perkembangan teknologi informasi lebih terasa menfaatnya dengan hadirnya jaringan internet yang memanfaatkan satelit sebagai media transformasi. Hadirnya internet sebagai sumber informasi ini sangat memungkinkan seseorang untuk mencari dan menyebarkan segala ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk penemuan penelitian keseluruh dunia dengan mudah, cepat, dan murah, sehingga pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dapat lebih cepat dan merata. Dengan demikian segala informasi yang ada di internet dapat dijadikan sebagai sumber belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian internet itu sendiri adalah jaringan (Network) komputer terbesar di dunia. Jaringan berarti kelompok komputer yang dihubungkan bersama, sehingga dapat berbagi pakai informasi dan sumber daya (Shirky, 1995:2). Dalam internet terkandung sejumlah standar untuk melewatkan informasi dari satu jaringan ke jaringan lainnya, sehingga jaringan-jaringan di seluruh dunia dapat berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidharta (1996) memberikan definisi yang sangat luas terhadap pengertian internet. Internet adalah forum global pertama dan perpustakaan global pertama dimana setiap pemakai dapat berpartisipasi dalam segala waktu. Karena internet merupakan perpustakaan global, maka pemakai dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum dapat dikatakan bahwa internet adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan saling hubungan antar jaringan-jaringan komputer yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan komputer-komputer itu berkomunikasi satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Spesifikasi Peralatan Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita dapat mengoperasikan internet dengan baik, maka dibutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadahi. Perangkat keras adalah komponen-komponen fisik yang membentuk suatu sistem komputer serta peralatan-peralatan lain yang mendukung komputer untuk melakukan tugasnya. Perangkat keras tersebut berupa:&lt;br /&gt;(1) satu unit komputer,&lt;br /&gt;(2) modem,&lt;br /&gt;(3) jaringan telepon,&lt;br /&gt;(4) adanya sambungan dengan ISP (Internet Service Provider).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perangkat lunak adalah program-program yang diperlukan untuk menjalankan perangkat keras komputer. Perangkat lunak ini kita pilih sesuai dengan:&lt;br /&gt;(1) kemampuan perangkat keras yang kita miliki,&lt;br /&gt;(2) kelengkapan layanan yang diberikan,&lt;br /&gt;(3) kemudahan dari perangkat itu untuk kita operasikan dalam (User Friendly).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengertian Sumber Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kawasan teknologi instruksional, sumber belajar pada dasarnya merupakan komponen teknologi instruksional, yang disebut dengan istilah "Komponen Sistem Instruksional". Teknologi instruksional adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar-mengajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi instruksional, pemecahan masalah itu berupa komponen sistem instruksional yang telah disusun terlebih dahulu dalam proses desain atau pemilihan dan pemanfaatan, dan disatukan ke dalam sistem instruksional yang lengkap, untuk mewujudkan proses belajar yang terkontrol dan berarah tujuan, yang komponennya meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar (Setijadi, 1986:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudhofir (1992:13) menyatakan bahwa yang termasuk sumber belajar adalah berbagai informasi, data-data ilmu pengetahuan, gagasan-gagasan manusia, baik dalam bentuk bahan-bahan tercetak (misalnya buku, brosur, pamlet, majalah, dan lain-lain) maupun dalam bentuk non cetak (misalnya film, filmstrip, kaset, videocassette, dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AECT menguraikan bahwa sumber belajar meliputi: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Komponen-komponen sumber belajar yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan dengan dengan cara yaitu dilihat dari keberadaan sumber belajar yang direncanakan dan dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber belajar yang sengaja direncanakan (by design) yaitu semua sumber belajar yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. Sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasi, dan digunakan untuk keperluan belajar (Setijadi, 1986:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan konsep-konsep di atas, sumber belajar pada dasarnya merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar (lingkungan). Dalam makalah ini titik berat sumber belajar yang dikaji adalah internet. Sedang orang, bahan, peralatan dan teknik merupakan sumber belajar pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Metode Pembelajaran Melalui Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran berbasis internet bagi siswa sekolah dasar sudah seharusnya mulai dikenalkan. Untuk itu para guru hendaknya sudah tahu lebih dahulu tentang dunia internet sebelum menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa. Persiapan yang tak kalah pentingnya yaitu sarana komputer. Tentu saja dalam hal ini hanya dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai patner dalam pembelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua perangkat untuk pembelajaran siap, guru mulai melakukan pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar internet. Bagi siswa sekolah dasar tentu saja akses-akses yang ringan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Disinilah kepiawaian seorang guru ditampilkan dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa metode yang dapat dilakukan oleh guru, diantaranya: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan descoveri. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet, suatu misal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa dapat mencari karya puisi atau cerpen dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa muthakir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa semakin senang, tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian mutu pendidikan juga akan meningkat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran internet dapat diterapkan di sekolah dasar dengan beberapa metode pembelajaran (diskusi, inkuiri, deskoveri, dan problem solving) serta menggunakan model pembelajaran yang dikemas sederhana, menarik, dan menyenangkan siswa, sehingga pembelajarannya lebih bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pembelajaran berbasis Internet mendidik siswa untuk berpikir kritis, menambah wawasan dan pengetahuan siswa, mendidik siswa untuk belajar otodidak, dan meningkatkan hasil belajar siswa sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendidik dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai menyiapkan dan memperkenalkan pembelajaran berbasis internet ini kepada siswa SD, agar para siswa siap menghadapi tantangan zaman dan dapat menerima perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudhofir. 1992. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setijadi. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan (Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT). Jakarta: Rajawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shirky, C.1995. Internet lewat E-mail. Jakarta: PT. Alex Media Komputindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidharta, L.1996. Internet: Informasi Bebas Hambatan 1. Jakarta: PT Alex Media Komputindo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Rustantiningsih&lt;br /&gt;Guru di SDN Anjasmoro Semarang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-7543029785245311662?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/7543029785245311662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=7543029785245311662' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7543029785245311662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7543029785245311662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pembelajaran-berbasis-internet-untuk.html' title='Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-4059678235810531343</id><published>2009-01-02T19:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T20:00:30.065-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>PEMBINAAN PROFESIONAL MELALUI SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU</title><content type='html'>PEMBINAAN PROFESIONAL MELALUI SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konseptual pengakuan terhadap keberadaan profesi guru mengandung arti recognition, endorsement, acceptance, trust, dan confidence yang diberikan oleh masyarakat kepada guru untuk mendidik tunas-tunas muda dan membantu mengembangkan potensinya secara professional. Kepercayaan, keyakinan, dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan masyarakat terhadap profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi dari pengakuan tersebut mensyaratkan guru harus memiliki kualitas yang memadai. Tidak hanya pada tataran normatif saja namun mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki, baik kompetensi personal, professional, maupun kemasyarakatan dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek "guru" dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan apabila Kepala Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Siskandar menyatakan bahwa penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menuntut kualitas guru memadai sehingga perlu meng-upgrade kemampuan guru supaya pelaksanaan kurikulum sesuai dengan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Balitbang Depdiknas (tahun 2001) saja menunjukkan, dari 1.054.859 guru SD negeri ternyata hanya 42,4 persen yang layak mengajar. Berarti, sebagian besar (57,6 persennya) tidak layak mengajar (Depdiknas go.id.com). Sampai-sampai Sapari (Kompas, 16/8/2002) berani menyimpulkan, rendahnya kualitas guru SD/MI menyebabkan pemahaman mereka terhadap inovasi pendidikan sepotong-sepotong, bahkan ada yang sama sekali tidak memahami secara substansial apa yang dikembangkan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tersebut semakin memperkuat data-data sebelumnya yang menyatakan bahwa kualitas sumber daya manusia kita pada tahun 2002 menempati angka 110 dari 173 negara, daya saing kita 47 dari 48 negara, performance system pendidikan kita berada pada nomor 38 dari 39 negara, penguasaan matematika siswa SLTP pada urutan 34 dan penguasaaan IPA pada urutan ke-32 dari 38 negara (Sucipto, 2003:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara mikro, permasalahan peningkatan mutu pendidikan merupakan conditio sine qua non dan mendesak untuk dipikirkan oleh stakeholder pendidikan. Secara aplikatif, diperlukan peningkatan profesionalisme guru karena guru merupakan pelaksana lapangan yang menjadi ujung tombak. Berbagai upaya pemberdayaan dapat dilakukan di antaranya dengan pembinaan profesionalisme guru melalui supervisi pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui supervisi pengajaran, seorang kepala sekolah dapat memberi bimbingan, motivasi, dan arahan agar guru dapat meningkatkan profesionalismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana upaya yang dapat dilakukan dalam pembinaan profesional melalui supervisi pengajaran sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep Mutu Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendidikan yang bermutu ditentukan oleh berbagai unsur dinamis yang akan ada di dalam sekoalh itu dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Menurut Townsend dan Butterworth (1992:35) dalam bukunya Your Child's Scholl, ada sepuluh faktor penentu terwujudnya proses pendidikan yang bermutu, yakni:&lt;br /&gt;1) keefektifan kepemimpinan kepala sekolah,&lt;br /&gt;2) partisipasi dan rasa tanggung jawab guru dan staf,&lt;br /&gt;3) proses belajar-mengajar yang efektif,&lt;br /&gt;4) pengembangan staf yang terpogram,&lt;br /&gt;5) kurikulum yang relevan,&lt;br /&gt;6) memiliki visi dan misi yang jelas,&lt;br /&gt;7) iklim sekolah yang kondusif,&lt;br /&gt;8) penilaian diri terhadap kekuatan dan kelemahan,&lt;br /&gt;9) komunikasi efektif baik internal maupun eksternal, dan&lt;br /&gt;10) keterlibatan orang tua dan masyarakat secara instrinsik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep yang lebih luas, mutu pendidikan mempunyai makna sebagai suatu kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan yang ditetapkan sesuai dengan pendekatan dan kriteria tertentu (Surya, 2002:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan (Depdiknas, 2001:5). Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain dengan mengintegrasikan input sekolah sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah yang dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, dan moral kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan konsep mutu pendidikan maka dpaat dipahami bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan..Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas - batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2002 dunia pendidikan ditandai dengan berbagai perubahan yang datang bertubi-tubi, serempak, dan dengan frekuensi yang sangat tinggi. Belum tuntas sosialisasi perubahan yang satu, datang perubahan yang lain. Beberapa inovasi yang mendominasi panggung pendidikan selama tahun 2002 antara lain adalah Pendidikan Berbasis Luas (PBL/BBE) dengan life skills-nya, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK/CBC), Manajemen Berbasis Sekolah (MBS/SBM), Ujian Akhir Nasional (UAN) pengganti EBTANAS, pembentukan dewan sekolah dan dewan pendidikan kabupaten/kota. Setiap pembaruan tersebut memiliki kisah dan problematiknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang menarik adalah perubahan itu umumnya memiliki sifat yang sama, yakni menggunakan kata berbasis (based). Bila diamati lebih jauh, perubahan yang "berbasis" itu umumnya dari atas ke bawah: dari pusat ke daerah, dari pengelolaan di tingkat atas menuju sekolah, dari pemerintah ke masyarakat, dari sesuatu yang sifatnya nasional menuju yang lokal. Istilah-istilah lain yang populer dan memiliki nuansa yang sama dengan "berbasis" adalah pemberdayaan (empowerment), akar rumput (grass-root), dari bawah ke atas (bottom up), dan sejenisnya. Apa itu artinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja label-label perubahan yang dewasa ini berseliweran dalam dunia pendidikan nasional (kadang-kadang dipahami secara beragam): manajemen berbasis sekolah (school based management), peningkatan mutu berbasis sekolah (school based quality improvement), kurikulum berbasis kompetensi (competence based curriculum), pengajaran/pelatihan berbasis kompetensi (competence based teaching/training), pendidikan berbasis luas (broad based education), pendidikan berbasis masyarakat (community based education), evaluasi berbasis kelas (classroom based evaluation), evaluasi berbasis siswa (student based evaluation) dikenal juga dengan evaluasi portofolio, manajemen pendidikan berbasis lokal (local based educational management), pembiayaan pendidikan berbasis masyarakat (community based educational financing), belajar berbasis internet (internet based learning), dan entah apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fullan &amp; Stiegerbauer (1991: 33) dalam "The New Meaning of Educational Change" mencatat bahwa setiap tahun guru berurusan dengan sekitar 200.000 jenis urusan dengan karakteristik yang berbeda dan itu merupakan sumber stres bagi mereka. Mungkin tak aneh bila dilaporkan banyak guru mengalami stres dan jenuh (burnout).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriadi (2002:17) mengatakan: "orang yang mendalami teori difusi inovasi akan segera tahu bahwa setiap perubahan atau inovasi dalam bidang apa pun, termasuk dalam pendidikan, memerlukan tahap-tahap yang dirancang dengan benar sejak ide dikembangkan hingga dilaksanakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, berbagai kondisi perlu diperhitungkan, mulai substansi inovasi itu sendiri sampai kondisi-kondisi lokal tempat inovasi itu akan diimplementasikan. Intinya, suatu perubahan yang mendasar, melibatkan banyak pihak, dan dengan skala yang luas akan selalu memerlukan waktu. Suatu inovasi mestinya jelas kriterianya, terukur dan realistik dalam sasarannya, dan dirasakan manfaatnya oleh pihak yang melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah percepatan dapat saja dilakukan, tetapi dengan risiko kegagalan yang besar akibat inovasi itu kurang dihayati secara penuh oleh pelaksananya. Saya menilai bahwa banyak inovasi pendidikan yang diluncurkan di Indonesia dewasa ini yang melanggar prinsip-prinsip tersebut, di samping secara konseptual "cacat sejak lahir", serba tergesa-gesa, serbainstan, targetnya tidak realistik, didasari asumsi yang linier seakan-akan suatu inovasi akan bergulir mulus begitu diluncurkan, dan secara implisit dimuati obsesi demi menanamkan "aset politik" di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Profesionalisme Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesionalisme menjadi tuntutan dari setiap pekerjaan. Apalagi profesi guru yang sehari-hari menangani benda hidup yang berupa anak-anak atau siswa dengan berbagai karakteristik yang masing-masing tidak sama. Pekerjaaan sebagai guru menjadi lebih berat tatkala menyangkut peningkatan kemampuan anak didiknya, sedangkan kemampuan dirinya mengalami stagnasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini banyak guru, dengan berbagai alasan dan latar belakangnya menjadi sangat sibuk sehingga tidak jarang yang mengingat terhadap tujuan pendidikan yang menjadi kewajiban dan tugas pokok mereka. Seringkali kesejahteraan yang kurang atau gaji yang rendah menjadi alasan bagi sebagian guru untuk menyepelekan tugas utama yaitu mengajar sekaligus mendidik siswa. Guru hanya sebagai penyampai materi yang berupa fakta-fakta kering yang tidak bermakna karena guru menang belajar lebih dulu semalam daripada siswanya. Terjadi ketidaksiapan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar ketika guru tidak memahami tujuan umum pendidikan. Bahkan ada yang mempunyai kebiasaan mengajar yang kurang baik yaitu tiga perempat jam pelajaran untuk basa-basi bukan apersepsi -red- dan seperempat jam untuk mengajar. Suatu proporsi yang sangat tidak relevan dengan keadaan dan kebutuhan siswa. Guru menganggap siswa hanya sebagai pendengar setia yang tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak sesuai dengan tujuan umum pendidikan yang menyangkut kebutuhan siswa dalam belajar, keperluan masyarakat terhadap sekolah dan mata pelajaran yang dipelajari. Guru memasuki kelas tidak mengetahui tujuan yang pasti, yang penting demi menggugurkan kewajiban. Idealisme menjadi luntur ketika yang dihadapi ternyata masih anak-anak dan kalah dalam pengalaman. Banyak guru enggan meningkatkan kualitas pribadinya dengan kebiasaan membaca untuk memperluas wawasan. Jarang pula yang secara rutin pergi ke perpustakaan untuk melihat perkembangan ilmu pengetahuan. Kebiasaan membeli buku menjadi suatu kebiasaan yang mustahil dilakukan karena guru sudah merasa puas mengajar dengan menggunakan LKS ( Lembar Kegiatan Siswa ) yang berupa soal serta sedikit ringkasan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dilihat daftar pengunjung di perpustakaan sekolah maupun di perpustakaan umum, jarang sekali guru memberi contoh untuk mengunjungi perpustakaan secara rutin. Lebih banyak pengunjung yang berseragam sekolah daripada berseragam PSH. Kita masih harus "Khusnudhon" bahwa dirumah mereka berlangganan koran harian yang siap disantap setiap pagi. Tetapi ada juga kekhawatiran bahwa yang lebih banyak dibaca adalah berita-berita kriminal yang menempati peringkat pertama pemberitaan di koran maupun televisi. Sedangkan berita-berita mengenai pendidikan, penemuan-penemuan baru tidak menarik untuk dibaca dan tidak menarik perhatian. Kebiasaan membaca saja sulit dilakukan apalagi kebiasaan menulis menjadi lebih mustahil dilakukan. Ini adalah realita dilapangan yang patut disesalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana dan prasarana penunjang pelajaran yang kurang memadai, terutama di daerah terpencil. Tetapi hal ini tidak bisa dijadikan alasan bahwa dengan sarana yang minimpun dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin agar mendaptkan hasil yang bagus. Terkadang kita juga harus memakai prisip ekonomi yang ternyata dapat membawa kemajuan. Yang sering dijumpai adalah sudah ada sarana tetapi tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta dunia hanya dipajang di depan kelas, globe atau bola dunia dibiarkan berkarat tidak pernah tersentuh, buku-buku pelajaran diperpustakaan dimakan rayap alat-alat praktek di laboratorium hanya tersimpan rapi alamari tidak pernah dipergunakan. Media pengajaran yang sudah ada jangan dibiarkan rusak atau berkarat gara-gara disimpan. Lebih baik rusak karena digunakan untuk praktek siswa. Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam pemakaian sarana dan media yang ada demi peningkatan mutu pendidikan. Sekolah juga tidak harus bergantung pada bantuan dari pemerintah mengingat kebutuhan masing-masing sekolah tidaklah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kesejahteraan guru yang kurang mengakibatkan banyak guru yang malas untuk berprestasi karena disibukkan mencari tambahan kebutuhan hidup yang semakin berat. Anggaran pendidikan minimal 20 % harus dilaksanakan dan diperjuangkan unutk ditambah karena pendidikan menyangkut kelangsungan hidup suatu bangsa. Apabila tingkat kesejahteraan diperhatikan, konsentrasi guru dalam mengajar akan lebih banyak tercurah untuk siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penataran dan pelatihan mutlak diperlukan demi meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kompetensi guru. Kegiatan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi hasilnya juga akan seimbang jika dilaksanakan secara baik. Jika kegiatan penataran, pelatihan dan pembekalan tidak dilakuakan, guru tidak akan mampu mengembangkan diri, tidak kreatif dan cenderung apa adanya. Kecenderungan ini ditambah dengan tidak adanya rangsangan dari pemerintah atau pejabat terkait terhadap profesi guru. Rangsangan itu dapat berupa penghargaan terhadap guru-guru yang berprestasi atau guru yang inovatif dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru harus diberi keleluasaan dalam menetapkan dengan tepat apa yang digagas, dipikirkan, dipertimbangkan, direncanakan dan dilaksanakan dalam pengajaran sehari-hari, karena di tangan gurulah keberhasilan belajar siswa ditentukan, tidak oleh Bupati, Gubernur, Walikota, Pengawas, Kepala Sekolah bahkan Presiden sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutlak dilakukan ketika awal menjadi guru adalah memahami tujuan umum pendidikan, mamahami karakter siswa dengan berbagai perbedaan yang melatar belakanginya. Sangatlah penting untuk memahami bahwa siswa balajar dalam berbagai cara yang berbeda, beberapa siswa merespon pelajaran dalam bentuk logis, beberapa lagi belajar dengan melalui pemecahan masalah (problem solving), beberapa senang belajar sendiri daripada berkelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara belajar siswa yang berbeda-beda, memerlukan cara pendekatan pembelajaran yang berbeda. Guru harus mempergunakan berbagai pendekatan agar anak tidak cepat bosan. Kemampuan guru untuk melakukan berbagai pendekatan dalam belajar perlu diasah dan ditingkatkan. Jangan cepat merasa puas setelah mengajar, tetapi lihat hasil yang didapat setelah mengajar. Sudahkah sesuai dengan tujuan umum pendidikan. Perlu juga dipelajari penjabaran dari kurikulum ang dipergunakan agar yang diajarkan ketika di kelas tidak melencenga dari GBBP/kurikulum yang sudah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru juga perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang psikologi pendidikan dalam menghadapai siswa yang berneka ragam. Karena tugas guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang akan membentuk jiwa dan kepribadian siswa. Maju dan mundur sebuah bangsa tergantung pada keberhasilan guru dalam mendidik siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga harus senantiasa memperhatikan tingkat kesejahteraan guru, karena mutlak diperlukan kondisi yang sejahtera agar dapat bekerja secara baik dan meningkatkan profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin kuatnya tuntutan akan profesionalisme guru bukan hanya berlangsung di Indonesia, melainkan di negara-negara maju. Seperti Amerika Serikat, isu tentang profesionalisme guru ramai dibicarakan pada pertengahan tyahun 1980-an. Jurnal terkemuka manajemen pendidikan, Educational Leadership edisi Maret 1933 menurunkan laporan mengenai tuntutan guru professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jurnal tersebut, untuk menjadi professional, seorang guru dituntut memiliki lima hal, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini meryupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampau tes hasil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainnya (Supriadi, 1999:98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang aplikatif, kemampuan professional guru dapat diwujudkan dalam penguasaan sepuluh kompetensi guru, yang meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menguasai bahan, meliputi: a) menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum, b) menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengelola program belajar-mengajar, meliputi: a) merumuskan tujuan pembelajaran, b) mengenal dan menggunakan prosedur pembelajaran yang tepat, c) melaksanakan program belajar-mengajar, d) mengenal kemampuan anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengelola kelas, meliputi: a) mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran, b) menciptakan iklim belajar-mengajar yang serasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penggunaan media atau sumber, meliputi: a) mengenal, memilih dan menggunakan media, b) membuat alat bantu yang sederhana, c) menggunakan perpustakaan dalam proses belajar-mengajar, d) menggunakan micro teaching untuk unit program pengenalan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menguasai landasan-landasan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengelola interaksi-interaksi belajar-mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mengenal fungsi layanan bimbingan dan konseling di sekolah, meliputi: a) mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan konseling, b) menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran (Suryasubrata 1997:4-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Supervisi Pengajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum tujuan supervisi pengajaran adalah:&lt;br /&gt;(1) meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar-mengajar,&lt;br /&gt;(2) mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan,&lt;br /&gt;(3) menjamin agar kegiatan sekolalah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga segala sesuatunya berjalan lancar dan diperoleh hasil yang optimal,&lt;br /&gt;(4) menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya, dan&lt;br /&gt;(5) memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan dan kekilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan dan penyimpangan yang lebih jauh (Suprihatin, 1989:305).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga mengembangkan potensi kualitas guru (Sahertian, 2000:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan dasar adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif, yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi di mana guru-guru merasa aman dan diterima sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu, supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif (Sahertian, 2000:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supandi (1986:252), menyatakan bahwa ada dua hal yang mendasari pentingnya supervisi dalam proses pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perkembangan kurikulum merupakan gejala kemajuan pendidikan. Perkembangan tersebut sering menimbulkan perubahan struktur maupun fungsi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum tersebut memerlukan penyesuaian yang terus-menerus dengan keadaan nyata di lapangan. Hal ini berarti bahwa guru-guru senantiasa harus berusaha mengembangkan kreativitasnya agar daya upaya pendidikan berdasarkan kurikulum dapat terlaksana secara baik. Namun demikian, upaya tersebut tidak selamanya berjalan mulus. Banyak hal sering menghambat, yaitu tidak lengkapnya informasi yang diterima, keadaan sekolah yang tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum, masyarakat yang tidak mau membantu, keterampilan menerapkan metode yang masih harus ditingkatkan dan bahkan proses memecahkan masalah belum terkuasai. Dengan demikian, guru dan Kepala Sekolah yang melaksanakan kebijakan pendidikan di tingkat paling mendasar memerlukan bantuan-bantuan khusus dalam memenuhi tuntutan pengembangan pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pengembangan personel, pegawai atau karyawan senantiasa merupakan upaya yang terus-menerus dalam suatu organisasi. Pengembangan personal dapat dilaksanakan secara formal dan informal. Pengembangan formal menjadi tanggung jawab lembaga yang bersangkutan melalui penataran, tugas belajar, loka karya dan sejenisnya. Sedangkan pengembangan informal merupakan tanggung jawab pegawai sendiri dan dilaksanakan secara mandiri atau bersama dengan rekan kerjanya, melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan ilmiah, percobaan suatu metode mengajar, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan supervisi pengajaran merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum ada 2 (dua) kegiatan yang termasuk dalam kategori supevisi pengajaran, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Supervsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada guru-guru SD.&lt;br /&gt;Secara rutin dan terjadwal Kepala Sekolah melaksanakan kegiatan supervisi kepada guru-guru SD dengan harapan agar guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam prosesnya, kepala sekolah memantau secara langsung ketika guru sedang mengajar. Guru mendesain kegiatan pembelajaran dalam bentuk Rencana Pembelajaran kemudian kepala sekolah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah menggunakan leembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). APKG terdiri atas APKG 1 (untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Supervisi yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah kepada Kepala Sekolah dan guru-guru untuk meningkatkan kinerja.&lt;br /&gt;Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh Pengawas Sekolah yang bertugas di suatu Gugus Sekolah. Gugus Sekolah adalah gabungan dari beberapa sekolah terdekat, biasanya terdiri atas 5-8 Sekolah Dasar. Hal-hal yang diamati pengawas sekolah ketika melakukan kegiatan supervisi untuk memantau kinerja kepala sekolah, di antaranya administrasi sekolah, meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bidang Akademik, mencakup kegiatan:&lt;br /&gt;(1) menyusun program tahunan dan semester,&lt;br /&gt;(2) mengatur jadwal pelajaran,&lt;br /&gt;(3) mengatur pelaksanaan penyusunan model satuan pembelajaran,&lt;br /&gt;(4) menentukan norma kenaikan kelas,&lt;br /&gt;(5) menentukan norma penilaian,&lt;br /&gt;(6) mengatur pelaksanaan evaluasi belajar,&lt;br /&gt;(7) meningkatkan perbaikan mengajar,&lt;br /&gt;(8) mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, dan&lt;br /&gt;(9) mengatur disiplin dan tata tertib kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Bidang Kesiswaan, mencakup kegiatan:&lt;br /&gt;(1) mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru,&lt;br /&gt;(2) mengelola layanan bimbingan dan konseling,&lt;br /&gt;(3) mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, dan&lt;br /&gt;(4) mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Bidang Personalia, mencakup kegiatan:&lt;br /&gt;(1) mengatur pembagian tugas guru,&lt;br /&gt;(2) mengajukan kenaikan pangkat, gaji, dan mutasi guru,&lt;br /&gt;(3) mengatur program kesejahteraan guru,&lt;br /&gt;(4) mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru, dan&lt;br /&gt;(5) mencatat masalah atau keluhan-keluhan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Bidang Keuangan, mencakup kegiatan:&lt;br /&gt;(1) menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah,&lt;br /&gt;(2) mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah,&lt;br /&gt;(3) mengalokasikan dana untuk kegiatan sekolah, dan&lt;br /&gt;(4) mempertanggungjawab-kan keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Bidang Sarana dan Prasarana, mencakup kegiatan:&lt;br /&gt;(1) penyediaan dan seleksi buku pegangan guru,&lt;br /&gt;(2) layanan perpustakaan dan laboratorium,&lt;br /&gt;(3) penggunaan alat peraga,&lt;br /&gt;(4) kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah,&lt;br /&gt;(5) keindahan dan kebersihan kelas, dan&lt;br /&gt;(6) perbaikan kelengkapan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Bidang Hubungan Masyarakat, mencakup kegiatan:&lt;br /&gt;(1) kerjasama sekolah dengan orangtua siswa,&lt;br /&gt;(2) kerjasama sekolah dengan Komite Sekolah,&lt;br /&gt;(3) kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait, dan&lt;br /&gt;(4) kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar (Depdiknas 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ketika mensupervisi guru, hal-hal yang dipantau pengawas juga terkait dengan administrasi pembelajaran yang harus dikerjakan guru, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penggunaan program semester&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penggunaan rencana pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penyusunan rencana harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Program dan pelaksanaan evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kumpulan soal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Buku pekerjaan siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Buku daftar nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Buku analisis hasil evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Buku program perbaikan dan pengayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Buku program Bimbingan dan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Buku pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pendidikan harus ditopang oleh pelaku pendidikan yang berada di front terdepan yakni guru melalui interaksinya dalam pendidikan. Upaya meningkatkan mutu pendidikan perlu dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada rencana strategis. Keterlibatan seluruh komponen pendidikan (guru, Kepala Sekolah, masyarakat, Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, dan isntitusi) dalam perencanaan dan realisasi program pendidikan yang diluncurkan sangat dibutuhkan dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi kemampuan professional guru mutlak diperlukan sejalan diberlakukannya otonomi daerah, khsususnya bidang pendidikan. Kemampuan professional guru akan terwujud apabila guru memiliki kesadaran dan komitmen yang tinggi dalam mengelola interaksi belajar-mengajar pada tataran mikro, dan memiliki kontribusi terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan pada tataran makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upaya peningkatan profesional guru adalah melalui supervisi pengajaran. Pelaksanaan supervisi pengajaran perlu dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah bertujuan memberikan pembinaan kepada guru-guru agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya, baik kepala sekolah dan pengawas menggunakan lembar pengamatan yang berisi aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kinerja guru dan kinerja sekolah. Untuk mensupervisi guru digunakan lembar observasi yang berupa alat penilaian kemampuan guru (APKG), sedangkan untuk mensupervisi kinerja sekolah dilakukan dengan mencermati bidang akademik, kesiswaan, personalia, keuangan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi kemampuan professional guru mensyaratkan guru agar mampu meningkatkan peran yang dimiliki, baik sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator sehingga diharapkan mampu mengembangkan kompetensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan kondisi ideal di mana kemampuan professional guru dapat diimplementasikan sejalan diberlakukannya otonomi daerah, bukan merupakan hal yang mudah. Hal tersebut lantaran aktualisasi kemampuan guru tergantung pada berbagai komponen system pendidikan yang saling berkolaborasi. Oleh karena itu, keterkaitan berbagai komponen pendidikan sangat menentukan implementasi kemampuan guru agar mampu mengelola pembelajaran yang efektif, selaras dengan paradigma pembelajaran yang direkomendasiklan Unesco, "belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balitbang Depdiknas. 2001. Data Standardisasi Kompetensi Guru. http://www.depdiknas.go.id.html).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berliner, David. 2000. Educational Reform in an Era of Disinformation. http://www.olam.asu.edu/epaa/v1n2.html).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas. 1997. Petunjuk Pengelolaan Adminstrasi Sekolah Dasar.Jakarta: Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Buku 1). Jakarta: Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fullan &amp; Stiegerbauer.1991. The New Meaning of Educational Change. Boston: Houghton Mifflin Company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapari, Achmad. 2002. Pemahaman Guru Terhadap Inovasi Pendidikan. Artikel. Jakarta: Kompas (16 Agustus 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahertian, Piet A. 2000. Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sucipto. 2003. Profesionalisasi Guru Secara Internal, Akuntabiliras Profesi. Makalah Seminar Nasional. Semarang: Universitas Negeri Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supandi. 1996. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Agama Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriadi, Dedi. 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriadi, Dedi. 2002. Laporan Akhir Tahun Bidang Pendidikan &amp; Kebudayaan. Artikel. Jakarta : Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suprihatin, MD. 1989. Administrasi Pendidikan (Fungsi dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Supervisor Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya, Mohamad. 2002. Peran Organisasi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Seminar Lokakarya Internasional. Semarang : IKIP PGRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryasubrata.1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wardani, IGK. 1996. Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Jakarta: Dirjen Dikti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Townsend, Diana &amp; Butterworth. 1992. Your Child's Scholl. New York: A Plime Book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: PEMBINAAN PROFESIONAL MELALUI SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,MPd.&lt;br /&gt;Dosen di IKIP PGRI Semarang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-4059678235810531343?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/4059678235810531343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=4059678235810531343' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4059678235810531343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4059678235810531343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pembinaan-profesional-melalui-supervisi.html' title='PEMBINAAN PROFESIONAL MELALUI SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3315672851090249340</id><published>2009-01-02T19:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:58:12.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN</title><content type='html'>PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka Pemerintah telah berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi kenyataan belum cukup dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Depdiknas, 2001:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor : 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya sekadar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alasan penulis memilih tema di atas adalah: 1) adanya fenomena yang berkembang di masyarakat terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan 2) Komite Sekolah merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan mendasar yang hendak dibahas adalah bagaimana upaya yang dilakukan oleh Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan dan Manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaatnya: (1) bagi Guru, sebagai informasi mengenai upaya yang telah dilakukan Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, dan (2) bagi Komite Sekolah, sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan upaya meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep Dasar Komite Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komite Sekolah merupakan nama baru pengganti Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Secara substansial kedua istilah tersebut tidak begitu mengalami perbedaan. Yang membedakan hanya terletak pada pengoptimalan peran serta masyarakat dalam mendukung dan mewujudkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan di luar sekolah (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun fungsi Komite Sekolah, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/ dunia usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) kebijakan dan program pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah (RAPBS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) kriteria kinerja satuan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) kriteria tenaga kependidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) kriteria fasilitas pendidikan, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Peranan Komite Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kontekstual, peran Komite Sekolah sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas dalam bukunya Partisipasi Masyarakat, menguraikan tujuh peranan Komite Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Membantu meningkatkan kelancaran penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah baik sarana, prasarana maupun teknis pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa. Membantu usaha pemantapan sekolah dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan demokrasi sejak dini (kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan pendahuluan bela negara, kewarganegaraan, berorganisasi, dan kepemimpinan), keterampilan dan kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga, daya kreasi dan cipta, serta apresiasi seni dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Melakukan penilaian sekolah untuk pengembangan pelaksanaan kurikulum, baik intra maupun ekstrakurikuler dan pelaksanaan manajemen sekolah, kepala/wakil kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Memberikan penghargaan atas keberhasilan manajemen sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Melakukan pembahasan tentang usulan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu (Depdiknas, 2001:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada peranan Komite Sekolah terhadap peningkatan mutu pendidikan, sudah barang tentu memerlukan dana. Dana dapat diperoleh melalui iuran anggota sesuai kemampuan, sumbangan sukarela yang tidak mengikat, usaha lain yang tidak bertentangan dengan maksud dan tujuan pembentukan Komite Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hubungan Sekolah dengan Komite Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah bukanlah suatu lembaga yang terpisah dari masyarakat. Sekolah merupakan lembaga yang bekerja dalam konteks sosial. Sekolah mengambil siswanya dari masyarakat setempat, sehingga keberadaannya tergantung dari dukungan sosial dan finansial masyarakat. Oleh karena itu, hubungan sekolah dan masyarakat merupakan salah satu komponen penting dalam keseluruhan kerangka penyelenggaraan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya hubungan yang harmonis antar sekolah dan masyarakat yang diwadahi dalam organisasi Komite Sekolah, sudah barang tentu mampu mengoptimalkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam memajukan program pendidikan, dalam bentuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Orang tua dan masyarakat membantu menyediakan fasilitas pendidikan, memberikan bantuan dana serta pemikiran atau saran yang diperlukan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Orang tua memberikan informasi kepada sekolah tentang potensi yang dimiliki anaknya, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Orang tua menciptakan rumah tangga yang edukatif bagi anak (Depdiknas, 2001:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan peningkatan hubungan sekolah dengan masyarakat, subtansi pembinaannya harus diarahkan kepada meningkatkan kemampuan seluruh personil sekolah dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memupuk pengertian dan pengetahuan orang tua tentang pertumbuhan pribadi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memupuk pengertian orang tua tentang cara mendidik anak yang baik, dengan harapan mereka mampu memberikan bimbingan yang tepat bagi anak-anaknya dalam mengikuti pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Memupuk pengertian orang tua dan masyarakat tentang program pendidikan yang sedang dikembangkan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memupuk pengertian orang tua dan masyarakat tentang hambatan-hambatan yang dihadapi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berperan serta memajukan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Mengikutsertakan orang tua dan tokoh masyarakat dalam merencanakan dan mengawasi program sekolah (Depdiknas, 2001:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Konsep Mutu Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dalam konteks "hasil" pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis, dapat pula prestasi bidang lain seperti olah raga, seni atau keterampilan tertentu (komputer, beragam jenis teknik, jasa). Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya (Umaedi, 1999:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian mutu secara umum adalah gambaran dan karakteristik yang menyeluruh dari barang - barang dan jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan dalam konteks pendidikan. Pengertian mutu mencakup Input, proses dan output pendidikan (Depdiknas Buku 1 MPMBS, 2001:25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena kebutuhan untuk keberlangsungan proses. Input pendidikan meliputi SDM dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses dan pencapaian target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendidikan adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu yang diperoleh dari hasil proses disebut output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Output pendidikan merupakan hasil kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa upaya-upaya yang dilakukan oleh Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, meliputi:&lt;br /&gt;a) peningkatan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam kemajuan sekolah, khususnya dukungan moril dan material,&lt;br /&gt;b) peningkatan kesejahteraan guru,&lt;br /&gt;c) pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran,&lt;br /&gt;d) pengawasan terhadap program pendidikan di sekolah. Upaya-upaya tersebut sudah dilakukan Komite Sekolah secara maksimal sesuai dengan kemampuan pengurus Komite Sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan perlu mendapat dukungan dari seluruh komponen pendidikan, baik guru, Kepala Sekolah, siswa, orang tua/wali murid, masyarakat, dan institusi pendidikan. Oleh karena itu perlu kerjasama dan koordinasi yang erat di antara komponen pendidikan tersebut sehingga upaya peningkatan mutu pendidikan yang dilaksanakan dapat efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (Buku 1). Jakarta : Depdiknas. Depdiknas. 2001. Partisipasi Masyarakat. Jakarta: Depdikbud. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Soenarya, Endang. 2000. Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendidikan Sistem. Yogyakarta : Adi Cita Karya Nusa. Umaedi. 1999. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdiknas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,MPd.&lt;br /&gt;Dosen di IKIP PGRI Semarang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3315672851090249340?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3315672851090249340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3315672851090249340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3315672851090249340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3315672851090249340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/peranan-komite-sekolah-dalam.html' title='PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3638036251968110390</id><published>2009-01-02T19:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:56:16.440-08:00</updated><title type='text'>Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan</title><content type='html'>Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Reza Taofik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi anggaran pendidikan 20 %, senantiasa menjadi menu kritikan favorit dunia pendidikan nasional selama 5 tahun kebelakang ini. Berlandas pada amanat konstitusi Negara yang menghendaki anggaran pendidikan sebesar 20 %, para pegiat pendidikan kerap berteriak dan menggugat komitmen pemerintah yang memacetkan pemenuhan anggaran pendidikan 20 %. Tetapi penantian itu kini telah berakhir, melalui pidato kenegaraannya tentang perumusan APBN 2009, pemerintah akhirnya mengabulkan amanat konstitusi 20 %. Sikap insyaf pemerintah ini muncul, sebagai akibat dari ultimatum Mahkamah Konstitusi No. 13/PUU-VI/2008 tentang inkonstitusional pemerintah terhadap UU No. 16 Tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicermati lebih mendalam, apakah kesediaan pemerintah memenuhi 20 % anggaran pendidikan ini murni kesadaran atau hanya keputusan yang dipolitisir demi menaikan citra di panggung pemilu 2009? Karena mengapa baru saat menjelang pemilu 2009, pemerintah baru bersedia memenuhi janji konstitusinya. Sinyalemen lainnya dilihat dari keseriusan pemerintah yang lebih berprospek pada kesejahteraan guru, dimana 27 % rencana anggaran pendidikan APBN 2009 dikhususkan untuk kesejahteraan guru. Kesan yang ditangkap pemerintah mencari simpati pada sosok guru, padahal sarana prasarana dan fasilitas pendidikan juga perlu mendapat prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bisa memberi harapan segar bagi dunia pendidikan nasional, pemenuhan anggaran pendidikan 20 % disambut skeptis oleh para pemerhati pendidikan. Timbul kekhawatiran besar dana besar ini memberi kesempatan besar pula bagi penyelewengan anggaran pendidikan. Indikasi ini berkaca pada pengalaman pengelolaan anggaran pendidikan di tahun 2007. Hasil evaluasi BPK pada semester I tahun 2007 memberikan stempel disclaimer (buruk) pada laporan keuangan departemen pendidikan. Daya serap anggaran pendidikan ini bisa dikatakan cukup minim pada semester I tahun 2007 ini, salah satu faktor penyebabnya dikarenakan ketidaktertiban catatan laporan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak efektifnya daya serap hingga semester I tahun 2007 ini, mengharuskan pemerintah mengebut pengeluarannya pada semester II (akhir tahun anggaran). Banyak pelaksanaan proyek pemerintah yang hanya berorientasi pada pengejaran target semata yang bersifat jangka pendek. Sehingga lahir usulan dari kekhawatiran penyelewengan ini adalah perlu adanya pengawasan atas realisasi anggaran ini. Pengawasan ini diperlukan agar pengelolaan anggaran pendidikan berjalan baik, tepat sasaran alokasi dan pembelanjaannnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen pemerintah pusat untuk merealisasikan 20 % anggaran pendidikan, perlu diikuti juga dengan komitmen pemerintah daerah. Miris melihat fakta yang terjadi sekarang, hanya 10 % atau 44 Kabupaten dari 483 seluruh Kabupaten di Indonesia yang memenuhui anggaran 20 %. 90 % dari total kabupaten anggarannya dibawah 10 %, dan bahkan 10 % anggarannya dibawah 5 %. Fakta ini perlu mendapat evaluasi dan koreksi yang signifikan agar rencana realisasi 20 % anggaran di tahun 2009 tepat sasaran. Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah pematangan konsep pembangunan pendidikan yang perlu dirancang sedemikian rupa demi orientasi jangka panjang. Besarnya anggaran pendidikan perlu diikuti dengan kerangka besar konsep pembangunan pendidikan, sehingga istilah disclaimer laporan keuangan tak terulang kembali. &lt;br /&gt;Judul: Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): REZA TAOFIK&lt;br /&gt;Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3638036251968110390?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3638036251968110390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3638036251968110390' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3638036251968110390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3638036251968110390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pemenuhan-20-kabar-baik-yang.html' title='Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-8359554487157357093</id><published>2009-01-02T19:51:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:53:49.731-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>MENGENAL PENDIDIKAN NAHDHATUL ULAMA</title><content type='html'>MENGENAL PENDIDIKAN NAHDHATUL ULAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara sederhana tentang kondisi pendidikan di bawah naungan NU mulai dari sejak berdirinya sampai dengan pertumbuhan dan perkembangan serta problem-problem yang melingkupi dan kemungkinan solusinya. Dalam sejarahnya, keberadaan organisasi NU memang tidak lepas dari sejarah pendidikan nusantara di negeri ini. Terdapat visi dan misi khusus yang diusung oleh NU dalam pendirian organisasinya dan beragam lembaga yang ada di bawah naungannya. Visi tersebut adalah ajaran Aswaja dan misinya adalah pemberdayaan umat. Pengejawantahan visi dan misi tersebut dilakukan melalui media pendidikan, dakwah dan beragam aktualisasi diri lain dengan sarana lembaga-lembaga yang tersedia. Dalam hal pendidikan, sementara ini NU tidak tertandingi dari aspek kuantitas. Sementara dari aspek kualitas, pendidikan NU masih tertantang untuk terus ditingkatkan keberadaannya. Dalam perjalanannya, pendidikan NU memang tidak steril dari beragam masalah. Salah satu masalah yang masih melekat adalah mengenai SDM para pendidiknya. Oleh karenanya, peningkatan kualitas SDM melalui beragam jalan, misalnya, pelatihan, rekomendasi sekolah, dan sejenisnya, perlu dilakukan oleh NU dan berbagai lembaga yang ada di bawah naungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keynote: Sejarah, Problem &amp; Solusi Pendidikan NU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Nahdhatul Ulama (baca: NU) dalam konteks pendidikan merupakan hal yang menarik. Ini karena sebuah kesadaran bahwa NU menaungi beragam jenis pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Kuantitas pendidikan di bawah naungan NU (Ma'arif) tidak terbantahkan banyaknya. Meski demikian, dalam hal kualitas, keberadaan pendidikan di bawah naungan NU tetap harus diperjuangkan untuk ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya lembaga pendidikan di bawah naungan NU berbanding lurus dengan jumlah umat NU yang mayoritas di negeri ini. Hal itu yang kemudian menuntut disediakannya lembaga-lembaga pendidikan yang dapat dijadikan media belajar dan pengembangan bagi umat NU. NU perlu mengkoordinasi lembaga-lembaga pendidikan yang ada di bawah naungannya, mengingat ada ciri khusus yang harus ada dalam materi pelajaran di lembaga pendidikan NU, yaitu materi Aswaja (Ahlus Sunnah wal-Jama'ah). Materi ini tidak mesti diberikan di lembaga pendidikan di luar naungan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, artikel ini akan mengulas eksistensi pendidikan NU mulai dari sejak berdirinya sampai dengan pertumbuhan dan perkembangannya serta beragam problem yang melingkupi dan kemungkinan solusinya. Bagaimanapun tulisan ini hanya secercah kata untuk melukiskan keberadaan pendidikan NU secara sekilas. Untuk melihat dan mengenal serta memahami pendidikan NU yang sebenarnya haruslah melalui observasi dan kajian serta eksplorasi yang lebih mendalam melalui beragam metode dan sumber yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Pendidikan Nahdhatul Ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pergerakan NU sebenarnya adalah sejarah pendidikan nusantara. Pohon organisasi NU sangat rimbun oleh lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, majelis taklim, diniyyah, madrasah/ sekolah dan perguruan tinggi. Dalam hal pendidikan, NU merupakan salah satu lokomotif pembaharuan pendidikan. Setahun setelah berdirinya, persisnya pada Muktamar NU ke-2 (1927), Muktamirin mengagendakan penggalangan dana secara nasional untuk mendirikan dan membangun madrasah dan sekolah. Pada Muktamar NU ke-3 (1928), elite NU memprakarsai gerakan peduli pendidikan dengan mengajak para Muktamirin untuk mengunjungi pesantren-pesantren besar seperti Tambak Beras yang dipimpin KH. Wahab Chasbullah, Denanyar yang dipimpin oleh KH. Bisri Syamsuri, dan Nganjuk yang dipimpin oleh K. Pathudin Seror Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Muktamar NU ke-4 (1929), panitia Muktamar merespon kecenderungan naiknya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendorong para Muktamirin sepakat untuk membentuk wadah khusus yang menangani bidang pendidikan yang bernama Hoof Bestur Nahdlatul Oelama (HBNO) yang diketuai oleh Ustadz Abdullah Ubaid, waktu itu disebut presiden. Pada perkembangan selanjutnya, terbentuklah Lembaga Pendidikan Maâ?Tarif NU (LPMNU) pada Muktamar NU ke-20 (1959) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arena Muktamar ke Muktamar, hingga Muktamar NU ke-30 (1999) di Kediri, Lirboyo, Jawa Timur, NU tetap menjadikan sektor pendidikan sebagai mainstream (pemikiran utama). Munas dan Konbes NU tanggal 25-28 Juli 2002 di Pondok Gede Jakarta menghasilkan â?oTaushiyah Pondok Gede Tahun 2002â? yang mencoba mempertegas kembali posisi bidang pendidikan untuk menjadi prioritas program NU. Untuk menafsirkan lebih rinci, tak lama setelah itu, tepatnya tanggal 22-25 Agustus 2002 di Kawasan Puncak Batu Malang Jawa Timur, diselenggarakan Rapat Kerja LPMNU dan Musyawarah Kerja Perguruan Tinggi NU. Di forum tersebut, NU kembali mematangkan format, strategi dan guidlines (garis panduan) pengembangan pendidikan di lingkungan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pendidikan di wilayah NU berawal dari keberadaan pesantren. Para kiai pesantren, dahulu kala, ketika pulang dari Timur Tengah ke Indonesia, sebagian besar mendirikan pesantren sebagai institusi pendidikan. Oleh karena pendidikan pesantren, maka keilmuan yang diutamakan adalah keagamaan, khususnya fiqih-hukum-yurisprudensi; dan karena kitab fiqih itu kebanyakan berbahasa Arab, maka untuk memahaminya diperlukan ilmu alat berupa nahwuâ?"sharaf, jadi pesantren mesti memiliki perangkat keilmuan nahwu-sharaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, kira-kira setelah kemerdekaan, terjadi pengembangan model pendidikan di pesantren. Hal ini berawal dari realitas bahwa tidak semua santri yang keluar dari pesantren itu mampu menjadi kiai, sementara mereka tetap membutuhkan ranah pendidikan, akhirnya mereka mendirikan sekolah-sekolah di kampung yang bernama madrasah. Jadi madrasah itu sebenarnya keberlanjutan dari pesantren. Di madrasah, materi keilmuan yang diajarkan â?"pada awalnya- adalah sama dengan yang ada di pesantren, bedanya kiai tidak berada dalam lingkup madarasah, tidak seperti pesantren yang memiliki ciri-ciri; ada santri, kitab kuning, kiai, pondokan, dan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan NU, sistem pendidikan pesantren yang telah lama melembaga bagi masyarakat Islam nusantara tidak bisa dilupakan. Keberadaan NU hingga saat ini selalu ditopang oleh pesantren. Dari pesantren basis kekuatan NU dibangun dengan banyak melahirkan para ulama dan kiai, yang kemudian membentuk jamâ?Tiyah NU dan berjuang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok pesantren di Indonesia memang tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda pada 1831, di Jawa terdapat tidak kurang dari 1.853 buah pesantren dengan jumlah santri tidak kurang dari 16.500 orang. Suatu survey yang diselenggarakan kantor Shumubu (Kantor Urusan Agama) pada masa Jepang pada 1942, jumlah pesantren bertambah menjadi 1.871 buah, jumlah tersebut belum ditambah dengan pesantren di luar Jawa dan pesantren-pesantren kecil. Pada masa kemerdekaan jumlah pesantren terus bertambah. Berdasarkan laporan Departemen Agama RI pada 2001, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 12.817 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan perkembangan pesantren terhambat ketika bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk menjajah. Hal ini terjadi karena pesantren bersikap non kooperatif bahkan mengadakan konfrontasi terhadap penjajah. Akibat dari sikap tersebut, maka pemerintah kolonial ketika itu mengadakan kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap pesantren. Setelah Indonesia merdeka, pesantren tumbuh dan berkembang dengan pesat. Ekspansi pesantren juga bisa dilihat dari pertumbuhan pesantren yang semula hanya rural based institusion, kemudian berkembang menjadi pendidikan urban; karena pesantren tumbuh juga di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pihak memahami bahwa dunia pesantren adalah dimensi yang sulit berubah, dan itu selama ini dianggap sebagai simbol kejumudan (kebekuan) dan kemandegan (stagnasi). Padahal pesantren memiliki dinamika perkembangan yang dinamis, bisa berubah, mempunyai dasar yang kuat untuk ikut mengarahkan &amp; menggerakkan perubahan yang diinginkan, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi meminimalisasi problem pendidikan pesantren, dibutuhkan keberanian diri untuk melakukan rekonstruksi dalam artian positif, yakni membangun pesantren berdasarkan potensi-potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, rekonstruksi sistem pendidikan pesantren bukan berarti merombak seluruh sistem yang ada yang berakibat hilangnya jati diri pesantren. Rekonstruksi tersebut tidak harus merubah orientasi atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren sebagai lembaga â?otafaqqul fiddinâ? dalam pengertian yang luas; juga tidak perlu mengorbankan nilai-nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah Islamiyah, kemandirian dan optimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi keberadaan pendidikan di lingkungan NU â?"sebelum madrasah- adalah pesantren. Saat ini pendidikan pesantren berada dalam naungan NU, yang penanganannya dipasrahkan pada Lajnah RMI (Lembaga Rabithah Maâ?Tahid Islamiyah), sedangkan pendidikan madrasah berada dalam naungan NU, yang penanganannya diserahkan kepada Lembaga Pendidikan Maâ?Tarif (LPM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU adalah organisasi sosial keagamaan yang berusaha mewadahi kegiatan ulama dan umat Islam Indonesia yang berfaham aswaja untuk melanjutkan dakwah Islamiyah dan melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. Tujuannya agar Islam diamalkan menurut faham aswaja, dengan menganut salah satu mazhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafiâ?Ti dan Hanbali di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai usaha untuk mencapai tujuan tersebut di atas adalah melalui kegiatan pendidikan, pengajaran dan pengembangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam menurut faham aswaja. Seperti dipaparkan di bagian depan, bahwa sebagai perangkat yang bertanggung jawab menangani pelaksanaan kebijakan di bidang pendidikan dan pengajaran adalah LP Ma'arif. LP Ma'arif yang memiliki peran sangat strategis, secara resmi baru berdiri tanggal 21 Syaâ?Tban 1380 H. bertepatan dengan tanggal 7 februari 1961. Tugas utama LP Ma'arif adalah membina, mendirikan dan menyelenggarakan sekolah-sekolah / madrasah-madrasah dari tingkat pendidikan pra sekolah sampai perguruan tinggi, serta pendidikan non formal, seperti kursus-kursus dan pelatihan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era 70-80-an, pesantren mengikuti kurikulum pemerintah. Terdapat pergeseran cukup esensial, kalau dulu orang mondok sambil sekolah, tapi sekarang karena di dalam pesantren ada kurikulum pendidikan pemerintah, maka orang sekolah sambil mondok. Jadi mondok sekarang bukan menjadi sesuatu yang mayor tetapi minor. Itulah yang menyebabkan perubahan fenomena kehidupan (khususnya pendidikan) yang terjadi di lingkungan NU. Pendidikan NU mempunyai dua ciri yang esensial; 1). Alâ?Tiâ?Ttimad alannafsi (berdikari), dan 2). Fil Ijtimaâ?Tiyah (memasyarakat), artinya dihidupi oleh masyarakat. Madrasah atau pesantren itu didirikan oleh masyarakat dan dibiayai sendiri oleh masyarakat. Ketika masyarakat mau belajar atau mau menyekolahkan anaknya di pesantren atau madrasah, mereka hanya ditunjukkan tempatnya oleh kiai, kemudian mereka membangun kamar sendiri. Hal itu sekarang bergeser, pesantren atau madrasah tidak berdikari, mereka juga mencari sumbangan ke pemerintah. Wali santri sekarang tidak otomatis menyumbang kecuali ada tarikan dari pihak sekolah. Jadi tidak ada kesukarelaan seperti dulu, kalau wali santri menitipkan anaknya ke pesantren maka bangunan pesantren menjadi tanggung jawab wali santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lembaga pendidikan formal (sekolah/ madrasah) di NU, penanganannya telah diserahkan kepada LP Maâ?Tarif. LP Ma'arif sebagai garda depan yang ikut menentukan wajah SDM NU, sering tidak terlibat langsung dalam proses kependidikan Islam di pondok pesantren baik yang formal seperti madrasah/ sekolah maupun non formal seperti pesantren. Semua kegiatan di pondok pesantren dikelola langsung oleh kiai atau yayasan yang sengaja dibentuk untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi LP Ma'arif terhadap madrasah dan sekolah yang ada di pondok pesantren hanya sebatas koordinasi, bukan komando. Koordinasi yang dimaksud adalah menyangkut hal-hal yang tidak prinsip, misalnya ajakan ikut serta mensukseskan pekan olag raga dan seni (Porseni), bukan dalam soal proses belajar mengajar. Kewenangan LP Ma'arif pada lembaga kependidikan di pondok pesantren tidak berfungsi sepenuhnya, bukan terjadi secara kebetulan, tetapi berlatar belakang sosial kultural yang ada di masyarakat NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruinessen menyatakan bahwa NU merupakan organisasi yang sangat terdesentralisasi. Mengingat warganya suka memiliki rasa kemandirian (kebebasan) yang sangat tinggi yang diwarisi dari para kiai, yang lepas dari struktur organisasi, tetapi di sisi lain memiliki pengaruh dan menjadi penyangga moral NU. Dengan berdasar pada pengaruh yang dimiliki, para kiai sering merasa dapat ikut mengatur jalannya organisasi, bahkan kadang-kadang dapat mengalahkan kekuatan-kekuatan lain, termasuk aturan main yang telah disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat berkultur NU, baik dalam bentuk organisasinya (jamâ?Tiyah) maupun kelompok paguyubannya (jamaâ?Tah) terdapat semacam pembagian kelas, yaitu kelas kiai (ulama) yang berperan sebagai guru dan pendapatnya hampir tidak terbantahkan dan kelas pengikut. Hubungan antara pengikut dan pimpinan jamaâ?Tah (kiai) memiliki intimitas yang tinggi, dalam pengertian posisi kiai sebagai penentu dan pengikut sebagai yang ditentukan. Para fungsionaris LP Ma'arif baik di tingkat pusat maupun daerah kebanyakan terdiri dari kelas pengikut. Wajar apabila kemudian banyak kasus tentang kebijaksanaan pendidikan dan pengajaran dikendalikan tidak hanya oleh Ma'arif, tetapi juga dipengaruhi oleh individu ulama atau kiai. Pengaruh kiai kadang-kadang tidak sejalan dengan kebijakan Ma'arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian wajar apabila sekolah/ madrasah di lingkungan NU terkesan seperti dipimpin oleh empat (4) institusi secara bersamaan, yaitu (1) Ma'arif sebagai mandataris jamâ?Tiyah NU yang diberi wewenang di bidang pendidikan dan pengajaran, (2) Syuriyah yang merupakan kelompok ulama yang merasa memiliki akses untuk mencampuri semua urusan yang menyangkut warga NU, (3) Tanfidziyah yang berperan sebagai pelaksana harian syuriyah, dan (4) Ulama sebagai individu, karena merasa sebagai panutan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sejarah Indonesia, gerakan ilmiah Islam (pendidikan Islam) banyak diwarnai oleh politik halus kolonial Belanda, yang telah berhasil menyudutkan kaum Muslimin ke suatu sudut pandang yang hanya menekankan pada kehidupan ukhrawi. Akibatnya, dinamisasi keilmuan hanya berkisar pada ulumussyari'ah, tasawuf, ritual formal ubudiyah dan terpaku ke masa lampau, dengan karya ilmuwan yang dinilai sakral (bebas kritik). Sementara di bidang lainnya, mengalami kemandegan dengan latar belakang anggapan bahwa ilmu umum itu semata-mata urusan duniawi. Dari sinilah muncul dikotomi ulumuddin (ilmu-ilmu agama) dan ulumuddunya (ilmu-ilmu dunia), antara madrasah dan sekolah, bahkan antara kitab dan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas NU termasuk salah satu kelompok Muslim Indonesia yang terkena pengaruh politik halus Belanda dalam bidang kependidikan, sehingga tafaqquh fiddin (pemahaman dalam hal agama) difahami secara sempit dan terbatas pada apa yang dimaksud dengan ulumuddin, dan secara eksklusif tidak pernah dikorelasikan dengan pemahaman addin (agama) itu sendiri secara utuh. Akibatnya, dinamika ilmiah-pendidikan NU cenderung lemah, meski tidak bisa dibilang mandeg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dinamika ilmiah Islam di Indonesia dicoba digerakkan, yang ditandai dengan munculnya perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) baik negeri maupun swasta, adanya proyek Madrasah Wajib Belajar (MWB) yang dilengkapi dengan Ujian Guru Agama (UAG), kemudian adanya SKB Tiga Menteri, maka di kalangan NU, terutama di kalangan pesantren yang merupakan basis lembaga pendidikan NU, bermunculan sistem-sistem madrasi yang sebelumnya tidak begitu tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret Pendidikan NU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat NU belum diresmikan, organisasi yang dibidani para ulama nahdliyin yang bergerak di bidang pendidikan diberi nama â?oNahdlatul Wathonâ?. NU meyakini bahwa persatuan dan kesatuan para ulama dan pengikutnya, masalah pendidikan, dakwah Islamiyah, kegiatan sosial serta perekonomian adalah masalah yang tidak bisa dipisahkan untuk mengubah masyarakat yang terbelakang, bodoh, dan miskin menjadi masyarakat yang maju, sejahtera dan berakhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah NU didirikan dengan dasar niat yang sederhana. Sarananya juga sangat sederhana, sehingga kalau dilihat kondisi pendidikan NU itu terkesan apa adanya. Niat yang sederhana itu kemudian diperbaiki, mengikuti perkembangan pendidikan masa kini; sehingga NU -dalam hal ini Maâ?Tarif- berusaha sekuat tenaga menata sekolah yang sudah demikian banyak untuk bisa menjadi lebih baik. Awalnya memang kebanyakan sekolah Maâ?Tarif itu berdiri atas inisiatif masyarakat, sehingga penanganannya sederhana dan apa adanya. Memang ada beberapa sekolah yang inisiatif pendiriannya berasal dari Maâ?Tarif, bahkan ada lembaga internal NU yang dulu berambisi untuk mengelola sekolah, yakni IPNU cabang, tetapi waktu itu dipertanyakan, apakah bisa lembaga sekelas IPNU mengurusi sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah NU-Maâ?Tarif didirikan untuk syiâ?Tar Islam. Oleh karena untuka syiâ?Tar, maka yang penting ramai, dalam artian yang penting sekolahnya berjumlah banyak. Persoalan kualitas nanti dulu dan â?"pada awalnya- tidak begitu dipedulikan. Akan tetapi pada perkembangan berikutnya, sekolah NU-Maâ?Tarif mengikuti kebutuhan sebagaimana keberadaan sekolah pada umumnya. Sekolah pada umumnya mengembangkan potensi pokok yang harus dimiliki oleh sekolah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemerintahan orde baru muncul dengan program-programnya, dalam rangka merespon modernisasi, maka madrasah-madrasah â?"yang awalnya hanya mengajarkan materi agama sebagaimana di Pesantren- berkembang dengan materi keilmuan umum. Kurikulum madrasah kemudian mengikuti kurikulum pemerintah, bukan merupakan pendidikan agama murni. Di madrasah terdapat keilmuan umum, seperti bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan sosial, kewarganegaraan, dan lain sebagainya. Begitulah awal tumbuh-kembangnya madrasah dan sekarang berkembang sebegitu rupa hingga menjadi berjenis tingkatan, mulai TK sampai perguruan tinggi. Meski begitu, ada juga madrasah yang mulai didirikan sampai sekarang hanya memiliki kelas tingkat ibtidaiyah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lembaga-lembaga pendidikan NU-Ma'arif yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, hanya di LP Ma'arif Jawa Timur, yang membawahi lebih dari 4000 buah MI, 190 SD, 470 MTs, 325 SMP, 280 MA, 250 SMA, 15 SMEA, 4 STM, dan 15 buah Perguruan Tinggi, yang dapat dikatakan berhasil dalam membina dan mengkoordinasikan lembaga-lembaga itu untuk mencapai suatu prestasi. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan misalnya 250 SMA, yang statusnya disamakan ada 7 buah, 80 % dari 250 buah SMA itu statusnya telah diakui. Di samping itu, terdapat beberapa Perguruan Tinggi (PT) yang cukup terkenal, seperi UNISMA, UNSURI, UNDAR Jombang, IKAHA Jombang, Universitas Tri Bakti Kediri, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kuantitas, pendidikan NU luar biasa besarnya. Dibanding PGRI, NU unggul dari hal kualitas dan kuantitas. Dibanding Muhammadiyah, sampai taraf SMA, NU unggul dalam hal kualitas dan kuantitas, tetapi di level Perguruan Tinggi, secara kualitas NU â?"sementara ini- kalah dengan Muhammadiyah. Dibanding dengan sekolah Katolik, sementara ini, dalam hal kualitas NU kalah, tetapi dalam hal kuantitas NU tidak terkalahkan. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa banyak juga sekolah Katolik yang gulung tikar. Kebanyakan orang sering silau dengan lembaga pendidikan Muhammadiyah, padahal PW Muhammadiyah (durasi 1987-2002) sering konsultasi dengan PW Maâ?Tarif Jawa Timur (1987-2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat sendiri, madrasah dan sekolah NU memiliki karakter yang khusus, yaitu karakter masyarakat; diakui sebagai milik masyarakat dan selalu bersatu dengan masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Guru-guru madrasah adalah juga guru-guru masyarakat yang tingkah lakunya dinilai, diawasi, dan ditiru oleh masyarakat. Madrasah NU juga merupakan pusat kegiatan masyarakat pada beberapa bidang tertentu, khususnya pada bidang keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat mendirikan sebuah madrasah dengan dilandasi oleh mental al-iâ?Ttimad alannafsi (percaya pada diri sendiri), tidak menunggu bantuan dari luar. Pada zaman penjajahan, NU tegas-tegas menolak bantuan pemerintah jajahan bagi madrasah dan segala bidang kegiatannya. Sikap mental berdiri di atas kaki sendiri seharusnya dipertahankan dan dikembangkan terus meskipun pada zaman kemerdekaan ini bantuan dari pemerintah nasional tidak ditolak. Sikap ini merupakan modal besar bagi NU, bukan saja dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan hidup madrasah dan sekolah, tetapi juga untuk mempertahankan karakteristik masyarakat, baik dalam melaksanakan kegiatan maupun menetapkan dan melaksanakan kurikulum yang sesuai dengan cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di indonesia terdapat kelembagaan madrasah yang jumlahnya cukup signifikan/ jumlah Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 3.772 (berstatus Negeri 577 dan swasta 3.195) atau 84,7 % swasta. Jumlah Madrasah Tsanawiyah (MTs.) sebanyak 10.792 (berstatus Negeri 1.168 dan swasta 9.624) atau 89,2 % swasta. Jumlah MI 22.799 (berstatus negeri 1.482 dan swasta 21.317) atau 93,5 % swasta. Upaya disentralisasi madrasah sebetulnya lebih difokuskan untuk madrasah-madrasah negeri tersebut, sementara madrasah swasta sejak awal memang sudah berada di tengah-tengah masyarakat, beroperasi secara mandiri dan otonom. Artinya, secara umum madrasah telah meluncur di rel otonomi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat madrasah banyak yang menyampaikan keluhannya, terutama dalam menghadapi akses otonomi daerah. Berbeda dengan eksistensi sekolah, di beberapa daerah madrasah memang belum diterima secara bulat oleh daerah. Misalnya dalam hal penyediaan anggaran pendidikan. Pimpinan Pusat LP NU-Maâ?Tarif telah melayangkan surat kepada Departemen Agama untuk memberikan masukan kepada pemerintah bahwa desentralisasi madrasah sudah mendesak diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU-Maâ?Tarif harus meningkatkan dan mengembangkan madrasah dan sekolahnya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh agama dan keharusan sejarah. Penyediaan tenaga, sarana dan fikiran yang lebih besar adalah mutlak adanya. Akan tetapi, di dalam peningkatan semangat dan kesibukan meningkatkan diri itu, tidak boleh diabaikan pemeliharaan sikap mental iâ?Ttimad alannafsi. Dalam berlomba dengan zaman, tidak boleh terjadi erosi (kelongsoran) karakter NU-Maâ?Tarif dengan madrasah dan sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari pembenahan madrasah dan sekolah inilah kiranya pendidikan yang diselenggarakan NU-Maâ?Tarif dapat diharapkan fungsi dan peranannya dalam upaya peningkatan SDM Indonesia yang berkualitas, memiliki kompetensi, memiliki relevansi mutu (bagi pembangunan dan wilayah global) serta berdaya saing (kompetitif). Lebih dari itu, output pendidikan NU-Maâ?Tarif yang bermutu tentu saja akan berpengaruh secara luas pada terciptanya good governance, civil society, dan unit-unit keluarga yang kuat, sehingga NU, bangsa dan negara menjadi lebih baik lagi. Untuk itulah, NU turut berpartisipasi dalam beberapa program pemerintah di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika Pendidikan NU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma buruk, kumuh, tidak dikelola dengan baik dari masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang dikelola oleh NU-Maâ?Tarif kadangkali masih terjadi, bahkan madrasah dituduh sebagai tempat pelatihan teroris. Padahal cita-cita NU-Maâ?Tarif adalah mengelola madrasah sebagai pusat keunggulan; misalnya, dalam hal mental-spiritual atau perilaku yang baik. Madrasah juga diharapkan dapat berperan dalam memobilisasi gerakan publik, menghasilkan lulusan yang bersikap toleran, dan lain sejenisnya, inilah harapan NU-Maâ?Tarif untuk menjadikan madrasah sebagai sekolah unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wary Zen, yang menjadi masalah klasik di dalam lembaga pendidikan NU-Maâ?Tarif adalah persoalan manajemen, koordinasi, pengembangan kreativitas, dan penciptaan inovasi. NU itu miskin inovasi, maka yang dapat dilakukan NU-Maâ?Tarif adalah melakukan pengembangan SDM di kalangan NU-Maâ?Tarif sendiri; baik pengurusnya, kepala sekolahnya, guru-gurunya; misal, disekolahkan oleh NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu hal yang belum dilakukan adalah dukungan dari NU sendiri, yang sebetulnya punya peran penting. Terutama dari para daâ?Ti di NU. Kenapa daâ?Ti? Oleh karena NU itu tradisional, selama ini mereka memahami bahwa mencari pahala itu hanya melalui pengajian dari para daâ?Ti. Kesadaran mereka untuk mengais pahala besar melalui proses pendidikan kurang begitu tampak. Ini sebenarnya peran daâ?Ti untuk memberikan penyadaran bahwa mencari pahala lewat pendidikan itu juga dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat NU kalau mau mengerluarkan uang untuk kiai itu luar biasa, tetapi jika mengeluarkan uang untuk laboratorium, perpustakaan, mereka kurang tergugah. Ini â?"antara lain- menjadi tugas kiai untuk memberikan penyadaran bahwa jariyah (amal yang mengalir) lewat pendidikan itu juga amat besar pahalanya. Ini penting karena selama ini dana umat sering tersalur hanya untuk kepentingan â?"misalnya- masjid, padahal masjidnya sudah banyak yang bagus. Jadi untuk lebih memproporsionalkan amal sebenarnya perlu disebarkan ke bidang-bidang yang selama ini belum banyak tergarap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persoalan keilmuan, pendidikan NU-Maâ?Tarif yang memang lebih menekankan keilmuan keagamaan, sering terjebak dalam persoalan dikotomisme keilmuan (agama dan umum); seolah yang lebih penting adalah keilmuan agama dan keilmuan umum dianggap tidak penting, karena tidak dipertanyakan di hari Khisab (perhitungan) nanti. Menurut Aceng Abdul Azis, Jika ditelusuri ke belakang, paradigma â?odikotomi Pendidikanâ? semakin menonjol karena terlembaganya format struktural birokrasi Pendidikan Nasional (Diknas) dan Pendidikan Agama (Depag), ini akhirnya berpengaruh pada terpeliharanya persepsi dan tradisi pendidikan yang dikotomis agama-umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya fakta itu pula yang berkontribusi besar pada terciptanya setting pendidikan NU hingga sekarang yang berkonsentrasi pada pendidikan pesantren, diniyyah, majlis taâ?Tlim, madrasah dan perguruan tinggi agama, seolah-olah mempertegas jati diri NU sebagai jamâ?Tiyah diniyyah. Padahal dalam tinjauan historis, NU telah mengkritik keras terhadap faham dualisme ilmu tersebut. KH. Wachid Hasyim (Almarhum), misalnya, menyatakan bahwa pendidikan Indonesia yang dikotomik merupakan warisan penjajah Belanda dan sangat berbahaya bagi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang dikotomik hanya akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang tak bermoral dan ulama-ulama yang tak mengenal zamannya. Untuk itulah, secara gigih Wachid Hasyim menyarankan agar setiap lembaga pendidikan mempunyai strategic planning yang mencakup tiga hal: (1) Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya, (2) Menggambarkan cara mencapai tujuan itu, serta (3) Memberikan keyakinan dan cara, bahwa tujuan yang disusun tersebut dapat tercapai dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal organisatoris (kelembagaan), di NU secara personal, orang-orangnya baik dan unggul, tetapi secara organisasi lemah. Ini menunjukkan bahwa tingkat interaksi sosial dan kerja sama di antara orang NU sendiri itu lemah. Hal ini terlihat dari misalnya Dewan Syura NU â?"Sahal Machfudz- PW NU Jatim â?"Ali Maschan- Said Agil Siraj, semuanya doktor bahkan ada yang guru besar, tetapi koordinasi mereka dalam membangun interaksi sosial demi mencapai program bersama tampak lemah, yang kelihatan adalah jalan sendiri-sendiri. Hal ini berbeda dengan Muhammadiyah yang kuat organisasinya. NU itu seperti pendekar, banyak fragmentasi; misal ada kiai khos, kiai organisasi, kiai kultural, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walapun secara organisatoris dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah lebih maju daripada NU, karena memang berdirinya Muhammadiyah (1912) lebih dulu daripada NU (1926); namun secara personal (kualitas SDM) NU tidak ketinggalan bahkan lebih progresif. Hal ini bisa dilihat dari figur-figur semisal Wachid Hasyim, Gus Dur, Ulul Abshar Abdallah, dan lain sebagainya. Berdirinya NU yang lebih kemudian daripada Muhammadiyah bukan berarti NU bersikap reaktif terhadap Muhammadiyah, namun memang berdirinya NU saat itu merupakan kebutuhan yang diharapkan mewadahi kepentingan ulama dan umat manusia secara besar. Kepentingan NU saat itu adalah koordinasi umat Islam dalam rangka menghalau serangan kelompok penyebar bidâ?Tah dan perjuangan mengusir penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan krusial yang juga dialami oleh NU (termasuk pendidikan Maâ?Tarif) adalah dokumentasi atau pengarsipan surat-surat atau teks-teks yang sebenarnya amat penting dan berguna bagi lembaga pendidikan NU-Maâ?Tarif sendiri. Oleh karena lemahnya pengarsipan, maka ketika ada yang membutuhkan dokumentasi NU-Maâ?Tarif, pihak administrator lembaga kesulitan memenuhinya. Hal ini sebagaimana dialami penulis ketika mencari data-data penelitian. Di samping itu, para fungsionaris LPM yang terkadang kurang profesional dan terkesan asal-asalan dalam menjalankan kebijakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patronase kiai (ulama) yang berlebihan di kalangan struktural NU juga menjadi persoalan tersendiri. Kebijakan-kebijakan organisasi yang sudah tertata rapi dan disepakati secara bersama, terkadang luntur dan gugur hanya karena somasi kiai yang bersikap emosional. Di NU, seorang kiai tingkat ranting bisa memisui penmgurus wilayah. Jadi perlu juga membangun kesadaran di kalangan para kiai NU. Hal-hal inilah yang menuntut penyelesaian segera dari stakeholders (para pelaku) di lingkungan NU-Maâ?Tarif sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, jenis problematika pendidikan yang dialami NU-Maâ?Tarif di Indonesia tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Persoalan klasok yang rentan dialami, misalnya, persoalan manajemen, kelembagaan, dokumentasi, profesionalisme, dan sejenisnya. Meski berbagai problematika dialami oleh LP NU-Maâ?Tarif, namun harus diakui bahwa dari segi kuantitas LP NU-Maâ?Tarif luar biasa besarnya. Walau begitu, kelembagaan madrasah di bawah naungan NU-Maâ?Tarif, yang melayani pendidikan masyarakat secara massif, yang pada umumnya di selenggarakan secara swakelola memiliki kelemahan-kelemahan yang cukup serius. Kelemahanâ?"kelemahan itu dapat diselesaikan secara bersama antara pemerintah, madrasah/sekolah, dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan Solusi Problem dan Peningkatan Kualitas Pendidikan NU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika dan kelemahan LP NU-Maâ?Tarif tentu sudah disadari oleh para stakeholders LP NU-Maâ?Tarif sendiri, sehingga berbagai ide dan inovasi coba ditawarkan dalam rangka penyelesaian berbagai problem yang ada. Menurut Wary Zen, LP NU-Maâ?Tarif Jawa Timur pernah menyelenggarakan pelatihan kepala sekolah, pelatihan guru dan sebagainya, dalam rangka mencapai profesionalitas. Pelatihan guru juga bermacam-macam, ada yang bentuknya pelatihan guru Aswaja, pelatihan guru bidang studi, pelatihan guru bahasa Arab, dan lain sebagainya. Ada yang bentuknya seritifikasi guru, sebab banyak guru di lingkungan NU-Maâ?Tarif yang belum punya ijazah guru. Pernah NU-Maâ?Tarif Jawa Timur bekerjasama dengan UNESA untuk melakukan pelatihan sertifikasi guru untuk guru-guru Maâ?Tarif, dan ditemukan di Gresik saja, ada sekitar 9 angkatan (per angkatan 50 guru) yang tidak punya ijazah keguruan. Jadi di Gresik waktu itu ada 450 guru yang tidak pernah sekolah di bidang keguruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menunjukkan SDM LP NU-Maâ?Tarif di bidang keguruan juga bermasalah, yakni tidak profesional dalam mengajar. Padahal seorang pengajar itu harus profesional. Apalagi sekarang ada undang-undang guru, yang menekankan bahwa seorang guru harus profesional; sehingga amat perlu NU-Maâ?Tarif melakukan pelatihan-pelatihan model sertifikasi guru dalam rangka menunjang keprofesionalan guru di lingkungan NU-Maâ?Tarif khususnya. Materi pelatihan yang dapat diberikan, misalnya: landasan pendidikan, administrasi pendidikan, supervisi pendidikan, media pembelajaran, metode pembelajaran. Ini perlu untuk mengatasi guru-guru yang tidak punya gelar SPD, SPG, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pemaparan di atas, dapat ditegaskan di sini, bahwa pendidikan NU merupakan sejarah perjalanan panjang yang tidak akan pernah tuntas sampai sekarang bahkan masa yang akan datang. Dalam artian, keberadaannya tetap harus dipertahankan dengan upaya penyelesaian berbagai masalah yang melingkupi dan berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Salah satu hal yang mungkin perlu ditekankan untuk dilakukan oleh NU adalah upaya peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) kader-kadernya dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan, merekomendasi sekolah, dan sejenisnya melalui berbagai sarana dan prasarana yang dimilikinya. Setelah itu memanfaatkannya untuk pengembangan lembaga terutama pendidikan NU ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azis DY, Aceng Abdul, 2003, â?oKiprah Nahdlatul Ulama dalam Bidang Pendidikanâ?, dalam LP. Maâ?Tarif NU Pusat, NU: dari Ulama untuk Indonesia (Jakarta, 20 Desember)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Dasar NU Pasal 4 &amp; 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Dasar NU Pasal 12 Ayat 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Rumah Tangga Pasal 13 Ayat 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alfiyah, Hanik Yuni, 2007, "Transformasi Sosial NU Berbasis Aswaja", Academia, Vol. 2, Nomor: 2, September (Paiton Probolinggo: Lemlit Nurul Jadid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruinessen, Martin van, 1994, NU, Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, terj. Farid Wajidi (Yagyakarta: LKiS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chuseno, Imam, 2003, Gerakan Dakwah dan Pendidikan Jamâ?Tiyah NU di Pulau Jawa (Periode Muktamar NU ke 27 Situbondo 1984 - Muktamar 28 Krapyak Yogyakarta 1990, Disertasi (Yogyakarta: UIN SuKa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haris, Abd., 2006, Filsafat Pendidikan NU: Studi atas Konsep Pendidikan Ma'arif Jawa Timur (Surabaya: Lemlit IAIN Sunan Ampel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______, 2006, "Pendidikan NU-Ma'arif dalam Tinjauan Filosofis (Studi di Jawa Timur)", Nizamia, Volume 9, Nomor 2, Juli (Surabaya: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mastuhu, 1999, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzadi, Abdul Muchith, 2006, Mengenal Nahdlatul Ulama, cet. IV (Jember: Masjid Sunan Kalijaga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Khittah NU butir 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Dasar Lembaga Pendidikan Maâ?Tarif Pasal 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Dasar Lembaga Pendidikan Maâ?Tarif Pasal 2; Pasal 8; Pasal 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan, Nasikh, 1993, â?oPendidikan di NU Antara Cita dan Faktaâ?, Bangkit, No. 5 Juli-Agustus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siddiq, KH. Achmad, 2005, Khittah Nahdliyyah, cet. III (Surabaya: Khalista-LTNU) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: MENGENAL PENDIDIKAN NAHDHATUL ULAMA&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Didik Supriyanto&lt;br /&gt;Guru di SDN Kalirungkut II/514 Surabaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-8359554487157357093?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/8359554487157357093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=8359554487157357093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8359554487157357093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8359554487157357093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/mengenal-pendidikan-nahdhatul-ulama.html' title='MENGENAL PENDIDIKAN NAHDHATUL ULAMA'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-307391632996306967</id><published>2009-01-02T19:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:50:03.586-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN</title><content type='html'>PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majunya teknologi informasi merupakan suatu perkembangan yang memberikan akses terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Dunia informasi menjadi salah satu wilayah yang berkembang pesat dan banyak mempengaruhi peradaban masyarakat. Radio, Televisi, DVD, VCD merupakan salah satu perangkat elektronik yang menjadi bagian dari perabot rumahtangga. Selain berfungsi informatif, media teknologi tersebut merupakan salah satu media entertainment yang memberikan pilihan hiburan menyegarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kemajuan media teknologi informasi, kehidupan masyarakat memasuki zone rekreatif (hiburan). Tidak dapat dibayangkan, ketika media televisi telah menjadi salah satu media yang menyediakan diri selama 24 jam untuk memberikan hiburan di tengah-tengah keluarga. Setiap sajian acara yang ditayangkan, senantiasa dikemas dalam unsur hiburan. Bukan hanya tayangan sinetron, iklan, bahkan pemberitaan (news) tak lepas dari unsur hiburan. Bagaimana berita kriminal dan mistik menjadi salah satu tayangan di berbagai stasiun televisi yang mampu menghipnotis pemirsa untuk tetap bertahan di hadapan layar televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya teknologi media audiovisual, telah menciptakan budaya masyarakat rekreatif dan konsumtif. Masyarakat memiliki banyak pilihan untuk menghibur diri dan membuang kesumpekan hidup yang makin menjepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perubahan peradaban tersebut, telah pula menjadi pemicu terhadap upaya perubahan sisitem pembelajaran di sekolah. Upaya untuk melepaskan diri dari kungkungan pembelajaran konvensional yang memaksa anak untuk mengikuti pembelajran yang tidak menarik, dan membosankan, sehingga meminjam ungkapan Faulo Fraire, sekolah tak lebih merupakan bangunan tembok penjara yang menghukum penghuninya untuk mengikuti (memaksa) menerima segenap ajaran yang berkubang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neil Postman, salah satu filosof dan pakar pendidikan semakin mencemaskan terhadap kehidupan lembaga persekolahan yang semakin teralineasi dari kultur masyrakat yang kian dinamis, sehingga sampai pada taraf asumtif, matinya nilai-nilai pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sekolah, senantiasa dituntut untuk terus-menerus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, sehingga sekolah yang tetap berkutat pada instruksional kurikul;um hanya akan membuat peserta didik gagap meliohat realitas yang mengepungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran teknologi multimedia, bukan lagi menjadi barang mewah, karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, baik kecakapan, kognitif, afektif, psikomotrik, emosional dan spiritualnya. Hal ini amat memungkinkan, ketika ruang belajar di luar gedung sekolah, telah menghasilkan berbagai produk audiovisual yang bernilai- edukatif, mulai dari mata pelajaran yang yang disajiukan dalam bentuk quiz, ataupun dalam bentuk penceritaan dan berbagai permainan yang memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sekolah menengah di Jember (SMAN 2) beberapa waktu lalu, telah mempublikasikan diri sebagai salah satu sekolah yang memakai perangkat multimedia untuk pembelajaran. Setiap guru wajib membuat media pembelajaran dengan teknologi multimedia dan menayangkannya (mempergunakan) dalam pembelajaran. Sungguh sangat menarik, dengan peralatan handycam, dan komputer (PC), seorang guru membuat media pembelajaran audiovisual yang akan memancing minat siswa untuk belajar dan tertarik untuk mengembangkan pengetahuannya. Kondisi yang membuat iri, berbagai sekolah untuk memiliki perangkat pembelajaran semacam itu. Bahkan, sudah waktunya pula apabila sekolah memanfaatkan situs-situs pengetahuan di dunia cyber untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah pemanfaatan teknologi multimedia akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik? Bagaimana seharusnya menyiapkan perangkat pembelajaran multimedia sehinggga menjadi tayangan yang menarik, dan efektif dalam pemanfaatannya untuk mengembangkan kemampuan siswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang ganjil dalam pemakaian teknologi multimedia yang dipergunakan di SMA 2 Jember dalam pemberiataan jawa pos (maret, 2004), diantaranya pembelajaran agama, dengan menyagankan guru agama yang tengah berceramah. Pembelajaran matematika dengan mempergunakan CD dan hanya berisi berbagai keterangan (tulisan) yang berhubungan dengan pembelajaran. Atau di tempat lain, seorang guru menayangkan pembelajaran mempergunakan VCD yang berdurasi selama 90 menit (2 jam pelajaran) dari awal sampai tayangan berakhir siswa hanya diajak untuk menonton, tanpa ada sesuatu yang bisa mengukur pemahaman siswa terhadap apa yang diatayangkan. Contoh tersebut merupakan salah satu bentuk pemanfaatan media audiovisual yang diarasakan kurang efektif. Karena bila kita menengok pada ceramah agama di berbagai stasiun televisi sudah dikemas sedemikian menghibur dan mampu menarik minat pemirsa untuk saling berinteraksi. Artinya, sebelum media teknologi tersebut dipergunakan, terlebih dahyulku dikenali karakteristik dari tiap media, sehingga bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Vernom A.Magnesen (1983) menyatakan kita belajar, "10% dari apa yang dibaca; 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan dengar, 70% dari apa yang dikatakan, 90% dari apa yang dilakukan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak kepada konsep Vernom, bahwa pembelajaran dengan mempergunakan teknologi audiovisual akan meningkatkan kemamp[uan belajarn sebesar 50%, daripada dengan tanpa mempergunakan media. Namun dengan melihat pada realitas yang ditemukan pada proses pembelajaran tersebut, maka pencapaian belajar secara efektif akan dicapai apabila:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Guru mengenal keunggulan dan kelemahan dari setiap media teknologi yang dipergunakan. Penggunaan teknologi auditif bukan berarti lebih buruk daripada media audiovisual, karena ada beberapa materi pembelajaran yang akan lebih baik ditayangkan dengan mempergunakan teknologi auditif untuk merangsang imajinasi siswa, dan melatih kepekaan pendengaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Menentukan pilihan materi yang akan ditayangkan, apakah sesuai dengan penggunaan media auditif, visual, atau audiovisual. Misalnya untuk melatih kepekaan siswa dalam memahami percakapan bahasa inggris, akan lebih baik kalau dipergunakan media auditif, sementara untuk mengetahui ragam budaya masyarakat berbagai bangsa tentu lebih relevan dengan mempergunakan tayangan audiovisual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Menyiapkan skenario tayangan, tentu berbeda dengan satuan pelajaran, karena disini menyangkut terhadap model tayangan yang akan disajikan sehingga menjadi menarik, nantinya akan mampu mengembangkan berbagai aspek kemampuan (potensi) dalam diri siswa.. Tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana membuat anak tetap fokus kepada tayangan yang disajikan, dan mengukur apa yang telah dilakukan siswa dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) menyiapkan lembar tugas atau quiz yang harus dikerjakan siswa ketika menyaksikan tayangan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membuat anak betah belajar disekolah dengan memanfaatkan teknologi multimedia, merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa. Untuk itu, peran serta masyarakat dan orangtua , komite sekolah merupakan partner yang dapat merencanakan dan memajukan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan (persekolahan) sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tanmgah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergaral peradaban masyarakatnya. Suatu keinginan yang tidak mudah, apabila sekolah-sekolah yang ada tidak tanggap untuk melakukan perubahan. Sejarah persekolahan di indonesia telah mencatat, bahwa upaya-upaya perubahan yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pengembangan terhadap kurikulum sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juiga pengembangan terhadap berbagai metode dan proses pembelajaran yang menarik untuk memancing dan memicu perkembangan kreatif siswa pada akhirnya kermbali kepada titik awal; betapa sulitnya perubahan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dengan akan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK), pembelajaran di sekolah akan menjadi sangat variatif, rekreatif, dan tentu kontekstual. Jika murid tidak mampu bukan sepenuhnya kesalahan murid, tetapi bisa jadi kesalahan kolektif pihak sekolah yang kurang kondusif. Nyatanya, bila melihat dari faktor usia, siswa memiliki peluang besar untuk mengikuti perubahan yang ada, sementara kata orang bijak justru guru yang paling sulit berubah, karena faktor usia yang merasa lebih tua dan lebih tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi telah hadir di hadapan kita, bagaimana kita memanfaatkannya secara optimal untuk nenajukan dunia pendidikan (bukan pendudukan) yang kita dicintai bersama. Tentunya semua itu amat bergantung kepada dana dan sumber daya, dan penghargaan terhadap manusianya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul: PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Mohon Pilih bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Hidayat Raharja,S.Pd.&lt;br /&gt;Guru di SMAN 1 SUMENEP&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-307391632996306967?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/307391632996306967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=307391632996306967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/307391632996306967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/307391632996306967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pemanfaatan-teknologi-multimedia-dalam.html' title='PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-9118179376065001461</id><published>2009-01-02T19:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:47:42.608-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sertifikasi Guru Tidak Akurat</title><content type='html'>Sertifikasi Guru Tidak Akurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas Bambang Sudibyo membentuk Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG) pada medio Agustus 2007. KSG yang beranggotakan unsur Depdiknas, Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, Universitas Eks IKIP dan Depag ini dimaksudkan untuk menyukseskan program sertifikasi terhadap 2,7 juta guru. Departemen Pendidikan Nasional agaknya tak ingin gagal dalam melaksanakan program sertifikasi guru di pelosok negeri ini. Maklum, program ini merupakan amanat Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More...Untuk itu, selain menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 18 tahun 2007 yang mengatur tentang sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Mendiknas Bambang Sudibyo pada pertengahan Agustus 2007 juga mengeluarkan Kepmendiknas Nomor 056/P/2007 tentang pembentukan Konsorsium Guru (KSG).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi guru yang sudah ditetapkan dalam kuota, mereka diminta untuk mengumpulkan data-data dirinya dalam portofolio, termasuk semua dokumen yang berhubungan dengan kualifikasinya, pengalaman, pendidikan dan pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fasli Jalal, terdapat 10 macam komponen portofolio dalam konteks uji kompetensi. Komponen dimaksud meliputi&lt;br /&gt;1. Kualifikasi akademik&lt;br /&gt;2. Pendidikan dan pelatihan&lt;br /&gt;3. Pengalaman mengajar&lt;br /&gt;4. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran&lt;br /&gt;5. Penilaian dari atasan dan pengawas&lt;br /&gt;6. Prestasi akademik&lt;br /&gt;7. Karya pengembangan profesi&lt;br /&gt;8. Keikutsertaan dalam forum ilmiah&lt;br /&gt;9. Pengalaman berorganisasi dalam bidang kependidikan dan social&lt;br /&gt;10. Penghargaan yang relevan dengan bidang kependidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi guru melalui komponen portofolio ternyata kurang teruji secara baik. Fenomena yang ada disekolah-sekolah, guru-guru yang dipanggil untuk sertifikasi hanya mengejar komponen-komponen portofolio yang relative mudah, sementara untuk komponen yang susah mereka tinggalkan. Sebagai contoh, menjadi peserta seminar walaupun dengan biaya sendiri yang cukup tinggi mereka ikuti. Maka seminar menjadi lahan bisnis baru yang menggiurkan. Sementara hasil seminar tidak membekas di hati peserta apalagi ditindaklajuti. Seminar hanya mengejar sertifikat bukan ilmu yang dikejar. Komponen karya pengembangan profesi adalah komponen yang tidak dijamah. Menurut Fasli Jalal dalam kegiatan workshop Kepala Sekolah SMK Se-Kota Semarang, sangat sedikit Bapak Ibu Guru peserta uji sertifikasi yang melampirkan komponen karya pengembangan profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini suatu kemunduran, karena penilaian angka kredit dari golongan IV A ke IV B mewajibkan komponen pengembangan profesi, sehingga banyak bapak dan ibu guru yang tertahan di golongan IV A karena tidak bisa membuat karya pengembangan profesi, sementara banyak peserta uji sertifikasi guru yang lolos tanpa melampirkan komponen karya pengembangan profesi. Jadi menurut hemat penulis, komponen karya pengembangan profesi harus menjadi komponen wajib, dimana tanpa komponen itu peserta tidak dapat diluluskan. Mereka yang lolos adalah bapak dan ibu guru yang tidak hanya guru semata tetapi guru yang juga peneliti. Ini penting karena dengan menjadi peneliti, guru terus berinovasi untuk mengembangkan pembelajarannya sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi hal yang diminati murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan pertimbangan, kebetulan penulis lolos menjadi finalis Lomba Guru kreatif (LGK) UNIKA bekerjasama dengan MARIMAS. Pengalaman mengikuti lomba ini sangat berkesan karena beratnya tahapan-tahapan pengujian yang harus dilewati. Tahapan-tahapan itu antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penelitian&lt;br /&gt;Pada tahap ini peserta diharuskan mengirimkan karya penelitian yang telah dilakukan di sekolah baik berupa PTK maupun non PTK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tes Potensi akademik&lt;br /&gt;Pada tahap ini peserta diuji kemampuan akademik, emosi dan pengetahuan untuk memecahkan suatu masalah melalui serangkaian tes psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Micro teaching&lt;br /&gt;Pada tahap ini peserta diminta mengajar sesuai dengan penelitian yang dilakukan dihadapan dewan juri dan dihadapan murid sebuah sekolah jika lolos 10 besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Uji Publik&lt;br /&gt;Pada tahap ini peserta harus dapat mempertahankan hasil penelitiannya dihadapan undangan dan peserta lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian dalam LGK lebih valid dan akuntable dibanding uji sertifikasi guru. Karena kenyataan di lapangan, mereka yang lolos uji sertifikasi guru tidak menjadi bangga karena hampir semua yang diundang lolos uji sertifikasi, sementara ribuan peserta LGK yang mendaftar hanya ratusan yang lolos tahap I, puluhan yang lolos tahap II, 10 orang yang lolos tahap III dan hanya 1 orang yang jadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi alangkah lebih baik jika uji sertifikasi guru melalui komponen portofolio ditinjau ulang dengan mewajibkan komponen karya pengembangan profesi menjadi komponen utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardan sirodjuddin, S.Pd.&lt;br /&gt;www.ardansirodjuddin.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-9118179376065001461?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/9118179376065001461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=9118179376065001461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/9118179376065001461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/9118179376065001461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/sertifikasi-guru-tidak-akurat.html' title='Sertifikasi Guru Tidak Akurat'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-6879028413211760425</id><published>2009-01-02T19:44:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:45:13.594-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sekilas Tentang Mind Map</title><content type='html'>Sekilas Tentang Mind Map&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan memproses informasi secara optimal di tengah derasnya arus informasi telah meyebabkan banyak individu mengalami hambatan dalam belajar ataupun bekerja. Fakta di lapangan menunjukan bahwa hanya sedikit individu yang mampu menangani informasi secara efektif dan menjadi pemenang di tengah persaingan yang ketat saat ini. Kebanyakan individu sisanya gagal menangani informasi seoptimal mungkin dan hanya bisa termangu menyaksikan dunia yang terus berputar di hadapan mereka tanpa mampu memberikan kontribusi berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya hambatan pemrosesan informasi terletak pada dua hal utama; proses pencatatan dan proses penyajian kembali. Keduanya merupakan proses yang saling berhubungan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai pencatatan, seringkali individu tanpa disadari membuat catatan yang tidak efektif. Kebanyakan individu melakukan pencatatan secara linear, baris per baris. Tidak sedikit pula di antara mereka membuat catatan dengan cara menyalin langsung seluruh informasi yang tersaji di buku. Hal ini tentunya kemudian berujung pada kesulitan untuk mengingat dan menggunakan seluruh informasi tersebut dalam belajar atau bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan ini sangat kontraproduktif dengan pencapaian hasil pembelajaran optimal. Aktifitas mencatat seperti ini memaksa pikiran untuk bekerja (membuat catatan) secara terpisah dari proses pengingatan dan pembelajaran. Penggunaan pikiran lebih sedikit dibandingkan penggunaan mata dan tangan. Segera setelah melihat informasi yang tersaji, tanpa sebelumnya melakukan evaluasi kritis, mereka langsung menyalin tanpa menghiraukan apakah catatan yang dibuat nantinya dapat membantu proses pengingatan/pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam kaitannya dengan penyajian kembali informasi, terlebih dahulu hal yang paling dibutuhkan adalah kemampuan memanggil ulang (recalling) informasi yang telah dipelajari. Recalling merupakan kemampuan menyajikan secara tertulis atau lisan berbagai informasi dan hubungannya, dalam format yang sangat personal. Hal ini juga merupakan indikator pemahaman individu atas informasi yang diberikan. Jelaslah kiranya bahwa proses recalling sangat erat hubungannya dengan peroses pengingatan (remembering).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling berperan dalam pengingatan adalah asosiasi yang kuat antar informasi berikut dengan interpretasi dari informasi tersebut. Kondisi ini hanya dapat terjadi ketika informasi tersebut memiliki representasi mental di pikiran. Penciptaan representasi mental sangat penting karena seperti yang diutarakan oleh Profesor Psikologi dari University of Illinois di Chicago, Stelan Ohlsson, berbagai proses problem solving dapat optimal jika sebelumnya individu membentuk representasi mental dari kondisi yang dihadapi. Sederhanya jika seseorang ingin mengingat "mobil" maka sebelumnya ia perlu memastikan adanya representasi mental mengenai "mobil" di pikirannya. Mungkin berupa gambar, rasa atau suara yang berkenaan dengan "mobil". Akan jauh lebih baik sekiranya representasi mental tersebut juga memiliki hubungan dengan informasi yang lain. Dalam contoh "mobil", maka informasi yang berhubungan misalnya "merk tertentu", "harga", "kecepatan" dan lainnya. Hubungan antar informasi tersebut perlu dipahami secara personal sehingga setelahnya tercipta representasi mental yang mudah diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya bentuk pencatatan yang dapat mengakomodir berbagai maksud di atas adalah Mind Map. Dengan mengaplikasikan Mind Map individu dapat mengantisipasi derasnya laju informasi dengan memiliki kemampuan mencatatat yang memungkinkan terciptanya "mental computer printout". Hal ini tidak hanya berguna untuk membantu dalam mempelajari informasi yang diberikan, tapi juga dapat merefleksikan pemahaman personal yang mendalam atas informasi tersebut. Tidak disangsikan lagi, bahwa Mind Map dapat meningkatkan kemampuan mengingat dan menggunakan informasi secara dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Mind Map juga dapat mengefisienkan penggunaan waktu individu alam mempelajari suatu informasi. Hal ini utamanya disebabkan karena Mind Mapdapat menyajikan gambaran menyeluruh atas suatu hal sehingga individu dapat menguasai suatu hal dalam waktu yang lebih singkat. Dengan kata lain Mind Mapmampu memangkas waktu belajar dengan mengubah pola pencatatan linear yang memakan waktu menjadi pencatatan efektif yang sekaligus langsung dapat dipahami oleh individu. Banyak bukti di lapangan yang mengindikasikan Mind Mapdapat memangkas waktu belajar hingga 50%. Perusahaan konsultasi manajemen ternama, McKinsey &amp; Company, mewajibkan para konsultannya semenjak perekrutan menguasai teknologi Mind Map sehingga dapat lebih mengefisienkan kerja sekaligus memberikan pemahaman menyeluruh atas kondisi yang tengah dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan kreatifitas, aplikasi Mind Map dapat pula meningkatkan kreatifitas individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan salah satunya karena Mind Map memungkinkan penggunaan unsur-unsur kreatifitas seperti gambar, bentuk, warna dan lainnya dalam membentuk representasi mental. Selain itu Mind Map juga mengakomodir berbagai point of view yang berbeda dari individu dalam kelompok. Berbagai teknologi pikiran yang memacu kreatifitas seperti; brainwriting, brainwalking dan semantic intuition sangat kompatibel dengan Mind Map.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak individu yang telah meraih keberhasilan berkat daya kreatifitas yang dimunculkan melalui Mind Map. Seorang di antaranya adalah Walt Disney. Ia disebut sebagai seorang yang paling keratif pada abad 20. keratifitasnya dapat sangat tinggi disebabkan karena ia bisa menjalankan 3 fungsi pemikiran sekaligus, pemimpi, realis dan kritik. Dan seluruh fungsi tersebut dapat ia jalankan dengan optimal melalui aplikasi Mind Map. Kreatifitas adalah hal yang menyebabkan Walt Disney sebagai pemain utama pada industri hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Mind Map memungkinkan terciptanya kreatifitas individu sehingga secara otomatis "memaksa" setiap individu untuk berpikir melampaui batasannya. Menurut Ryuta Kawashima, head of the neuroscientist dari Tohoku University di jepang, pencipta brain training, pikiran (bukan otak) memiliki usianya sendiri yang berbeda dengan usia biologis individu. Jika individu menggunakannya, maka ia membuatnya lebih muda. Sebaliknya jika individu tidak menggunakannya ia membuatnya menjadi lebih tua. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa aplikasi Mind Map dapat mempermuda usia pikiran anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga jelaslah dari berbagai manfaat yang telah diuraikan di atas, penguasaan kemampuan Mind Map merupakan suatu keharusan karena memberikan banyak manfaat baik bagi individu maupun bagi kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Sekilas Tentang Mind Map&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Yovan&lt;br /&gt;Konsultan di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-6879028413211760425?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/6879028413211760425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=6879028413211760425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/6879028413211760425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/6879028413211760425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/sekilas-tentang-mind-map.html' title='Sekilas Tentang Mind Map'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-2361957187671110555</id><published>2009-01-02T19:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:44:00.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>7 Langkah Mengembangkan Pemikiran Kritis Saat Belajar</title><content type='html'>7 Langkah Mengembangkan Pemikiran Kritis Saat Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda seorang pelajar atau mahasiswa, tentunya artikel kali ini sangat berguna bagi anda. Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel tentang pembelajaran sebelumnya, strategi sukses di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani proses pembelajaran, baik di sekolah maupun di kampus, tentu anda menginginkan prestasi yang optimal. Penting untuk disadari bahwa guna mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal tentu faktor yang paling menentukan adalah pada proses belajar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak individu beranggapan bahwa proses belajar merupakan proses yang sederhana. Hanya dengan membaca materi pengajaran (buku/diktat/modul/kebetan ), memperhatikan dan mendengarkan penjelasan di kelas maka prestasi optimal pasti diraih. Sayangnya pada kenyataannya tidak demikian (kacian deh lu... ). Jika demikian kenyataannya maka tentunya akan banyak sekali individu yang berhasil dalam belajar. Jika demikian maka tidak akan ada bimbingan belajar yang mengedepankan hanya cara-cara ringkas dalam menyelesaikan soal. Dan memang kenyataannya tidak demikian. Banyak siswa/mahasiswa yang telah melakukan hal serupa namun prestasinya tetap kurang memuaskan. Strategi belajar pasif tidak akan pernah memberikan hasil pembelajaran yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda bahwa guna meraih hasil optimal anda perlu melibatkan seluruh pemikiran aktif saat melakukan pembelajaran. Sayangnya banyak institusi pendidikan (baik sekolah, kampus apalagi bimbingan belajar) yang tidak mengembangkan hal ini. Bagi mereka belajar adalam proses dimana guru mengajar dan siswa menerima. Itu dan hanya itu saja. Wajar saja kemudian sekiranya kualitas pendidikan bangsa ini sedikit kurang dibandingkan negara lain di kawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dan berpikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dapatkah anda membayangkan bagaimana proses pembelajaran yang tidak disertai dengan proses berpikir. Sayangnya masih banyak individu yang belajar seperti zombie. Dari luar sepertinya mereka belajar namun sebenarnya mereka tidak belajar. Proses belajar dapat dianalogikan sebagai keseluruhan perjalanan mencapai satu tujuan. Sementara berpikir merupakan proses perjalanan itu sendiri, kaki mana yang harus dilangkahkan dan ke arah mana anda perlu melangkahkannya. Selama proses perjalanan anda perlu memastikan bahwa setiap langkah koheren satu sama lain guna mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Karena untuk mencapai hasil optimal dalam pembelajaran dibutuhkan pemikiran aktif, dan berpikir secara aktif sama artinya dengan berpikir secara kritis, maka artinya proses pembelajaran optimal membutuhkan pemikiran kritis dari si pembelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seperti yang lainnya, kini anda bertanya, �Apa yang dimaksud dengan pemikiran secara kritis?� Pada bagian berikut saya menguraikan seluruh tahapan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pemikiran kritis saat belajar. Harapannya setelah membaca artikel ini, anda tidak melatihnya namun langsung menerapkan dan hanya menanti hasil yang lebih optimal, segera atau beberapa saat setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tentukan hal yang ingin anda pelajari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat melibatkan pemikiran kritis saat belajar, sebelumnya anda perlu benar-benar mengetahui apa yang akan atau ingin anda pelajari. Hal ini sama seperti mengetahui tujuan pergi sebelum anda melangkahkan kaki ke luar rumah. Anda dapat melakukan hal ini dengan memberikan pernyataan seputar materi tersebut. Jika anda mudah lupa, tips dari saya, ikuti training/coaching Prima Memory atau siapkan selembar kertas di dekat anda dan tuliskan berbagai penyataan tujuan anda mempelajari materi tersebut. Anda dapat memberikan berbagai pernyataan sederhana seperti, �Saya penasaran cara kerja pikiran saat seseorang berada pada kondisi hypnosis?� atau �Saya penasaran apa hubungan antara hypnosis dengan peningkatan daya ingat seseorang?� Intinya semua pertanyaan yang anda tuliskan adalah pernyataan tujuan yang singkat dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kumpulkan semua sumber informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftarkan semua sumber informasi berkenaan dengan materi yang ingin anda kuasai, setelahnya kumpulkan. Anda perlu membuka diri seluas-luasnya pada berbagai sumber informasi, mulai dari buku, makalah, artikel, berbagai sumber di internet, kliping, jurnal, koran, majalah, siaran radio, TV, penjelasan guru/dosen, wangsit, wasiat, wasir dan yang lainnya . Hilangkan semua praduga anda mengenai materi yang ingin anda pelajari, karena praduga anda hanya akan membatasi proses pencarian berkenaan seputar materi tersebut. Semakin banyak sumber informasi yang anda dapatkan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya anda perlu mencari pula berbagai contoh aplikasi dari hal yang anda telah pelajari. Tahapan ini sering kali dilewatkan oleh banyak individu. Akibatnya proses pembelajaran mereka kurang optimal karena membuat mereka seolah terpisah dengan materi yang sedang dipelajari. Mereka memahami materinya, namun mereka tidak mengetahui aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai contoh aplikasi yang anda temui di lapangan juga dapat membantu anda memfilter informasi mana yang perlu diterima dan informasi mana yang perlu ditolak. Ketika terdapat ketidaksesuaian antara aplikasi di lapangan dan teori yang anda pelajari hal ini merupakan sinyal bagi anda untuk mulai bertanya ke dalam diri, �Haruskan saya terima informasi ini atau saya perlu membuangnya?� Melakukan hal ini akan semakin memperkuat pemahaman anda akan materi yang anda pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanyakan asumsi dasar penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap individu memiliki pemahaman yang berbeda-beda atas suatu kondisi. Dan seperti yang telah saya ulas sebelumnya pada artikel resolusi konflik melalui modifikasi value, tidak ada satu pun dari pemahaman tersebut yang 100% akurat dengan kondisi yang sesungguhnya terjadi. Salah satu kondisi yang kudu dalam berpikir kritis adalah anda perlu memiliki pendekatan seobjektif mungkin atas hal yang anda pelajari dan minimalkan terseret oleh subjektifitas satu pihak, katakanlah si penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan artikel ini, anda perlu melakukan hal yang sama. Tanyakan berbagai pertanyaan yang ada di benak anda saat membaca artikel ini. Bahkan jika diperlukan berikan sanggahan anda atas artikel ini atau pada berbagai artikel lainnya di web site ini. Karena web site ini diorientasikan se-objektif mungkin, itulah sebabnya saya memfasilitasi objektifitas individu melalui media buku tamu atau mailing list.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buat pola sederhana atas materi yang dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel pada majalah Scientific American Mind volume 17, No. 6, Venus in Response mengungkapkan bahwa persepsi individu mengenai kecantikan ternyata lebih ditentukan oleh kesederhanaan. Wajah yang sederhana dan tidak rumit ketika dipandang dianggap sebagai wajah yang cantik. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang menerangkan bahwa pikiran lebih senang dengan keserhanaan. Saya beranggapan hal ini salah satunya disebabkan oleh mekanisme kerja pikiran manusia yang tidak senang dengan kompleksitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam belajar kaitannya dengan pembelajaran. Sangat penting bagi anda untuk membuat pola di pikiran mengenai hal yang telah anda pelajari. Anda perlu membuat hal yang anda pelajari menjadi sederhana namun tidak menyederhanakan (bingung� kan ). Maksud saya adalah dalam proses belajar anda perlu kemudian membentuk pola namun tidak terlalu mereduksi berbagai informasi yang penting. Jika anda melakukan hal ini maka kualitas pemahaman anda yang dikorbankan. Salah satu cara untuk membentuk pola atas hal yang dipelajari adalah dengan menggunakan peta pikiran (mind map). Dengan menggunakan mind map maka anda tidak hanya membentuk pola dengan melihat seluruh gambaran besar dari informasi yang anda pelajari, namun anda juga mengetahui hubungan antara masing-masing informasi tersebut. Sebagai tambahan, hal ini juga mempermudah anda dalam mengkomunikasikan hal yang anda pelajari kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tanya ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan pola dari materi yang anda pelajari maka tahapan selanjutnya adalah menanyakan kembali berbagai informasi yang telah anda pelajari kepada diri anda. Hal ini salah satunya ditujukan untuk mengaktifkan pikiran anda dan terus mengembangkan berbagai hal yang telah anda pelajari. Dengan bertanya anda mengindentifikasi berbagai hal yang mungkin belum anda kuasai mengenai materi yang anda kuasai. Tanyakan berbagai pertanyaan yang memancing untuk memperbesar medan pemahaman anda misalnya, �Bagaimana kalau begini/begitu?�.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kemukakan !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anda belajar mengenai sesuatu tentunya anda ingin mengetahui seberapa baiknya penguasaan anda. Asumsi saya anda belajar untuk memahami suatu materi dan bukan untuk orientasi yang lain, seperti sebatas menaikan nilai misalnya. Nilai merupakan konsekuensi logis atas pemahaman anda. Dengan demikian wajar sekiranya saya merasa aneh ketika mendengar atau melihat iklan berbagai institusi pendidikan yang berbunyi �menaikan nilai ujian dengan rata-rata sekian� atau �semua lulusan kami langsung kerja�. Tidakkah hal itu terdengar seperti �pemrograman manusia�. Mungkin memang benar sekarang jaman edan, semuanya serba terbalik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui seberapa baiknya pemahaman, anda perlu menyatakan kembali berbagai hal yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan melakukan hal ini anda mengetahui sejauh mana dan sebaik apa penguasaan anda atas materi tersebut. Untuk melakukan hal ini anda dapat menerangkan ke orang lain. Namun sebelumnya perlu dijelaskan bahwa tujuan anda adalah untuk meningkatkan pemahaman anda atas materi tersebut dan bukan untuk mempertontonkan kecerdasan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Uji kemampuan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir dari rangkaian tahapan berpikir kritis dalam belajar adalah menguji penguasaan. Serupa dengan tahapan sebelumnya, tahapan ini dilakukan salah satunya untuk mengetahui seberapa baiknya kemampuan anda atas materi yang dipelajari. Bedanya, tahapan ini sedikit lebih mendetil. Sedikitnya ada lima hal yang perlu dilakukan untuk menguji kemampuan anda, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Daftarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya memberikan label (nama), mengidentifikasi dan membuat daftar seputar materi yang dipelajari. Hal ini ditujukan untuk mendemonstrasikan berbagai hal yang telah anda pelajari. Dengan kata lain seberapa beragamnya hal yang telah anda kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Definisikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya memberikan penjelasan, merangkum dengan kata-kata sendiri dan berbagai cara lainnya. Utamanya dengan merangkum menggunakan kata-kata sendiri, anda mengetahui seberapa baiknya penguasaan anda atas materi tersebut. Selain itu dengan melakukan hal ini anda memadukan pula informasi terbaru dengan berbagai informasi yang telah anda ketahui sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pecahkan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula di dalamnya memberikan contoh berkenaan dengan materi yang anda pelajari. Dengan melakukan hal ini anda mengetahui pula aplikasi dari materi yang anda pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bandingkan dengan teori lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda pernah mempelajari atau megetahui materi sejenis dari sumber yang berbeda maka anda dapat melakukan komparasi antara keduanya. Melakukan hal ini berarti anda melatih pula daya analisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ciptakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula di dalamnya mengkombinasikan dan menemukan teori baru. Menciptakan terori bukan hanya hal para peneliti, anda pun dapat dan harus pula melakukannya. Kembangkan teori anda sendiri. Dengan demikian anda mengkristalkan pemahaman anda atas materi tersebut. * Dan yang terakhir, buat rekomendasi anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan langkah sebelumnya, namun langkah ini lebih ditujukan bagi orang lain. Menurut saya karakteristik cerdas adalah; mengetahui apa yang diinginkan, mengetahui di mana mendapatkan yang diinginkan dan dapat membuat orang lain mencapai seperti dirinya. Semantara anda membaca artikel ini, saya mengetahui pula bahwa anda adalah seorang yang cerdas sehingga tentuya anda dapat juga membantu orang lain untuk meraih pula berbagai pencapaian anda. Anda dapat melakukan hal ini salah satunya dengan memberikan rekomendasi atas materi yang bersangkutan. Beritahu the do�s anda the don�t�s untuk mempelajari materi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okehh (memang pakai "h" ) , demikianlah artikel kali ini mengenai metode cara mengembangkan pemikiran yang kritis dalam pembelajaran. Kembali lagi harapan saya semoga setelah anda membaca keseluruhan artikel kali ini, anda tidak melatihnya, melainkan hanya melakukannya saja dalam keseharian. Saya penasaran seberapa cepatnya seluruh kemampuan tersebut menyatu dengan diri anda, sekarang atau beberapa saat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: 7 Langkah Mengembangkan Pemikiran Kritis Saat Belajar&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian Mohon Pilih.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Yovan&lt;br /&gt;Konsultan di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-2361957187671110555?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/2361957187671110555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=2361957187671110555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/2361957187671110555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/2361957187671110555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/7-langkah-mengembangkan-pemikiran.html' title='7 Langkah Mengembangkan Pemikiran Kritis Saat Belajar'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1233145454713652409</id><published>2009-01-02T19:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:42:23.635-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>kemampuan baca al-qur'an siswa menurun</title><content type='html'>kemampuan baca al-qur'an siswa menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdasarkan pengalaman mengajar yang berlangsung, kemampuan dan kualitas baca al-qur,an siswa dilingkungan sekolah khususnya ditingkat slta, dapat dikatakan sangat menurun dibandingkan dengan kemampuan dan kualitas baca al-qur'an siswa 5 tahun sebelumnya. hal ini sangat memprihatinkan, oleh karena itu perlu ditanggapi oleh berbagai pihak. al-qur'an sebagai pedoman hidup manusia agar menjadi manusia yang bertakwa (potensial secara duniawi dan ukhrowi), sangat perlu ditanamkan dan dikuasai kemampuan pembacaan dan pemahaman maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disadari siswa sebagai cikal anak bangsa yang akan menggantikan perputaran roda dunia berikutnya harus dimodali dengan kemampuan dan kesadaran yang tinggi untuk mempertahankan eksistensinya dalam mengembangkan potensi diri dan bangsanya. apalagi kedepan ia akan sangat banyak menghadapi tantangan dan kesulitan hidup baik sidektor ekonomi, sosial, politik dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergeseran moral dan etika siswa yang sekarang ini berkembang sangat banyak dipengaruhi oleh derasnya informasi yang diterimanya, baik elektronik maupun cetak, yang cenderung bersifat negatif dan menjerumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-qur'an yang bermuatan etika dan moral, tidak dapat diragukan, dibutuhkan kehadirannya secara utuh, dalam artian tampil sebagai idola dalam bentuk proses pembelajaaran yang agung, agar dapat meminimalisir durasi siswa untuk mengisi sisi kehidupannya yang cenderung kurang bermanfaat ( nongkrong dipinggir jalan/ warung, smsan, game, chating, dll ). penampilan kehadiran al-qur'an dalam bentuk proses pembelajaran yang agung ini perlu dukungan dan konstribusi yang penuh dari berbagai pihak. mulai dari program (format/ model), pendanaan, tenaga, dan proses penyajian dan pelaksanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Kemampuan baca Al-Qur'an siswa menurun&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): nelty khairiyah&lt;br /&gt;Guru di smk jak-pus 1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1233145454713652409?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1233145454713652409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1233145454713652409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1233145454713652409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1233145454713652409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/kemampuan-baca-al-quran-siswa-menurun.html' title='kemampuan baca al-qur&apos;an siswa menurun'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3467249530937938823</id><published>2009-01-02T19:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:40:52.534-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>"Bagaimana Cara Membuat Sosok Guru Kita yang Ideal dan Profesional?"</title><content type='html'>"Bagaimana Cara Membuat Sosok Guru Kita yang Ideal dan Profesional?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Jawa Pos, yang telah memotivasi diri saya untuk memutar otak hingga menuangkan ide saya melalui "email page" ini. Mohon maaf, karena panjang tulisan saya ini, melebihi aturan yang diberikan. Semoga pihak editor Jawa Pos yang dapat mengeditnya lebih singkat dan padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai tema yang diberikan "Bagaimana cara membuat guru kita maju dan profesional'. Tentu saja tema ini adalah sebuah pertanyaan simple, namun butuh jawaban tepat dan cukup rumit pelaksanaannya. Menurut saya, jawaban rumit yang butuh pelaksanaan kompleks itu adalah mereaktualisasikan peranan guru dan siswa dalam meningkatkan mutu pendidikan di bangsa Indonesia tercinta ini (pada umumnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pada tahap atau langkah awal adalah menerapkan kemajuan dan keprofesionalismean guru (pendidik), dan diiringi pengasahan pemikiran, potensi dan daya tangkal kritis oleh para peserta didik (siswanya). Namun kali ini, sesuai tema saya akan menjelaskan cara menjadikan seorang guru itu maju dan professional. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang sangat berperan penting dalam pola pembinaan, pengajaran, pembimbingan dan pengembangan. Semua pola tersebut merupakan tanggung jawab penuh seorang guru, sehingga benar-benar mampu mencetak siswa yang tangguh dan terampil di segala bidang. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, seperti yang dikatakan di atas sebelumnya, tidak menutup kemungkinan akan banyak mendapat hambatan yang cukup kompleks dan temporal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui bersama, pendidikan dipandang kurang relevan dengan pembangunan. Hal ini menyebabkan mutu pendidikan dianggap kian merosot, yang pada akhirnya menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Namun, kita terutama sebagai guru jangan langsung pantang menyerah dan jangan cepat putus asa. Sekalipun tantangan gurur di masa depan lebar membentang, namun semangat dan cita-cita guru to teach how to learn kepada peserta didik (siswa) harus tetap tertanam dalam sanubari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya untuk berbasa-basi, saya ingin sekali guru dan siwa saling take and give (berbagi) dan berperan aktif sesuai 'tupoksi' (tugas pokok dan fungsinya) serta kewajiban kita masing-masing. Saya sebagai anak bangsa yang mempunyai rasa peduli yang besar terhadap perkembangan pendidikan bangsa ini, mencoba memberikan ide saya 'bagaimana menjadi guru yang selalu bertanggung jawab, punya keinginan maju dan professional tentunya. Berikut ini sumbangsih pemikiran saya, bagi 'pahlawan tanpa tanda jasa' kita selama ini; (mungkin poin-poin inilah merupakan inti tulisan dari saya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dahulu orang gandrung meningkatkan IQ (Intellegent Quality), sekarang dibutuhkan lagi dua jenis kualitas diri. Bukan hanya lagi trend, tapi wajib dimiliki oleh semua insan manusia (terlebih guru), yaitu menerapkan EQ (Emotional Quality) dan SQ (Spiritual Quality) dan SQ (Spiritual Quality). Jadi, guru tersebut akan cerdas secara emosional dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Niatkan pada diri sendiri untuk benar-benar mengabdikan diri menjadi guru yang amanah, karena ingin beribadah di jalan Tuhan Sang Pencipta semata. Kemudian, jadikanlah kritik dari berbagai pihak akan kelemahan kita, sebagai dorongan untuk mencari cara-cara belajar dan mengajar baru yang lebih efektif kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Berupaya keras dan pantang menyerah untuk maju dari ketertinggalan pendidikan (pengetahuan) diri pribadi, sekolah, kota, bahkan maju dari ketertinggalan pendidikan bangsa kita, agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Berusaha menghormati pribadi siswa dan menjauhkan mereka dari berbagai keluhan, frustasi dan konflik. Bersikap ramah dan berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah mereka, sehingga tidak mengganggu pikiran siswa ketika menerima pelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Rancanglah metode pembelajaran lebih awal, sehari sebelum mengajar di kelas. Mengupayakan agar pelajaran yang akan diajarkan telah dikuasai penuh oleh guru, kemuadian menyampaikannya dengan cara menyenangkan dan tidak menyulitkan (mudah dilaksanakan) oleh para siswa. Mungkin makin berharga suatu pelajaran, maka makin banyak kesulitan yang harus dilalui oleh seorang guru dan siswa untuk menguasainya. Kemungkinan ini tidak berarti pelajaran harus dibuat sulit agar ada nilainya. Namun, menjadi cara guru untuk mengajarkan kepada siswa agar mempelajari banyak hal dan menghadapi kesukaran-kesukaran yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Saat mengajar kepada siswa di kelas, ciptakanlah suasana kondusif yang menjadikan siswa itu tertantang dan menyadari pentingnya ilmu-ilmu pelajaran yang guru ajarkan. Sesuaikan kondisi, kapan saat guru harus bercanda (melucu dan mengajak tertawa siswa), dan kapan saat guru harus mengajak siswanya untuk serius di kelas. Jadi, guru tahu benar, cara mengefesiensikan waktu yang ada, dan tidak mengajak hal-hal yang merugikan kepada siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Seorang guru harus mampu rela berkorban, memiliki kedisiplinan diri (self dicipline) agar tepat waktu memasuki kelas untuk mengajar siswanya dan dapat saling mengingatkan, menasehati dan share (berbagi) kepada siswanya menuju paradigma pendidikan yang lebih baik dan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Segala isi petuah dan nasehat guru kepada siswa-siwanya, harus diaktualisasikan terlebih dahulu oleh guru itu sendiri dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Dengan kata lain, tingkah laku guru yang baik, pasti akan menjadi keteladanan atau contoh yang baik bagi para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Tidak hanya menguasai ilmu yang diajarkannya, tetapi juga menguasai ilmu-ilmu penting yang menjadi nilai plus bagi guru, misalnya mempelajari bahasa asing, menguasai IpTek/TI (dunia komputer dan internet), dan kreativitas lainnya sesuai kemampuan yang ada pada guru tersebut. Dua kegiatan yang tak boleh terlupakan untuk dikembangkan oleh guru, yaitu menulis dan meneliti, sehingga memacu guru akan terus membaca dan melakukan refleksi pada setiap kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Terakhir, guru harus mempunyai sifat tegas, jujur, adil, bijaksana dan memenuhi hak dan kewajiban yang selaras, mendahulukan kepentingan orang banyak (prioritas), halus dan sopan dalam bertutur kata, kemudian wajah diperamah dengan senyum ketika menatap wajah-wajah yang mengharap perhatian penuh (siswa) dari guru tercintanya. Tentu tidak ada seorang pun siswa yang akan menjauhi, menakuti, bahkan membenci gurunya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, alangkah indah dan sinergisnya sasaran kita untuk memajukan pendidikan di Indonesia, bila poin-poin di atas didukung dengan reaktualisasi (pembaharuan) peran siswa yang sesungguhnya, yaitu siswa yang penuh kesadaran, inisiatif dan tanggung jawab tinggi yang tentunya telah dibekali oleh keikhlasan, budi pekerti dan moral yang baik. Mengapa saya katakana seperti ini? Jawabannya karena, sesungguhnya suatu sekolah hanya bertindak sebagai sarana pusat pengembangan dan pembinaan, sedangkan guru sebagai tutor (orang yang memfasilitasi) peserta didiknya. Jadi, siswalah yang sebenarnya harus tanggap, taat dan patuh. Dan dapat saya simpulkan bahwa maju mundurnya suatu sekolah bergantung pada kedua unsur di atas, yaitu adanya pembinaan guru professional (pihak sekolah) dan kesadaran siswa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini benar-benar sudah terwujud dan sudah menjadi suatu kebiasaan, Insya Allah di masa sekarang dan yang akan datang dapat mencetak bibit-bibit siswa unggul yang dapat tampil di masyarakat sebagai insan yang beriman dan bertakwa, terampil dan tentunya berakhlak mulia, berkat guru professional dan beranggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata saya, hidup guruku! Hidup guru kita! Jadilah guru ideal, favorit bagi para siswa dan professional!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf bila ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hati dan terima kasih atas diadakannya media demokrasi berargumentasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabilahi taufiq walhidah, Wassalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Yuliana Sari&lt;br /&gt;Mahasiswa di Universitas Tdulako Palu&lt;br /&gt;Topik: Guru Ideal dan Profesional, Sangat bagus dibaca oleh para guru dan siswa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3467249530937938823?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3467249530937938823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3467249530937938823' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3467249530937938823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3467249530937938823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/bagaimana-cara-membuat-sosok-guru-kita.html' title='&quot;Bagaimana Cara Membuat Sosok Guru Kita yang Ideal dan Profesional?&quot;'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-8344520742100766809</id><published>2009-01-02T19:36:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:38:55.864-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>PENERAPAN E- LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SUATU LANGKAH INOVASI</title><content type='html'>PENERAPAN E- LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SUATU LANGKAH INOVASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan suatu bangsa salah satu indikatornya, dapat dilihat dari perkembangan dunia pendidikan pada bangsa tersebut. Kemajuan pendidikan juga menggambarkan tingkat tingginya kebudayaan suatu bangsa. Kemajuan sektor pendidikan akan berpengaruh cukup signifikan terhadap kemajuan suatu bangsa, khususnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula sebaliknya kemajuan suatu bangsa berpengaruh yang cukup signifikan pula terhadap sektor pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bagaimana halnya dengan perkembangan kemajuan pendidikan di negara kita. Kalau kita amati secara kasustik perkembangan pendidikan di negara kita sebenarnya cukup menggembirakan, seperti telah diraihnya prestasi juara I Olympiade Fisika Internasional beberapa kali oleh putera - puteri Indonesia. Hanya saja prestasi ataupun tingkat kemajuan pendidikan di negara kita justru menggambarkan hal yang sebaliknya. Ini terungkap dari hasil penelitian yang oleh lembaga-lembaga internasional yang berkompeten mengadakan penelitian di bidang pendidikan. Bahkan kita berada jauh di bawah Malaysia, dan Singapura, dan yang sangat mengagetkan kita justru berada di bawah Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kriteria - kriteria yang dijadikan acuan dari penelitian tersebut, yang jelas dari hasil penelitian itu, sudah menggambarkan kondisi pendidikan di negara kita saat ini. Hal ini tentunya akan menjadi pemicu bagi kita semua yang kerkecimpung dalam dunia pendidikan untuk lebih meningkatkan kinerja dan inovasi -inovasi dalam dunia pendidikan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu inovasi yang perlu dilakukan menurut penulis adalah model dari pelaksanaan pembelajaran. Hal ini perlu dilakukan sebab dalam kegiatan pembelajaran inilah transfer berbagai kompetensi berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan kondisi saat ini dimana perkembangan teknologi sangat pesat, khususnya di bidang teknologi informasi. Jadi sudah merupakan keharusan untuk memanfaatkan teknologi informasi tersebut ke dalam dunia pendidikan khususnya di Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini sengaja ditulis untuk memberikan masukan dan sumbang saran agar model pembelajaran di Sekolah Dasar terjadi perubahan ke arah peningkatan yang lebih signifikan dibandingkan kondisi yang ada saat ini. Menurut penulis eksistensi pembelajaran yang ada di sekolah dasar saat ini pada umumnya masih teacher sentris, dan belum memanfaatkan media pembelajaran secara optimal, khususnya belum memanfaatkan media teknologi informasi, khususnya internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Dasar Pemikiran Strategi Penerapan E-Learning dalam Pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tinjauan Kondisi Pembelajaran di Sekolah Dasar Saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Mulyasa, 2005 menyatakan bahwa guru, kreatif, profesional, dan menyenangkan harus memiliki berbagai konsep dan cara untuk mendongkrak kualitas pembelajaran. Langkah untuk mendongkarak kualitas pembelajaran antara lain dengan mengembangkan kecerdasan emosi, mengembangkan kreatifitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang, membangkitkan nafsu belajar, memecahkan masalah, mendayagunakan sumber belajar, dan melibatkan masyarakat dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan pendapat di atas ada satu hal yang menarik perhatian penulis yaitu mendayagunakan sumber belajar. Disini sesuai benar dengan harapan penulis bahwa sumber belajar untuk kegiatan pembelajaran harus lebih variatif, hal ini untuk meningkatkan kualitas dari mutu pembelajaran itu sendiri. Salah satu sumber belajar yang sangat sedikit disentuh adalah sumber belajar yang memanfaatkan media elektronika atau komputer. Hal ini tidak terlepas dari minimnya penguasaan guru-guru di Sekolah Dasar terhadap media ini, disebabkan pula kerena adanya beberapa sekolah di tanah air kita yang belum memliliki alat tersebut dengan berbagai alasan, tidak ada dana, tidak ada tenaga yang mampu mengoperasikan dan lain-lain. Sebagai akibatnya kegiatan pembelajaran berlangsung dengan memanfaatkan sumber belajar yang itu- itu saja, yaitu guru dan buku. Sebagai akibat dari kondisi ini siswa akan belajar dengan situasi yang monoton dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah umum yang terjadi di lapangan saat ini yaitu bahwa pembelajaran terjadi dengan dominansi dari guru. Artinya pembelajaran berlangsung dengan peranan guru yang sangat dominan, dan umumnya metode yang sering digunakan adalah metode ceramah. Dengan kondisi seperti ini pembelajaran berlangsung secara teacher centrys.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kondisi Pembelajaran yang Berkualitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah pembelajaran sendiri, mengacu pada segala daya dan upaya yang sengaja dikondisikan untuk terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sedangkan istilah belajar sendiri memeliki pengertian, suatu proses fisik dan psikis pada diri siswa. Dimana seseorang yang menagalami peristiwa belajar akan berbeda keadaannya dengan kondisi sebelum dia mengalami belajar, seperti dia akan semakin memiliki banyak pengetahuan ( kognitif ), memiliki sikap yang semakin dewasa ( afektif ), dan memiki beberapa keterampilan gerak, yang juga semakin bertambah ( psikomotor ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oemar Hamalik, 2001 menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar. Sedangkan William Burton, mengemukakan bahwa A good learning situation consist of a rich and varied series of learning experiences unified around a vigorrous purpose and carried on in interaction with a rich, varied and propocative environment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudjana, 1991 menyatakan bahwa kondisi pembelajaran yang berkualitas dipengaruhi oleh faktor-faktor : Tujuan pengajaran yang jelas, bahan pengajaran yang memadahi, metodelogi pengajaran yang tepat, dan cara penilaian yang baik. Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip, generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum. Saat ini hal-hal tersebut akan merupakan suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam metodelogi pengajaran ada dua aspek yang paling menunjol yaitu metode mengajar dan media pengajaran, sebagai alat bantu mengajar, dimana media pengajaran ini merupakan salah satu lingkungan belajar yang dikonsikan oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri dari pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas adalah dimanfaatkannya media pembelajaran, dalam proses pembelajaran. Di zaman yang serba canggih seperti kondisi saat ini dimana teknologi berkembang sedemikian pesatnya, komputer sudah bukan merupakan barang yang langka dan mewah. Dengan adanya media komputer sebagai pengolah informasi sudah selayaknyalah apabila di tiap- tiap sekolah dasar minimal memiliki satu unit komputer. Baik komputer sebagai sarana pengolah administrsi sekolah, dan akan lebih baik lagi apabila komputer dapat berfungsi sebagai media pembelajaran bagi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tinjauan tentang E- Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah E - learning tergolong hal baru dan hal aktual dalam khasanah perkekembangan Ilmu pengetahuan. Istilah ini muncul seiring dengan perkembangan kemajuan dunia elektronika yang berkembang saat ini. Artinya mencari literatur yang membahas tentang e - learning ini untuk saat ini tergolong sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini penulis berupaya menganalis e - learning dari susunan kata - kata e-learning itu sendiri. Istilah e-learning muncul seiring dengan dimanfaatkannya alat- alat elektronika dalam kehidupan manusia, terutama teknologi yang berbasiskan komputer sebagai alat pengolah data dan informasi. Dan terlebih lagi dengan dimanfaatkan atau munculnya internet dalam kehidupan manusia. Istilah e-learning muncul seiring dengan munculnya istilah e-e yang lain, seperti: E-Goverment ( strategi pembangunan dan pengembangan sistem pelayanan publik berbasis teknologi digital), E-Tendering, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah E-Learning sebenarnya merupakan frase yang tersusun dari dua kata yaitu kata Electronic disingkat E, dan kata Learning yang dalam bahasa Indonesia berarti pembelajaran. Dengan demikian e-learning memiliki pengertian " Pembelajaran dengan memakai atau memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi komonikasi saat ini semakin canggih. Kalau pada awalnaya jaringan sarana komonikasi masih memanfaatkan kabel, maka saat ini jaringan komunikasi sudah memanfaatkan gelombang elektromagnetik atau gelombang radio yang tanpa kabel. Saat ini kebanyakan orang sudah memanfaatkan informasi dengan memanfaatkan jaringan data pada komputer dengan cara mengadakan koneksi ke komputer lain, hal ini dikenal dengan istilah internet. Dengan adanya jaringan internet ini seseorang dapat mengakses data apa saja dengan melakukan browsing ke berbegai penyelia data ( server ) di berbegai belahan bumi ini. Artinya dengan adanya internet ini masalah ruang tidak menjadi halangan. Sebagai misal kita dapat mengakses data dari berbagai tempat di Amerika dengan memanfaatkan layanan Yahoo, hanya dalam hitungan detik, berbagai data berhasil kita akses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data tersebut sebenarnya dapat kita manfaatkan sebagai materi pembelajaran ( learning ) di sekolah dasar. Tentunya dalam hal ini diperlukan suatu keterampilan khusus, yang pertama keterampilan memanfaatkan atau mengoperasikan komputer, dan yang terutama penguasaan dalam menggunakan fasilitas internet. Disini dibutuhkan guru yang terampil, yang pertama terampil mengeperasikan komputer, dan yang selanjutnya harus terampil pula memanfaatkan internet. Jika hal ini terpenuhi maka teknologi komunikasi dan informasi yang ada pada internet dapat digunakan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Upaya Memanfaatkan E-learning untuk Meningkatkan kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi sekolah-sekolah dasar di negara kita sangat beragam. Hal ini tidak terlepas dari faktor giografis dan topografis di negara kita yang beragam pula. Ditambah pula adanya faktor kultural yang ada pada berbagai suku juga beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari hal diatas telah kita ketahui bersama bahwa keberadaan seperangkat komputer pada suatu sekolah sampai saat ini secara garis besar masih cukup jarang, artinya sekolah yang memiliki fasilitas komputer dengan sekolah yang belum memiliki fasilitas komputer masih banyak yang belum memiliki fasilitas komputer. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu (1) faktor dana, artinya sekolah tidak cukup dana untuk membeli seperangkat komputer, (2) faktor kemampuan penguasaan teknologi, maksudnya masih banyak guru di sekolah dasar belum mampu mengoperasikan komputer ( GAPTEK = Gagap Teknologi ), (3) Faktor lain, misalnya faktor keamanan. Sekolah yang tidak aman enggan untuk membeli komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan artikel ini mengacu pada sekolah-sekolah yang telah memiliki dan memanfaatkan komputer. Syarat sebuah komputer agar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, adalah komputer tersebut harus dapat dikoneksikan ke internet. Tidak semua komputer dapat dikoneksikan ke internet. Sebagai mana yang dijelaskan Mico Pardosi 2000, komputer akan dapat dikoneksikan ke internet apabila memiliki persaratan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Komputer tersebut harus dilengkapi dengan modem, baik modem internal maupun modem eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Komputer dengan prosessor Pentium 100 Mhz (minimal), lebih tinggi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Memiliki jaringan telepon, atau wareless .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Meng- install program Internet ( browser) ke dalam komputer, misalnya Internet Explorer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Mendaftarkan diri ke ISP ( Perusahaan Penyelia Jasa Internet) yang ada, misalnya RADNET, INDONET, MEGANET, atau TELKOMNET ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas internet dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran atau e- learning yaitu dengan memanfaatkan menu search, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Hubungkan komputer ke ISP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Setelah komputer terhubung ke ISP, klik ganda Internet Explorer,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Klik menu search,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Ketik web atau data yang akan dicari pada kotak yang tersedia misalnya kata" habitat " , maka kita akan kita dapatkan data -data yang berhubungan dengan habitat. Demikian pula apabila kita mengetikkan kata-kata yang lain tentu kita akan memperoleh data -data yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah letak essensialnya internet sebagai teknologi komonikasi dan informasi yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pembelajaran, atau E-learning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecanggihan internet, apabila dapat dimanfaatkan dengan tepat, maka akan menjadi sumber belajar yang sangat lengkap, ibarat sebuah perpustakaan yang menyediakan berbagai referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang dapat diperoleh dari uraian di atas adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan dengan pemanfaatan E-learning ( Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam pembelajaran ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) E- learning merupakan merupakan inovasi yang sangat tepat untuk dikembangkan di sekolah dasar saat ini sesuai dengan perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, demikian pula dengan perkembangan informasi yang tak kalah pesatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu penulis sarankan, agar e-learning ( Pemanfaatan Internet ), di sekolah Dasar berjalan optimal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Seharusnya tiap sekolah memiliki komputer yang dapat diakseskan ke internet ( langkah ini perlu difasilitasi oleh pemerintah ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Seluruh sekolah harus memeliki jaringan telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Perlu Diklat yang dapat melatih guru SD agar terampil menggunakan Komputer, seperti Diklat KKPI JARDIKNAS, salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Dan yang tak kalah pentingnya lagi sebagai langkah " Pre Sercvice Training " seorang mahasiswa calon guru SD sudah selayaknya menerima mata kuliah tentang IT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Information teknologi dari bangku kuliah Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Guru SDN Omben II Sampang, meraih gelar Magister Manajemen Pendidikan pada Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Manajemen IMNI Jakarta ( 22 April 2007 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E - mail : madjury@yahoo.co.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSTAKA ACUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/ E-learning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indrajit, Richardus Eko. 2002. Electronic Goverment. Yokyakarta : Penerbit Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mico Pardosi. 2001. Sistem Operasi Windows dan Internet Secara Cepat dan Mudah. Surabaya: Penerbit Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oemar Hamalik. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara. &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): MOHAMAD JURI,S.Pd,MMPd&lt;br /&gt;Saya Guru di SDN Omben II Sampang Madura&lt;br /&gt;Topik: Strategi Pembelajaran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-8344520742100766809?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/8344520742100766809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=8344520742100766809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8344520742100766809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8344520742100766809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/penerapan-e-learning-dalam-pembelajaran.html' title='PENERAPAN E- LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SUATU LANGKAH INOVASI'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-4516466550983761000</id><published>2009-01-02T19:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:36:47.877-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Menumbuhkan Budaya Menghargai Siswa</title><content type='html'>Menumbuhkan Budaya Menghargai Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghargai dan menyayangi adalah dua ekspressi emosi yang selalu patut ditujukan oleh orang tua kepada anak dan oleh guru kepada siswanya selalu. Dua ungkapan ekspressi emosi ini amat tulus diberikan oleh orang tua yang punya bayi dan balita. Perasaan sayang dan dihargai yang diterima oleh anak membuat mereka selalu bersemangat untuk melaksanakan aktivitas yang tidak henti- hentinya dalam menjalani proses pertumbuhan mereka. Masa bayi dan balita yang merupakan masa emas, karena pada masa ini syaraf- syaraf berkembang pesat, dan pada saat yang sama orangtua memberikan pelayanan unggul dalam mendidik mereka, yaitu mendidik dan membesarkan yang penuh dengan senyum, kehangatan, sentuhan dan kata- kata positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak dengan pelayanan prima masih diterima oleh anak mereka berada di bangku taman kanak-kanak dan berlanjut sampai kelas satu atau kelas dua SD. Pada saat ini orang tua di rumah masih memperlihatkan pribadi yang hangat pada anak di rumah. Di sekolah , di TK dan di SD (kelas satu dan kelas) dua guru- guru pun masih mendidik anak dengan penuh senyum, penuh sabar dan ramah tamah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik dengan pelayanan ramah tamah- menghargai dan menyayangi- dari guru kepada siswa memberikan yang menakjubkan. Inilah alasanya kalau dalam usia ini mampu merekam pembelajaran dengan hasil yang bagus. Namun apabila ada yang beralasan bahwa dalam usia ini, daya tangkap anak ibarat menulis di atas batu, tetapi didik oleh orangtua dan guru yang penuh dengan suasana menekan, mengancam dan mengintimidasi maka pasti akan membuat anak menjadi manusia yang senang membisu dan memiliki jiwa paranoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah proses biologi yang alami bila anak terus mengalami pertumbuhan terus, sampai akhirnya mereka memasuki usia pasca masa balita dan terus sampai masa pra remaja. Seiring dengan perubahan tubuh atau perubahan biologis mereka, maka karakter mereka juga berubah. Bila pada masa bayi dan balita, mereka masih memperlihatkan sikap manis dan lucu. Namun dalam masa setelah itu, mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih agresif, impulsif- kurang bisa menguasai diri, senang berteriak dan bergerak agresif dalam rangka merespon pertumbuhan jantung, paru-paru, otot dan organ yang lain sering membuat mereka menjadi kontra dengan standar kebijakan guru dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah gerak mereka yang agresif dan suara mereka mereka yang keras, maka orang tua dan guru melakukan respon yang berbeda- beda. Sebagian orangtua berusaha untuk memahami pertumbuhan dan perkembangan anak dan sebahagian lain malah bersikap dengan sangat otoriter- menghardik, mencela dan memberikan hukuman, dimana pda akhirnya akan melajirkan generasi muda yang senang membisu, pasih dan pemalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat anak mengalami pertumbahan dan perkembangan yang pesat ini, walau mereka sendiri mengalami perubahan pola prilaku yang aneh- aneh di mata guru dan orangtua yang belum memahami bagaimana pertumbuhan dan perkembangan anak, mereka mererspon dengan pola kekerasan atau bergaya otoriter maka pastilah akan melahirkan nak- anak dengan perasaan tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup bervariasi pola mengajar guru- dan juga orangtua- terhadap anak didik sejak masa anak- anak di SD sampai kepada masa remaja di tingkat SMP dan SLTA. Ada guru yang mengajar dengan cara memaksa, serba melarang, serba membantu, mendikte dan tentu ada juga orang tua dan guru yang mendidik anak penuh dengan menghargai, penuh kasih sayang, memberikan simpati dan rasa emphaty mereka. Tentu saja banyak orang tua dan guru akan berkata bahwa berteori tentu lebih mudah dari pada mempraktekannya. To say is easy but to do is difficult. Namun pernyataan ini sedikit bisa disangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata orangtua dan guru mau selalu belajar dan bisa memahami karakteristik anak sesuai dengan tingkat atau masa pertumbuhannya, maka mereka (kita) tentu akan mengerti mengapa anak pada usia 6 sampai 10 tahun, sebagai contoh, senang berbicara dan berkata dengan gaya menghardik- hardik. Mengapa dalam dalam usia ini mereka bersikap sangat kinestik (lasak)- banyak bergerak dan bersikap tidak tenang. Memahami karakter pertumbuhan mereka akan bisa meredam gejolak emosi guru dan orang tua dalam mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajar dengan gaya otoriter (menggunakan kekuasaan), atau gaya pseudo demokrasi (demokrasi semu) bagi guru: marah- marah, mencela, mencerca, mengkeritik, akan membuat siswa menutup pintu hati dan pintu fikiran mereka. Anak didik akan kehilangan motivasi, minat dan gairah untuk berintegrasi dengan guru dan orang tua mereka. Mereka berharap agar pembelajaran dan saat- saat yang membosankan agar segera berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru- guru tertentu bisa jadi memiliki cara yang jitu untuk meredam keagresifan sikap mobile atau sikap anak didik. Cara yang mereka terapkan bukan lewat pemaksaan, menekan, atau marah- marah, namun dengan cara memberikan perlakuan khusus: keakraban. Mereka mengerti bahwa anak anak menjadi nakal karena mereka menderita Skin hunger- atau kulit yang lapar terhadap sentuhan. Maka sentuhan tangan guru pada pundak mereka, diikuti senyum dan kata- kata simpati memiliki kekuatan yang besar untuk mengatasi prilaku nakal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran bagi anak di rumah dan di sekolah, bukan berarti mereka harus mengejar kecerdasan kognitif (kecerdasan otak) semata. Namun juga untuk memacu kecerdasan psikomotorik (keterampilan) dan affektif (sikap). Maka orang tua yang sudah terlanjur untuk membebaskan anak dari pekerjaan rumah- mereka tidak usah memasak, menyapu dan mengurus rumah asal selalu belajar dan belajar agar bisa juara di sekolah- malah akan membuat anak menjadi tidak terampil dan kehilangan tanggung jawab terhadap keluarga dan terhadap dirinya. Untuk itu orangtua perlu mengajar anak untuk rajin belajar namun juga rajin membantu keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar anak memiliki nilai psikomotorik dan affektif dalam hidup maka, sekali lagi, orang tua perlu untuk melibatkan mereka dalam setiap aktivitas kehidupan di rumah. Karena adalah tidak tepat untuk mengkondisikan mereka hanya untuk belajar dan belajar melulu, tanpa pernah memberi mereka tanggung jawab dan mewarisi keterampilan kerja di rumah. Andaikata sang ayah mengelola usaha pertanian, peternakan atau perdagangan, maka idealnya anak perlu dilibatkan dalam mengelola usaha keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi fenomena pada beberapa keluarga menerapkan konsep "salah didik" dengan cara tidak melibatkan ikut mengurus rumah tangga. Cukup banyak sekarang anak laki- laki dan anak perempuan yang tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak tahu cara mencuci, menyapu, memasak apalagi untuk memasak rendang padang. Inilah salah satu kesalahan orang tua yang mana atas nama agar anak bisa sukses di sekolah maka mereka dimanja- tidak diberi pekerjaan mengurus rumah. Tugasnya Cuma belajar dan belajar melulu dan dalam kenyataan malah pketerampilan dan sikap anak menjadi buntu atau lumpuh untuk memiliki keterampilan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kalau di sekolah, belajar dengan gaya menghafal tanpa mengimplementasikan gaya belajar inquiri (menemui) atau belajar dengan cara berbuat atau learning by doing cendrung membuat siswa miskin dengan nilai keterampilan dan sikap. Untuk mewarisi mereka dengan nilai keterampilan dan sikap yang sesuai dengan norma sosial dan norma agama (dan juga sesuai dengan norma orang timur) maka tentu tidak cukup hanya dengan memberi mereka catatan dan hafalan teori tanpa melibatkan mereka dan memberi mereka model (langsung dari orang tua dan guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran BAM (budaya alam minangkabau), agama, bahasa dan budi pekerti yang mana kalau hanya syarat dengan teori tanpa melibatkan mereka dalam aktivitas langsung dengan kehidupan adat, mengggunakan bahasa dan implementasi agama maka nilai yang mereka oeroleh selalu cendrung bersifat kognitif. Metoda pembelajaran yang demikian tidak pernah tepat sasaran yaitu untuk memantapkan nilai keterampilan dan sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa mengajar anak atau siswa dengan cara menumbuhkan budaya menghargai, memahami pertumbuhan diri anak dan mendidik mereka dengan cara memberikan pelayana prima: senyum, ramah tamah dan penuh keakraban, akan memberikan dampak positif dalam mendidik. Perlu juga diperhatikan bahwa adalah perlu untuk melibatkan anak dalam setiap aktivitas di rumah dan aktivitas dalam pembelajaran di sekolah agar mereka tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga cerdas untuk keterampilan dan sikap sosial. Akhir kata bahwa adalah perlu orang tua dan guru menjadi model bagi anak sebelum mereka terlanjur mencari model ke luar yang penampilan dan budaya mereka cendrung serba aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://penulisbatusangkar.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-4516466550983761000?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/4516466550983761000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=4516466550983761000' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4516466550983761000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4516466550983761000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/menumbuhkan-budaya-menghargai-siswa.html' title='Menumbuhkan Budaya Menghargai Siswa'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1046672326094014440</id><published>2009-01-02T19:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:35:26.140-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Peran Strategis Orang Tua Untuk Mencegah Pengangguran Sejak Dini</title><content type='html'>Peran Strategis Orang Tua Untuk Mencegah Pengangguran Sejak Dini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata lain dari "pengangguran" adalah tunakarya. Tetapi kata pengangguran lebih lazim diucapkan oleh banyak orang. Terutama dikalangan orang- orang yang sedang mencari kerja atau merasa telah gagal dalam mencari kerja. Sementara itu pada zaman nenek moyang kita, kata pengangguran belum begitu lazim atau tidak dikenal sama sekali, karena pada masa itu semua orang punya pekerjaan. Pekerjaan yang populer saat itu adalah seperti bertani, nelayan, beternak, bertukang , berdagang atau sebagai buruh. Pekerjaan diwariskan dari orang tua turun temurun. Tidak seperti sekarang, pekerjaan dicari, dilamar, dan kemudian diterima atau ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, dalam suasana masyaraskat tradisionil,seperti yang telah diungkapkan- generasi tua peduli terhadap kelangsungan kerja generasi muda. Seorang ayah akan melatih anak laki- laki yang sudah besar untuk mengikuti dan menekuni profesi sang ayah. Dan kelak bila sudah dewasa ia boleh bekerja berdikari- berdiri di atas kaki sendiri. Itu berarti bahwa aktivitas on job training - atau magang- sudah berjalan dan malah telah mengangkar dan membudaya dalam keluarga. Begitu juga dengan kaum wanita, ibu- ibu juga melatih dan mempersiapkan masa depan anak wanita dengan memperi peran- peran sosial sebagai kaum wanita, calon ibu dan calon istri. Kegiatan menjahit, merenda, memasak, merawat adik- adik dan merawat rumah adalah bentuk kegiatan yang umum. Ini berarti nilai- nilai keterampilan dan sikap bertanggung jawab diajarkan dan diwariskan turun temurun. Orang sekarang memberi istilah bahwa telah terjadi pewarisan nilai psikomotorik dan afektif dari orang tua ke anak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu sampai sekarang nilai otak (nilai kecerdasan otak) sangat dijunjung tinggi. Banyak orang tua berlomba untuk mendorong anak- anak mereka untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Tentu saja ini adalah terobosan positive dalam mendidik keluarga. Sebelumnya orang berlomba dalam hal kekayaan berdasarkan berapa jumlah emas, jumlah rumah, jumlah sawah sampai kepada berapa jumlah kerbau yang mereka miliki. Namun setelah kepedulian terhadap pendidikan menjadi suatu fenomena maka masyarakat akan merasa bangga bila dalam keluarga banyak anak- anak yang menjadi sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar anak bisa menjadi sarjana maka setiap harus sekolah setinggi mungkin- akademi atau univeritas. Bila nilai (indeks prestasi) juga tinggi maka lowongan kerja tentu sudah menunggu. Oleh karena itu masyarakat memandang sekolah yang tinggi sebagai investasi untuk mengangkat martabat dan nama baik keluarga. Kemudian terbentuklah beberapa bentuk karakter masyarakat dalam mempersiapkan kualitas keluarga atau kualitas anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orangtua yang mendukung agar anak bergiat dan rajin dalam belajar, namun mereka juga harus menyisihkan waktu untuk mengurus kebersihan dan kerapian rumah. Dan juga cukup banyak orangtua yang mendorong anak- anak mereka untuk rajin belajar dan membebaskan mereka untuk merawat rumah (?). Maka ini merupakan sebuah sikap naif orang tua dalam mendidik dan menumbuhkan sikap dan nilai anak dalam memiliki rasa tanggung jawab. Fenomena seperti ini amat banyak terjadi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar anak menjadi pintar di sekolah maka orang tua yang rendah wawasan ilmu mendidiknya hanya akan menyuruh anak untuk belajar (menghafal dan menghafal pelajaran) semata- mata. Orang tua kemudian kurang melibatkan anak dalam kegiatan membantu orang tua. Konsep seperti ini tampak memanjakan atau konsep salah didik sejak anak kecil sampai remaja. Kebutuhan diri anak pun, seperti makan, minum dan kerapian berpakaian , serba dibantu atau dilayani oleh orang tua itu sendiri. Prilaku mendidik keluarga seperti ini terjadi pada berbagai lapisan ekonomi dalam masyarakat. Termasuk keluarga petani, sebagai contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keluarga petani atau keluarga pedagang, asal anak bisa jadi juara di kelas (di sekolah) maka mereka tidak ikut serta untuk turun kesawah membawa cangkul, atau turun ke gudang untuk merapikan barang- barang, karena itu bukalah pekerjaan seorang anak sekolah. Kerja anak sekolah hanya cukup memegang pulpen saja untuk menulis. Ungkapan- ungkapan seperrti ini ternyata sudah menjadi fenomena dalam banyak keluarga. Ungkapan seperti ini sangat berkesan dalam memori anak. Sehingga anak- anak yang berdomisili di daerah agraris cukup banyak yang menjadi gengsi atau inferior complex (minder atau rendah diri) untuk melakukan pekerjaan yang mereka anggap sebagai kerja kasar seperti yang dilakukan oleh kakek, paman. Ayah, tetangga dan paman mereka. Maka inilah awal nya mengapa nilai life skill (kecakapan hidup) tercabut dari lingkungan keluarga atau budaya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang dari dahulu sampai sekarang bahwa sekolah adalah pabrik untuk membuat orang bisa jadi cerdas dan kemudian pintar mencari kerja. Mereka memandang kerja sebagai petani, buruh, tukang, dan lain- kain, bukanlah sduatu pekerjaan. Kalau tamat sekolah bisa bekerja di kantor atau di perusahaan maka itu baru dianggap mempunyai pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya banyak orang lebih menyukai bekerja di sektor swasta dan BUMN dengan gaji besar dari pada menjadi PNS yang gajinya pas-pasan. Namun setelah pintu kerja di sektor swasta dan BUMN menjadi lebih sempit maka orang lari menyerbu pintu jadi PNS, karena disana ada jaminab hidup di hari tua. Sekarang pintu kerja PNS pula lagi yang menjadi sempit. Ini tentu saja membuat banyak sarjana menjadi bingung dan putus asa dan mereka jatuh jadi pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pengangguran sudah menjadi suatu fenomena yang meresahkan pemerintah, masyarakat dan orang tua. Karena anak- anak yang tumbuh menjadi remaja dan dewasa, setelah tamat dari sekolah yang paling tertinggi hanya pintar menjadi pengangguran. Dan ini adalah menjadi citra buruk bagi dunia pendidikan. Lembaga ini telah dimaki- maki karena hanya pintar menciptakan orang menjadi buruh, jadi PNS dan sekarang menjadi pengangguran tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu banyak orang berteori. Ada yang berpendapat bahwa penyebab timbulnya pengangguran adalah karena perguruan tinggi tidak membekali mahasiswa dengan muatan atau mata pelajaran wiraswasta. Kalau pun ada mata pelajaran wiraswasta maka tentu ia hanya bersifat atau memperkaya teori (sebagai kognitif saja). Pada hal berwiraswasta bukan masalah teori atau kognitif semata, melainkan ia hanya bersifat nilai sikap (afektif), tanggung jawab dan nilai keterampilan (Psikomorik) yang harus sudah tumbuh dalam budaya keluarga sejak anak berusia kecil. Namun dalam kenyataan sikap berwiraswasta sudah dibonsai dan dibabat habis oleh karakter orangtua yang hanya mendorong anak untuk belajar dan menghafal. Nasmun jarang atau tidak mendukung anak untuk berparisipasi dalam mengurus rumah dan membantu pekerjaan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Indonesia keturunan Tionghoa agaknya tidak pernah mengajarkan anak - anak mereka bermimpi untuk menjadi PNS. Mereka pun tidak bermimpi untuk menjadi oetani, karena mereka tidak punya tanah ulayat- tanah warisan nenek moyang turun temurun. Mereka pun punya anak dan mereka sadar bahwa anak mereka kelak harus hidup, makan, berketurunan dan juga menjadi orang. Mereka juga berfikir bagaimana agar anak- anak mereka juga bisa exist dalam hidup. Untuk itu jalan satu- satunya adalah mewarisi mereka sikap berwiraswasta dan suka bekerja keras. Menjadi pedagang adalah salah satu profesi yang mereka warisi buat anak- anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak kecil, sebagai contoh, anak- anak diberi meja kecil yang di atasnya tersusun deretan botol permen dan kue yang harus dijual. Pada mulanya bukan untuk menjari untung tetapi untuk menamkan pada anak bagaimana indahnya punya ilmu berdagang atau berwiraswasta. Sebaliknya hal yang kontra terjadi pada orang Indonesia yang mengaku sebagai penduduk pribumi, yang dikarunia oleh Tuhan dengan harta pusaka dan tanah ulayat- ada yang luas namun tidak terurus. Namun yang ditanamkan pada jiwa anak- anak adalah sikap untuk jangan menyinsing lengan baju- tidak usah memegang cangkul atau menginjak lumpur. Fenomena ini seolah- olah membisikan pada telinga bathin anak bahwa kerja itu adalah kerja hina. Kerja yang mulia adalah bejerja di pabrik, di gedung, di kantor,jadi PNS, jadi tentara atau polisi agar bisa memakai pakasian gagar dan jadi pembela keluarga (Pada hal yang aslinya jabatan ini adalah untuk membela bangsa dan negara). Maka dari kecil kerja anak cukup belajar dan belajar dan cari nilai yang tinggi di sekolah, mungkin ini awal mengapa orang bersekolah hanya ingin mengejar selembar ijasah, bisa jadi prilaku ini ditumbuhkan dalam keluarga. Namun aneh kalau kemudian sekolah dituding sebagai penyebab. Tetapi sekolah dan banyak orang tidak perlu mencari pembelaan karena lebih baik saling mensewasakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita tahu bahwa menanam budaya yang salah itu sudah terjadi dan terbentuk sejak dulu, sejak anak- anak kecil , yang sudah melahirkan jutaan orang yang bermimpi menjadi PNS atau sekarang melahirkan pengangguran. Sekali lagi bahwa tidak perlu saling menyalahkan dan saling menuding. Yang lebih penting kini adalah bagaimana setiap orang bisa mewarisi dan mengajarkan semangat atau etos suka bekerja keras dan belajar sungguh sungguh, menjadi cerdas, bukan mengajar mereka untuk mengejar selembar ijazah lewat cara mencontek dan menipu diri. Juga penting untuk mewarisi anak mental untuk bisa hidup untuk suka bekerja sungguh- sungguh dan belajar mandiri, membuang jauh- jauh sikap senang bersantai dan suka terlalu memanjakan diri. Alam Indonesia ini begitu subuh dan begitu luas, sayang kualitas nya belum memadai dan kalau ada yang punya SDM, populasinya juga menumpuk di suatu tempat. Bukan kah SDM terlalu menumpuk di pulau Jawa, di kota besar atau lari ke tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab kita, orangtua, adalah untuk tidak lagi menyingkirkan anak anak agar tidak beraktivitas di rumah, melibatkan diri dalam pekerjaan membantu orang tua, namun mewarisi mereka semangat kerja sungguh- sungguh dan belajar mandiri. Namun kita, orangtua sendiri juga harus menjadi model bagi mereka terlebih dahulu. Tidak lagi zaman bagi orang kita hanya sebagai penyuruh dan sebagai pengatur tanpa memberi model bagi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini adalah sangat bijaksana- sekali lagi- kalau orang tua sudi melibatkan anak anak dengan pekerjaan rumah, mengajarkan anak bagaimana hidup terjadwal atau berdisiplin (menghargai waktu) dalam bekerja dan belajar. Tentu adalah perlu untuk menyediakan anak dengan sarana hiburan, namun tidak memanjakan mereka dengan hiburan melulu sepanjang hari. Hiburan yang berlebihan akan membentukkarakter yang santai , dan tentu sangat bijaksana bila orang tua dengan sarana belajar, kalau perlu setiap rumah mempunyai perpustakaan keluarga untuk membudayakan gemar belajar. Juga sangat tepat bila orangtua membekali generasi muda kepintaran berganda (pintar berbahasa, berhitung, bergaul, beribadah, menguasai suasana hati, dan lain-lain), kemudian juga mewarisi mereka semangat bekerja dan belajar bersungguh- sungguh, wawasan dan pergaulan yang luas. Inilah salah satu strategi yang tepat diambil oleh orangtua untuk mengatasi pengangguran anak- anak mereka bila mereka dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://penulisbatusangkar.blogspot.com/&lt;br /&gt;Marjohan , Guru SMA Negeri 3 Batusangkar (Program Layanan Keunggulan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1046672326094014440?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1046672326094014440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1046672326094014440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1046672326094014440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1046672326094014440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/peran-strategis-orang-tua-untuk.html' title='Peran Strategis Orang Tua Untuk Mencegah Pengangguran Sejak Dini'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1006553620293093621</id><published>2009-01-02T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:33:45.537-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Citra Sekolah Kejuruan dan Madrasah Sebagai Sekolah Kelas Dua</title><content type='html'>Citra Sekolah Kejuruan dan Madrasah Sebagai Sekolah Kelas Dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fenomena bahwa pendidikan atau sekolah itu sudah terkotak- kotak di Indonesia dan dimana-mana di atas dunia ini. Untuk Indonesia ada sekolah agama dan ada sekolah umum, orang yang taat menyebutnya dengan sekolah sekuler. Ada sekolah swasta dan ada sekolah negeri. Kemudian secara vertikal ada Sekolah Dasar (SD), SMP, STLA dan perguruan tinggi. Untuk tingkat SLTA ada namanya SMA, MA dan SMK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMA jumlah sangat banyak dan terlihat serba diperhatikan alias dianak emaskan oleh masyarakat, pemerintah dan malah juga oleh media massa. Event- event yang ada di SMA dikupas tuntas dan disebarluaskan, kemudian berita- berita tentang MAN dan SMK porsi nya tidak berimbang dibandingkan SMA. Secara konvensional orang mengatakan bahwa anak- anak yang belajar pada MAN kelak bisa menjadi anak surga (baca: generasi yang taat) dan dulu ketika STM belum lagi dikenal dengan sebutan SMK, dikenalkan sebagai sekolah yang murid- muridnya suka berkelahi massal atau tawuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah tampaknya menjadikan SMA sebagai "anak emas" dan agar lulusannya bisa berkualitas maka pemerintah (dan juga tokoh politik di DPR) menyelenggarakan berbagai kegiatan dan program yang jauh lebih intensive dan sampai mematok standar kelulusan SMA. Karena hanya dari SMA lah kelak lahir dan bermunculan pemimpin bangsa, tokoh intelektual dan orang- orang hebat. Kemudian mengapa kualitas SMK dan MAN tidak begitu banyak disorot, digubris, dicikaraui apakah tak mungkin akan lahir pemimpin bangsa dan orang orang hebat dari kedua institusi pendidikan ini (?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan atau dunia sekolah itu ibarat anak kecil, itu karena di sana merupakan tempat kedua terjadinya proses sosialisasi bagi anak-anak (anak didik) setelah rumah mereka. Anak- anak yang memperoleh cukup perhatian, banyak pengalaman dan kaya rangsangan atau stimulus secara kognitif, psikomotorik dan afektif akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. sementara anak yang merasa kurang diperhatikan dan kurang pula dalam memperoleh stimulus dan kesempatan untuk bereksperimen, cenderung mempunyai karakter "withdrawal" atau suka menarik diri, mengalami perasaan inferior complex atau rendah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dan pemerintah adalah ibarat orang tua bagi dunia pendidikan. Sebut saja anak mereka yang berusia remaja bernama "SMK, MAN dan SMA'. Dewasa ini perhatian pemerintah menurut kacamata orang awam, perhatian mereka terhadap pendidikan siswa SMA sungguh banyak porsinya. Bila ada prestasi yang diukir oleh siswa SMA maka publikasinya terasa sangat menggema sampai ke mana- mana sementara publikasi tentang kegiatan yang ada pada SMK dan Man cenderung sepi atau biasa- biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaplah pemerintah cukup bersikap adil (dan memang pemerintah sudah adil dalam memberikan kebijakan terhadap pendidikan di SMA, SMA dan SMK), namun sekarang tinggal lagi perlakuan masyarakat (?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fenomena dalam masyarakat, bahwa SMA adalah sekolah bagi anak- anak yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Masukan anak ke MAN agar ia bisa menjadi orang taat dan SMA adalah sekolah sekuler. Kemudian pilihlah SMK kalau orangtua tidak mampu secara finansial, dan biar lah anak belajar di sana agar kelak cepat memperoleh kerja - menjadi pekerja, menjadi buruh atau menjadi TKI (?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setting pada mulanya, keberadaan SMA, SMK dan MAN adalah sama dan cukup bagus. Namun dalam pelaksanaan dalam masyarakat terlihat kecendrungan bahwa kalau orang tua punya anak yang cerdas atau ingin punya anak cerdas maka mereka harus mengirim (dan mencarikan SMA) yang berbobot untuk mendidik mereka, agar kelak bisa tumbuh jadi orang terpandang. Apa saja persyaratan yang diminta oleh komite sekolah (di SMA) terhadap orang tua, maka hampir seratus persen akan dipenuhi. Sementara itu bila anak kalah dalam seleksi otak, atau anak orang tuanya kalah seleksi secara finansial atau keuangan maka mereka diultimatum, direkomendasikan atau sangat dianjurkan agar memilih SMK saja. Maka jadilah SMK ini sebagai tempat bersekolahnya anak- anak dengan mental inferior complex, berasal dari orang tua dengan ekonomi lemah dan anak- anak yang kualitas otaknya kurang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fenomena umum bahwa kualitas pendidikan sekolah agama itu dipandang lebih rendah dari sekolah umum. Citra ini diciptakan sendiri oleh anak didik dan masyarakat. Tengoklah eksistensi ini pada banyak sekolah. Anak- anak pintar yang belajar di sana semuanya bermimpi agar bisa kuliah kelak pada universitas favorite yang berada di pulau Jawa atau kalau perlu langsung di universitas luar negeri. Kalau gagal maka tahun depan (atau sudah pasang ancang- ancang) untuk memilih universitas ngetop di provinsi mereka. Bila gagal atau merasa kemampuan otak lemah maka dengan rasa enteng mereka memilih perguruan tinggi Islam, dan pada akhirnya berkumpulah orang orang yang kultur dan percaya diri nya rendah belajar di perguruan tinggi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian juga menjadi fenomena bahwa dalam rekruitmen tenaga pendidik, maka orang yang merasa pintar cenderung memilih sebagai guru SMA, kemudian sisanya bagi yang merasa diri bersahaja atau takut kalah dalam persaingan , mereka memilih untuk menjadi tenaga pengajar pada MAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fakta bahwa cukup banyak guru berkualitas dan bermutu yang hadir sebagai tenaga pendidik di MAN dan SMK. Namun kenapa kedua sekolah ini tidak menggeliat dalam hal mutu secara umum(?). keberadaan tenaga pendidik agaknya tidak lah menjadi masalah karena mereka bersal dari perguruan tinggi yang sama dengan rekan- rekan mereka di SMA. Yang menjadi masalah adalah sikap anak didik yang belajar di sana, sebagai produk sosialisasi dari rumah mereka, yang terbentuk dari lingkungan rumah untuk menjadi orang yang serba bersahaja, sikap fatalistic atau pasrah dan ini adalah menjadi tugas bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyembuhkan gejala inferior complex mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekolah MAN dan SMK merasa sebagai sekolah kelas dua, gara- gara citra yang telah dibentuk oleh masyarakat, pemerintah, aktor politik dan pemberitaan media massa . Maka untuk mengembalikan harga diri atau citra mereka, tentu menjadi tanggung jawab masyarakat, pemerintah, aktor politik dan media massa pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat tentu perlu juga untuk memberikan perhatian dan partisipasi dalam membesarkan dan menumbuhkan harga diri kedua sekolah ini. Adalah juga tepat bila orang tua memiliki anak cerdas dan super cerdas menyuruh mereka untuk belajar di sini dan kemudian ikut mendukung program pengembangan mutu pendidikan. Pemerintah dan aktor politik juga harus adil. Bila mereka berdebat tentang kualitas pendidikan di SMA- seperti membahas angka kelulusan SMA, maka coba pulalah untuk berdebat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah MAN dan SMK. Kemudian media masa juga harus berimbang dalam pemberitaan, janganlah hanya rajin mencari berita yang serba bagus ke SMA, tapi ia juga perlu bekerja intensive untuk meliput pendidikan pada MAN dan SMK. Media Massa hanya rajin meliput .Pendidikan MAN (agama) seputar bulan puasa Cuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagai orang yang mau dewasa, maka Man dan SMK juga tidak boleh menyalahkan pihak lain- masyarakat, pemerintah, aktor politik dan orang tua atau masyarakat sebagai sumber masalah, menjadikan kedua sekolah ini sebagai sekolah kelas dua. Dalam pelajaran agama kita diberitahu bahwa "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum (nasib kita), kecuali kita sendiri yang mengubah nasib ini". Maka MAN dan SMK bisa dan harus menjadi sekolah kelas satu (first class), usahanya harus dilakukan oleh segenap personalia di sekolah ini- guru, murid, orang tua dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah ini perlu melakukan publikasi , melakukan lomba yang eventnya dikemas seapik mungkin dan dipublikasikan. Untuk SMA biasanya ada lomba English speech contest, maka siswa MAN juga harus menggelar Arabic Speech contest, dan setting suasana menjadi moderen. SMK mungkin bisa melakukan robot creative contest. Atau perlombaan kreativitas lain. Kemudian kedua sekolah ini coba menumbuhkan prilaku yang smart (walau cukup banyak prilaku yang sama terjadi pada beberapa SMA), mengembangkan sikap intelektual, sikap kritis, menjauhi sikap kekanak- kanakan. Mengembangakan program kepintaran berganda anatara IQ, SQ dan EQ. pintar dengan angka- angka, pintar olah raga, pintar berpidato, pintar mengelola waktu, menguasai bahasa asing, komputer dan internet dan mantap nilai keimanan. Pendek kata berimbang anatara IPTEK dan IMTAQ (ilmu pengetahuan dan tekhnologi- serta iman dan taqwa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): marjohan&lt;br /&gt;Saya Guru di Batusangkar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1006553620293093621?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1006553620293093621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1006553620293093621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1006553620293093621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1006553620293093621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/citra-sekolah-kejuruan-dan-madrasah.html' title='Citra Sekolah Kejuruan dan Madrasah Sebagai Sekolah Kelas Dua'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1888820816674313929</id><published>2009-01-02T19:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:31:57.472-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Menjadi Guru Bukan Pilihan</title><content type='html'>Menjadi Guru Bukan Pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia telah terpuruk dan menjadi miskin sejak tahun 1997. Sejak itu secara makro Indonesia belum bangkit dari keterpurukan dan kemiskinan di berbagai sektor termasuk kemiskinan rasa. Hampir semua kalangan berbicara tentang kemiskinan dan upaya-upaya penanggulangannya. Sebagian besar mendiskusikan upaya penanggulan kemiskinan dengan cara menggelar seminar-seminar atau workshop di hotel-hotel berbintang dan di luar kota. Dari hasil seminar tersebut disimpulkan bahwa kemiskinan terjadi karena tingkat pendidikan kita yang masih rendah. Masih lebih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenyam pendidikan. Karena demikian besarnya minat masyarakat terhadap pendidikan menyebabkan hampir semua kalangan baik yang berpendidikan tinggi maupun berpendidikan biasa saja mulai menggeluti dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi guru bukan lagi profesi yang dapat ditekuni melalui jenjang pendidikan guru. Menjadi guru dapat dilakukan oleh siapapun yang tergerak untuk bekerja. Saat ini begitu mudahnya orang mencari pekerjaan menjadi guru (tidak bersertifikat). Mengapa banyak orang ingin menjadi guru? Karena makin banyak orang membuat sekolah. Mencari pekerjaan lain membutuhkan berbagai macam keahlian dan ketrampilan sedangkan menjadi guru adalah mengajar anak-anak yang notabene belum tahu ilmu yang disampaikan benar atau salah. Apapun yang didampaikan guru dapat langsung ditelan saja oleh para siswa. Ibaratnya apapun yang diberikan guru tidak akan berdampak pada kerusakan yang nyata terlihat tetapi kerusakan itu mulai menggerogoti anak didik secara perlahan ibarat penyakit kanker, yang baru bisa terlihat ketika sudah stadium lanjut. Sedangkan bila menjadi dokter, bila salah memberikan wejangan atau obat akan seketika terlihat dampaknya dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Itulah sebabnya sangat sedikit orang yang tidak mengerti ilmu kedokteran mau berpraktek seperti dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Dra.Hj.Nurlaila NQM Tientje, M.Pd.&lt;br /&gt;Kepala Sekolah di Sekolah Hanaeka Bogor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1888820816674313929?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1888820816674313929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1888820816674313929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1888820816674313929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1888820816674313929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/menjadi-guru-bukan-pilihan.html' title='Menjadi Guru Bukan Pilihan'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-2592683718438542795</id><published>2009-01-02T19:29:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:30:20.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>MERANGSANG GURU MENULIS BUKU PELAJARAN</title><content type='html'>MERANGSANG GURU MENULIS BUKU PELAJARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang diam-diam dikelucak kala membaca tulisan Saiful Amin Ghofur - "Ketika Penerbit Punya Misi Terselubung" (JP,31/12/2006), dan tanggapan yang ditulis Faizah S -" Matinya Penerbit Buku Pelajaran" (JP, 21 Januari 2007). Kedua tulisan tersebut menggugat guru untuk menulis buku pelajaran, karena buku pelajaran yang ada tidak mengakomodir potensi lokal yang seharusnya menjadi implementasi dalam setiap pembelajaran.. Tidak dapat dipungkiri jika kehadiran buku pelajaran yang ada kurang sesuai dengan tuntutan kurikulum tiap satuan pendidikan (KTSP) yang akan dilaksanakan sejak awal tahun ajaran 2007/2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak digantinya kurukulum 1994 dengan kurikulum berbasis kompetensi, semua buku pelajaran yang diterbitkan oleh beberapa penerbit buku, di sampul buku tercetak "Sesuai Dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi" atau "Sesuai dengan Kurikulum 2004", nyatanya isi di dalamnya tak jauh berbeda dengan terbitan sebelumnya berdasarkan kurikulum 1994. Sementara dengan diberlakukannya kurikulum tiap satuan pendidikan (KTSP) setiap satuan pendidikan berimplikasi kepada guru pengajar untuk menyusun kebutuhan kurikulum di setiap sekolah yang mengacu kepada Badan Standar Nasional Pendidikan.Penyusunan silabus pada setiap mata pelajaran berdasarkan kepada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dari pusat. Suatu peluang bagi setiap guru mata pelajaran untuk mengakomodir muatan local dan implementasinya dalam pembelajaran yang diselenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hakiki , diberlakukannya KTSP membawa konsekuensi terhadap guru untuk menyusun materi pelajaran sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi di setiap sekolah. Ini perlu dilakukan mengingat buku pelajaran yang disusun penerbit tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dan kekhasan setiap poptensi local di setiap satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran cukup brillian dari faizah S untuk melawan penerbit buku pelajaran yang mata duitan dengan gagasan guru untuk mengambil alih tongkat estafet penulisan buku pelajaran. Kaum guru harus bersatu, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mesti diberdayakan secara optimal, dengan estimasi setiap MGMP daerah provinsi menerbitkan buku pelajaran dan dipergunakan di daerah provinsi bersangkutan. Namun gagasan cerlang ini dimentahkan sendiri oleh Faizah, sebagai suatu harapan yang musykil dilaksanakan, perasaan pesimis berharap kepada guru untuk menulis abuku pelajaran. Ia secara ilmiah membeberkan data-data faktual mengenai kompetensi dan keahlian, serta profesionalitas guru di Indonesia. Sebuah keraguan karena,; minimnya guru yang memiliki kemampuan menulis buku atau pun menulis karya ilmiah, relatif rendahnya kapasitas intelektual calon guru dan para guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta lain yang tidak diungkap dalam tulisan Faizah, bahwa dari sekian banyak guru yang tidak memiliki kemampuan menulis buku pelajaran, namun hampir di setiap kota ada beberapa ,orang guru yang rajin menulis atau membuat artikel dan dipublikasikan di media cetak atau kemudian dikompetisikan di ajang lomba mengarang atau menulis buku yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan baik di tingkat lokal, regional maupun di tingkat nasional. Setiap tahun selama tujuh tahun terakhir Depdiknas memanggil 50 orang guru bahasa dan sastra Indonesia yang karya tulisnya terseleksi dalam ajang Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) dan Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah enam tahun, setiap tahun Depdiknas memanggil sekitar 100 orang guru dari berbegai daerah yang berhasil lolos seleksi membuat laporan karya tulis mengenai inovasi pembelajaran, dan setiap tahun pula pusat perbukuan memnggil sekitar 25 guru dari jenjang TK, SD,SMP,SMK/SMA dari seluruh Indonesia yang berhasil memenangkan lomba penulisan buku baik fiksi maupun non fiksi. Secara regular bagian proyek Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup mengadakan lomba karya tulis lingkungan hidup yang diperuntukkan bagi siswa dan guru tingkat SMP dan SMA dan yang sederajat. Belum lagi para pemenang lomba menulis untuk guru yang diselenggarakan oleh lembaga selain Depdiknas. Pada setiap jenjang lomba tersebut pemenangnya berasal dari berbagai wilayah provinsi dengan latar belakang mata pelajaran yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diklat dan pelatihan menulis karya ilmiah atau penelitian tindakan kelas (PTK) bagi guru, diselenggarakan oleh dinas pendidikan di kabupaten atau kota, juga dilaksanakan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan propinsi untuk melatih kecakapan guru dalam membuat karya tulis. Secara berkala beberapa daerah kabupaten mengadakan karya tulis ilmiah bagi guru dan siswa di tingkat SMP dan SMA. Bahkan sejak tahun 2006 Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur memberikan dana kegiatan forum ilmiah guru (TK,SD,SMP,SMA/SMK) di tingkat kabupaten dan kemudian ditinddaklanjuti dalam forum ilmiah guru di tingkat propinsi jawa timur. Langkah kongkret untuk mengembangkan wawasan dan kemampuan guru membuat karya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap daerah potensi menulis di kalangan guru belum terkelola secara baik untuk menjadi penulis buku pelajaran. Hadirnya MGMP di setiap kota, dan bahkan di Jawa Timur telah tersusun kepengurusan MGMP wilayah propinsi, merupakan peluang yang dapat dioptimalkan untuk merealisasikan penulisan dan penerbitan buku pelajaran. Namun dari pengalaman di masa lalu, hadirnya buku yang disusun dan diterbitkan MGMP kurang menarik dari sisi kualitas isi dan kemasan. Salah satu penyebabnya karena tidak ada modal untuk mendanainya. Penulis buku pelajaran tidak dibayar secara layak, sehingga enggan untuk menulis buku pelajaran. Sementara guru sudah banyak memilih menjual buku pelajaran yang memberikan banyak rabat. Suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit komersial, mampu memberikan rabat antara 30-50 %, dan bonus tambahannya mendapatkan perlengkapan administrasi pembelajaran , souvenir dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak digulirkannya otonomi pendidikan, pemerintah pusat (Depdiknas) tidak lagi menangani penerbitan buku pelajaran. Dana pengadaan buku pelajaran dialihkan pada setiap daerah untuk dikelola. Dimasukkannya anggaran pengadaan buku pelajaran ke dalam Dana Alokasi Umum setiap kota atau kabupaten memberikan peluang untuk mengembangkan potensi menulis yang dimiliki oleh guru. Peluang yang bisa memberikan penghargaan kepada guru penulis buku pelajaran secara layak, juga keberadaan dana tersebut bisa menyuplai perkembangan perusahaan penerbitan di daerah sehingga bisa terus melanjutkan produksinya. Namun harapan ini tak jua tercapai, karena setiap kota kemudian membelanjakan dana untuk membeli buku pelajaran ke penerbit yang sudah ada, tidak mau direpotkan dengan mengembangkan potensi menulis guru untuk menyusun buku pelajaran yang akan menyedot banyak dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsinya dengan membeli kepada penerbit mereka bisa meraup rabat tanpa harus bersusah payah. Jika demikian, bersatunya kaum guru dan hadirnya MGMP tak akan banyak membawa pengaruh untuk mengaktifkan guru menulis buku pelajaran, karena guru akan direpotkan oleh pendanaan dan distribusi buku yang telah diterbitkannya. Penerbit buku pelajaran akan terus bergerilya untuk mencari celah-celah kelemahan untuk memasokkan produk buku pelajaran dengan aneka rabat dan bonos yang menggiurkan, dan guru akan tetap menjadi obyek dunia penerbitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya akan lain jika dana buku di setiap daerah dipergunakan untuk memberdayakan guru menulis buku pelajaran di setiap MGMP kota atau kabupaten. Dinas Pendidikan mendanai penerbitan dan bertindak sebagai distributor terhadap sekolah-sekolah yang ada di wilayah binaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*penulis adalah esais, guru SMA 1 Sumenep.&lt;br /&gt;Alamat; perumahan bumi sumekar asri - jalan dewi sartika IX/12 Kolor - Sumenep 69417&lt;br /&gt;HP 081703634979&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-2592683718438542795?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/2592683718438542795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=2592683718438542795' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/2592683718438542795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/2592683718438542795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/merangsang-guru-menulis-buku-pelajaran.html' title='MERANGSANG GURU MENULIS BUKU PELAJARAN'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3855340618424234039</id><published>2009-01-02T19:28:00.001-08:00</published><updated>2009-01-02T19:28:49.464-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR SISWA</title><content type='html'>MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR SISWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apa pun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan "enjoy" dan "pede".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini mencoba mengangkat apa itu motivasi, belajar, dan pentingnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Motivasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pakar yang merumuskan definisi 'motivasi' sesuai dengan kajian yang diperdalamnya. Rumusannya beraneka ragam, sesuai dengan sudut pandang dan kajian perspektif bidang telaahnya. Namun demikian, ragam definisi tersebut memiliki ciri dan kesamaan. Di bawah ini dideskripsikan beberapa kutipan pengertian 'motivasi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michel J. Jucius (Onong Uchjana Effendy, 1993: 69-70) menyebutkan 'motivasi' sebagai "kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dadi Permadi (2000: 72) 'motivasi' adalah "dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (2004: 64-65), apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apa pun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, Nasution (2002: 58), membedakan antara 'motif' dan 'motivasi'. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan deskripsi di atas, 'motivasi' dapat dirumuskan sebagai sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang; dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pengertian Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak definisi yang diberikan tentang 'belajar'. Misalnya Gage (1984), mengartikan 'belajar' sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cronbach mendefinisikan belajar: "learning is shown by a change in behavior as a result of experience" (belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction" (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan bahwa: "learning is a change in performance as result of practice." (belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, menurut Ratna Willis Dahar (1988: 25-26), "belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman". Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari 'drill' dan belajar stereotipe-stereotipe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Depdiknas (2003) mendefinisikan 'belajar' sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, "Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?" Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, "Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berdasarkan deskripsi di atas, 'belajar' dapat dirumuskan sebagai proses siswa membangun gagasan/pemahaman sendiri untuk berbuat, berpikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru; baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pentingnya Motivasi Belajar Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan pembelajaran, 'perhatian' berperan amat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktivitas-aktivitas berikutnya. Dengan 'perhatian', seseorang berupaya memusatkan pikiran, perasaan emosional atau segi fisik dan unsur psikisnya kepada sesuatu yang menjadi tumpuan perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gage dan Berliner (1984) mengungkapkan, tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Jadi, seseorang siswa yang menaruh minat terhadap materi pelajaran, biasanya perhatiannya akan lebih intensif dan kemudian timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi siswa itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi siswa (motivasi ekstrinsik/motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin-menjalin atau kait mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan siswa untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah sudah pentingnya motivasi belajar bagi siswa. Ibarat seseorang menjalani hidup dan kehidupannya, tanpa dilandasi motivasi maka hanya kehampaanlah yang diterimanya dari hari ke hari. Tapi dengan adanya motivasi yang tumbuh kuat dalam diri seseorang maka hal itu akan merupakan modal penggerak utama dalam melakoni dunia ini hingga nyawa seseorang berhenti berdetak. Begitu pula dengan siswa, selama ia menjadi pembelajar selama itu pula membutuhkan motivasi belajar guna keberhasilan proses pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Arief Achmad, Guru SMAN 21 Bandung. Ketua AGP-PGRI Jawa Barat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3855340618424234039?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3855340618424234039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3855340618424234039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3855340618424234039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3855340618424234039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/membangun-motivasi-belajar-siswa.html' title='MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR SISWA'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-7643906576564410481</id><published>2009-01-02T19:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:27:25.510-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>SISTEM PEMBELAJARAN KBK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PARA PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI FISIKA</title><content type='html'>SISTEM PEMBELAJARAN KBK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PARA PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI FISIKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAJIAN KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. SISTEM PEMBELAJARAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten dilibatkan secara langsung dalam penyusunan silabus kurikulum berbasis komperensi yang mulai diterapkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam tahun ajaran baru tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Dr.Siskandar , penerapan kurikulum berbasis kompentensi itu sesuai dengan tuntutan perkembangan kondisi negara dan sistem administrasi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Siskandar menjelaskan bahwa materi pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tidak jauh berbeda dengan kurikulum 1994 yang dpakai sekolah - sekolah pada waktu lalu.Yang membedakan antara kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah di dalam menjabarkan materi kurikulum yang bersifat nasional melalui silabus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kurikulum ini , silabus adalah isi kompetensi dan elaborasi (uraian dan rincian) materi pelajaran , pembelajran dan penilaian serta pengalokasian waktu yang disusun sesuai dengan semester dan kelas masing - masing.Silabus juga sebagai bentuk operasional kompetensi dan materi pelajaran pokok sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan serta mengelola kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjamin bahwa kompentensi dasar yang telah ditentukan dapat dicapai maka perlu prinsip ketuntasan belajar ( mastery learning) dalam pembelajaran dan penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya KBK itu sendiri adalah kurikulum ideal yang tidak saja akan berhasil meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita , tetapi juga menuntut para praktisi pendidikan khususnya para guru untuk mempersiapkan seluruh potensi dirinya.Tujuan diterapkannya kurikulum berbasis kompetensi ini adalah untuk menghasilkan terjadinya demokratisasi pendidikan.Diharapkan hasil keluaran KBK dapat menciptakan lulusan yang menghargai keberagaman (misalnya dalam perbedaan pendapat , agama , ras maupun budaya). Pengkonstuksian dan penyususnan pengetahuan berlangsung dan dilakukan dari , oleh dan untuk para peserta didik.Dengan demikian , dalam penyusunan rencana pembelajaran , seorang guru harus mampu menyusunnya sehingga kelas dapat berlangsung dalam Susana fun (menyenangkan) , demokratis dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan adalah pendekatan kontruktivisme , sains , teknologi dan pendekatan inquri secara utuh.Keutuhan suatu materi pelajaran tentu parameternya harus komprehensif.Misalnya guru harus cerdas , tepat seta efektif dalam menafsikan dan mengimplementasikan KBK yang menjamin tercapainya kompetensi-kompetensi tamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketiga pola pendekatan tersebut di atas , para peserta didik diberikan kesempatan untuk menemukan suatu konsep dengan menggunakan kompetensi yang dimiliki.Ketercapaian penggalian dan penemuan kompetensi , dilakukan oleh peserta didik itu sendiri sehingga mereka mampu menghayati dan mengamalkan untuk bertaqwa kepada Tuhan Yyang Maha Esa , rasa ingin tahu , toleransi , berfikir terbuka , percaya diri ,kasih saying , peduli sesama , kebersamaan , kekeluargaan dan persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri guna melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.Dalam hal ini terkandung adanya unsure harapan dan optimisme yang tinggi , sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakuakan suatu aktivitas tertentu , misalnya dalam hal belajar.Itulah yang disebut dengan motivasi belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi motivasi belajar para peserta didik pada bidang studi fisika adalah kemempuan atau kekuatan semangat untuk melakukan proses belajar dalam bidang studi fisika.Dengan motivasi belajar yang tinggi ,diharapkan para peserta didik akan meraih prestasi belajar fisika yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. SISTEM PEMBELAJARAN FISIKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisika merupakan bagian adri Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) , yaitu sutau Ilmu yang mempelajari gejala dan peristiwa atau fenomena alam serta berusaha untuk mengungkap segala rahasia dan hokum smesta.Objek Fisika meliputi mempelajari karakter , gejala dan peristiwa yang terjadi atau terkandung dalam benda - benda mati atau benda yang tidak melakukan pengembangan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diketahui bersama bahwa di aklangan siswa SMU / MA telah berkembang kesan yang kuat bahawa pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipahami dan kurang menarik.Salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat dan motivasi untuk mempelajari Fisika dengan senang hati , merasa terpaksa atau suatu kewajiban.Hal tersebut merupakan akibat kurangnya pemahaman tentang hakikat , kemanfaatan , keindahan dan lapangan kerja dari Fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Fisika akan menyenangkan kalau memahami keindahannya tau manfaatnya.Jika siswa sudah mulai tertarik baik oleh keindahannya , manfaatnya atupun dari lapangan kerjanya ,mereka akan bisa lebih mudah dalam menguasai Fisika.Maka , motivasi belajar sudah menjadi modal pertama untuk menghadapi halangan atau kesulitan apapun yang akan menghadang ketika sedang belajar Fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit siswa yang merasa stress ketika akan mengikuti pelajaran Fisika.Hasil - hasil evaluasi belajar pun menunjukkan bahwa nilai rata - rata kelas di raport untuk pelajaran Fisika seringkali merupakan nilai yang terendah disbanding dengan pelajaran pelajaran lain.Tanpa disadari ,para pendidik atau guruturut memberikan kontribusi terhadap factor yang menyebabkan kesan siswa tersebut di atas.Kesalahan - kesalahan yang cenderung dilakukan para guru , khususnya guru Fisika adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seringkali , Fisika disajikan hanya sebagai kumpulan rumus belaka yang harus dihafal mati oleh siswa , hingga akhirnya ketika evaluasi belajar , kumpulan tersebut campur aduk dan menjadi kusut di benak siswa.&lt;br /&gt;2. Dalam menyampaikan materi kurang memperhatikan proporsi materi dan sistematika penyampaian , serta kurang menekankan pada konsep dasar , sehingga terasa sulit untuk siswa.&lt;br /&gt;3. Kurangnya variasi dalam pengajaran serta jarangnya digunakan alat Bantu yang dapat memperjelas gambaran siswa tentang materi yang dipelajari.&lt;br /&gt;4. Kecendrungan untuk mempersulit , bukannya mempermudah.Ini sering dilakukan agar siswa tidak memandang remeh pelajaran Fisika serta pengajar atau guru Fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pembelajaran tersebut banyak diterapkan di SMU atau MA pada kurikulum sebelum KBK diterapkan.Tetapi metode pembelajran tersebut tak lagi diterapkan pada kurikulum berbasis kompetensi.Malah sebaliknya , siswa diharapkan dapat belajar Fisika dengan mudah , tanpa ada paksaan serta tak lagi merasa suatu kewajiban.Malah belajar Fisika dapat menjadi suatu kegemaran yang menyenangkan dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pembelajaran Fisika di SMU atau MA pada kurikulum berbasis Kompentensi seharusnya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pengantar yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memulai suatu pokok bahasan atau bab yang baru , siswa butuh suatu "pengantar" yang baik , agar mereka merasa nyaman dalam menerima transfer ilmu.Pengantar yang dimaksud mencakup gambaran singkat tentang apa yang dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Start Easy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat masuk ke suatu pokok bahasan , sebaiknya diawali dengan pen- jelasan yang sederhana , mudah dicerna , disertai dengan contoh - contoh soal serta soal - soal latihan yang mudah pula.Hal ini penting untuk memberikan kesan "mudah" pada siswa dan menumbuhkan kepercayaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sesuap demi sesuap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran hendaknya dilakukan secara bertahap , baik dari segi penyampaian materi maupun dari tingkat kesulitan soal.Hindari penyampaian materi yang banyak sekaligus dalam satu pertemuan , ataupun langsung menguji siswa dengan soal - soal yang sulit sebelum mereka mencoba hal - hal yang mudah terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Gamblang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan suatu konsep Fisika haruslah gambling , jagan biarkan siswa menangkap suatu konsepsecara samar - samar karena ini akan menjadi beban bagi siswa di masa selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya , inilah yang justru banyak terjadi.Misalnya , pada saat siswa SMU yang abru masuk kita minta untuk menyebutkan bunyi hokum Archimedes , nyaris tidak ada yang mampu menyebutkannya dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Menyederhanakan dan membatsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sering dikeluhkan siswa daalah bahwa materi yang diajarkan terasa rumit dan terlalu banyak.Hal ini sangat ironis mengingat beban dari kurikulum sendiri tidak menuntut demikian.Yang terjadi adalah seringkali guru merasa belum puas bila belum mengajarkan materi - materi pengayakan yang sebenarnya tidak tercantum dalam GBPP.Untuk memecahakan persoalaan itu yaitu dengan menyedehanakan dan membatasi bahan materi yang dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Ilustrasi yang membantu pemahaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengajran Fisika penggunaan Ilustrasi merupakan alat yang efektif dalam menanamkan pemahaman pada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Analogi membangun imajinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi juga merupakan cara yang efektif dalam membangun imajinasi dan daya nalar siswa .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Konsep dan rumus dasar sebagai kunci iggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pembelajaran Fisika , seringkali para guru mengajarkan rumus cepat kepada siswa untuk mengatasi kesulitan dalam memecahkan suatu persoalan .Penggunaan rumus ini justru menampuhkan kemampuan siswa dalam menggunakan konsep dan rumus dasar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Alat Bantu dan eksperimen untuk memperkuat pemahaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisika merupakan ilmu alam , dan dalam mempelajari tentu tak dapat lepas dari eksperimen . Kadang hanya lewat eksperimen , siswa dapat meyakini suatu hal yang sepintas tidak sesuai dengan logika mereka . Selain itu , media elektronik juga baik untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) " Game " untuk membangun suasana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran tidak dapat dipaksakan bila kondisi siswa sudah jenuh . Hal tersebut diatasi dengan mengadakan " game " dimana siswa diberi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang sudah diajarkan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Soal-soal standar untuk melatih skill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi evaluasi belajar , selain diperlukan pemahaman konsep juga dibutuhkan keterampilan menjawab soal . Keterampilan ini dapat ditingkatkan dengan banyak latihan mengerjakan soal-soal fisika .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PRESTASI BELAJAR FISIKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu.Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar , maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi - tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi belajar dinyatakan dengan skkor hasil tes atau angak yang diberikan guru berdasarkan pengamatannya belaka atau keduanya yaitu hasil tes serta pengamatan guru pada waktu peserta didik melakukan diskusi kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan batasan pengertian prestasi belajar tersebut , dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar Fisika adalah hasil yang telah dicapai siswa melalui suatu kegiatan belajar Fisika.Kegiatan belajar dapat dilakukan secara individu maupun dan secara kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): betha nurina sari&lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di yogya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-7643906576564410481?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/7643906576564410481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=7643906576564410481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7643906576564410481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7643906576564410481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/sistem-pembelajaran-kbk-terhadap.html' title='SISTEM PEMBELAJARAN KBK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PARA PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI FISIKA'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-7682398362673464316</id><published>2009-01-02T19:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:25:16.271-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>SIKAP DAN PERILAKU GURU YANG PROFESIONAL</title><content type='html'>SIKAP DAN PERILAKU GURU YANG PROFESIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal (Mulyasa, 2005:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya kekawatiran di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan tawuran antar pelajar yang bergejolak dimana-mana. Ada kegalauan muncul kala menjumpai realitas bahwa guru di sekolah lebih banyak menghukum daripada memberi reward siswanya. Ada kegundahan yang membuncah ketika sosok guru berbuat asusila terhadap siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan yang harusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar tentang moral, budi pekerti justru sekarang ini dekat dengan tindak kekarasan dan asusila. Dunia yang seharusnya mencerminkan sikap-sikap intelektual, budi pekerti, dan menjunjung tinggi nilai moral, justru telah dicoreng oleh segelintir oknum pendidik (guru) yang tidak bertanggung jawab. Realitas ini mengandung pesan bahwa dunia guru harus segera melakukan evaluasi ke dalam. Sepertinya, sudah waktunya untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahaman dalam memposisikan profesi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah makalah ini saya susun sebagai bahan kajian bagi guru atau pendidik agar dapat berperilaku dan bersikap profesional dalam menjalankan tugas mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka permasalahan yang hendak dikaji adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimana sikap dan perilaku guru yang profesional itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengapa sikap dan perilaku guru bisa menyimpang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Manfaat dan Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk:&lt;br /&gt;a. Mendeskripsikan penyebab sikap dan perilaku guru bisa menyimpang.&lt;br /&gt;b. Mendeskripsikan sikap dan perilaku guru yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Manfaat penyusunan makalah ini secara:&lt;br /&gt;a. Teoretis, untuk mengkaji sikap dan perilaku guru yang profesional.&lt;br /&gt;b. Praktis, bermanfaat bagi: (1) para pendidik agar pendidik dapat bersikap dan berperilaku profesional, (2) para kepala sekolah, untuk memberikan pembinaan kepada para pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Konsep Dasar Sikap dan Perilaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thursthoen dalam Walgito (1990: 108) menjelaskan bahwa, sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek. Berkowitz, dalam Azwar (2000:5) menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menjauhi/menghindari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap adalah kecenderungan, pandangan, pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur sikap siswa terhadap konselor terdiri dari tiga komponen yang terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Komponen kognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen ini berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, dan keyakinan tentang objek. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Komponen afektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap sikap. Perasaan tersebut dapat berupa rasa senang atau tidak senang terhadap objek, rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.. komponen ini menunjukkan ke arah sikap yaitu positif dan negatif. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap (Azwar, 2000:26), secara umum komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Komponen konatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen ini merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi, bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. Komponen-komponen tersebut di atas merupakan komponen yang membentuk struktur sikap. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut apabila seseorang menghadapi suatu objek tertentu, maka melalui komponen kognitifnya akan terjadi persepsi pemahaman terhadap objek sikap. Hasil pemahaman sikap individu mengakui dapat menimbulkan keyakinan-keyakinan tertentu terhadap suatu objek yang dapat berarti atau tidak berarti. Dalam setiap individu akan berkembang komponen afektif yang kemudian akan memberikan emosinya yang mungkin positif dan mungkin negatif. Bila penilaiannya positif akan menimbulkan rasa senang, sedangkan penilaian negatif akan menimbulkan perasaan tidak senang. Akhirnya berdasarkan penilaian tersebut akan mempengaruhi konasinya, melalui inilah akan mendapat diketahui apakah individu ada kecenderungan bertindak dalam bertingkah laku, baik hanya secara lisan maupun bertingkah laku secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katz (dalam Walgito, 1990:110) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai empat fungsi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian, atau fungsi manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi ini berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sampai sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan. Bila objek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut. Demikian sebaliknya bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap tersebut. Fungsi ini juga disebut fungsi manfaat, yang artinya sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam mencapai tujuan. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian, artinya sikap yang diambil seseorang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fungsi pertahanan ego&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Sikap diambil seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam dalam keadaan dirinya atau egonya, maka dalam keadaan terdesak sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fungsi ekspresi nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan mengekspresikan diri seseorang akan mendapatkan kepuasan dan dapat menunjukkan keadaan dirinya. Dengan mengambil nilai sikap tertentu, akan dapat menggambarkan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fungsi pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi ini mempunyai arti bahwa setiap individu mempunyai dorongan untuk ingin tahu. Dengan pengalamannya yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu, akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten. Ini berarti bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek, menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut objek sikap yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses timbulnya atau terbentuknya sikap dapat dilihat pada bagan sikap berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Internal&lt;br /&gt;- Fisiologis&lt;br /&gt;- Psikologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek Sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Eksternal&lt;br /&gt;- Pengalaman&lt;br /&gt;- Situasi&lt;br /&gt;- Norma-norma&lt;br /&gt;- Hambatan&lt;br /&gt;- Pendorong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 1 : Bagan Proses Timbulnya Sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bagan di atas tersebut dapat dikembangkan bahwa sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor fisiologis dan psikologis serta faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berwujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma-norma yang ada dalam masyarakat, hambatan-hambatan atau pendorong-pendorong yang ada dalam masyarakat. Semuanya ini akan berpengaruh terhadap sikap yang ada pada diri seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu reaksi yang diberikan individu terhadap objek sikap dapat bersifat positif, tetapi juga dapat bersifat negatif. Sikap yang diambil pada diri individu dapat diikuti dalam bagan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Keyakinan&lt;br /&gt;    * Proses Belajar&lt;br /&gt;    * Cakrawala&lt;br /&gt;    * Pengalaman&lt;br /&gt;    * Pengetahuan&lt;br /&gt;    * Objek Sikap&lt;br /&gt;    * Persepsi&lt;br /&gt;    * Faktor- Faktor lingkungan yang berpengaruh&lt;br /&gt;    * Kepribadian&lt;br /&gt;    * Kognisi&lt;br /&gt;    * Afeksi&lt;br /&gt;    * Konasi&lt;br /&gt;    * Sikap &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 2 : Bagan Perseps dikutip dari Mar'at (1982:23) dengan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa sikap akan dipersepsi oleh individu dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan. Dalam persepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, dan hasil proses persepsi ini akan merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Hasil evaluasi aspek afeksi akan mengait segi konasi, yaitu merupakan kesiapan untuk memberikan respon terhadap objek sikap, kesiapan untuk bertindak dan untuk berperilaku. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bringham dalam Azwar (2000:138) menjelaskan tipe ukuran sikap yang paling sering dipakai adalah questioner self-report yang disebut skala sikap dan biasanya meliputi respon setuju atau tidak dalam beberapa kelompok-kelompok. Ukuran self-report mudah digunakan namun ukuran itu dapat memiliki sifat kemenduaan (ambiguity) atau adanya ukuran lain. Sikap dari skala sikap ini adalah isi pernyataan yang berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukuran atau pernyataan tidak langsung yang kurang jelas untuk tujuan ukurannya bagi responden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukur sikap bukan suatu hal yang mudah sebab sikap adalah kecenderungan, pandangan pendapat, atau pendirian seseorang untuk meneliti suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya, dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek. Dalam penelitian sikap, tergantung pada kepekaan dan kecermatan pengukurannya. Perlu diperhatikan metode yang berhubungan dengan pengukuran sikap, bagaimana instrumen itu dapat dikembangkan dan digunakan untuk mengukur sikap. Azwar (2000:90) menjelaskan bahwa, metode yang bisa digunakan untuk pengungkapan sikap yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Observasi perilaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang menampakkan perilaku yang konsisten (terulang) misalnya tidak pernah mau diajak nonton film Indonesia, bukanlah dapat disimpulkan bahwa ia tidak menyukai film Indonesia. Orang lain yang selalu memakai baju warna putih, bukankah dia memperlihatkan sikapnya terhadap warna putih. Perilaku tertentu bahkan kadang-kadang sengaja ditampakkan untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya. Dengan demikian, perilaku yang diamati mungkin saja dapat menjadi indikator sikap dalam kontek situasional tertentu, tetapi interpretasi sikap warna sangat berhati-hati apabila hanya didasarkan dari pengamatan terhadap perilaku yang ditampakkan oleh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pertanyaan langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi yang mendasari metode pertanyaan langsung guna pengungkapan sikap, pertama adalah asumsi bahwa individu merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri, dan kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengungkapan langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu metode pertanyaan langsung adalah pengungkapan langsung (direct assessment) secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan item tunggal maupun dengan menggunakan item ganda. Prosedur pengungkapan langsung dengan item ganda sangat sederhana. Responden diminta untuk menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju atau tidak setuju. Penyajian dan pemberian respondennya yang dilakukan secara tertulis memungkinkan individu untuk menyatakan sikap secara lebih jujur. Pengukuran sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pengungkapan langsung yaitu dengan menggunakan skala psikologis yang diberikan pada objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,&lt;br /&gt;   2. menunggu peserta didik berperilaku negatif,&lt;br /&gt;   3. menggunakan destruktif discipline,&lt;br /&gt;   4. mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,&lt;br /&gt;   5. merasa diri paling pandai di kelasnya,&lt;br /&gt;   6. tidak adil (diskriminatif), serta&lt;br /&gt;   7. memaksakan hak peserta didik (Mulyasa, 2005:20). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respon hanya akan timbul, apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk, positif negati, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar, 2000: 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menurut Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan R.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya: Pertama, menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Kempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal di atas, Hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki (Ronnie, 2005:62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Danni Ronnie M ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. kasih sayang,&lt;br /&gt;   2. penghargaan,&lt;br /&gt;   3. pemberian ruang untuk mengembangkan diri,&lt;br /&gt;   4. kepercayaan,&lt;br /&gt;   5. kerjasama,&lt;br /&gt;   6. saling berbagi,&lt;br /&gt;   7. saling memotivasi,&lt;br /&gt;   8. saling mendengarkan,&lt;br /&gt;   9. saling berinteraksi secara positif,&lt;br /&gt;  10. saling menanamkan nilai-nilai moral,&lt;br /&gt;  11. saling mengingatkan dengan ketulusan hati,&lt;br /&gt;  12. saling menularkan antusiasme,&lt;br /&gt;  13. saling menggali potensi diri,&lt;br /&gt;  14. saling mengajari dengan kerendahan hati,&lt;br /&gt;  15. saling menginsiprasi,&lt;br /&gt;  16. saling menghormati perbedaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Faktor Penyebab Sikap dan Perilaku Guru Menyimpang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walapun belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. Siswa merupakan subjek didik yang harus diakui keberadaannya. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, adanya malpraktik (meminjam istilah Prof Mungin) yaitu melakukan praktik yang salah, miskonsep. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. Apapun alasannya tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun emosional. Kesiapan fisik, mental, dan emosional guru maupun siswa sangat diperlukan. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental, dan emosional, proses belajar mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru pun akan terjalin harmonis layaknya orang tua dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realitas di lapangan pelajaran yang didapat siswa kabanyakan hanya dijejali berbagai materi. Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari ketiga faktor di atas, juga dipengaruhi oleh tipe-tipe kejiwaan seperti yang diungkapkan Plato dalam "Tipologo Plato", bahwa fungsi jiwa ada tiga, yaitu: fikiran, kemauan, dan perasaan. Pikiran berkedudukan di kepala, kemauan berkedudukan dalam dada, dan perasaan berkedudukan dalam tubuh bagian bawah. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijakasanaan, kemauan sumber keberanian, dan perasaan sumber kekuatan menahan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pikiran, kemauan, perasaan tidak sinkron akan menimbulkan permasalahan. Perasaan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, akibatnya kemauan tidak terkendali dan pikiran tidak dapat berpikir bijak. Agar pendidikan di Indonesia berhasil, paling tidak pendidik memahami faktor-faktor tersebut. Kemudian mampu mengantisipasinya dengan baik. Sehingga kesalahan-kesalahan guru dalam sikap dan perilaku dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga kualitas pendidikan di Indonesia harus mampu bersaing di dunia internasional. Sikap dan perilaku profesional seorang pendidik akan mampu membawa dunia pendidikan lebih berkualitas. Dengan demikian diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap dan perilaku guru yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni kasih sayang, penghargaan, pemberian ruang untuk mengembangkan diri, kepercayaan, kerjasama, saling berbagi, saling memotivasi, saling mendengarkan, saling berinteraksi secara positif, saling menanamkan nilai-nilai moral, saling mengingatkan dengan ketulusan hati, saling menularkan antusiasme, saling menggali potensi diri, saling mengajari dengan kerendahan hati, saling menginsiprasi, saling menghormati perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dan perilaku guru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya berupa faktor eksternal dan internal. Oleh karena itu pendidik harus mampu mengatasi apabila kedua faktor tersebut menimbulkan hal-hal yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendidik, calon pendidik, dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai memahami, menerapkan, dan mengembangkan sikap-sikap serta perilaku dalam dunia pendidikan melalui teladan baik dalam pikiran, ucapan, dan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azwar Saifuddin, 2000. Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mar'at, 1981. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran. Jakarta: Ghalia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronnie M. Dani, 2005. Seni Mengajar dengan Hati. Jakarta: Alex Media Komputindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Tantiningsih, 2005. Guru Cengkiling dan Amoral. Koran Harian Sore Wawasan. 14 Mei 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Rustantiningsih&lt;br /&gt;Saya Guru di SDN Anjasmoro 02 Semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: BP. Media Pustaka Mandiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-7682398362673464316?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/7682398362673464316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=7682398362673464316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7682398362673464316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/7682398362673464316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/sikap-dan-perilaku-guru-yang.html' title='SIKAP DAN PERILAKU GURU YANG PROFESIONAL'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1779270737754404336</id><published>2009-01-02T19:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:23:32.414-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pendidikan Musik!...Pentingkah?</title><content type='html'>Pendidikan Musik!...Pentingkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa kamu belajar musik, sudah aja kamu belajar matematika atau fisika, biar kamu jadi anak pintar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ah, bu saya nyuruh anak saya les musik biar dia ada kesibukan aja, dari pada dia main gak karuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mendengar kedua kalimat di atas atau bahkan Anda sendiri yang pernah mengalaminya? Kita mungkin menyadari bahwa memang pendidikan musik sampai saat ini masih menjadi sesuatu hal yang baru bagi kita yang hidup di Negri tercinta ini. Bagi sebagian masyarakat dan para pemangku kebijakan, musik bukan merupakan sesuatu hal yang penting, musik hanyalah sebagai hiburan, musik hanyalah pengisi waktu bagi anak-anak. Musik tidak akan memberikan kontribusi untuk kehidupan masa datang, musik tidak akan memberikan sesuatu profesi yang menjanjikan. Bahkan dilingkungan sekolah pun masih banyak yang menganggap bahwa musik bukan suatu mata pelajaran yang begitu penting, betulkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak guru dan orang tua anak baik itu yang belajar disekolah formal ataupun informal yang memandang sebelah mata tentang pendidikan musik. Sehingga apabila anaknya memiliki kekurangan pada mata pelajaran tertentu, maka orang tua menganggap anaknya "kurang pandai", tetapi apabila anak memiliki nilai bagus pada mata pelajaran seni baik itu seni musik, seni rupa atau seni tari, orang tua menganggap hal tersebut bukan yang luar biasa, padahal anak tersebut mempunyai potensi dalam mata pelajaran tersebut yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Nah, disinilah perlunya kesadaran guru dan orang tua untuk mengetahui potensi apa yang terdapat pada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi pada sekolah informal, misalnya kursus musik. Karena anggapan awalnya para orang tua mengkursuskan anaknya hanya untuk mengisi waktu luang saja, maka pengawasan dirumah pun tidak serius, misalnya mengatur jam latihan atau meminta dan mengawasi anaknya untuk berlatih. Kenapa harus orang tua? Karena waktu terbanyak adalah di rumah dalam hal ini orang tualah yang mempunyai waktu terbanyak untuk mengawasi anaknya, guru les hanya bertemu 40-60 menit saja dalam seminggu. Kerjasama orang tua dengan guru les sangat ditekankan dalam hal ini apabila ingin mencapai kesuksesan dalam pendidikan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai mata pelajaran di sekolah, pada kurikulum 2007, terdapat sejumlah mata pelajaran yang salah satunya mata pelajaran Seni dan Budaya. Jika diamati uraian bahasannya, mata pelajaran Seni dan Budaya ini terdiri atas bahan ajaran pendidikan seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata pelajaran ini disajikan mulai dari kelas 1 SD sampai dengan kelas III SMA, dengan alokasi waktu mungkin sekitar 2 jam pelajaran setiap minggu. Ya, hanya 2 jam saja pelajaran seni diberikan di sekolah. Dengan alokasi waktu yang disediakan dan bahan ajar yang beragam, pada umumnya para guru tidak dapat menyelenggarakan pembelajaran sebagaimana mestinya. Apalagi kalau di sekolah tersebut hanya terdapat guru seni musik saja, maka nyaris pelajaran seni yang lain akan ditinggalkan. Disamping itu, ada diantara mereka yang berpendapat bahwa pendidikan musik merupakan pelajaran yang tidak penting, sangat disayangkan dengan pendapat itu. Alasannya karena mata pelajaran pendidikan musik tidak di-UAN-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal apabila ditelaah lebih lanjut, menurut para ahli, pendidikan musik merupakan sarana yang paling efektif bagi pendidikan kreativitas. Pendidikan musik juga dapat menjadi sarana pendidikan afektif untuk menyalurkan emosi dan ekspresi anak. Selain itu, pendidikan musik dapat menjadi pendidikan keterampilan. Jadi secara konseptual, pendidikan musik sangat besar peranannya bagi proses perkembangan anak, terutama di Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai materi pembelajaran, mata pelajaran Seni dan Budaya perlu di pahami guru, mau dibawa kemana anak didik kita sehingga tercapai arah yang tepat. Eisner (1972) dan Chapman (1978) mengatakan bahwa, arah atau pendekatan seni baik itu seni rupa, seni musik, seni tari ataupun seni teater, secara umum dapat dipilah menjadi dua pendekatan, yakni seni dalam pendidikan dan pendidikan melalui seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, seni dalam pendidikan. Secara hakiki materi seni penting diberikan kepada anak. Maksudnya adalah, keahlian melukis, menggambar, menyanyi, menari, memainkan musik dan keterampilan lainnya perlu ditanamkan kepada anak dalam rangka pengembangan kesenian dan pelestarian kesenian. Seni dalam pendidikan ini sejalan dengan konsep pendidikan yaitu sebagai proses pembudayaan yang dilakukan dengan upaya mewariskan atau menanamkan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi berikutnya (baca: guru kepada murid). Oleh sebab itu, seni dalam pendidikan merupakan upaya kita sebagai pendidik seni dan juga lembaga yang menaungi kita untuk mewariskan, melestarikan, dan mengembangkan berbagai jenis kesenian yang ada baik lokal maupun mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat beragam sekali kesenian yang berkembang di Indonesia ini. Dari mulai kesenian tradisional sampai pada kesenian modern, banyak terhampar di depan mata kita. Misalnya batik, ukiran, anyaman, lukisan, pupuh sunda, gamelan, kecapi, biola, piano, tari tayub dan tari bedaya, balet sampai pada berbagai jenis seni kontemporer. Dari kekayaan tersebut apabila tidak diwariskan kepada anak melalui jalur pendidikan maka kita akan menunggu saatnya kesenian tersebut akan dijauhi oleh anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, maka seni dalam pendidikan merupakan sebuah program yang mengharapkan siswa pandai dalam bidang seni. Pandai menggambar, pintar menyanyi, terampil dalam menari, pandai memainkan alat musik dan sebagainya. Memang terasa sangat sulit sekali apabila diterapkan pada sekolah umum, karena harus mempertimbangkan kualifikasi guru terhadap bidang seni tertentu, waktu yang cukup, dan sarana- prasarana yang memadai. Tetapi bagi orang tua yang ingin anaknya terampil dalam bidang seni tertentu jangan khawatir, sudah banyak terhampar di depan mata kita sanggar-sanggar, kursus musik, kursus menggambar dan sebagainya, untuk kita pergunakan seoptimal mungkin bagi perkembangan anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pendidikan melalui seni. Plato menyatakan bahwa seni seharusnya menjadi dasar pendidikan. Dari pendapat ini kita bisa beranggapan bahwa sesungguhnya seni atau pendidikan seni mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pendidikan melalui seni juga dikemukan oleh Dewey bahwa seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. Maka melalui pendidikan melalui seni tercapai tujuan pendidikan yaitu keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada konsep pendidikan melalui seni, maka pelaksanaannya lebih ditekankan pada proses pembelajaran dari pada produk. Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka sasaran belajar pendidikan seni tidak mengharapkan siswa pandai menyanyi, pandai memainkan alat musik, pandai menggambar dan terampil menari. Melainkan sebagai sarana ekspresi, imajinasi dan berkreativitas untuk menumbuhkan keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis. Kalau memang ternyata melalui pendidikan seni dapat menghasilkan seorang seniman maka itu merupakan dampak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka guru pun dapat melaksanakannya. Kekurangan kemampuan guru dalam hal pendidikan seni dapat ditutup dengan penggunaan berbagai media pembelajaran yang memadai. Seperti yang telah dipaparkan di atas, pendidikan musik khususnya banyak sekali memberikan kontribusi bagi perkembangan dan keseimbangan rasional, emosional, intelektual dan kesadaran estetis. Banyak sekali hasil penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang pentingnya pendidikan seni khususnya musik bagi perkembangan anak, berikut beberapa hasil penelitian yang penulis rangkum dari Bulletin of the Council for Research in Music Education, diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pendidikan musik/pendidikan seni, memudahkan perkembangan anak dalam bahasa dan kecepatan membaca.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Aktivitas bermusik/berkesenian sangat bernilai bagi pengalaman anak dalam berekspresi dan lain-lain.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Aktivitas bermusik/berkesenian membantu perkembangan sikap positif terhadap sekolah dan mengurangi tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah.&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Keterlibatan dalam kegiatan bermusik/berkesenian secara langsung mempertinggi perkembangan kreativitas.&lt;br /&gt;   5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pendidikan musik/pendidikan seni memudahkan perkembangan sosial, penyesuian diri, dan perkembangan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan-penjelasan di atas, ternyata pendidikan musik sangat penting untuk perkembangan anak di masa depan. Pendidikan musik tidak lagi sebagai mata pelajaran tambahan yang sewaktu-waktu bisa saja dihilangkan atau hanya sekedar pengisi waktu luang bagi anak-anak yang kursus musik. Bukankah pendidikan itu merupakan sesuatu hal yang penting untuk menolong siswa dalam mengembangkan intelektual, emosional dan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka? Hal ini merupakan tugas para guru dan orang tua untuk mewujudkan hal tersebut. Maka pendidikan musik/pendidikan seni adalah bagian penting dan efektif untuk mewujudkan hal tersebut, walaupun sampai saat ini masih diragukan dan dikesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah staf pengajar UPI &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Sandie Gunara&lt;br /&gt;Saya Dosen di UPI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1779270737754404336?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1779270737754404336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1779270737754404336' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1779270737754404336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1779270737754404336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pendidikan-musikpentingkah.html' title='Pendidikan Musik!...Pentingkah?'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-5956365135788111199</id><published>2009-01-02T19:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:20:31.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Problematika Anak Remaja</title><content type='html'>Problematika Anak Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86 % Penghuni penjara didunia, telah memulai karier negatifnya sejak usia mereka 12 tahun ( Monterdue, 2004 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prilaku negatif anak remaja akan tersembunyi secara rapi dibalik norma yang berlaku didalam keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bisa saja tampak tenang dan stabil dirumah, namun sangat agresif diluar rumah atau sebaliknya ... mereka bisa tampak nakal dan agresif di rumah, namun sangat stabil dan tenang diluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Healthscoutnews 2006 " : 97 % wanita perokok di Amerika mulai merokok sejak usia mereka 12 - 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Kiyushaki, seorang motivator bisnis terkenal didunia merasa mulai karier profesinya sejak ia berusia 11 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donald Trump, telah mengawali dunia usahanya ketika ia berusia 12 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Bussiness News tahun 2002, telah menemukan bahwa; hampir sebagian besar pengusaha yang berhasil di benua eropa, asia dan amerika telah mengawalinya ketika mereka berusia 10 - 14 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julius Robert Oppenheimer, penemu Bom Atom telah memulai penyelidikannya sejak ia berusia 11 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vilfredo Pareto, penemu Diagram Pareto sudah gemar membuat pemetaan dan grafik sejak usia 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal, 22 april 1915 satu jam setelah ia merayakan ulang tahunnya, ia dimaki-maki ayah dan ibunya karena bermain-main dengan kereta bayi dan dinamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya 8% anak remaja yang benar-benar bisa belajar di rumah mereka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"13% anak remaja mengalami gangguan kinaestetik dan konsentarsi belajar akibat ketidak-seimbangan kerja hemisphere".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh terkenal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kris Dayanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Susilo Bambang Yudoyono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kris Watimena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Shanti Manohutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Tukul Arwana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Subronto Laras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Mashushita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebagian besar perubahan kehidupan anak-anak remaja disebabkan oleh kekecewaan yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bukan karena ia cerdas atau tidak cerdas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan sosial remaja :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 11% akibat konflik dengan teman sebaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 4% akibat konflik dengan guru sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 84% akibat konflik dengan orang tua mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 1% oleh lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 11% akibat konflik dengan teman sebaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 88% akibat konflik dengan orang dewasa disekitarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 1% akibat hal lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Apa Dengan Orang Dewasa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pelanggaran orang dewasa menurut anak remaja :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa selalu ingin menguasai anak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa selalu menganggap anak remaja sebagai anak yang masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa lebih senang mencela/mengkritik dari pada mensupport pada anak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Orang dewasa sering menarik kembali hak yang telah diberikan kepada anak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa lebih cepat emosi, dan mau menang sendiri ketika berdiskusi dengan anak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi, dan tidak terhitung jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harus adanya pendidikan bagi mereka yang menekankan pada Pendidikan Watak &amp; Kepribadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Harus adanya usaha yang besar dari orang tua / orang dewasa untuk Menanamkan Moralitas &amp; Keyakinan Beragama pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Harus didorong &amp; dibina tumbuhnya Tanggung Jawab Sosial pada anak, sesuai dengan Fase Perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian harus bagaimana tahapan-tahapannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selidiki....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp; Pikirkanlah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" INNER WILL " Mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): ILAL GUMILAR, Cfc.&lt;br /&gt;Konsultan di Konsultan Pendidikan Grahita-Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-5956365135788111199?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/5956365135788111199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=5956365135788111199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5956365135788111199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5956365135788111199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/problematika-anak-remaja.html' title='Problematika Anak Remaja'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-4103763782346156793</id><published>2009-01-02T19:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:18:51.735-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Guru Dalam Sorotan Publik</title><content type='html'>Guru Dalam Sorotan Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat sejarah terdahulu, bahkan pada zaman penjajahan sekali pun, kedudukan, dan profesi guru sangat disegani dan dimulyakan. Dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan kemasyarakatan maupun kenegaraan, para guru selalu ditempatkan pada posisi terdepan. Bahkan, dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pun guru selalu berada pada garda terdepan untuk menunjukkan kecintaannya terhadap tanah air dan rakyat Indonesia. Seperti yang kita ketahu, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Imam Bonjol dan Ki Hajar Dewantara pun adalah seorang guru yang disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita jumpai pada zaman dulu, tidak pernah ada orang tua siswa marah karena anaknya "dihajar". Bahkan, para orang tua siswa selalu berterima kasih bila anak mereka "dihajar" guru karena melakukan tindakan yang melanggar kurang ajar. Harga diri, wibawa, penghargaan masyarakat, dan penghargaan materi pun saat itu sangat memadai bagi guru. Sihingga posisi guru dipandang sebagai posisi yang sangat mulia dan terhormat. Bahkan tidak jarang guru dianggap sebagai manifestasi dari sifat ketuhanan yang berakar dari istilah Rabb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pemindah ilmu pengetahuan (Transfer of Knowledge) dari guru ke murid (top Down), tetapi juga berfungsi sebagai orang yang menanamkan nilai (values), membangun karakter (Character building) serta mengembangkan potensi besar yang dimiliki murid secara berkelanjutan. Guru adalah ujung tombak dalam melaksanakan misi pendidikan di lapangan serta merupakan faktor sangat penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang bermutu dan efisien. Oleh karena itu, guru harus bangun dan berdiri dari tidur nyenyaknya yang selalu membanggakan slogan "pahlawan tanpa tanda jasa." Nasib guru adalah di tangan guru. Guru harus bangkit untuk mengubah citra profesionalisme yang mapan baik dalam pengabdian maupun dalam penghidupan kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena guru menjadi figur sentral dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar (PBM), maka setiap guru diharapkan memiliki karakteristik (ciri khas) kepribadian yang ideal sesuai dengan persyaratan yang bersifat psikologis-pedagogis. Pemapanan kepribadian guru menuju guru profesional adalah salah satu cara yang tepat untuk bangkit dalam keterbenaman. Dan itu membutuhkan waktu dan perangkat yang cukup matang. Langkah pemerintah yang membuat UU guru dan dosen bisa menjadi langkah solutif untuk mengangkat kembali citra profesionalisme guru dalam masyarakat saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru sebagai revolusioner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog Pendidikan, Muhibbin Syah (1995) menjelaskan, dalam mengolah Proses Belajar Mengajar guru tidak hanya berorientasi pada kecakapan-kecakapan yang berdimensi ranah cipta (kognitif) , tetapi kecakapan yang berdimensi ranah rasa (afektif) dan ranah karsa sebagai keterampilan hidup (Psikomotorik). Sebab, dalam perspektif psikologi pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatan seseorang (guru) yang membuat orang lain (siswa) belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi perilakunya. Perilaku ini meliputi tingkah laku yang bersifat terbuka seperti keterampilan membaca (ranah karsa), juga yang bersifat tertutup seperti berpikir (ranah cipta), dan berperasaan (ranah rasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi sebuah Karakteristik yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologi. Fleksibilitas kognitif (keluwesan ranah cipta) merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Ia juga memiliki resistensi (daya tahan) terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur (terlampau dini) dalam pengamatan dan pengenalan. Ia selalu berpikir kritis dan selalu menggunakan pertimbangan akal sehat yang dipusatkan pada pengambilan keputusan untuk mempercayai atau mengingkari sesuatu dan melakukan atau menghindari sesuatu (Heger &amp; Kaye,1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang terbuka secara psikologis biasanya ditandai dengan kesediaan yang relatif tinggi untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern antara lain, siswa, teman sejawat, dan lingkungan pendidikan tempat bekerja. Ia mau menerima kritik dengan iklas. Ia juga memiliki empati (empathy), yakni respons afektif terhadap pengalaman emosional dan perasaan orang lain (Reber,1988). Itulah di antaranya yang harus dilakukan guru sekarang ini. Jika guru segera bangun dan menanamkan profesionalisme yang tepat dan benar, insya Allah cibiran sebagai masyarakat kelas dua akan sirna. Pengabdian akan mendapat kepuasan dengan hasil kemajuan siswa sesuai harapan. Peningkatan kesejahteraan penghidupan pun akan merangkak tanpa perlu bergantung pada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aspek social masyarakat, guru juga berfungsi sebagai penanam nilai-nilai budaya yang tercipta dalam masyarakat. Guru mempunyai andil besar dalam melestarikan kebudayaan (culture) yang menjadi tatanan nilai dan identitas social. Oleh karena itu, peran guru sangatlah komplek, begitu juga tantangan guru untuk senantiasa mempertahankan eksistensi profesionaitas mereka sangat berat dan komplek pula. Kondisi dan profesi guru yang sekarang sudah tidak lagi dianggap sebagai hal yang prestise dan membanggakan, bahkan guru sekarang dianggap sebagai posisi yang kecil dan termarjinalkan perlu di kembalikan seperti kondisi terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prilaku Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah istilah yang menjadi slogan guru sebagai cerminan bagi anak didik " guru kencing berdiri murid kencing berlari, memberikan pesan moral kepada guru agar bertindak dengan penuh pertimbangan. Ketika guru menanamkan nilai dan contoh karakter dan sifat yang tidak baik, maka jangan salahkan murid ketika berprilaku lebih dari apa yang guru lakukan. Seperti kelakuan bejat guru ketika membocorkan jawaban Ujian Nasional sebagai upaya menolong kelulusan anak didiknya. Memang murid pada saat itu senang, karena mendapatkan jawaban untuk mempermudah mereka lulus. Akan tetapi, saat itu juga guru telah menanamkan ketidakpercayaan murid terhadap guru. Dan pada saatnya nanti, mereka akan jauh berbuat lebih bejat lagi ketimbang saat ini yang guru mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2007 ini, gegap gempita kelulusan peserta ujian nasional (UN) di segala jenjang pendidikan nasional tidak kalah heboh dari ketidaklulusannya. Di suatu daerah, guru-guru berkrepribadian tangguh menyoal kecurangan praktek UN. Akan tetapi di beberapa daerah lain justru kuat dan berusaha melindungi kecurangan yang terjadi di sekolah mereka. Masih banyaknya prilaku guru yang sebenarnya menjatuhkan harkat dan citra diri seorang guru pada pelaksanaan UN perlu direspon dengan serius. Lebih parahnya lagi bagi guru yang tidak terima dan melaporkan terjadinya kecurangan di sekolah mereka akan mendapatkan intimidasi dan bahkan ancaman pemecatan dari pihak sekolah atau yayasan. Ada apa ini semua ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat standarisasi kelulusan yang dinilai terlalu tinggi oleh banyak guru dan kepala sekolah, menuntut mereka memeras otak untuk mencari langkah jitu meluluskan peserta didik mereka. Sehingga Banyak niat mulia pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dilakukan dengan cara curang. Itu semua dilakukan tidak lebih hanya untuk menjaga citra dan nama baik sekolah mereka. Tidak sedikit kepala sekolah dan guru membentuk tim untuk membantu proses UN mulai dari pemberian jawaban sampai penyeleksian sendiri (perbaikan) sebelum lembaran jawaban dikirim ke panitia UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang profesinya sangat mulia, pendidik nurani bangsa idealnya senantiasa ditiru dan digugu oleh anak didik dan masyarakat. Kalaulah apa yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah adalah tindakan keterpaksaan yang diperintah oleh kepala dinas pendidikan atau kepala daerah mungkin itu masih lumayan. Tapi, kalau demi menaikkan gengsi sekolah, demi menutupi kebodohan mengajar dengan membantu anak didik agar lulus, apakah itu pelecehan dan pembunuhan terhadap potensi anak didik? Dan dimana hati nurani guru sebagai teladan ? bukankah ini merupakan prilaku memberikan contoh kejahatan, dan tindakan seperti itu menanamkan benih potensi tindakan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental korupsi telah dibentuk oleh guru sejak generasi bangsa duduk di bangku sekolah. Parahnya lagi, yang membentuk karakter itu adalah guru sendiri. Padahal seyogyanya gurulah yang punya peran sentral untuk membersihkan mental koruptor dalam jiwa anak didik. Guru adalah tempat strategis untuk membentuk kepribadian anak bangsa. Jika karakter guru mengarah pada hal yang buruk, maka anak didik yang terbentuk pun akan tidak jauh dari karakter guru. Tapi sebaliknya. Kebiasaan memberikan bocoran jawaban kepada anak didik, berarti telah mengajarkan anak didik untuk korupsi. Kelak ketika anak didik itu menjadi pemimpin, maka tidak menutup kemungkinan dia akan membocorkan dana atau kebijakan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara umum kita tidak juga menutup mata terhadap perjuangan beberapa guru yang bathinnya resah, jiwanya terguncang, dan melaporkan kecurangan yang dilakukan oknum guru dan kepala sekolah ke pihak berwenang. Ingatan kolektif tidak mungkin dihapus, bagaimana guru-guru sejati tersebut, mengadu sampai ke DPR RI. Bersasksi di depan sorotan kamera Televisi-televisi nasional, berani menanggung resiko demi kejujuran, kemuliaan dan kehormatan profesi guru. Namun tidak banyak guru bermental satria yang menjunjung tinggi profesionalisme guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurangan dalam UN 2007 yang melahirkan gugatan dari praktisi, pengamat, LSM dan tidak jarang juga siswa ikut menggugat kecurangan UN di sekolah mereka. Kisah berakhir happy ending (?). dari hasil gugatan mereka, ternyata pemerintah belum bisa bertindak tegas terhadap para pelaku kecurangan. Sampai saat ini belum satu pun yang terbukti sebagai tersangka pelaku kecurangan pada UN. Jadi, keberanian bersaksi guru-guru berkrepribadian tangguh, murid-murid yang berjiwa satria, tidak mendapat tempat di mahkamah kebenaran. Ternyata kehidupan bangsa ini masih berlangsung sebagaimana sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang digugu dan ditiru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumitnya problema kehidupan menentang tiap guru yang mencoba-coba menjalankan "pendidikan moral". Kalau seperti para filsuf positivis, sang guru percaya bahwa hanya Prinsip-prinsip sajalah yang mungkin diajarkan disertai alas an-alasan bernalar, sang guru masih harus menentukan prinsip-prinsip mana yang bisa dijadikan bermakna bagi anak-anak kontemporer (Maxine Greene). Guru mesti menentukan terlebih dulu tindakan-tindakan mana yang mempunyai "gema moral". Karena setiap tindakan guru akan menjadi cerminan anak didik yang melihatnya. Slogan "guru digugu dan ditiru" merupak represantasi dari komunikasi prilaku guru dengan murid setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan dalam kehidupan guru memang tidak mudah. Hidup dengan gaji kecil, sarana dan prasana pendidikan minim, fasilitas yang mengundang air mata, terkadang dicaci maki dan disumpahserapahi kalau ada apa-apa dengan pendidikan. Pokoknya derita guru adalah tumpukkan kesedihan. Tetapi, tetap tegar berjuang demi profesi mulia. Terlalu murah bila digadaikan dengan kecurangan demi UN. Di akhirat nantinya akan diadili pula karena curang. Lebih parah lagi tanaman psikologis. Bila anak didik berhasil karena tindakan curang guru, UN lulus dengan curang, masuk perguruan tinggi pakai joki, mendapatkan pekerjaan dengan menjogok dan cara-cara curang lainnya. bagaimana kalau dia nantinya menjabat posisi strategis di struktur pemerintahan negera kita (Pemimpin)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saatnya pendidikan Nasional dibersihkan dari guru-guru yang berwatak koruptor dan preman. Mari tinggalkan korupsi pendidikan dan mendidik peserta didik korupsi sejak si bangku sekolah. Yang seharusnya kita kampanyekan kepada anak didik justru pendidikan antikorupsi. Selayaknya posisi guru di barisan terdepan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan antikorupsi, pendidikan anti curang pun digalakkan. Tentunya yang harus diperhatikan dan dibangun adalah mental guru-guru dan pihak sekolah yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang mempunyai jiwa idealis terhadap nilai-nilai luhur moral, dia akan senantiasa berlaku jujur terhadap semua apa yang dilakukan. Dalam menghadapi UN sebenarnya guru harus proaktif untuk memberikan mutivasi belajar dan mensupport agar anak didik siap menghadapi Ujian Nasional. Sifat sportifitas dan kompetitif yang ditanamkan didalam mental anak didik, akan mencerminkan prilaku mereka kelak ketika mereka hidup dilingkungan masyarakat. Apalagi ketika diantara mereka menjadi pemimpin bangsa. Sikap tauladan yang dicontohkan guru terhadap anak didik dalam menghadapi UN lebih memberikan rasa kepercayaan yang tinggi kepada diri sendiri dan kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan Profesionalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai profesionalisme, P. Siegart dalam Rahardi (1998) menyebutkan ada tiga sikap dasar bagi individu untuk disebut profesional. Ketiga sikap dasar itu adalah (1) adanya keseimbangan antara sikap altruistik dengan sikap non-altruistik/egoistik dalam diri individu; (2) adanya penonjolan kepentingan luhur dalam praktik kerja keseharian; dan (3) munculnya sikap solider antarteman seprofesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sikap dasar ini akan menumbuhkan sikap positif terhadap kerja pada diri individu, teristimewa yang mengutamakan kemauan ikhlas untuk bekerja sama dengan sesama teman seprofesi yang disemangati oleh niat melayani dan mengabdi demi tercapainya tujuan luhur sebuah karya, dalam hal ini adalah karya pendidikan yang dibentuk oleh guru dan pihak sekolah secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali terdengar keluhan bahwa sekarang kini semakin sulit mendapatkan tenaga pengajar (guru) yang memenuhi kualifikasi profesionalisme. Bahkan lebih tajam lagi, seorang pakar pendidikan, J. Drost SJ, mengatakan bahwa sekarang di Indonesia tidak ada guru yang memenuhi syarat sebagai guru (hal. 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai moral memang tidak dapat dipisahkan dengan profesionalisme seseorang. Keduanya saling terkait secara kausal. Yang satu menjadi akibat bagi yang lain, dan yang satu menjadi penyebab bagi yang satunya. Bagaimana mungkin seorang guru dapat dikatakan profesional apabila tidak memiliki keutamaan moral yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral dan profesionalisme juga memiliki kaitan yang erat dengan perkembangan global dunia kita. Profesionalisme dapat dianggap sebagai suatu akibat dari merebaknya arus globalisasi, dan globlalisasi merupakan suatu sebab munculnya profesionalisme. Di sini, moral menjadi perekat sekaligus penawar hubungan keduanya. Kemudian presionalisme kerja guru menjadi tuntutan, kendati masih sering dirasakan semata-mata obsesi belaka. Seorang guru hendaknya selalu melekatkan dan menumbuhkembangkan keutamaan-keutamaam sebagai guru di dalam dirinya demi memantapkan kualitas pelayanan dan pengabdiannya kepada pemanusiaan manusia muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas permasalahan guru, serta beratnya tanggung jawab yang diemban guru, menuntut peran aktif yang besar dari pemerintah untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi mereka. Bukan hanya jaminan dan kesejahteraan materi, akan tetapi hukum, kebijakan politik, pembinaan dan apresiasi yang tinggi perlu diberikan kepadanya. Jiwa pendidik dan mental kesatria harus menjadi bagian yang terpatri dalam diri guru. Sehingga mendidik tidak hanya untuk mengejar kesejahteraan dan jaminan social, membiarkan kecurangan UN dilakukan oleh oknum sekolah sendiri, dan berani melawan ketidak adilan yang diciptakan oleh birokrasi pemerintah terhadap pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU guru yang semestinya memberikan jaminan profesi dan jaminan kesejahteraan harus tetap dijadikan salah satu cara meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru. Kita semua berharap optimis pendidikan negeri ini akan mampu diperbaiki ketika semua elemen pendidikan bersama-sama membangun pendidikan bangsa. Kompetisi yang sehat dan sportif diantara sekolah-sekolah peserta UN perlu ditanamkan. Nilai hasil UN bukanlah ukuran mutlak sebagai nilai kualitas pendidikan. Karena dalam prinsip Otonomi pendidikan, MBS dan KTSP yang menjadi perangkat peningkatan mutu pendidikan nasional memberikan kebebasan mengembangkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan potensi sekolah/daerah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, guru tetap harus bersikap professional pula dalam mengahadapi proses dan hasil UN. Walaupun misalkan terdapat beberapa anak didik yang tidak lulus, guru harus mampu memberikan pemahaman terhadap mereka bahwa itu semua hanya merupakan sebuah proses kesucsesan yang masih tertunda. Guru mempunyai peran strategis dalam mengawal anak didik menjadi generasi bangsa yang siap pakai. Selain mendidik untuk kesejahteraan pribadi dan keluarga, guru juga peka terhadap kondisi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Moh Fauzi Ibrahim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-4103763782346156793?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/4103763782346156793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=4103763782346156793' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4103763782346156793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4103763782346156793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/guru-dalam-sorotan-publik.html' title='Guru Dalam Sorotan Publik'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-8409866399290201948</id><published>2009-01-02T19:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:16:56.776-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kesejahteraan faktor peningkatan mutu pendidikan</title><content type='html'>Kesejahteraan faktor peningkatan mutu pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAH menjadi pengetahuan umum bahwa mutu pendidikan di Tanah Air sampai saat ini masih rendah. Cukup banyak bukti yang dapat digunakan untuk mendukung kesimpulan itu. Rata-rata hasil ujian akhir nasional, ujian akhir sekolah atau apa pun namanya untuk semua mata pelajaran berkisar pada rentangan 5 sampai 7 saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hasil survei yang dilakukan oleh lembaga internasional juga menempatkan prestasi siswa Indonesia pada posisi bawah. Terakhir, hasil survei TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciencies Study) di bawah payung International Association for Evaluation of Educational Achievement (IEA) menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 untuk bidang matematika dan pada posisi ke-36 untuk bidang sains dari 45 negara yang disurvei (Kompas, 22/12/2004). Bahkan, di Jawa Timur, dalam seleksi penerimaan calon pegawai negeri daerah yang diumumkan beberapa hari lalu dilaporkan banyak formasi yang tidak terisi karena tidak satu calon pun yang mengikuti ujian memenuhi nilai standar (passing grade) yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, dari sekitar 2,7 juta guru ada 1,7 yang belum terkualifikasi sarjana atau diploma 4. Dari jumlah itu, 1 juta guru mengajar di Sekolah Dasar dan 173 ribu mengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Sebanyak 723 ribu guru yang belum terkualifikasi berstatus guru swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah aset berharga bagi setiap orang. Bahkan kualitas pendidikan sangat menentukan maju tidak sebuah daerah. Saat ini sektor pendidikan belum menjadi sektor utama perhatian pemerintah. Buktinya, masih banyak sekolah rusak, anak putus sekolah dan buta huruf. Pada tingkat SD hingga SMP, pemerintah telah mencanangkan program sekolah gratis. Terutama yang berada pada daerah pemukiman dan pinggiran kota. Hal ini dimaksudkan agar memberikan peluang bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dapat mengenyam pendidikan sama dengan masyarakat yang memiliki taraf hidup lebih tinggi. Selain itu adanya penambahan sekolah yang berada di pulau-pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditingkat SMA, pemerintah melakukan terobosan melalui Sistem Sekolah Cerdas, melaksanaklan manajemen sekolah dengan basis teknologi informasi, peningkatan mutu saing keluaran siswa melalui ujian akhir yang dilakukan secara ketat dan beberapa upaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan peningkatan kualitas pendidikan kita masih di bawah standar alias belum memenuhi harapan. Di balik semua upaya yang telah dilaksanakan, masih memiliki catatan-catatan yang masih perlu dibenahi. Kita bisa memulai dari proses mengajar di sekolah . Dimana keterlibatan guru sangat besar manfaatnya, termasuk penyediaan fasilitas belajar mengajar. Bicara mengenai kondisi guru, sekarang masih banyak yang belum memenuhi standar nasional yang menyebabkan kualitas murid juga kurang bagus. Belum lagi penyediaan sarana dan prasarana belum memadai seperti yang diharapkan. Misalnya banyak gedung sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian dan harus segera dibenahi karena sangat mempengaruhi peningkatan kualitas pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen pemerintah sebenarnya cukup kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah telah berupaya namun belum dapat mengangkat totalitas kinerja dan peningkatan pendidikan. Jika melihat secara parsial kondisi pendidikan sempat dibenahi tetap belum signifikan mengangkat kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Polling dalam Pendidikan Network pada tanggal 1Juni 2007 Mutu Pendidikan Disebut Sebagai Hal Utama Bagi Pendidikan Bagian Yang Mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum / Silabus 31.56 % (107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Mata Pelajaran 0.88 % (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas Guru 28.02 % (95)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana/Prasarana/Peraga 9.44 % (32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Belajar/Mengajar 27.73 % (94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Polling di atas berarti Kualitas guru mempengaruhi mutu pendidikan, bagaimana cara kita untuk meningkatkan mutu guru, itu yang menjadi PR bagi pemerintah kalau menginginkan pendidikan di Indonesia lebih maju dan tidak tertinggal dengan Negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Kesejahteraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang paling menonjol dan sering dituding sebagai biang keladi kelemahan sistem pendidikan adalah rendahnya tingkat kesejahteraan guru. Benarkah? Sebenarnya terlalu sulit untuk menjawabnya. Karena dalam konteks pendidikan akan bersinggungan secara langsung dengan mentalitas penyelenggara dalam lembaga pendidikan. Benarkah jika dengan disejahterakannya para guru sudah dapat ditarik garis linear terhadap peningkatan kualitas pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukur Kinerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu indikator keberhasilan bidang pendidikan adalah kemampuan dalam mengukur kinerja tenaga kependidikan. Benarkah dengan adanya peningkatan kesejahteraan, sebagaimana yang termaktub dalam UU Guru dan Dosen tersebut, para guru dan dosen dapat lebih meningkatkan kinerja. Atau jangan-jangan malah karena sudah terlalu "dimanjakan" maka akan semakin tidak menunjukkan kinerja yang baik. Pernyataan yang terakhir tentulah sangat tidak arif untuk disampaikan kepada para guru dan dosen yang secara kasat mata adalah pioner terdepan yang mengusung aspek moralitas bangsa. Merekalah yang menjadi garansi baik-buruknya moralitas anak bangsa ini ke depan. &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Linda Oktavia Dewi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-8409866399290201948?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/8409866399290201948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=8409866399290201948' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8409866399290201948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/8409866399290201948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/kesejahteraan-faktor-peningkatan-mutu.html' title='Kesejahteraan faktor peningkatan mutu pendidikan'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-4180345736904942979</id><published>2009-01-02T19:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:15:08.945-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Evaluasi Program Pengajaran</title><content type='html'>Evaluasi Program Pengajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pengajaran merupakan suatu rencana pengajaran sebagai panduan bagi guru atau pengajar dalam melaksnakan pengajaran. Agar pengajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu kiranya dibuat suatu program pengajaran. Program pengajaran yang dibuat oleh guru tidak selamanya bisa efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itulah agar program pengajaran yang telah dibuat yang memiliki kelemahan tidak terjadi lagi pada program pengajaran berikutnya, maka perlu diadakan evaluasi program pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah: Apakah yang dimaksud dengan evaluasi program? mengapa evaluasi program perlu dilaksanakan? Apakah yang menjadi objek atau sasaran dari evaluasi? dan Bagaimanakah cara melaksanakan evaluasi program?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arikunto (1999: 290) "Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program". Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri, diantaranya program adalah rencana dan kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Jadi dengan demikian melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencapaian kegiatan tersebut, jika belum tercapai bagaimanakah dari rencana kegiatan yang telah dibuat yang belum tercapai, apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut belum tercapai, adakah factor lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang menjadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran evaluasi adalah untuk mengetahui keberhasilan suatu program. Sebagimana yang dikemukakan oleh Ansyar (1989: 134) bahwa ".evaluasi mempunyai satu tujuan utama yatu untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program" Guru adalah orang yang paling penting statusnya dala kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas yang amat penting, yaitu mengatur dan mengemudikan kegiatan kelas. Untuk membuat proses belajar mengajar lebih efektif maka tugas guru adalah menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajara. Untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif tersebut perlu dirancang program pengajaran. Berhasil tidaknya suatu program pengajaran, tentu tidak bisa diketahui begitu saja, tanpa adanya evaluasi program. Oleh karena itu evaluasi program perlu dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengetahui seberapa jauh proram pengajaran telah berlangsung atau terlaksana, dan jika terlaksana seberapa baik pelaksanaan program tersebut. Pendek kata, evaluasi program dilaksanakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari program pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan evaluasi program, apanya dari program yang dievaluasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Input&lt;br /&gt;Siswa adalah subjek yang menerima pelajaran. Ada siswa pandai, kurang pandai, dan tidak pandai. Setiap siswa mempunyai bakat intelektual, emosional, social yang berbeda. Oleh karena itu dalam pembuatan program pengajaran hendaknya guru juga perlu memperhatikan aspek-aspek individu tersebut. Secara umum, hal-hal yang ada pada siswa berpengaruh terhadap keberhasilan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Materi atau kurikulum&lt;br /&gt;Di Indonesia, kurikulum berlaku secara nasional karena kita menganut system sentralisasi. Meskipun penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah sudah dilakukan secara cermat dan melibatkan banyak pihak, namun tidak mustahil bahwa di lapangan masih juga dijumpai kelemahan dan hambatan. Wilayah Indonesia yang sedemikian luas mengandung keragaman yang tidak sedikit. Itulah sebabnya guru perlu dibekali dengan kemampuan untuk melakukan evaluasi program, termasuk mengevaluasi materi kurikulum. Sasaran yang perlu dievaluasi dari komponen kurikulum ini anatara lain, kejelasan pedoman untuk dipahami, kejelasan materi yang terantum dalam GBPP, urutan penyajian materi, kesesuaian antara sumber yang disarankan dengan materi kurikulum dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Guru&lt;br /&gt;Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah orang yang diberi kepercayaan untuk meciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Guru adalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. oleh karena itu untuk menutupi kelemahan guru perlu dilakukan pembinaan dan penataran dalmrangka melaksanakan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Metode atau pendekatan dalam mengajar&lt;br /&gt;Berbeda dengan evaluasi terhadap kurikulum, evaluasi terhadap metode mengajar merupakan kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar, pendekatan, atau strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kurikulum kepada siswa. Metode mengajar adalah cara-cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar. Sedangkan strategi pembelajaran menunjuk kepada bagaimana guru mengatur waktu pemenggalan penyajian, pemilihan metoda, pemilihan pendekatan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sarana&lt;br /&gt;Komponen lain yang perlu dievaluasi oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah sarana pendidikan, yanga meliputi alat pelajaran dan media pendidikan. Sebelum guru memulai kegiatan mengajar, bahkan sebelum atau sekurang-kurangnya pada waktu menyusun rencana mengajar, guru telah memilih alat yang kira-kira dapat membantu melancarkan dan memperjelas konsep yang diajarkan. Selain guru, mungkin siswa juga dapat dijadikan titik tolak dalam menentukan apakah sarana yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar sudah tepat. Mungkin saja pada waktu menentukan alat pelajaran guru berpikir bahwa pilihannya sudah tepat. Tetapi ternyata di dalam praktek pelaksanaan pengajaran, alat tersebut ternyata kurang atau sama sekali tidak tepat. Proses pengajarannya tidak menjadi semakin lancar, tetapi mungkin bahkan kacau balau. Apabila guru menjumpai dalam mengajar atau ketidak berhasilan siswa dengan nilai rendah-rendah, ia dapat mecoba mengadakan evaluasi terhadap sarana yang digunakan. Sasaran evaluasi yang berkenaan antara lain kelengkapannya, ragam jenisnya, modelnya, kemudahannya untuk digunakan, mudah dan sukarnya diperoleh, kecocokan dengan materi yang diajarkan, jumlah persediaan dibandingkan dengan banyaknya siswa yang memerlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Lingkungan&lt;br /&gt;Ada dua macam lingkungan, yaitu lingkungan manusia dan lingkungan bukan manusia. Yang dapat digolongkan sebagai lingkungan masukan lingkungan manusia bukan hanya bukan hanya kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai tata usaha di sekolah itu, tetapi siapa saja yang dengan atau tidak sengaja berpengaruh terhadap tingkat hasil belajar siswa. Sedangkan yang dimaksudkan dengan lingkungan bukan manusia adalah segala hal yang berada di lingkungan siswa yang secara langsung maupun tidak, berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Yang termasuk kategori lingkungan bukan manusia misalnya suasana sekolah, halaman sekolah, keadaan gedung dan sarana lain. Pengaruh lingkungan bukan manusia dapat positif maupun negative. Tatanan perabot kelas yang rapi dapat berpengaruh terhadap kesejukan suasana sehingga siswa dapat belajar dengan tenteram. Sebaliknya suasana yang gaduh di luar kelas dapat mengganggu konsentrasi siswa dan menyebabkan siswa tidak dapat seperti yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila guru ingin melakukan evaluasi program dengan lebih seksama, terlebih dahulu hendaknya menyusun rencana evaluasi sekaligus menyusun instrument pengumpulan data. Instrument pengumpulandat bisa berupa angket, pedoman wawancara, pedoman pengamatan dan lain sebagainya. Sebagai cara yang paling sederhana adalah menagadakan pendekatan terhadap peristiwa yang dialami sehari-hari di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengevaluasi progam seorang guru tidak perlu dibebani secara sistematis sebagaimana layaknya seorang peneliti. Akan tetapi guru cukup membuat acuan singkat dan sederhana yang disusun dalm bentuk pertanyaan. Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut guru akan memperoleh umpan terhadap apa yang dilakukan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan objek atau sasaran evaluasi program yang meliputi keenam aspek tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran dan pembelajaran adalah merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan oleh seorang guru. Agar program pengajaran yang telah dilaksanakan itu baik atau tidak perlu dilaksanakan suatu penilaian, yang sering dikenal dengan evaluasi program pengajaran. Evaluasi program pengajaran ini meliputi 1) Input (masukan), 2) materi atau kurikulum, 3) Guru, 4) Metode atau pendekatan dalam mengajar, 5) Sarana: alat pelajaran ata media pendidikan, 6) lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ansyar, Mohammad. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Nama (Penulis): afdhee&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-4180345736904942979?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/4180345736904942979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=4180345736904942979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4180345736904942979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/4180345736904942979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/evaluasi-program-pengajaran.html' title='Evaluasi Program Pengajaran'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-560290264509160698</id><published>2009-01-02T19:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:13:36.130-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>UU GURU-DOSEN DAN SERTIFIKASI PENDIDIK</title><content type='html'>UU GURU-DOSEN DAN SERTIFIKASI PENDIDIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logis dari UU nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersirat maupun tersurat, bahwa seorang guru adalah pendidikan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, seperti disebutkan pada (Pasal 1 Ketentuan Umum), dan guru harus profesional, dan dimaksud adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, sejalan dengan Pasal 2 dinyatakan bahwa Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesioanl sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya disebutkan pula bahwa sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan, dan Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi atau ditunjuk pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari kepemilikan sertifikasi pendidikan, maka guru akan memperoleh penghasilan di atas kebutuhan minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan perundang-undangan, Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Pemerintah memberikan tunjangan profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, dan pemberian tunjangan profesional tidak membedakan antara guru yang diangkat pemerintah maupun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, UU nomor 14 dimaksud lebih memberi makna bagi guru, dan merupakan peluang bagi guru-guru untuk dapat mengembangkan kompetensi, dan tidak mustahil menjadi momok bagi guru-guru yang memiliki kompetensi rendah, dan ini menjadi konsekuensi bagi guru dan dosen akan diberlakukannya UU tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, UU tersebut akan dapat mengangkat marwah dan martabat guru secara hakiki, karena selama ini andil dan kontribusi guru di dalam mencerdaskan anak negeri ini sepertinya dipandang sebelah mata, dan memandang profesi guru sebagai profesi biasa. Ini terjadi selama ini direpublik ini, sehingga masa depan guru suram dan profesi guru tidak menjanjikan, bahkan terkesan dilecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU guru dan dosen, seperti Pasal 8 menyatakan bahwa : Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sertifikasi pendidikan akan dapat diperoleh bilamana guru telah memiliki kualifikasi akademis minimal S-1/D-IV sejak pendidikan anak usia dini sampai pendidikan menengah. Kemudian guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional, sebagaimana dipersyaratkan oleh UU. Setelah uji kompetensi tersebut, barulah guru dan dosen memiliki sertifikasi pendidik, dan barulah akan terangkat marwah dan kehidupan guru secara hakiki, yakni hidup sejahtera dengan penghasilan yang layak sebagaimana yang dicita-citakan oleh setiap guru Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh sertifikasi pendidik tidak semudah membalikkan telapan tangan, dan perlu kerja keras para guru. Sertifikasi pendidik akan dapat diperoleh bilamana guru dengan sungguh-sungguh belajar dan tentunya sertifikasi pendidik, akan didapat oleh guru-guru yang berkualitas dan selama ini sudah menunjukan kinerja baik, dan memilih profesi guru merupakan pilihan nuraninya. Tak kalah pentingnya, adalah guru-guru yang mau belajar dan belajar, selalu mengikuti berbagai diklat-diklat, serta menyadari bahwa ilmu yang selama ini yang dimiliki terasa masih kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, kualitas guru secara pribadi terlihat dari penampilannya, dan prestasi akademiknya, serta moralitas dan tanggungjawabnya di dalam mengerjakan tugas dan tanggungjawab profesinya, serta wawasan keilmiah dan intelektualnya, baik di dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas maupun di lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi pendidik harus dimiliki oleh setiap guru, dan untuk memperolehnya tentunya memerlukan berbagai persiapan, baik mental maupun ilmunya, dan bukan sesuatu yang ditakuti. Akan tetapi bila kita sudah mempersiapkan diri belajar dan terus belajar, maka sertifikasi pendidik akan dapat kita peroleh, dan bila sudah kita miliki, maka tentunya akan dapat secara perlahan tapi pasti merubah kesejahteraan guru.&lt;br /&gt;Nama (Penulis): Isjoni&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-560290264509160698?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/560290264509160698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=560290264509160698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/560290264509160698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/560290264509160698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/uu-guru-dosen-dan-sertifikasi-pendidik.html' title='UU GURU-DOSEN DAN SERTIFIKASI PENDIDIK'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3012304626626580704</id><published>2009-01-02T19:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:12:15.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pendidikan kontekstual</title><content type='html'>Pendidikan kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah berbagai persoalan yang kerap diseru oleh para praktisi pendidikan; dari mulai sekolah mahal, kesenjangan kualitas pendidikan di kota besar dan kecil akibat tidak adanya standarisasi antara kualitas ajar, keterbatasan bahan ajar, penghasilan guru yang pas-pas-an hingga bangunan sekolah yang tidak layak huni. Di kota besarpun walau terlihat lebih terfasilitasi tetap terganjal persoalan mahalnya cost yang dikeluarkan agar anak dapat mengecap sekolah bermutu. Walau definisi sekolah bermutupun belum jelas pula. Biasanya lebih terkait dengan fasilitas fisik bangunan, latar pendidikan guru, dan metoda atau acuan kurikulum yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mengikuti kegiatan seminar, para guru yang datang dari penjuru Indonesia kerapkali mengeluhkan bagaimana mungkin mereka mampu menyamai Jakarta dalam menghasilkan anak didik yang bermutu. Anak didik bermutu adalah terkait dengan siswa yang berhasil masuk universitas negeri, mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terampil berbahasa inggris dan setelah lulus mendapat pekerjaan di perusahaan besar, perusahaan asing atau minimal BUMN. Demikian opini yang terbangun dalam benak mereka. Sama sekali tidak salah kalau memang ada yang mampu menjalani mekanisme demikian. Tapi kalau kemudian hal itu dijadikan standard yang harus dicapai setiap orang, tentu menjadi salah kaprah. Konsep keberhasilan sangat luas dan mendalam, tidak bisa dikerutkan hanya pada capaian jangka pendek seperti itu. Setiap sekolah harusnya punya punya kepercayaan diri yang kuat untuk membangun konsep tersendiri dalam menjalankan fungsi akademisnya. Tidak hanya sekedar meniru sesuatu hal yang belum tentu pas dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah di daerah sekarang berlomba untuk membangun sekolah internasional, sekolah terpadu atau minimal nasional plus dengan mengutip biaya yang tidak sedikit. Sekali lagi tidak ada yang salah dengan pilihan demikian. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak terakomodir dalam sistem itu? Apakah kemudian menjadi prediksi suramnya masa depan seseorang? Yang lebih mengkhawatirkan bila rasa "gagal" tidak terakomodir dalam sekolah mahal itu kemudian menumbuhkan agresivitas aktif maupun pasif; dari yang ekstrem berupa kenakalan remaja, demonstrasi yang destruktif hingga yang lebih mendasar berupa rasa minder, menyalahkan keadaan yang tidak mendukung hingga menghujat Tuhan. Heemm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengenaskan kalau ini juga berdampak pada para pendidik. Apabila seorang guru tidak punya konsep atau visi yang kuat mengenai arti pendidikan dan tujuannya, mereka juga akan mudah terbawa pada pandangan mengenai tujuan pragmatis pendidikan. Tidak terakomodir dalam sistem yang dipandang sebagai stándar keberhasilan membuat para guru pesimis terhadap masa depan anak didiknya maupun dirinya sendiri. Pola pikir seperti itu tentu akan mempengaruhi perlakuan atau cara seorang guru dalam menangani anak didiknya. Perasaan tersisih, gagal, tidak bermasa depan, minder akan mewarnai sikap seseorang dalam menghadapi persoalan. Seolah pintu sudah tertutup, tiada celah untuk memperbaiki masa depan. Akibatnya? Mencari kambing hitam, adalah defense mechanism yang lazim dilakukan seseorang yang merasa tertekan. Tertekan oleh apa? Oleh beban pikirannya sendiri, tentu. Hal ini bisa dilihat bila dalam suatu kongres atau seminar ada wacana baru yang dihadirkan sebagai alternatif pendekatan pengajaran, para guru akan berkeluh-kesah dulu kemudian menuntut pembicara untuk segera membuat juklak yang langsung bisa dipraktekkan di tempat masing-masing. Mereka sudah lama terbiasa menjadi operator kurikulum, sehingga wacana baru tidak cukup menggairahkan mereka untuk berbuat sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun visi para pendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau disoal elemen apakah yang paling crucial untuk dibenahi, tiada lain adalah guru sebagai elemen yang paling utama. Kurikulum sekalipun hanyalah alat yang dibuat oleh manusia, ia akan menjadi sesuatu yang hidup tergantung oleh yang menyampaikannya. Menurut saya pribadi yang harus segera dibenahi adalah mengkonstruk struktur berpikir para guru mengenai pendidikan. Hal ini menjadi penting agar kita tidak mudah putus asa dan mendorong kita agar berkreativitas dengan sumber daya yang kita miliki saat ini. Saya amati, di Jakarta sekalipun, banayak sekolah kebingungan untuk mengadopsi metoda yang tepat. Bahkan ada sekolah yang mengadopsi beberapa metoda sekaligus tanpa memahami esensi atau key-point dari masing-masing metoda tersebut, sehingga prakteknya tetap tidak terlihat sesuatu yang istimewa. Menariknya ada sekolah dasar dan taman kanak-kanak yang mengklaim berbasis active learning tapi juga menggunakan pojok montessori, sekaligus multiple intellegences, dengan preferences agama tertentu. Belum lagi program-program tambahan lainnya. Ffuuih...seperti hyper-market saja layaknya. Semua ada. Prakteknya? Belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Pokoknya semakin lengkap program atau metoda, maka semakin menyakinkan untuk disebut sekolah bermutu, itu opini kebanyakan orangtua murid. Sekolah seperti ini biasa disebut sekolah terpadu, nasional plus atau berwawasan internasional:p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masing-masing kita ditanya arti pendidikan dan tujuannya, mungkin kita akan menarik garis tegas antara tataran konsep dan praktisnya. Konsep boleh setinggi langit. Tapi tetap yang menjadi capaian adalah target jangka pendek. Seperti misalnya, anak TK harus belajar calistung agar dapat masuk SD favorit, demikian pula di tahapan selanjutnya bagaimana agar siswa didik dapat melewati satu fase dan menempuh fase berikutnya. Akibatnya guru seringkali terfokus hanya dengan bagaimana caranya menyampaikan materi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bagi yang minat akademisnya tinggi didukung kemampuan mencerap / mengimitasi yang tinggi tentu tidak terlalu menjadi problem. Mereka dapat dengan mulus melampaui apa yang diharapkan dalam target materi. Yang dikhawatirkan bila pola 'menyuapi' seperti ini dibiasakan, maka anak didik akan kehilangan inisiatif, mereka hanya terbiasa meniru dan bekerja berdasar instruksi. Didikte. Tidak perduli apakah yang mereka kerjakan memiliki kontribusi bagi masyarakat sekitar atau tidak. Fenomena ini sangat rentan melahirkan pribadi egois, individualistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem menjadi lebih hebat bila anak didik tidak mampu mengikuti standard tersebut. Akibatnya guru dengan mudah melabeli anak dengan sebutan tertentu dan mengirim anak pada psikolog atau guru BP. Bahkan bagi guru yang lugu, mereka akan dengan mudah menyebut anak didik mereka ber-IQ rendah. Mengenaskan sekali, sudah miskin, tinggal di desa IDT yang terbelakang, kemudian dianugerahi otak yang bodoh pula. Itu keluhan para pengajar di daerah. Tapi menariknya dengan kondisi yang serba terbatas demikian, toh mereka tetap mampu berdikari, dapat bertahan hidup, beranak-pinak membangun keluarga turun temurun. Pasti ada kecerdasan tertentu yang diberikan alam sehingga mereka dapat bertahan. Kalau mereka bodoh pasti kelompok mereka sudah lenyap dari muka bumi. yang menjadi masalah mungkin adalah cara penyampaian yang tidak tepat bagi komunitas tertentu. Guru cenderung menyampaikan sesuatu sesuai dengan pengalaman yang ia terima, ia kemudian hanya melakukan pengulangan. Mengimitasi dari pola yang telah ia pelajari. Tentu akan terjadi banyak benturan bila fokus kita hanyalah pada metoda tertentu, hanya berbasis pada pola pengajaran yang pernah kita terima semasa sekolah dulu. Tanpa didukung oleh visi yang jelas dan kuat yang terinternalisasi didalam diri, kita akan mudah terjebak pada penghitam-putihan. Tidak terbangun motivasi atau inspirasi untuk mengkreasi suatu hal yang baru. Kita terbiasa berpikir linier; bila tidak A, maka gagal. Bukannya bila tidak A maka ada B, C, dst, sebagai ciri orang yang mampu berpikir lateral atau kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak mau berkutat dengan persoalan mendefinisi arti dan tujuan pendidikan. Setiap orang harus mampu membangun visi tersebut dalam dirinya masing-masing. Kalaupun ada tokoh atau instansi tertentu yang mampu menelorkan visi yang bernas mengenai pendidikan, tetap menjadi kerja berat dalam mensosialisasikannya agar berbuah menjadi tindak laku nyata, tidak sekedar menjadi slogan semata. Bagi saya pribadi, konsep pendidikan yang terpahami adalah bahwa setiap orang dilahirkan dengan membawa talenta dari Tuhan. Tugas pendidik adalah mencari cara dalam mendidik yang tepat agar dapat memancing talenta tersebut, mengasahnya agar dapat memberikan manfaat bagi umat. Talenta dimaksud tentu luas sekali, tidak terbatas dengan produk yang kita kenal sekarang. Kita harus berangkat pada pemikiran bahwa anak didik kita membawa sesuatu yang belum kita kenali. Namun tetap ada clue yang secara umum bisa kita tengarai, yaitu lingkungan dimana ia tinggal dan dibesarkan sebagai salah satu aspek penting dalam mengenali jati diri pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif solusi: pendekatan kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita amati bagaimana masing-masing daerah memiliki keunikan dari ragam hayati dan nabatinya? Dari kondisi geografisnya? Dari manusianya?. Misalnya, mengapa kota Malang terkenal dengan apelnya? Kota peliatan terkenal dengan penari legongnya? Kota Garut terkenal dengan dombanya? Kota Bunaken terkenal dengan taman lautnya? Bugis terkenal dengan para pelaut tangguhnya? Dan kota Ampek angkek terkenal dengan penjahit ulungnya?. Belum lagi bahasanya yang unik, tiap daerah punya kosakata berbeda untuk menyatakan sesuatu, dengan kekayaan aksen dan logat yang spesifik pada masing-masing daerah. Bayangkan keterampilan yang dimiliki setiap suku bangsa, kita tidak akan menafikannya, bukan?. Kehidupan keseharian para penduduk yang belajar melalui alam menjadi aset penting bagi kita dalam menemukan metoda yang pas dalam mendidik mereka. Guru harus berupaya menemukan metoda dengan memberdayakan potensi lokal, yang berbasis pada kebutuhan kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kelemahan pendidikan kita adalah me'menara-gading'kan pendidikan dengan tidak menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Pembelajaran seolah menjadi materi tersendiri yang tidak berkesinambung dengan kehidupan keseharian. Materi yang diberikanpun tidak terintegrasi satu sama lain. Secara logika, bagaimana mungkin belajar ilmu bumi dengan memisahkan antara fisika, biologi, kimia dan matematika?. Contoh riil, ketika seorang anak belajar mengenai tumbuhan, harusnya dia belajar bagaimana proses menanam tanaman, juga mempelajari proses kapilarisasi, meneliti unsur kimia tanah / hara yang mempengaruhi perkembangan tanaman, mengamati proses fotosintesa, mengukur tiap inchi perkembangannya, mempelajari bentuknya, menghapal nama latin dari bagian-bagian tanaman, menggambar, membuat prakarya dari bagian tanaman, belajar cycle of life dari tanaman tersebut, dan sebagainya. Project akhirnya adalah membuat presentasi; entah berupa unsur tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, mendisain operet mengenai kehidupan imajinasi tanaman, atau sekedar menceritakan salah satu proses yang telah mereka pelajari. Menarik bukan? Dari satu tema semua materi dapat terintegrasi. Apalagi kalau daerah tersebut memiliki lahan luas seperti pedesaan dan berbasis agrobisnis, wah pasti akan lebih kaya lagi materi yang bisa digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ini bisa dilaksanakan, maka kita tidak akan terfokus pada ruang-ruang kelas yang statis, keluhan standarisasi kurikulum, kurangnya fasilitas hingga keterbatasan guru. Kita bisa menyertakan masyarakat sekitar yang handal dalam bidangnya untuk terlibat dalam project sesuai tema yang ditetapkan. Dan utamanya, anak didik menjadi berperan aktif untuk mengeksporasi minatnya, tanpa dibatasi kekhawatiran atas mata pelajaran tertentu. Tumbuhnya minat tersebut yang akan memotivasi mereka untuk belajar secara mandiri, tanpa didikte guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sekolah sudah membuktikan keberhasilan dengan pendekatan kontekstual, ingat 3 siswa SMP alternatif Qaryah Thayyibah di salatiga , yang berhasil lulus ujian nasional? Dari seluruh siswa kelas 3, hanya mereka yang mengikuti ujian tersebut. Alasannya sekedar ingin menguji apakah mereka dapat mengikuti standar yang diberikan. Nyatanya mereka dapat lulus. Padahal mereka belajar mandiri. Teman-temannya yang lain bahkan sudah tidak mempedulikan dengan ujian tersebut karena asyik menyiapkan project masing-masing. Mereka demikian percaya dirinya dengan keputusan yang mereka ambil yang cenderung "melawan arus", dimana saat itu setiap orang berlomba agar dapat lulus ujian walau dengan menempuh cara-cara yang tidak dibenarkan. Di Jogyakarta ada sebuah TK yang mengembangkan pendidikan prasekolah komunitas yang mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya. Mereka menggunakan istilah racik-racik untuk melatih motorik halus, ngewot galengan atau meniti pematang sawah sambil belajar dan dolanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian ini hanya merupakan wacana yang membutuhkan lebih banyak diskusi untuk mematangkan detilnya. Lebih urgensi lagi, dibutuhkan keberanian dari masing-masing diri untuk menguji-coba wacana ini hingga dapat diimplementasi dalam sistem pendidikan kita. &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Dian Noviyanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3012304626626580704?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3012304626626580704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3012304626626580704' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3012304626626580704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3012304626626580704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pendidikan-kontekstual.html' title='Pendidikan kontekstual'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-398747920811308054</id><published>2009-01-02T19:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:10:46.362-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Metoda di TK</title><content type='html'>Metoda di TK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah alasan orangtua memasukkan anak balitanya ke TK? Umumnya jawaban yang diberikan adalah agar anak memiliki teman bermain atau kesempatan untuk bersosialisasi, yang kedua adalah untuk mempersiapkan anak masuk SD. Bila disimpulkan yang tersirat, intinya orangtua ingin agar anaknya dapat belajar dengan baik semenjak dini. Karena bila dikaji alasan pertama yaitu agar anak dapat bersosialisasi, merupakan gambaran harapan orangtua agar anak lebih termotivasi mempelajari keterampilan tertentu melalui teman-temannya, sehingga anak yang penakut misalnya jadi bisa lebih berani, anak yang masih cadel jadi punya kesempatan melatih alat motorik bicaranya, atau anak yang susah makan siapa tau jadi lebih mudah makan bila disambi kegiatan bermain bersama sebayanya. Begitupula dengan alasan kedua, agar anak dapat mengikuti proses belajar dengan baik di tingkatan selanjutnya, maka anak dianggap perlu melalui jenjang TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, mungkin alasan tersebut bisa diterima. Akan berbeda jadinya bila terjadi case tertentu, misalnya, pada anak yang dominan aspek intrapersonalnya atau aspek eksistensial-nya; merupakan tipikal anak yang cenderung perenung, suka memikirkan sesuatu hingga mendalam, maka tampilannya mungkin akan terlihat introvert, penakut dan tidak mudah untuk menjalin relationship dengan sembarang orang. Anak seperti ini akan terlihat bermasalah dalam pandangan guru TK dan pasti akan semakin digiatkan agar ia dapat bertingkahlaku sebagaimana umumnya target anak bersekolah di TK; agar dapat bersosialisasi. Wah, pertanda mulai akan terjadi penghancuran dalam diri anak. Karena anak akan dipaksa secara halus maupun terang-terangan untuk mulai merubah karakter atau watak dasarnya. Tidak heran kalau kemudian timbul berbagai persoalan dalam proses belajar. Anakpun menjadi tidak nyaman dengan sekolahnya. Kalo anak terlihat tidak nyaman dengan sekolahnya pertanda sekolah tersebut tidak pas dengan dirinya jangan dibalik bahwa anak tersebut yang bermasalah sehingga tidak dapat menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh pendidikan, Piaget namanya, menyebutkan adanya konsep "keseimbangan" (Equilibrium), dimana hal ini akan tercapai bila input dari luar/lingkungan sesuai atau pas dengan pengetahuan dalamnya (inner knowledge), Piaget percaya bahwa setiap anak yang lahir sudah membawa pengetahuan atau content tertentu dalam dirinya, nah fungsi pendidik adalah mencari dari lingkungan atau semesta sekitarnya "sesuatu" yang pas dengan content tersebut agar tercapai keseimbangan. Tentunya "sesuatu" itu sangat spesifik pada setiap anak. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro tentang pendidikan berbasis kultur artinya pendidikan harus mampu mencapai kesempurnaan lahir dan batin (luar dan dalam, inner to outer). Pendidikan yang baik harus mampu menyentuh aspek jiwa atau batin seseorang tidak hanya terfokus pada capaian raga semata. Jadi, kita harus mulai teliti mengamati kekhas-an anak kita yang dapat dikenali dari kecenderungannya, minatnya, tipikal kepribadiannya. Walaupun minat dan kecenderungan tersebut juga belum tentu minat sejatinya, karena peran lingkungan turut mewarnai pilihan anak terhadap sesuatu. Paling tidak pengamatan kita bisa menjadi data awal yang akan membantu proses pengenalan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak ke alasan kedua, lazimnya setiap jenjang adalah proses persiapan untuk mengikuti jenjang berikutnya. Maka anak masuk TK agar siap masuk SD, anak masuk SD agar mudah mengikuti fase berikutnya, nah kalo sudah diperguruan tinggi bagaimana? Apakah bila kita masuk perguruan tinggi agar mudah mengikuti materi pelajaran di S2? Atau bagaimana? Karena masuk lapangan kerja pun mereka tidak siap pakai, Perguruan tinggi selalu berdalih bahwa mereka bukan bengkel kerja yang siap menelurkan montir. Anyway, balik ke TK lagi deh, kalo targetnya adalah untuk mempersiapkan anak masuk SD, guru kemudian cenderung memberikan materi bayangan atau bahkan materi sesungguhnya yang akan dipelajari di SD, umumnya yang disebut calistung (baca, tulis, hitung) itu. Yang terjadi kemudian anak seperti dijejalkan materi-materi sejak awal, pelajarannya dipercepat, setiap hari mereka bersikejar dengan pencapaian keterampilan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak tidak mampu mengikuti, akan dilabeli sebagai anak bermasalah. Treatment yang diberikan adalah drill terhadap sesuatu yang justru menjadi kelemahannya, misal, bila anak tertinggal membaca, maka ia harus mengikuti pelajaran tambahan membaca. Bisa dibayangkan kemampuan seorang anak yang sebenarnya sangat kompleks kemudian di kerutkan hanya dominan pada domain calistung itu. Bukannya fokus pada aspek kekuatan/kelebihan anak, melainkan fokus pada kelemahan anak. Tidak heran kalo generasi sekarang adalah generasi yang cenderung minder, selalu melihat keluar, tidak bangga dengan apa yang ada dalam dirinya, tidak punya inisiatif karena kita cenderung hanya berpatokan pada trend. Contohnya, karena negara luar dianggap hebat, semenjak dini anak-anak kita masukkan ke sekolah yang berbahasa pengantar Inggris atau mandarin. Bukan tidak penting sih belajar bahasa asing, tapi belum pas untuk usia dasar, ada waktu yang tepat bagi anak untuk mulai belajar bahasa atau kebudayaan asing. kita perlu paham kapan waktunya anak kita mulai belajar sesuatu. Pada tiap tahapan usia ada aspek yang perlu dibangun kokoh terlebih dahulu sebelum beranjak belajar materi-materi praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang balik lagi nih, kalo ada pertanyaan untuk apa sih sebenarnya anak masuk TK? Kalo menurut saya sih untuk menumbuhkan minat dia dalam memahami sesuatu dan sebisa mungkin mengakomodir kebutuhannya. Ada beberapa metode yang memungkinkan seorang anak diakomodir sesuai minat dan keinginannya, misalnya: metoda Multiple Intelegences dimana pembelajaran dimulai dari mengenali minat anak terhadap sesuatu. Misalnya saja bila anak minat di musik, maka dia akan distimulasi dengan berbagai materi yang akan menguatkan minat tersebut. Walaupun harus disadari juga bahwa minat belum tentu sinergi dengan bakat. Harus hati-hati jangan sampai ia frustrasi karena ia merasa suka musik tapi kok sulit memainkan alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diamati kecenderungan temporer anak pada umumnya yang sangat dipengaruhi karakter perkembangan yang khas dan bentukan lingkungan sekitar. Bagaimanapun seorang anak sangat kompleks, memiliki keterampilan ganda, dan tidak partial, sangat memungkinkan bagi seseorang untuk menguasai berbagai keterampilan dengan baik, tidak hanya spesifik pada satu hal. Karena itu anak perlu dikayakan dengan banyak mengenal berbagai hal agar terpancing keingin-tahuannya, bila "sesuatu" yang dikenalkan itu telah menyentuh aspek rasa anak, menyentuh pengetahuan dalam, aspek batinnya, maka seperti yang dikatakan Piaget; ia telah mencapai keseimbangan, yang akan membuat ia kuat dalam menghadapi gempuran pembelajaran praktis di fase selanjutnya. "Keseimbangan" tersebut akan menentukan bagaimana seorang anak menghadapi persoalan dalam hidupnya kelak. Karena itu penting bagi orangtua maupun pendidik untuk mengenal jati diri seorang anak yang merupakan innate dari Tuhan yang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula menurut Ki Hajar Dewantoro yang secara lebih spesifik menyatakan bahwa bagaimanapun metoda yang diaplikasi sebuah TK yang baik harus mampu memberi kesempatan bagi anak untuk dapat mengenal: kesenian, keindahan, rasa agama dan kesusilaan. Keempat hal tersebut merupakan dasar yang bila terbentuk dengan baik akan membuat anak mencapai "kematangan". "kematangan" tersebut penting karena merupakan tanda bahwa anak telah siap dalam menjalani kehidupan dengan baik, siap untuk belajar menghadapi fase pembelajaran dijenjang berikutnya yang cenderung praktis, dogmatis dan hapalan. "kematangan" yang dimaksud adalah tidak terlepas dari persoalan pengenalan jati diri anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut, saya ingin mengelaborate sedikit ajaran KiHajar dari ke-empat hal mendasar yang perlu dipenuhi dalam usia dini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian, mengapa kesenian menjadi hal utama? Sebab kesenian adalah representasi dari khasanah suatu daerah, yang mengandung filosofi tertentu, tercakup didalamnya nilai yang dianut suatu suku tertentu, kebiasaan hidup, karakter masyarakat, bahkan kondisi geografisnya. Setiap daerah memiliki ke-jati-diri-an masing-masing. Sebelum mengenal jati diri individu setiap anak, penting untuk menenal jati diri tempat dimana ia dibesarkan atau budaya orangtuanya, karena setiap anak merupakan archetype dari orangtuanya. Dalam kitab suci, bahkan bahasa suatu daerah pun diajarkan langsung oleh malaikat atau "orang-orang terang". Suatu daerah mengandung misi ke-Illahiyah-an yang tinggi. Beruntung kita hidup di nusantara yang sangat kaya khasanah budaya dan seninya, perkenalkan anak dengan keragaman musik tradisional tersebut, dengan sering melihat pertunjukan langsung pentas seni tradisional, misalnya. Dalam tarian misalnya, tema tari-tarian menunjukkan apa yang menjadi aspek penting dalam masyarakat tertentu. Dari tarian minang temanya seperti; tari panen, tari piring, tari alang babega yang gerakannyapun cenderung maskulin, lebar, terentang (large muscle), sering menghentak kaki, musiknyapun jenis tetabuhan yang mudah ditebak ritmenya, sesuai dengan karakter mereka yang cenderung apa adanya, ekspresif, sedikit agresif, tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ada juga aspek romantismenya yang digambarkan dari alat musik saluang, biasanya digunakan untuk acara penyambutan tamu atau menyambut pengantin. Sementara tari jawa dan sunda diawali dengan tarian yang bertema seorang gadis yang sedang berdandan bersiap untuk dipinang, tahapan berikutnya, bercerita tentang kinerja seorang istri yang digambarkan dalam tari Bondan; bagaimana seorang ibu menina-bobo-kan anaknya, mencucikan pakaian sekaligus menjemur. Gerakan tari jawa cenderung halus, mengalir, langkahnya kecil-kecil, sangat feminin dan pantang mengangkat tangan melebihi ketiak. Musiknyapun sangat mengalir sehingga bila tidak konsentrasi dengan baik tidak bisa mendeteksi pergantian musik dan gerak. Tentu terkait dengan karakter masyarakatnya pula. Wah, menarik sekali kalau dikulik lebih dalam dan detil, dari satu kegiatan seni saja akan bercerita banyak tentang kompleksitas masyarakatnya dan terlihat keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa agama, nah ini menarik, karena rasa agama ini sering dipelesetkan dengan memberikan anak hapalan ayat-ayat sebanyak mungkin. Semakin banyak hapalan atau semakin sering melakukan sholat dianggap telah tumbuh rasa agamanya. Tidak mengapa bila memang keinginan tersebut tumbuh dari diri anak, misalnya saat dia mulai bertanya apa sih yang dibaca ketika sholat dan apa artinya, baru boleh orangtua mengajarkan. Tapi bila anak belum tergugah jangan dipaksa, jangan sampai waktu kecil ia terlihat mau sholat dan hapal ayat, ketika keluar dari rumah orangtuanya, itu tidak dijalankan lagi. Atau mungkin tetap menjalankan sholat tapi malah menjadi seorang yang keras, kaku, yang kerjanya menghujat orang dan merasa benar sendiri. Rasa agama mau tidak mau harus distimulasi dari orangtuanya sendiri, kalau ia menyaksikan betapa damai wajah orangtuanya selesai menjalankan ibadah, betapa menyejukkan mendengarkan orangtua yang membaca Al-Qur'an dengan kesungguhan, niscaya akan lebih menggugah ia. Tapi rasa agama ini juga tidak terbatas pada aspek ritual semata, ketika mulai tumbuh pertanyaan tentang semesta, misal, kalo orang meninggal atau hewan kesayangannya mati pergi kemana, laut yang dalam isinya apa, Tuhan dilangit sedang apa, aku dilahirkan untuk apa kalo jadinya malah sering dimarahi papa-mama? Merupakan pertanda mulai tumbuh keinginan untuk mengenal sesuatu yang lebih sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusilaan, pada aspek ini, anak diajarkan bagaimana berinteraksi dengan sesama, dengan semesta, termasuk dengan benda-benda mati. Umumnya anak, kalo kejeduk pintu misalnya cenderung memukul pintu itu sebagai ekspresi kekesalannya, kita bisa ajarkan misalnya dengan mengataka;, maaf ya de, pintunya pingin ngasih tau ade agar hati-hati eh ga kedengaran suaranya jadi kejeduk deh. Yang pada intinya adalah agar kita pun menjaga interaksi dengan barang yang menjadi amanah kita. mulai belajar mengahargai sesuatu yang ada disekeliling kita, pun terhadap benda mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain ketika ia ingin memetik bunga, kita katakan: bunga, maaf ya aku suka kamu, boleh aku petik ya, satu aja, nanti bunga tumbuh yang banyak lagi ya. Kesusilaan hendaknya lahir dari kesadaran anak, boleh saja diajarkan tapi sekali lagi jangan memaksa, misalnya, memaksa anak agar selalu menggunakan tangan kanannya untuk merespon pertama kali entah untuk salaman, makan, menulis, mengambil sesuatu dan sebagainya. Perhatikan, respon awal bayi dan anak kecil adalah menggunakan tangan kiri, karena terkait dengan kreatifitas. terlalu fokus dengan penggunaan satu tangan tertentu saja akan mematikan aspek kemampuan lainnya. Kesempatan bagi orangtua untuk mengoptimalkan penggunaan kedua tangannya, misalnya diajarkan memegang alat tulis menggunakan kedua tangannya, salaman dengan menggunakan kedua tangannya (ala sunda), makan dengan menggunakan tangan secara bergantian. Pada fase tertentu mereka akan mencapai kematangan untuk menentukan kapan ia menggunakan tangan kanan, kiri atau keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang perlu kita siapkan sebagai langkah awal adalah menajamkan pengamatan terhadap perkembangan masing-masing anak. Dan mulai menghargai anak dengan tidak memaksakan kehendak maupun nilai-nilai sepandangan kita. Bahwa mereka memiliki kekhas-an masing-masing -yang hanya mereka sendiri yang dapat menemukannya- dan memiliki masa depan yang mungkin tidak terimajinasi dalam pikiran kita. &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): dian noviyanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-398747920811308054?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/398747920811308054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=398747920811308054' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/398747920811308054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/398747920811308054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/metoda-di-tk.html' title='Metoda di TK'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-6651476079601709185</id><published>2009-01-02T19:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:09:39.363-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH</title><content type='html'>TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lahir ke dunia, ummat manusia diwajibkan oleh Allah SWT untuk menuntut ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam al qur'an ayat pertama yang berbunyi: IQRA' (Bacalah). Ayat ini mensiratkan bahwa umat islam harus menjadi orang-orang yang pintar, dan upaya yang dapat ditempuh agar bisa pintar adalah, harus belajar (menuntut ilmu). Hal ini dipertegas oleh hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya "Menuntut ilmu adalah wajib bagi kaum laki-laki dan perempuan". Dalam hadits lain yang artinya "Tuntutlah ilmu walaupun di Negeri Cina".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat serta Hadits Nabi di atas mengingatkan kepada kita betapa pentingnya menuntut ilmu. Allah menghendaki kita semua menjadi insan yang pintar agar tidak mudah diperdaya dan agar lebih mudah mensikapi serta menjalani hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya proses pendidikan manusia didapati melalui tiga sumber, yaitu (1) pendidikan Orang Tua, (2) pendidikan sekolah (pendidikan Formal), dan (3) pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendidikan Orang Tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak merupakan amanah Allah kepada orang tua (Ibu, Bapa). Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda: "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu-bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Malik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak lahir ke dunia, maka kewajiban orang tuanyalah yang mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang terdidik dan pintar. Dalam arti kata bahwa kreativitas anak erat hubungannya dengan pola asuh yang diberikan oleh orangtua. Mendidik anak pada hakikatnya merupakan usaha nyata dari pihak orang tua untuk mengembangkan totalitas potensi yang ada pada diri anak. Melalui pendidikan, orang tua memegang peranan sebagai mediator antara anak dan masyarakatnya, antara anak dengan norma-norma kehidupan, antara anak dengan orang dewasa dan sudah tentu dengan visi orang tua masing-masing. Melalui pendidikan dalam keluarga anak akan memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang untuk belajar terhadap respon-respon yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan pendidikan agama sedini mungkin menjadi faktor utama pembentukan karakter dan jiwa anak. Dengan agama akan tercapai keseimbangan lahir dan batin. Pendidikan agama harus di tanamkan sejak kanak-kanak dengan membiasakan anak bertingkah laku dan berakhlak sesuai ajaran agama. Pendidikan agama ini mempunyai dua aspek penting: Pendidikan agama bertujuan menumbuhkan jiwa atau peribadi yang syarat dengan muatan peraturan yang baik sesuai dengan ajaran agama, Pendidikan agama merupakan pemenuhan aspek kognitif dari anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat orang tua (ibu dan bapak) merupakan orang yang paling banyak berinteraksi langsung dengan anak-anaknya, maka orang tua harus mendidik anak dengan serius dan tulus. Jauhi anak-anak dari didikan yang tidak mendidik, misalya sejak kecil anak-anak sudah diperdengarkan ucapan-ucapan kotor dan kasar, terlalu memanjakan anak, mencontohkan perilaku yang suka lalai dalam ibadah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendidikan Sekolah (Pendidikan Formal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pendidikan kedua adalah pendidikan Sekolah (Pendidikan Formal). Secara umum pendidikan sebagai kebutuhan hidup, memainkan peranan sosial atau dukungan terhadap pertumbuhan dan juga memandu perjalanan umat manusia, baik itu perorangan, masyarakat, bangsa dan negara. Maka posisi pendidikan menjadi sebuah kegiatan yang merangkum kepentingan jangka panjang atau masa depan. Bukan sekedar kebutuhan dalam pengertian yang umum, tetapi sebagai kebutuhan mendasar. Pendidikan juga sering disebut sebagai investasi sumber daya manusia, dan sebagai modal sosial seseorang. Sehingga tidak akan mungkin selesai, tetapi berkelanjutan. Jadi membicarakan pendidikan adalah membicarakan masa depan. Dan masa depan selalu mengalami perubahan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum ahli pendidikan masa depan Alvin Pufler menegaskan bahwa pendidikan terkait dengan perkembangan masa depan. Rasulullah Muhammad SAW telah bersabda "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka adalah anak generasi zaman berbeda dengan zaman kamu". Jadi harus memberikan hal-hal yang terkait dengan pertumbuhan, perubahan, pembaharuan, dan juga hal-hal yang terus berlangsung. Karena hidup itu terus berlangsung, maka menangani pendidikan sebetulnya sama dengan menangani masa depan. Oleh karena itu harus terus-menerus diperbaharui, dipertegas dan dipertajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulallah Muhammad telah menyampaikan bahwa pendidikan itu dimulai dari bayi sampai liang lahat. Kemudian muncul istilah belajar sepanjang hayat, life long learning, pendidikan usia dini, dan sebagainya. Itu istilah-istilah akademis, dalam prakteknya sudah berjalan. Agar hal itu menjadi sistematis maka dibangunlah sistem, sehingga setiap negara membangun sistem pendidikannya. Dan tentu hal itu semua dikaitkan dengan lingkungan geografis, sospol, agama dan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UUD 45, setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan pendidikan bahkan wajib memperoleh pelayanan pendidikan yang baik. Karena pendidikan adalah untuk masa depan yang tidak bisa mudah diprediksikan tentu dengan UUD tersebut dapat lebih mudah diprediksi. Tentu hal ini memerlukan dukungan fasilitas dan biaya yang luar biasa besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di sekolah akan membuka wawasan berfikir anak. Empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal (Sekolah/Perguruan Tinggi), yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat pilar pendidikan tersebut diharapkan mampu diaplikasikan oleh peserta didik setelah mengenyam pendidikan formal di sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan demikian, tuntutan pendidikan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengalaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping pendidikan Orang Tua, Pendidikan Formal (pendidikan yang diselenggarakan di Sekolah maupun Perguruan Tinggi), proses pendidikan juga bisa didapat melalui pengalaman. Orang bijak bilang "pengalaman adalah guru terbaik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan bisa kita peroleh melalui pengalaman berdasarkan fenomena-fenomena yang kita lihat, kita saksikan, dan kita alami melalui proses interaksi dengan lingkungan tempat di mana kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu sebetulnya tidak harus pengalaman diri sendiri, tetapi, pengalaman orang lain juga merupakan guru terbaik. Meniru pengalaman orang-orang yang sukses juga akan lebih baik. Mungkin ada yang mengatakan tidak mungkin menemukan jalan yang sama persis. Betul, tetapi kita akan menemukan bagaimana orang berhasil menghadapi rintangan dan bagaimana mengatasinya. Misalnya, tentang terpaan dan didikan keras dari orang tua sehingga mereka dulu kehilangan masa remaja, disiplin terhadap waktu, ketaatan pada janji, pergi pagi sekali ketika orang masih terlelap, pulang saat larut malam, terus mencoba sesuatu tanpa putus asa, menjaga kepercayaan, dan masih banyak lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjemput masa depan adalah sebuah proses. Di situlah peran pendidikan. Pendidikan tidak pernah berakhir, yang dikenal dengan istilah Life Long Education. Pendidikan adalah aset masa depan dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Makin banyak dan makin tinggi pendidikan seseorang makin baik, bahkan, tiap warga negara diharapkan agar terus belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan merupakan faktor prioritas yang perlu dibangun dan ditingkatkan mutunya. "Belajarlah, karena tuhan tidak menginginkan kita bodoh. Tuhan menginginkan kita pintar." Ingat, "Kecantikan yang abadi terletak pada keelokkan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya." "Tidak ada orang yang bodo di dunia ini, yang ada hanyalah orang yang malas belajar (menuntut ilmu)." &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): M. Sobry Sutikno&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-6651476079601709185?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/6651476079601709185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=6651476079601709185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/6651476079601709185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/6651476079601709185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/tuhan-menghendaki-kita-pintar.html' title='TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3052092651577947895</id><published>2009-01-02T19:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:05:32.270-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>BAGAIMANA MEMBERIKAN PENDIDIKAN</title><content type='html'>BAGAIMANA MEMBERIKAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;UNTUK ANAK-ANAK ANDA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya. Warisan alami yang dibawa setiap jiwa ke bumi; hampir semua sikap buruk yang diperlihatkan manusia apa adanya merupakan apa-apa yang didapatkan setelah mereka dilahirkan kebumi. Ini menunjukkan bahwa kebaikan itu bersifat alami sementara kejahatan tidak alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir luas tentang kehidupan yang berkaitan dengan anak bukan hal yang mudah. Namun kita harus ingat bahwa orang dewasa sering menyepelekan kapasitas pikiran seorang anak, yang sebetulnya seringkali lebih berkeinginan untuk mengerti dan lebih mampu memahami sesuatu daripada seorang dewasa. Meskipun Anda tidak bisa memulai pendidikan anak dengan subyek yang mendalam, anda dapat selalu menyimpan desain besar yang Anda lihat dan ingin Anda raih dihadapan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesalahan terbesar pendidkan modern, dengan segala metode melatih anak yang mutakhir, adalah telah kehilangan sesuatu yang paling penting, yaitu: pelajaran tentang sifat tidak mementingkan diri sendiri. Orang mungkin berfikir bahwa seseorang yang tidak mementingkan diri sendiri tidak akan mampu untuk menjaga kepentingan hidupnya sendiri; akan tetapi dalam kenyataan nampaknya tidak demikian. Orang yang mementingkan dirinya sendiri mengecewakan orang lain dan pada akhirnya merugikan dirinya sendiri. Manusia itu bebas, saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan kebahagiaan setiap orang tergantung pada kebahagiaan semuanya. Pelajaran inilah yang harus dipelajari orang-orang sekarang sebagai pelajaran pertama sekaligus terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia merupakan hasil seluruh ciptaan, sumber keindahan yang nyata. Tujuan penciptaan adalah keindahan. Oleh karena itu, jelas bahwa tujuan hidup adalah untuk berkembang ke arah keindahan. Alam, dalam semua aspeknya yang beraneka, berkembang menuju keindahan. Oleh karena itu, jelas bahwa tujuan hidup adalah untuk berkembang ke arah keindahan. Dalam mendidik anak, pertimbangan pertama haruslah bahwa benih keindahan ditebarkan dalam hati mereka. Saat tanaman itu tumbuh dia harus dirawat dengan sabar. Kesuburan tanaman itu menjadi kebanggaan orang yang menanamnya sehingga perkembangan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Orang tua harus belajar untuk menjadi contoh bagi anak-anak mereka. Tidak ada teori yang dapat mendatangkan pengaruh jika tidak disertai praktik. Wajar jika orang tua berharap anak-anak mereka berbeda dan lebih baik dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran pertama yang dibutuhkan seorang anak adalah menyelaraskan pemikiran, perkataan, dan tindakannya. Segala hal dalam kehidupan ini, lahir-batin, luar-dalam saling bereaksi. Oleh karena itu, sedikit pengetahuan tentang nada dan irama penting di awal pendidikan anak. Anak harus diajari unsur-unsur musik mengenai pola titi nada yang akan menghubungkannya dengan teman-teman, dengan orang-orang yang belum ia kenal, dengan orang tuanya, ketika bermain atau berada di satu meja yang sama; dalam kondisi yang bervariasi ia harus bisa merasakan pola titi nada berbeda. Anak harus diajari bagaimana membuat pilihan kata-kata saat berbicara kepada orang-orang yang berlainan, kepada orang asing, kepada teman-temannya, kepada pelayan dirumah, membuat suara lebih keras atau lebih lembut harus dilakukan dengan pemahaman. Seorang anak harus diajari untuk berbicara dan bertindak sesuai dengan kondisi yang berlaku pada saat itu. Tertawa pada saatnya tertawa, serius pada saat keseriusan dibutuhkan. Dalam segala hal yang dilakukannya, ia harus mempertimbangkan dan memikirkan kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran anak lebih aktif daripada orang dewasa, untuk dua alasan. Yang pertama, pikiran anak tumbuh dengan energi yang besar, yang membuatnya aktif selama masa pertumbuhannya, karena itu anak selalu tidak tenang baik dalam pikiran maupun dalam tindakan. Seorang anak di satu ruangan dapat membuat orang merasa ada seratus anak di sana. Anak tidak pernah diam, ia senang menggunakan mental dan energi fisiknya dengan berbagai cara sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi perhatian agar pendidikan untuk anak-anak harus dipertimbangkan dari lima sudut pandang yang berbeda: fisik, mental, moral, sosial, dan spiritual. Jika satu sisi berkembang dan sisi lainnya tidak, secara alami anak akan menunjukkan beberapa kekurangan dalam perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pemerintah sudah pasti bertanggung jawab atas pendidikan bagi masyarakat. Pendidikan ini harus disusun sedemikian rupa sehingga baik orang miskin maupun kaya memiliki kesempatan yang sama dalam sebuah pembelajaran yang terdiri dari lima spek pendidikan yang disebut di atas. Ketika pembelajaran ini selesai, anak-anak bisa mengambil profesi apapun yang mereka sukai. Jika mereka menginginkan pendidikan lebih lanjut mereka bisa mendapatkannya dengan harta mereka sendiri jika mereka mampu (atau bantuan pendidikan yang bisa didapatkan dari pemerintah). Namun pendidikan yang penting harus diberikan kepada setiap anak oleh masyarakat. Pembelajaran pendidikan bisa diringkas dan dibuat menjadi pembelajaran pendidikan umum; anak tidak hanya harus diajari untuk membaca dan menulis, tapi juga untuk memiliki sebuah gagasan serba bisa dalam hidup dan bagaimana menjalani hidup yang paling baik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan fisik dapat diberikan, bahkan sejak bayi, dengan bantuan musik. Seseorang bayi harus diusahakan untuk menggerakkan tangan dan kakinya ke atas dan ke bawah, dan saat ia tumbuh ia harus diajari untuk melakukannya secara ritmik. Ketika anak tumbuh, saat ia dapat menari dan memainkan beberapa permainan yang berbeda, gerak badan harus diajarkan. Dengan cara seperti ini anak-anak akan diuntungkan, mereka tidak merasa bosan dan menganggap ini sebagai rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, makanan yang bersih dan bergizi diperlukan oleh anak saat ia tumbuh. Ia juga harus mendapatkan waktu tidur yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Bersamaan dengan itu, harus ada waktu yang dipakai untuk beristirahat, dan harus dilakukan dengan cara tertentu sehingga anak yang cendrung untuk selalu aktif akan merasa senang melakukan istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak bagaikan tanaman yang sedang tumbuh. Tidak hanya makanan jasmani yang ia perlukan tapi juga makanan rohani. Makanan rohani yang paling baik adalah dengan mencintai anak dan membalas cintanya. Ia juga harus diajari keseimbangan, untuk menjaga agar emosinya selalu ada dalam batas dan wilayah tertentu. Anak harus diajari menggunakan kasih sayang melalui ungkapan yang manis dalam pemikiran, ucapan, dan tindakannya. Pemberian cinta yang salah akan merusak anak sehingga ia bersifat kasar, sombong, dan acuh tak acuh. Kita tidak boleh berlebihan dalam menunjukkan cinta kita kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak harus belajar untuk mengenal hubungan dan kewajibannya terhadap semua yang ada disekelilingnya. Kita harus membiarkan ia tahu apa yang diharapkan ayah, ibu, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya dari dirinya; karena mengenal hubungan satu sama lain merupakan tanda karakter manusia yang tidak ada pada binatang. Anak harus mengetahui bahwa ia bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya, bukan hanya kepada teman-temannya, tapi juga kepada seseorang yang melihatnya dengan terus menerus; bahwa sesulit apa pun keadilan yang ditegakkan di dunia, nanti ada saat dan tempat di mana keseimbangan keadilan akan menyeimbangkan segalanya. Kematian hanyalah sebuah jembatan yang harus dilalui setiap jiwa dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya. Anak harus dikenalkan dan di dekatkan pada sang pencipta alam semesta dan isinya yaitu Allah swt (Tuhan Yang Maha Esa)&lt;br /&gt;* Penulis adalah tode Dasan Kecamatan Jereweh, Sumbawa Barat. Direktur Eksekutif YNTP Research and Development, Propinsi Nusa Tenggara Barat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): m. sobry sutikno&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3052092651577947895?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3052092651577947895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3052092651577947895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3052092651577947895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3052092651577947895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/bagaimana-memberikan-pendidikan.html' title='BAGAIMANA MEMBERIKAN PENDIDIKAN'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-5663072223013676784</id><published>2009-01-02T19:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:03:56.675-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Malas, penghalang kesuksesan</title><content type='html'>Malas, penghalang kesuksesan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas, merupakan salah satu penyebab negara Indonesia ini tertinggal dengan negara lain khususnya hubungannya dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai contoh janganlah jauh-jauh dahulu ke Eropa, tapi yang dekat terlebih dahulu seperti Malaysia ataupun Singapura yang secara geografis luas negaranya maupun kekayaan alamnya jauh berbeda dengan Indonesia namun jauh berbeda pula dalam hal "manusianya", padahal dulu pelajar maupun guru-guru dari Malaysia datang ke Indonesia ini untuk belajar memperdalam ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas bisa berarti banyak hal, malas belajar (umum terjadi pada pelajar) ataupun malas dalam lingkup yang universal yaitu malas dalam mengerjakan sesuatu Tapi memang rasa malas sudah merupakan fitrah dari Tuhan dan kita harus yakin bahwa pemberian Tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut, mencoba mengambil manfaat atau hikmah dari penanganan rasa malas kita dan belajar melihat dari sudut pandang yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas itu bisa diibaratkan seperti keimanan kita yang ada kalanya meningkat dan ada kalanya menurun. Tapi ternyata kalau dilatih terus menerus dan teratur keimanan itu bisa meningkat atau setidaknya tidak menurun. Nah..begitupun dengan malas, dengan cara teratur diikuti dengan kekonsistenan kita mengerjakan metode atau cara mengatasi rasa malas, insyaallah rasa malas bisa di atasi dan bukan tak mungkin bisa berubah menjadi rajin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi terinspirasi oleh temanku yang mengatakan seperti ini, "wah..kalau ada yang nggak malas, hebatlah". Dari perkataan terdapat makna yaitu orang yang malas dengan yang rajin, yang sukses dengan yang gagal sama-sama menghabiskan waktu 24 jam perhari, yang membedakan hanyalah manajemen dan pemanfaatan waktu tersebut. Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa malas, diantaranya ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Banyak membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis bacaannya bisa bermacam-macam, buku, komik, novel ataupun majalah karena disini tidak mempermasalahkan dahulu apakah buku itu baik atau tidak untuk dibaca, tapi yang penting adalah benar terlebih dahulu, benar dalam rangka untuk membentuk kebiasaan dan sifat tidak malas karena nanti itu akan menjadi kepribadian dan karakter kita. Dampak dari membaca adalah kita akan berfikir lebih "jauh" dan akan merasa rugi jika membuat waktu kita tidak efektif dan terbuang dengan sia-sia karena telah terbiasa untuk selalu mengefektifkan waktunya dengan cara yang benar. DR. Aidh Al-Qarni dalam bukunya "La Tahzan" menuliskan "Berpengetahuan dan berwawasan luas, menguasai banyak teori keilmiahan, berfikir secara orisinil, memahami permasalahan dan argumentasi pijakannya adalah sedikit dari sekian bayak factor yang dapat membantu menciptakan kelapangan di dalam hati. Orang yang berpengetahuan luas adalah orang yang berfikiran bebas dan berjiwa teduh". Sedangkan untuk implementasi dari membaca bisa dengan mengajar, menulis, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita membaca yang benar, kemudian bertambah tingkatan menjadi baik sehingga menjadi "membaca yang benar dan baik". Baik disini mengandung arti membaca buku -buku yang bermanfaat dan baik tentunya seperti buku tentang pengembangan diri, ilmu pengetahuan maupun agama, bukan lagi buku seperti komik, novel , majalah, dsb. yang biasanya informasinya tidak berlaku untuk jangka waktu yang lama dan tentunya dari segi manfaat dan bobot isi berbeda dengan buku yang baik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika setelah membaca kita ingin mempunyai semangat, bacalah buku-buku tentang orang-orang yang sukses atau tokoh -tokoh terkenal, biasanya setelah membaca buku seperti itu, timbul semangat untuk maju dan ingin sukses seperti mereka atau bahkan melebihinya. Bukankah hidup ini harus selalu dinamis dan terus mengalami peningkatan seperti hadits yang sering kita dengar " Barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dialah orang yang diridhai atau diberi rahmat oleh Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Permainan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, ketika kita ingin melakukan sesuatu dan tiba-tiba rasa malas muncul, jangan pernah mengucapkan ataupun berpikiran negatif seperti "ah.cape nih, sepertinya tidak akan benar". Lebih baik berpikiran positif seperti "wah..sepertinya asyik nih.pasti rame, come on semangat..semangat,de el el. Karena bagimanapun juga energi yang digunakan untuk berpikiran yang negatif dengan positif itu adalah equal alias sama, jadi bukankah lebih baik apabila kita hanya memasukkan pikiran yang positif saja. Otak secara otomatis akan menerima perintah dan masukan dari kita. Kalau berpikiran malas, pasti rasanya malas terus, otak kita akan mencari alasan supaya kita menjadi malas. "Apa yang anda pikirkan akan menjadi kenyataan" (Quantum Learning). Kemudian jika kita melakukan sesuatu harus sesuai mood dan kalau tidak mood maka yang ada hanya malas, yakinlah tidak akan sempurna, seharusnya mood atau tidak, kerjakan saja. Justru mood itu datang saat kita sedang melakukan suatu kegiatan, bukan sebelum kegiatan tersebut akan dilakukan. Masalah penampakan mood itu hanya sebuah alasan sebagai persembunyian akan rasa malas tersebut. Jadi Intinya kerjakan saja dan selalu berpikiran positif, semua itu akan membuat hidup lebih hidup.. Rasa malas tidak akan pernah hilang jika kita terus berpikiran malas dan hanya menunggu malasnya hilang. Seperti slogan salah satu produk sepatu, Just Do It .!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memiliki Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bisa diibaratkan dengan sebuah kapal laut dan kitalah nahkodanya. Kalau seorang nahkoda tidak punya tujuan dan tidak mempunyai kejelasan mau dibawa kemana kapal tersebut, maka kapak itu hanya akan terombang-ambing oleh ombak dan hanya mengikuti kemana air mengalir. Dengan tujuan kita punya impian dan akan mengerahkan upaya untuk mencapai tujuan tersebut sehingga rasa malas akan tersingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah rugi kalau hidup ini layaknya kapal tadi, hanya mengikuti kemana air mengalir, tidak punya suatu kejelasan. Hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan, seperti kata bijak "masa depan adalah apa yang kita lakukan pada hari ini". Terus kalau kita malas terus bisa ditebak bagaimana jadinya masa depan kita. Semakin banyak yang kita perbuat semakin nyatalah jati diri kita. Kemudian untuk mengatasi malas, kita juga harus selalu introspeksi diri sendiri supaya kita terus memperbaharui diri dan memperbaiki kesalahan yang kita perbuat. Dan jangan lupa juga untuk selalu berpikiran ke depan. Silakan malas malasan sekarang, tapi kita juga harus siap dan berani menanggung akibatnya suatu saat nanti, khan apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Ingat, kitalah pemimpin diri kita sendiri !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berdoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dengan semangat yang menggebu, banyak membaca, dan terus mencari cara untuk menghilangkan malas, tetap saja kalau tanpa seizin -Nya, semua itu tidak akan pernah berhasil. Supaya kita tidak jadi orang yang sombong, banyak - banyaklah berdoa karena doa merupakan suatu pengharapan yang akan membuat kita selalu termotivasi khususnya secara psikologis. Kata - kata yang diucapkan dalam doa akan menjadi suatu pemikiran yang positif bagi kita. Lalu apa yang kita lakukan setelah kita berdoa ? jawabnya adalah ikhtiar. Kita tidak bisa hanya berdoa saja tanpa melakukan suatu upaya. Sebagai wujud tanggung jawab dari doa kita adalah kita bersungguh-sungguh berusaha mewujudkan doa tersebut. Setelah itu barulah kita bertawakkal yang berarti menyerahkan setiap urusan kepada - Nya. Kita harus sadar bahwa kita itu penuh dengan keterbatasan, kita hanya bisa berusaha dan berdoa sedangkan Tuhanlah yang berhak menentukan. Tentunya supaya doa kita dikabulkan, syarat mutlak adalah rajin beribadah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa yang benar-benar ada itu adalah orang yang rajin dengan yang malas, bukan yang pintar dengan yang bodoh, karena kita itu semuanya makhluk yang unggul, coba bayangkan sebelum kita terlahir ke dunia ini kita sudah bersaing dengan berjuta-juta sperma, dan kitalah yang keluar sebagai pemenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih banyak cara-cara yang lain, tapi semoga cara-cara diatas bisa menghilangkan atau minimal mengurangi rasa malas kita. Tapi semuanya kembali kepada diri kita sendiri karena rasa malas akan terus menghantui kalau kitanya sendiri tidak pernah ada keinginan kuat untuk menghilangkannya. Bagaimana ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Mochamad Yamin Amzah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-5663072223013676784?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/5663072223013676784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=5663072223013676784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5663072223013676784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5663072223013676784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/malas-penghalang-kesuksesan.html' title='Malas, penghalang kesuksesan'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-3896402297949503339</id><published>2009-01-02T19:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T19:02:26.539-08:00</updated><title type='text'>Membumikan Pendidikan</title><content type='html'>Membumikan Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para praktisi pendidikan seperti para guru, dosen di lembaga pendidikan atau pun sekolah formal, pelatih (trainer) pada tempat kursus maupun lokakarya atau bahkan para pemandu pelatihan (fasilitator) di berbagai arena pendidikan non formal ataupun pendidikan rakyat di kalangan buruh, petani maupun rakyat miskin, banyak yang tidak sadar bahwa ia tengah terlibat dalam suatu pergumulan politik dan ideologi melalui arena pendidikan. Umumnya orang memahami pendidikan sebagai suatu kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan senantiasa berwatak netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, sesungguhnya berbagai kritik mendasar tersebut justru semakin mendewasakan pendidikan, yakni memperkaya berbagai upaya pencarian model pendidikan, sehingga melahirkan kekayaan pengalaman di lapangan mengenai praktek pendidikan, maupun pendidikan sebagai bagian dari aksi kultural maupun transformasi sosial. Pendidikan menjadi arena yang menggairahkan, karena memang mampu terlibat dalam proses perubahan sosial politik di berbagai gerakan sosial yang menghendaki transformasi sosial dan demokratisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, pada saat yang sama kegairahan pendidikan juga tumbuh bagi penganut pemikiran liberal yang mendominasi. Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai proses model pendidikan dan pelatihan yang pada dasarnya berpijak pada paradigma liberal dalam berbagai bentuk dan pendekatannya. Itulah misalnya mengapa pada tahun 1970-an dunia pendidikan disemarakkan oleh berkembangnya model-model pelatihan menjadi kapitalis sejati seperti Achievement Motivation Training (AMT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama pendidikan adalah untuk mengenali, merumuskan, melestarikan dan menyalurkan kebenaran yakni : pengetahuan tentang makna dan nilai penting kehidupan secara mendasar. Untuk mengimplementasikan hal tersebut, salah satu cara adalah melalui pengajaran di sekolah, sekolah diadakan karena dua alasan mendasar yaitu : (1) Untuk mengajar siswa tentang bagaimana cara menalar, cara berpikir secara jernih dan tertata, dan (2) Untuk menyalurkan kebijaksanaan yang tahan lama dari masa silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pendidikan sesungguhnya harus didukung paling tidak tiga komponen utama yaitu pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Menurut saya yang terutama adalah pemerintah, artinya bagaimana kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan. Secara makro kebijakan tersebut dipengaruhi keputusan politik. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana intelektual politik untuk memahami pendidikan secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat filosofi politik, pendirian moral intelektualis pada umumnya diterjemahkan ke dalam apa yang barangkali bisa diistilahkan sebagai konservatisme filosofis. Konservatisme filosofis meliputi semua ungkapan konservatisme politik yang didasarkan pada sistem-sistem pemikiran filosofis atas teologis otoritarian (mutlak atau absolut), dan yang menganggap bahwa nalar yang benar akan menuntut ke arah kesimpulan-kesimpulan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, konservatisme filosofis ingin mengubah praktik-praktik politis yang ada, termasuk praktik-praktik pendidikan, demi menjadikannya lebih sesuai secara sempurna dengan cita-cita intelektual atau rohaniah yang sudah mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelektualisme pendidikan, sebagaimana telah dibicarakan erat kaitannya dengan pendekatan-pendekatan tradisional (metafisis) terhadap filosofi, dan kebanyakan dari pada wakil konvensional dari filosofi-filosofi tradisional cenderung untuk berbicara dalam peristilahan intelektual pada saat membahas persoalan-persoalan pendidikan. Jadi, secara umum intelektualisme pendidikan meyakini bahwa ada kebenaran-kebenaran tertentu yang sifatnya mutlak serta kekal, yang melampaui ruang dan waktu tertentu, bahwa kebenaran-kebenaran itu selalu ada dan berlaku bagi umat manusia pada umumnya dan tidak merupakan milik yang unik dari individu ataupun kelompok manusia tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran pendidikan secara keseluruhan adalah untuk mengenali, merumuskan, menyalurkan dan melestarikan kebenaran inti (prinsip-prinsip pokok yang mengatur pemaknaan dan arti pentingnya kehidupan). Secara lebih khusus, peran sekolah dalam jangka pendek adalah sebagai sebuah lembaga sosial tertentu yang harus mengajarkan pada para siswa bagaimana caranya berpikir, cara menalar serta untuk meyalurkan pemikiran terbaik. &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail: YANTO&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/art05-51.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-3896402297949503339?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/3896402297949503339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=3896402297949503339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3896402297949503339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/3896402297949503339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/membumikan-pendidikan.html' title='Membumikan Pendidikan'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-1144825330291843737</id><published>2009-01-02T18:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:59:36.968-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Feodalisme Pendidikan dan Pendidikan Feodalisme</title><content type='html'>Feodalisme Pendidikan dan Pendidikan Feodalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu pertanyaan besar dalam system pendidikan nasional kita adalah mampukah pendidikan menyesuaikan dengan keadaan dan perkembangan jaman? Pertanyaan ini sangat relevan mengingat pendidikan kita juga termasuk sasaran pelaku korupsi yang pada gilirannya membangkrutkan mutu kecerdasan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hirarki dalam kelembagaan pendidikan cenderung melanggengkan sikap feodal, menumbuhkan sikap aristokrat daripada sikap demokrat. Pendidikan tidak hanya mempersiapkan anak menjadi manusia mesin atau automaton seperti dikatakan Erich From. Di bawah hegemoni kekuasaan sistem pendidikan juga akan melahirkan para 'agen intelektual' atau Commissars , menurut Noam Chomsky, yang hidupnya bergantung dan caranya melayani kepentingan atau memenuhi kebutuhan penguasa. Tugas para 'agen intelektual adalah mereproduksi pengetahuan atau kebenaran para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum yang skeptis juga prihatin dengan sifat deskriminatif dan formalisme pelembagaan yang mengakibatkan banyak anak yang tidak bisa belajar. Hanya anak yang bisa memnuhi persyaratan formal yang ditentukan yang boleh belajar di sekolah. Komersialisasi, yang menjadikan sekolah sebagai komoditas, merupakan faktor lain yang mendukung berlakunya deskriminasi pendidikan. Keprihatinan ini mengingatkan pada kritik Ivan Illich tentang sistem sekolah yang hanya menjadikan para siswa tidak bedanya dengan sapi perah. Hanya anak yang siap diperah keuangan (orang tua)nya yang boleh duduk di bangku sekolah. Perlakuan deskriminatif di balik penyelangaraan pendidikan formal yang kemudian menyinggung rasa keadilan kaum pembaharu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih panjang rentetan kritik dan analisis yang memperlihatkan kondisi yang memperlihatkan dari sistem pendidikan. Bagi kaum skeptis sudah jelas bahwa ketika kritik hanya menjadi penunggu tong sampah, sama artinya penyelenggara pendidikan formal telah mengabaikan kehendak masyarakat. Tidak berlebihan kalau kemudian masyarakat yang merasa diabaikan menilai Negara telah gagal memberikan pelayanan pendidikan tebaik bagi masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu menyangsikan bahwa masyarakat memiliki kekuatan tersembunyi yang tidak banya sekadar mengontrol Negara, melainkan mampu mengambil alih legitimasi kekuasaan Negara. Ketika Negara hanya mandeg pada kepentingan kekuasaan atau malah momperkokoh pertahanan status quo pada saat itu masyarakat akan memperlihatkan .gerak pembaharuan sendiri. Demikian halnya masyarakat yang skeptis memandang nasib pendidikan saat ini pun menggeliat, berupaya menembus tembok kemandegan dengan membangun sendiri strategi baru untuk pembaruan pendidikan. Mereka tidak lagi sekadar menunggu perubahan dari atas. Pembaruan tidak cukup hanya di upayakan dengan penyampaian kritik, tapi sebaliknya kritik akan menjadi berdaya guna pada perubahan kalau dimulai dengan tindakan. Dengan kemauan dan kemampuan yang ada kelompok-kelompok masyarakat berupaya membangun model-model pendidikan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai model pendidikan, entah yang kemudian menamakan 'pendidikan allernatif, 'sekolah bebas', Sanggar, tersebar sebagai sentra pendidikan yang dibangun atas dasar dengan kesederhanaan dan keterbatasan kemampuan, terutama dari segi finansial. Fenomena itu mengingatkan pada gagasan Ivan Olich tentang 'de-sekolah-isasi' bisa dibaca sebagai pesan yang mengatakan bahwa transformasi pengetahuan dan sosialisasi tidak hanya menjadi monopoli sekolah. Belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan terselenggarakan oleh siapa saja. Formalisme kelembagaan menjadi relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itu sekaligus merontokkan bangunan arogansi dan hegemoni, menjungkir balikkan dominasi Negara. Negara bukan lagi menjadi satu-satunya kekuatan yang paling legitimet untuk membangun kualitas bangsa. Negara dianggap telah kehilangan legitimasinya karena kegagalannya melakukan perbaikan kualitas pendidikan untuk masyarakat. Sentra legitimasi pendidikan mulai tersebar di beibagai kelompok atau komunitas masyarakat. Saat ini mungkin belum begitu terasa, tapi bukan tidak mungkin sentra legitimasi pendidikan aka semakin kuat bergeser ke kelompok-kelompok masyarakat Kepercayaan diri masyarakat yang selama ini tersingkirkan oleh dominasi dan deskriminasi Negara mulai tumbuh menjadi kekuatan untuk bangkit membangun ruang-ruang belajar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah semestinya fenomena geiakan pembaruan pendidikan diterima dengan pandangan positif sebagai sebuah kritik produktif. Penyebaran sentra kekuatan pendidikan mewujudkan heterogenitas, menjadikan pendidikan tidak lagi bersifat monolitik. Pembaruan yang dimulai dan berkembang di kelompok-kelompok masyarakat merupakan kemajemukan yang memecah sentralisasi. Gerak pembaruan yang ada di masyarakat tidak perlu dipandang sebagai seteru. Karena pembaruan menunjukan potensi otentik masyarakat dalam membangun sebuah kebudayaan, upaya membangun citra manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan tidak berujung pada kepentingan Negara atau juga pendidikan tidak mengarahkan setiap individu tunduk pada kepentingan sosial seperti tesis Jean Jacques Rosseou tentang kontrak sosial. Visi gerakan pembaruan pendidikan mengarah pada gagasan Leo Tolstoy yang memahami pendidikan sebagai kebudayaan; ruang yang berisi nilai-nilai luhur yang abstrak sekaligus aneka pengetahuan dan kemampuan menghadapi pelbagai persoalan hidup bersama baik untuk saat kini maupun mendatang. Dengan konsepsi itu, maka gerakan pembaruan pendidikan tidak bermaksud menafikan persoalan-persoalan fisik, keterampilan, dan intelektualisme. Dalam pendidikan alternatif persoalan-persoalan itu tetap perlu. Hanya persoalannya sejauh mana kemampuan menguasai persoalan-persoalan intetektualitas dan indrawi itu tidak mengasingkan anak-anak dari citranya sebagai manusia yang mengenal nilai-nilai; kebaikan, kejujur, keadilan, keindahan dan lainnya. Bagi kelompok masyarakat pembaharu bicara tentang pendidikan adalah bicara tentang proses pertumbuhkembangan manusia, bukan bicara tentang manusia harus bisa apa. Setiap gagasan tentang pendidikan senantiasa bertolak dari pemahaman tentang manusia yang berdimensi individual-sosial (JohnDewey).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan menjadi berkualitas kalau dibangun atas dasar pemahaman yang baik tentang citra manusia dan bertujuan membantu setiap peserta didik bertumbuhkembang sebagai mahkluk integral, manusia utuh dengan segala dimensinya. Oleh karena itu perhatian utama pendidikan alternatif dalam upaya mencapai tujuan tidak terletak pada pengetahuan apa yang seharusnya. dikuasai peserta didik, melainkan bagaimana peserta didik akan menggunakan pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Freife manusia utuh adalah manusia konkret yang ada dalam konteks bersama dengan alam dan sesama manusia lainnya. Konkret tidak hanya berarti bersifat ragawi terjamah, tetapi juga memiliki kesadaran sebagai kemampuan untuk menentukan nilai kebenaran. Masih menurut Preire kesadaran adalah potensi otentik tentang nilai-nilai keluhuran manusia yang sifatnya universal. Kaum tertindas dan kaum penindas adalah kaum yang sama-sama kehilangan otentisitas kesadarannya. Keduanya sama-sama kehilangan citra luhur kemanusiaannya (dehumanisasi ). Perbedaannya, kaum tertindas kehilangan citra kemanusiaannya karena otentisitas kesadarannya ditundukkan oleh kaum penindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud memutlakkan, karena menyadari perbedaan sejarah, budaya dan konteks sosio-antropologis) kaum skeptis meletakkan gerak pembaharu pendidikan pada pandangan humanis. Langsung atau tidak, pandangan gerakan pembaruan pendidikan mengacu pada gagasan para pemikir romatis seperti Jean Jacques Russeou, pedagog humanis-revolusioner seperti John Dewey, Ivan fliich, Paulo Freire) termasuk Ki Hadjar Dewantara. Sumbangan konsep atau gagasan para pedagog melengkapi pemahaman tentang ide pemabaruan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radikalitas gerakan pembanu pendidikan bisa dilihat konsistensi sikap dalam menghentikan penyelenggaraan pendidikan Negara yang dinilai kontra produktif. Bukan hanya visi yang baru, tapi implementasi praksis pendidikannya pun didasarkan pada pendekatan yang cukup humanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: YANTO&lt;br /&gt;Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-1144825330291843737?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/1144825330291843737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=1144825330291843737' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1144825330291843737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/1144825330291843737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/feodalisme-pendidikan-dan-pendidikan.html' title='Feodalisme Pendidikan dan Pendidikan Feodalisme'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gwK0Z8Hx9SI/SddiIoTTn2I/AAAAAAAAAEw/G14ipa3Vbho/S220/B+(24)+36.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6071353502990840824.post-5465805619363736232</id><published>2009-01-02T18:57:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:58:03.824-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kekerasan, Buah Kegagalan Pendidikan?</title><content type='html'>Kekerasan, Buah Kegagalan Pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel Gobey (2004) mengatakan pada awal 1960-an, banyak orang yakini kebenaran gagasan Konrad Lorenz, seorang ethiolog (pakar "psikologi" binatang) asal Jerman, yang menyebutkan bahwa kekerasan, tak ubahnya rasa lapar, adalah naluri manusia sebagai bagian dari kodratnya yang jasmaniah. Di dasawarsa berikutnya, tahun 1970-an, orang lebih menaruh perhatian pada apa yang kemudian dinamai sebagi "lingkaran setan" kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, kekerasan seolah telah mengental lebih dari sekedar naluri yang nature, dan menjadi culture, budaya kekerasan. Kalau pengamatan itu benar, artinya perlahan-lahan hubungan antar-manusia di abad ini tak hanya mengalami eskalasi kekerasan secara akumulatif, tapi juga sofistikasi, pencanggihan, kekerasan. Meminjam pengalaman pahit masyarakat miskin Amerika Selatan, Dom Helder Camara, memfatwakan betapa suatu kekerasan tak pernah berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendiri. Ia lahir menyusul, dan menjadi rantai fantasi berikutnya dari kekerasan-kekerasan terdahulu yang telah berjalin-kelindan. Awalnya kekerasan lahir dibidani oleh egoisme para penguasa dan kelompok-kelompok yang rakus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya kekerasan pun muncul sebagai jawaban dari para pejuang keadilan yang mengangkat senjata untuk menumbangkan para penguasa lalim itu. Kekerasan akan kembali muncul sebagai satu-satunya jalan berpikir yang ada dari para penguasa untuk menumpas bentuk kekerasan kedua. Begitulah seterusnya, hingga nyaris tak henti-hentinya darah mengalir untuk menyuburkan dendam yang tak kunjung menuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana lingkaran setan ini muncul? Bagaimana mungkin ia muncul? Mungkinkah pula ia berujung? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan penting, yang justru kerap terlalu sulit dijawab. Tapi yang jelas, orang mulai mencatumkan derajat kekerasan yang berlaku dalam suatu masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai salah satu indikator evaluasi transformasi sosial-budaya yang tengah terjadi di dalamnya. Ia akan saling terkait dengan integrasi sosial, keadilan, hak-hak asasi manusia, kemajuan ekonomi, dan sebagainya ketika dimunculkan sebuah pertanyaan baru: sejauh mana transformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan Magnis Suseno (2003) Dialog dapat kita mulai dari lingkungan anak-anak . Termasuk dilingkungan sekolah dasar.Hak kebebasan beragama dalam kaitan masalah pelajaran agama berarti, orangtualah yang berhak menentukan apakah, di manakah, dalam agama apakah anak mereka boleh diberi pelajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hak asasi orangtua itu juga memuat hak agar anak mereka tidak diberi pelajaran agama yang tidak dikehendaki. Bukan hanya di sekolah negeri, tetapi juga di sekolah swasta. Misalnya: sekolah Katolik (yang saya pakai sebagai contoh selanjutnya) berhak hanya menawarkan pelajaran agama Katolik. Sekolah Muhammadiyah berhak hanya menawarkan agama Islam. Tetapi yang pertama tidak berhak mewajibkan murid-muridnya yang bukan Katolik ikut pelajaran agama Katolik. Begitu pula yang kedua, tidak berhak mewajibkan murid bukan Islam ikut pelajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pluralisme tidak hanya berlaku di tingkat nasional. Bila sekolah swasta beraliran agama tertentu memutuskan untuk membuka pintu bagi anak dari pluralitas agama, pendirian orangtua mereka masing-masing wajib dihormati. Itulah yang namanya pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang berlandaskan agama pada dasarnya membatasi diri pada anak-anak seagama. Dengan demikian, masalah pelajaran agama hilang. Tetapi, pendidikan Katolik di negara ini, sebagaimana dipelopori almarhum Rama van Lith, juga di seluruh dunia, tidak pernah sesempit itu. Sekolah-sekolah Katolik selalu terbuka bagi anak dari semua agama, bukan untuk membuat mereka Katolik, tetapi karena keyakinan umat Katolik menyelenggarakan pendidikan bermutu yang oleh orangtua maupun kemudian oleh mereka yang melalui sekolah-sekolah itu diingat dengan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu diusahakan, selain pelajaran prima dalam masing-masing mata pelajaran, pendidikan agar anak menjadi manusia bermutu, cerdas, terbuka, berkarakter, mampu bertanggung jawab, berwawasan keadilan, berwawasan kebudayaan luas. Kualitas sebagai manusia utuh itu justru akan berkembang bila orientasi keagamaan anak, dan orangtuanya (hubungan kepercayaan antara sekolah dan orangtua selalu dipentingkan) dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada anak-anak yang oleh orangtua mereka tidak dikehendaki mengikuti pelajaran agama Katolik, ada dua kemungkinan. Mereka ditawari pelajaran etika atau budi pekerti. Tetapi, sebenarnya lebih baik lagi bila diberi pelajaran dalam agama mereka sendiri. Argumen "masak sekolah Katolik memberi pelajaran agama Islam (misalnya)!" saya anggap sah, tetapi picik. Kalau sekolah mau memberi pendidikan utuh dan untuk itu menganggap pelajaran agama penting, apa tidak lebih sesuai bila anak-anak beragama lain-asal jumlah cukup agar sekolah tidak dibebani biaya tinggi-ditawari pelajaran dalam agama-agama masing-masing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini selalu diajukan keberatan: Apakah pelajaran agama lain tidak akan menjadi "kuda Troya"? Sesudah pelajaran agama lain, rumah ibadah harus disediakan, guru agama mungkin picik lalu malah merusak suasana rukun di antara murid berbeda agama? Adalah kekhawatiran "kuda Troya" itulah yang ada di belakang keberatan sekolah swasta untuk menyediakan pelajaran agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran itu, sayang, tidak tanpa alasan. Maka bila diharapkan pelajaran agama lain diberikan, misalnya di sekolah Katolik, harus jelas, kekhasan sekolah itu sebagai sekolah Katolik tidak diganggu. Paling penting: Hak sekolah untuk memilih sendiri guru-gurunya, termasuk semua guru agama harus dijamin. Memang tak dapat ditolerir sama sekali bahwa instansi luar bisa memasukkan guru agama melawan kehendak sekolah itu. Sekolah jelas berhak memastikan bahwa guru yang mengajar agama berwawasan inklusif, humanis, dan memenuhi syarat kecerdasan intelektual yang memadai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga faham yang tidak mudah untuk dipertemukan hakekatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yaitu yang bersifat: (1) Theisme (Tuhan yang berpribadi yang transenden dan memberi wahyu seperti dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam), (2) Monisme (yang tidak menerima Tuhan yang transenden melainkan dasar keberadaan yang imanen seperti dalam agama-agama Hindu dan Tao); dan (3) non-Theisme (tidak mempercayai tuhan yang 'ada' dan transenden seperti dalam Buddhisme ).&lt;br /&gt;Dialog agama umumnya mengabaikan perbedaan ini demi tujuan kerukunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Yanto, Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6071353502990840824-5465805619363736232?l=bangirham.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangirham.blogspot.com/feeds/5465805619363736232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6071353502990840824&amp;postID=5465805619363736232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5465805619363736232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6071353502990840824/posts/default/5465805619363736232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangirham.blogspot.com/2009/01/kekerasan-buah-kegagalan-pendidikan.html' title='Kekerasan, Buah Kegagalan Pendidikan?'/><author><name>ADR DHANI</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' widt
